Urutkan
Elfi O
21 Agustus 2022 10:00
1
Tiara T
21 Agustus 2022 07:31
3
Clara J
19 Agustus 2022 01:41
3
Nickholas N
18 Agustus 2022 14:23
1
Febe P
18 Agustus 2022 13:52
2
Sebutkan karakteristik atau ciri-ciri hikayat!
2
3.0
Kata tanya yang berisi pertanyaan mengenai tokoh dalam suatu peristiwa adalah ....
1
0.0
Perhatikan kutipan hikayat berikut ini!
Beberapa hari sudah itu, tiba-tiba pada suatu malam raja tiada dapat tidur. Bagaimanapun Baginda mem jamkan matanya tiada juga mau terlena, hingga larut tengah malam. Akhirnya duduklah Baginda menghadapkan ke muka langit, memikirkan keadaannya dan rahasianya, dengan peredaran bintang yang tiada tepermanai banyaknya itu. Setelah dalam-dalam baginda pikirkan, timbullah beberapa pertanyaan dalam hati baginda yang tiada baginda ketahui jawabnya. Maka teringatlah baginda akan Baidaba, lalu teringat pula akan perkataannya yang menyebabkan Baginda murka. Baginda pun menyesallah telah menghukum orang itu.
"Sesungguhnya telah teraniaya pendeta itu karenaku," kata Baginda dalam hatinya, "dan telah kurampas haknya, karena murkaku semata-mata. Padahal kata orang pandai-pandai, empat perkara tak boleh ada pada raja: pemarah, sifat itu lekas menimbulkan bencana, kikir, karena yang bersifat demikian tiada akan dimaafkan orang, pendusta, orang pendusta, orang pendusta seorang pun tiada yang akan dekat kepadanya; dan kasar dalam bersoal jawab, sifat itu menunjukkan kebodohan jua. Itu belum nasihatnya dapat disebut berlebih-lebihan. Mengapa ia kuperlakukan tiada dengan sepatutnya dan kubalas dengan tiada semestinya? Tak patut hukuman jadi balasan kepadanya. Melainkan wajib bagiku mendengarkan katanya dan menimbang-nimbang nasihatnya?"
(Dikutip dari: Baidaba, Hikayat Kalilah dan Dimnah, Jakarta, Balai Pustaka, 2011)
Isi kutipan hikayat tersebut adalah ....
8
0.0
Perhatikan kutipan hikayat berikut ini!
Beberapa hari sudah itu, tiba-tiba pada suatu malam raja tiada dapat tidur. Bagaimanapun Baginda memejamkan matanya tiada juga mau terlena, hingga larut tengah malam. Akhirnya duduklah Baginda menghadapkan ke muka langit, memikirkan keadaannya dan rahasianya, dengan peredaran bintang yang tiada tepermanai banyaknya itu. Setelah dalam-dalam baginda pikirkan, timbullah beberapa pertanyaan dalam hati baginda yang tiada baginda ketahui jawabnya. Maka teringatlah baginda akan Baidaba, lalu teringat pula akan perkataannya yang menyebabkan Baginda murka. Baginda pun menyesallah telah menghukum orang itu.
"Sesungguhnya telah teraniaya pendeta itu karenaku," kata Baginda dalam hatinya, "dan telah kurampas haknya, karena murkaku semata-mata. Padahal kata orang pandai-pandai, empat perkara tak boleh ada pada raja: pemarah, sifat itu lekas menimbulkan bencana, kikir, karena yang bersifat demikian tiada akan dimaafkan orang, pendusta, orang pendusta, orang pendusta seorang pun tiada yang akan dekat kepadanya; dan kasar dalam bersoal jawab, sifat itu menunjukkan kebodohan jua. Itu belum nasihatnya dapat disebut berlebih-lebihan. Mengapa ia kuperlakukan tiada dengan sepatutnya dan kubalas dengan tiada semestinya? Tak patut hukuman jadi balasan kepadanya. Melainkan wajib bagiku mendengarkan katanya dan menimbang-nimbang nasihatnya?"
(Dikutip dari: Baidaba, Hikayat Kalilah dan Dimnah, Jakarta, Balai Pustaka, 2011)
Latar yang terdapat dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....
1
2.0
Perhatikan kutipan hikayat berikut ini!
Maka suatu hari yang baik memakailah Baidaba pakaiannya yang tertentu, dan berjalanlah ia menuju ke istana. Di halaman istana ia memberi salam kepada penjaga pintu sambil berkata,
"Hamba bermaksud hendak menghadap, akan menyampaikan suatu pesan kepada Baginda." Penjaga pintu pun masuklah mempersembahkan bahwa di luar ada seorang brahmana bernama Baidaba, mengatakan ada membawa pesan untuk Baginda. Baginda lalu memberi izin Baidaba masuk.
Maka masuklah Baidaba. Demi sampai ke hadapan Baginda sujudlah ia menyembah dengan takzimnya. Kemudian, berdirilah ia, sepatah pun tiada berkata. Heranlah raja melihat kelakuannya itu, dan berkata baginda dalam hatinya, "Orang ini tentulah tiada maksudnya lain daripada dua perkara jua, pertama hendak meminta suatu yang dapat memperbaiki keadaan hidupnya, atau mengharapkan pertolongan penolak sesuatu bahaya yang telah menimpa dirinya."
(Dikutip dari: Baidaba, Hikayat Kalilah dan Dimnah, Jakarta, Balai Pustaka, 2011)
Isi kutipan hikayat tersebut adalah ....
4
0.0
Kutipan Hikayat
Hikayat Singa Betina dengan Pemburu
Dalam suatu lembah hiduplah seekor singa betina dengan anaknya dua ekor. Pada suatu hari induk singa keluar pergi mencari makan, dan anaknya ditinggalkan dalam sebuah gua. Tiada lama sepeninggalnya lalulah seorang pemburu, maka dibunuhnyalah kedua anak singa itu, lalu dikulitinya. Bangkainya ditinggalkannya saja tergelimpang di situ.
Demi induk singa kembali pulang, dan dilihatnya anaknya demikian keadaannya, pingsanlah ia, kemudian setelah sadar merataplah ia dengan amat sedihnya. Dalam pada itu datanglah ke tempat itu seekor kancil.
"Apakah sebabnya maka tuan hamba meratap ini?" katanya, "cobalah ceritakan kepada hamba! "
"Anakku keduanya dibunuh pemburu," jawab singa, "dan dikulitinya. Lihatlah alangkah sengsara keadaannya?"
"Kalau hanya itu sebabnya, janganlah tuan hamba menangis juga,'' jawab kancil, "bencana yang menimpa diri tuan hamba itu tidak lebih daripada yang biasa tuan hamba jatuhkan ke atas diri berpuluh-puluh orang lain. Oleh sebab itu bersabarlah tuan hamba menerima perbuatan orang, seperti orang bersabar pula menerima perbuatan tuan hamba. Orang tua-tua berkata, berutang wajib membayar, berpiutang wajib menerima. Tiap-tiap perbuatan umpama biji yang ditanam di tanah, pasti ada buahnya, manis pahitnya menurut keadaan biji itu sendiri."
"Tidak. mengerti aku apa maksud perkataanmu itu," kata singa.
"Cobalah terangkan sekali lagi!"
"Sudah berapa umur tuan hamba sekarang?" tanya kancil.
"Kurang lebih sudah seratus tahun."
"Apakah yang tuan hamba makan selama itu?"
''Daging binatang, apa lagi?" jawab singa.
"Bagaimana jalannya tuan memperoleh makanan itu?" tanya kancil pula.
"Tiap hari aku keluar berburu, dan mana yang dapat itulah makananku."
"Nah, tidakkah tuan hamba ingat bahwa semua binatang yang telah tuan hamba bunuh itu ada pula ibu-bapanya?"
"Tentu ada,'' jawab singa.
"Bagus, tetapi mengapakah maka tidak pemah hamba dengar seekor juga ibu-bapa binatang itu yang menangis melolong-lolong seperti tuan hamba? Ketahuilah oleh tuan hamba, bencana yang telah menimpa tuan hamba ini tidak lain sebabnya, melainkan karena tuan hamba ini tiada memandang akhir, dan tiada memikirkan apa yang mungkin menimpa diri tuan hamba tersebab buah perbuatan sendiri."
Ketika itu barulah singa mengerti, bahwa kemalangannya itu adalah daripada perbuatannya sendiri juga pokoknya, perbuatan semata-mata aniaya. Maka sejak hari itu tobatlah ia daripada memburu binatang yang tiada berdosa dan memakan dagingnya, dan jadilah ia memakan buah-buahan saja.
(Dikutip dari: Tim Penyunting Balai Pustaka, Hikayat Bayan Budiman, Jakarta, Balai Pustaka, 2011.)
Kutipan Cerpen
Obituarium Origami
"Tuhan selalu bersama orang-orang yang sedih dan kesepian," kata ayah dahulu kepadaku. "Maka ketika kau bersedih, berdoalah dan berharap. Tuhan selalu mendengarkan doa mereka."
Aku mengingat betul kalimat ayah itu. Setiap malam ketika orang-orang terlelap dalam mimpi manisnya di tenda pengungsian, aku acap melabuhkan sebuah lipatan origami berisi harapan dan doa. Aku melarutkannya di parit-parit kecil dengan genangan air berwama cokelat. Kemudian aku berharap, para origami itu tiba di rumah Tuhan yang terletakjauh di ujung sana. Aku percaya Tuhan ada di mana-mana, Dia berada di setiap kesedihan dan kebahagiaan umat-Nya. Maka sebab itu, seperti kata Ayah pula, aku tak jemu mengirimkan lipatan-lipatan origami kertas yang telah kuguratkan dengan bisikan doa dan harapan di dalamnya.
Begitulah. Kebiasaan aneh ini acap aku lakukan selama beberapa kali terakhir, setelah sebuah gempa besar melanda kotaku. Aku melakukan ini hanya ingin mengirimkan, dan memastikan, salam rinduku pada Ayah, dan Ibu yang kini entah berada di mana. Gempa bumi dan disusul tsunami besar telah membawa mereka hanyut ke suatu tempat yang tak aku ketahui, ke dunia antah-berantah yang masih ada di bumi atau sebaliknya. Tempat tak terdeteksi yang memisahkan kami. Bencana itu juga sudah menggulung setiap pintal kenangan di kampung halamanku. Tidak ada lagi yang aku miliki saat ini. Teman-teman, kerabat, dan hangatnya tempat untuk berteduh. Semuanya raib dihancurkan oleb nasib!
Aku sekarang hidup sebatang kara sebagai anak anak korban bencana yang entah memiliki masa depan atau tidak. Oleh sebab itu, waktu rasa rindu dan sedih datang bersamaan, aku acap membuat origami kertas yang di dalamnya telah kuguratkan harapan dan doa-doaku kepada setiap orang yang aku cintai. Malam ini demikian. Aku kembali menghanyutkan origami kertas di parit kecil dekat pengungsian. Hati-hati aku menyelinap keluar, membawa origami-origami kertas yang di dalamnya sudah aku tulis doa-doa dan harapanku. Aku menghanyutkannya dan memandang origami-origami kertasku terseok-seok diseret arus parit. Sesekali aku memejam mata dan berharap, origami-origami itu sampai ke rumah Tuhan.
Pengungsian itu tampak murung. Banyak orang yang kehilangan kerabat dan harta karena bencana ini. Pekik tangis seolah menjadi pemanis tenda pengungsian setiap bari. Mungkinhteriakan tangis itu sudab menggumpal dan memenuhi sela-sela sudut tempat. Aku sendiri hanya termenung menyaksikan kepiluan demi kepiluan yang datang silih berganti.
(Dikutip dari: Republika, Edisi 2 September 2018)
Ubahlah kutipan cerita "Hikayat Singa Betina dengan Pemburu" menjadi sebuah cerpen!
3
0.0
Kutipan Hikayat
Hikayat Singa Betina dengan Pemburu
Dalam suatu lembah hiduplah seekor singa betina dengan anaknya dua ekor. Pada suatu hari induk singa keluar pergi mencari makan, dan anaknya ditinggalkan dalam sebuah gua. Tiada lama sepeninggalnya lalulah seorang pemburu, maka dibunuhnyalah kedua anak singa itu, lalu dikulitinya. Bangkainya ditinggalkannya saja tergelimpang di situ.
Demi induk singa kembali pulang, dan dilihatnya anaknya demikian keadaannya, pingsanlah ia, kemudian setelah sadar merataplah ia dengan amat sedihnya. Dalam pada itu datanglah ke tempat itu seekor kancil.
"Apakah sebabnya maka tuan hamba meratap ini?" katanya, "cobalah ceritakan kepada hamba! "
"Anakku keduanya dibunuh pemburu," jawab singa, "dan dikulitinya. Lihatlah alangkah sengsara keadaannya?"
"Kalau hanya itu sebabnya, janganlah tuan hamba menangis juga,'' jawab kancil, "bencana yang menimpa diri tuan hamba itu tidak lebih daripada yang biasa tuan hamba jatuhkan ke atas diri berpuluh-puluh orang lain. Oleh sebab itu bersabarlah tuan hamba menerima perbuatan orang, seperti orang bersabar pula menerima perbuatan tuan hamba. Orang tua-tua berkata, berutang wajib membayar, berpiutang wajib menerima. Tiap-tiap perbuatan umpama biji yang ditanam di tanah, pasti ada buahnya, manis pahitnya menurut keadaan biji itu sendiri."
"Tidak. mengerti aku apa maksud perkataanmu itu," kata singa.
"Cobalah terangkan sekali lagi!"
"Sudah berapa umur tuan hamba sekarang?" tanya kancil.
"Kurang lebih sudah seratus tahun."
"Apakah yang tuan hamba makan selama itu?"
''Daging binatang, apa lagi?" jawab singa.
"Bagaimana jalannya tuan memperoleh makanan itu?" tanya kancil pula.
"Tiap hari aku keluar berburu, dan mana yang dapat itulah makananku."
"Nah, tidakkah tuan hamba ingat bahwa semua binatang yang telah tuan hamba bunuh itu ada pula ibu-bapanya?"
"Tentu ada,'' jawab singa.
"Bagus, tetapi mengapakah maka tidak pemah hamba dengar seekor juga ibu-bapa binatang itu yang menangis melolong-lolong seperti tuan hamba? Ketahuilah oleh tuan hamba, bencana yang telah menimpa tuan hamba ini tidak lain sebabnya, melainkan karena tuan hamba ini tiada memandang akhir, dan tiada memikirkan apa yang mungkin menimpa diri tuan hamba tersebab buah perbuatan sendiri."
Ketika itu barulah singa mengerti, bahwa kemalangannya itu adalah daripada perbuatannya sendiri juga pokoknya, perbuatan semata-mata aniaya. Maka sejak hari itu tobatlah ia daripada memburu binatang yang tiada berdosa dan memakan dagingnya, dan jadilah ia memakan buah-buahan saja.
(Dikutip dari: Tim Penyunting Balai Pustaka, Hikayat Bayan Budiman, Jakarta, Balai Pustaka, 2011.)
Kutipan Cerpen
Obituarium Origami
"Tuhan selalu bersama orang-orang yang sedih dan kesepian," kata ayah dahulu kepadaku. "Maka ketika kau bersedih, berdoalah dan berharap. Tuhan selalu mendengarkan doa mereka."
Aku mengingat betul kalimat ayah itu. Setiap malam ketika orang-orang terlelap dalam mimpi manisnya di tenda pengungsian, aku acap melabuhkan sebuah lipatan origami berisi harapan dan doa. Aku melarutkannya di parit-parit kecil dengan genangan air berwama cokelat. Kemudian aku berharap, para origami itu tiba di rumah Tuhan yang terletak jauh di ujung sana. Aku percaya Tuhan ada di mana-mana, Dia berada di setiap kesedihan dan kebahagiaan umat-Nya. Maka sebab itu, seperti kata Ayah pula, aku tak jemu mengirimkan lipatan-lipatan origami kertas yang telah kuguratkan dengan bisikan doa dan harapan di dalamnya.
Begitulah. Kebiasaan aneh ini acap aku lakukan selama beberapa kali terakhir, setelah sebuah gempa besar melanda kotaku. Aku melakukan ini hanya ingin mengirimkan, dan memastikan, salam rinduku pada Ayah, dan Ibu yang kini entah berada di mana. Gempa bumi dan disusul tsunami besar telah membawa mereka hanyut ke suatu tempat yang tak aku ketahui, ke dunia antah-berantah yang masih ada di bumi atau sebaliknya. Tempat tak terdeteksi yang memisahkan kami. Bencana itu juga sudah menggulung setiap pintal kenangan di kampung halamanku. Tidak ada lagi yang aku miliki saat ini. Teman-teman, kerabat, dan hangatnya tempat untuk berteduh. Semuanya raib dihancurkan oleb nasib!
Aku sekarang hidup sebatang kara sebagai anak anak korban bencana yang entah memiliki masa depan atau tidak. Oleh sebab itu, waktu rasa rindu dan sedih datang bersamaan, aku acap membuat origami kertas yang di dalamnya telah kuguratkan harapan dan doa-doaku kepada setiap orang yang aku cintai. Malam ini demikian. Aku kembali menghanyutkan origami kertas di parit kecil dekat pengungsian. Hati-hati aku menyelinap keluar, membawa origami-origami kertas yang di dalamnya sudah aku tulis doa-doa dan harapanku. Aku menghanyutkannya dan memandang origami-origami kertasku terseok-seok diseret arus parit. Sesekali aku memejam mata dan berharap, origami-origami itu sampai ke rumah Tuhan.
Pengungsian itu tampak murung. Banyak orang yang kehilangan kerabat dan harta karena bencana ini. Pekik tangis seolah menjadi pemanis tenda pengungsian setiap bari. Mungkinhteriakan tangis itu sudab menggumpal dan memenuhi sela-sela sudut tempat. Aku sendiri hanya termenung menyaksikan kepiluan demi kepiluan yang datang silih berganti.
(Dikutip dari: Republika, Edisi 2 September 2018)
Bandingkan unsur intrinsik kedua kutipan tersebut!
3
0.0
Baca kutipan hikayat berikut ini! Kemudian jawablah pertanyaannya!
Tiada berapa lama Raja Petukal dan rombongannya tiba di halaman istana. Wajah Raja Petukal tampak merah padam karena amarah dan sengatan sinar matahari siang. Raja Petukal dan rombongannya berhenti beberapa langkah di depan tangga istana. Dadanya turun naik, napasnya tersengal-sengal karena dipompa kemarahannya.
"Hai, Muda Cik Leman!" teriak Raja Petukal tanpa basa-basi lagi, ''bagaimana janji Tuan? Lebih dua petanak nasi aku menunggu, Gadis Cik Inam tak kunjung turun ke kapal!"
Dengan sikap tenang, Muda Cik Leman menanggapi, "Permintaan Tuan sudah melewati adab kesopanan di negeri kami. Permintaim itu mustahil dapat aku kabulkan."
"Tapi Tuan sudah berjanji mengizinkan Gadis Cik Inam pergi ke kapalku."
"Aku tldak merasa memberikan janji untuk mengizinkan istriku pergi ke kapal Tuan. Aku hanya mengatakan, turunlah Tuan dahulu ke kapal. Gadis Cik Inam perlu bersiap-siap dahulu."
"Bedebah! Jangan Tuan halang-halangi kepergian Gadis Cik Inam ke kapalku!"
"Hilang nyawa dikandung badan, barulah kuizinkan Gadis Cik Inam pergi ke kapalmu!"
"Hai, Muda Cik Leman! Aku ingatkan, sayangilah nyawa Tuan. Jangan karena Gadis Cik Inam, bercerai nyawa dengan badan!"
"Bukan karena sayang atau tidak sayang kepada nyawa, Tuan Raja Petukal!" balas Muda Cik Leman.
"Ini perkara harkat dan martabat kami. Gadis Cik Inam telah menjadi permaisuriku. Langkahi dahulu mayat Muda Cik Leman, barulah Tuan boleh membawa Gadis Cik Inam ke kapal Tuan!"
"Bedebah!" pekik Raja Petukal penasaran. Lakunya sudah seperti orang gila. Wajahnya merah padam karena amarah.
(Dikutip dari: Sudamo Mahyudin, Hikayat Muda Cik Leman, Yogyakarta, Yayasan Putra Jaya bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2006)
Tentukan amanat yang terdapat dalam kutipan hikayat tersebut!
1
0.0
Baca kutipan hikayat berikut ini! Kemudian jawablah pertanyaannya!
Tiada berapa lama Raja Petukal dan rombongannya tiba di halaman istana. Wajah Raja Petukal tampak merah padam karena amarah dan sengatan sinar matahari siang. Raja Petukal dan rombongannya berhenti beberapa langkah di depan tangga istana. Dadanya turun naik, napasnya tersengal-sengal karena dipompa kemarahannya.
"Hai, Muda Cik Leman!" teriak Raja Petukal tanpa basa-basi lagi, ''bagaimana janji Tuan? Lebih dua petanak nasi aku menunggu, Gadis Cik Inam tak kunjung turun ke kapal!"
Dengan sikap tenang, Muda Cik Leman menanggapi, "Permintaan Tuan sudah melewati adab kesopanan di negeri kami. Permintaim itu mustahil dapat aku kabulkan."
"Tapi Tuan sudah berjanji mengizinkan Gadis Cik Inam pergi ke kapalku."
"Aku tldak merasa memberikan janji untuk mengizinkan istriku pergi ke kapal Tuan. Aku hanya mengatakan, turunlah Tuan dahulu ke kapal. Gadis Cik Inam perlu bersiap-siap dahulu."
"Bedebah! Jangan Tuan halang-halangi kepergian Gadis Cik Inam ke kapalku!"
"Hilang nyawa dikandung badan, barulah kuizinkan Gadis Cik Inam pergi ke kapalmu!"
"Hai, Muda Cik Leman! Aku ingatkan, sayangilah nyawa Tuan. Jangan karena Gadis Cik Inam, bercerai nyawa dengan badan!"
"Bukan karena sayang atau tidak sayang kepada nyawa, Tuan Raja Petukal!" balas Muda Cik Leman.
"Ini perkara harkat dan martabat kami. Gadis Cik Inam telah menjadi permaisuriku. Langkahi dahulu mayat Muda Cik Leman, barulah Tuan boleh membawa Gadis Cik Inam ke kapal Tuan!"
"Bedebah!" pekik Raja Petukal penasaran. Lakunya sudah seperti orang gila. Wajahnya merah padam karena amarah.
(Dikutip dari: Sudamo Mahyudin, Hikayat Muda Cik Leman, Yogyakarta, Yayasan Putra Jaya bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2006)
Tentukan tema, tokoh dan penokohan, serta latar dalam kutipan hikayat tersebut!
1
1.0
Perhatikan kutipan hikayat berikut!
Setelah didengar Raja Sulaiman sembah landak itu, maka titah Raja Sulaiman “Hai landak! Hampirlah engkau kepada aku! Aku hendak bertanya kepadamu, bahwa aku dipersembahkan raja jin air ma'al-hayat di dalam bejana. Betapa bicaramu? Baiklah aku minum atau jangankah diminum? Hendaklah engkau berdatang sembah yang benar kepada aku."
Demi landak mendengar titah Raja Sulaiman, maka ia pun menundukkan kepalanya seraya berpikir di dalam hatinya. Seketika lagi maka ditanya pula oleh Raja Sulaiman, "Hai landak! Mengapakah engkau berdiam dirimu menunduk seperti kukang tiada berdatang sembah kepada aku?"
Maka landak pun segera menggerakkan kepalanya. Maka sembah landak, "Ampun Tuanku, beribu-ribu ampun! Patik ini binatang hina memohonkan ampun. Sekiranya jikalau duli syah alam santap air ma'al-hayat itu, terlalu baik: umur duli syah alam pun lanjut dan penyakit pun tiada di dalam tubuh; duli syah alam pun muda selama-lamanya. Tetapi jahatnya pun ada juga."
Maka titah Raja Sulaiman, "Apa jahatnya?"
Maka sembah landak, “Jika duli syah alam santap air ma'al-hayat itu, tiadalah syah alam mati hingga datang kepada hari kiamat, tetapi istri yang dikasihi mati dahulu dan anak syah alam mati, cucu cicit syah alam pun mati, handai sahabat yang dikasihi syah alam pun mati, dan rakyat bala tentera duli syah alam sekalian habis mati, hingga duli tuanku seorang juga yang hidup. Apakah gunanya hidup yang demikian itu?"
Maka titah Nabi Allah Sulaiman, "Sungguhlah katamu, hai landak! Hidup yang demikian itu tiadalah gunanya."
Maka bejana air ma'al-hayat itu pun diempaskan ke bumi oleh Nabi Allah Sulaiman ‘alaihissalam.
Dikutip dari: Tim Penyunting Balai Pustaka, Hikayat Bayan Budiman, Jakarta, Balai Pustaka, 2011
Amanat yang terdapat dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....
3
4.5
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia