Urutkan
Hilman H
22 September 2022 11:40
1
Aisha P
22 September 2022 11:40
1
Hilman H
22 September 2022 04:16
2
Aisha P
22 September 2022 04:16
1
Ahmad A
22 September 2022 00:46
1
Silmi H
21 September 2022 15:57
1
Bani N
21 September 2022 15:57
3
Hilman H
21 September 2022 15:57
1
Perhatikan naskah drama berikut!
Si Bapak menoleh ke arah Perwira.
Bapak: Tolonglah, Nak! Bawalah kemari jenazah almarhum.
Perwira cepat melangkah ke dalam. Si Bapak menghampiri Si Bungsu.
Bapak: Bagaimana pun juga, abangmu kini telah bebas dari cengkeraman tindak khianat.
Bungsu: Oo, Bapak. Betapa memelas kemalangan hidupnya. Betapa memelas.
Bapak: Belas kasihanilah ia, sebagaimana kita menaruh belas kasihan pada jiwa-jiwa malang.
Perwira muncul dengan mengemban jenazah Si Sulung yang sudah diselimuti kain. Si Bapak memberi isyarat agar jenazah diletakkan di lantai. Si Bungsu masih dengan mata terkaca basah menghampiri jenazah Si Sulung, dan dengan berlutut menyingkat selimut. Ditatapnya wajah jenazah dengan berlinang. Lalu dengan gemetar, kain diselimutkan lagi menutupi wajah jenazah. Sambil bangkit Si Bungsu menggumam lirih.
Bungsu: Sesungguhnya manusia itu kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada-Nya jualah akhirnya manusia kembali.
Dikutip dari: B. Soelarto, Domba-domba Revolusi: Kumpulan Drama, Yogyakarta, Hikayat, 2006
Tentukan dan jelaskan nilai-nilai yang terdapat dalam kutipan naskah drama tersebut!
1
5.0
Tentukan manfaat penulisan kutipan proposal penelitian tersebut!
1
5.0
Tentukanlah kalimat berikut termasuk kalimat persuasif, kalimat deklaratif, kalimat interogatif, atau ungkapan kesepakatan!
"Ya sudah, sebenarnya ini belum boleh. Tapi untuk Nyonya boleh, deh"
1
5.0
Kanjeng Ratu Ageng adalah guru kehidupan bagi Mustahar. Dari lisan nenek buyutnya inilah mengalir berbagai nasihat agama dan ngelmu kasepuhan yang membenuk kepribadiannya menjadi anak yang rendah hati. Sebagai cucu Sultan yang sedang berkuasa, bisa saja ia diperlakukan istimewa dalam segala hal, mulai dari pendidikan agama di tanah perdikan Petingan. Mustahar pun sebenamya tidak ingin mendapatkan semua itu. Hanya kekagurnan pada sosok Kanjeng Sultan Ageng sajalah hingga para pengajar di Petingan memperlakukan Mustahar berbeda dengan yang lain. Tapi, Mustahar selalu diwanti-wanti nenek buyutnya untuk tidak membeda-bedakan dalam bergaul. Didikan dari nenek buyut membuat Mustahar menjadi pribadi mandiri dan tak bergantung pada bantuan orang lain. la tidak mau mendapakan keistimewaan sebagai seorang pangeran keraton.
Dikutip dari: Yudhi A.W., Diponeggoro Pangeran Bermata tajam Berkilat Iman, Yogyakarta, Diva Press, 2010
Pesan dalam kutipan novel tersebut adalah ....
2
4.5
Tentukanlah kalimat berikut termasuk kalimat persuasif, kalimat deklaratif, kalimat interogatif, atau ungkapan kesepakatan!
"Belum boleh. Dua ratus delapan puluh lima ribu, ya."
1
2.0
Tentukanlah kalimat berikut termasuk kalimat persuasif, kalimat deklaratif, kalimat interogatif, atau ungkapan kesepakatan!
"Ada patung Garuda Wisnu Kencana yang dibuat dari kayu?"
1
5.0
Pada hari kedua, pertemuan diadakan di gedung Oost Java Bioscoop yang ada di Koningsplein Noord tepat pukul 08.00 WIB. Pengunjung temyata tetap banyak. Bahkan, sepengamatan Supratman tak hanya pemuda, tapi juga beberapa orang tua dan pemudi.
Hari ini yang akan diangkat adalah permasalahan pendidikan. Sayangnya, pembicara Ki Hadjar Dewantara dan Jokosarwono berhalangan hadir. Untungnya pembicara lainnya, Ny. Purnomowulan dan Sarmidi Mangunsarkoro, cukup bisa menggantikan mereka.
Kedua pembicara mengangkat topik yang hampir sama. Keduanya sepakat bahwa anak harus mendapatkan pendidikan kebangsaan, harus pula memiliki keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah. Satu lagi, anak juga harus dididik secara demokratis.
Dikutip dari: Yudhi Herwibowo, Sang Penggesek Bioia Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman, Tangerang Selatan, 2018
Sudut pandang yang digunakan dalam teks tersebut adalah ....
2
5.0
Pada hari kedua, pertemuan diadakan di gedung Oost Java Bioscoop yang ada di Koningsplein Noord tepat pukul 08.00 WIB. Pengunjung temyata tetap banyak. Bahkan, sepengamatan Supratman tak hanya pemuda, tapi juga beberapa orang tua dan pemudi.
Hari ini yang akan diangkat adalah permasalahan pendidikan. Sayangnya, pembicara Ki Hadjar Dewantara dan Jokosarwono berhalangan hadir. Untungnya pembicara lainnya, Ny. Purnomowulan dan Sarmidi Mangunsarkoro, cukup bisa menggantikan mereka.
Kedua pembicara mengangkat topik yang hampir sama. Keduanya sepakat bahwa anak harus mendapatkan pendidikan kebangsaan, harus pula memiliki keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah. Satu lagi, anak juga harus dididik secara demokratis.
Dikutip dari: Yudhi Herwibowo, Sang Penggesek Bioia Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman, Tangerang Selatan, 2018
Latar yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah ....
3
4.5
Perhatikan kutipan buku fiksi berikut!
Sore kemarin sebelum dia mengemasi tas kerjanya, Pak Manajer memanggil Tuan Sidik ke ruangannya, berkata kalau tidak ada tempat lagi untuknya. Perusahaan mereka telah membeli sistem keuangan baru yang bisa memangkas satu pekerjaan, lebih hemat, dan lebih cepat. Dan pegawai tua yang tidak ambisius seperti Tuan Sidik tentulah yang lebih dahulu di Depak. Pak Manajer berkata kalau dia sangat menyesal memecat Tuan Sidik yang loyal. Waktu Kerjanya di perusahaan ini bahkan lebih tua daripada Umur Pak Manajer sendiri. Namun, Tuan Sidik memang sudah rentah, seandainya perusahaan ini tidak membeli sistem keuangan baru pun, Tuan Sidik memang sudah harus pensiun.
(Dikutip dari: Jia Effendie, Brankas Kumpulan Cerita Pendek, Bandung, Nawalapaira, 2018)
Nilai kehidupan yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...
2
3.0
Bacalah teks berikut.
Di Indonesia, ilmu sosial-humaniora dipandang sebelah mata, tidak punya otonomi keilmuan, dan hanya dijadikan alat legitimasi kebijakan negara. Maka, alih-alih memangkas jatah ilmu sosial-humaniora dari LPDP, ada baiknya pemerintah menilik terlebih dahulu situasi pendidikan humaniora dan penelitian sosial di Indonesia. Sebagaimana diuraikan oleh Samuel (2010), Dhakidac (2003), Hadiz (2016), Hadiz dan Dhakidae (2006), serta Fansuri (2015), sudah sejak lama ilmu sosial-humaniora di Indonesia berhubungan dengan kekuasaan dalam bentuk kebijakan publik.
Efeknya, ilmu sosial-humaniora tidak punya otonomi keilmuan dan hanya dijadikan alat legitimasi agar kebijakan publik terlihat ilmiah. Kondisi ini semakin parah pasca-Orde Baru karena meskipun cengkeraman negara terhadap ilmu sosial-humaniora sudah jauh berkurang tetapi pasar bebas mulai mendikte perkembangan ilmu sosial-humaniora sebatas menjadi "alat ukur" yang bisa menghasilkan profit.
(Disadur dari: https://tirto.id/kebijakan-lpdp-dan-nasib-ilmu-sosial-humaniora-kita-cCFY, diunduh 19 Februari 2019)
Argumentasi penulis yang sesuai dengan isi kutipan tersebut, kecuali ...
3
4.2
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia