Urutkan
Bani N
26 September 2022 10:58
1
Hilman H
26 September 2022 10:58
1
Aisha P
26 September 2022 10:58
1
Silmi H
26 September 2022 10:57
3
Aisha P
26 September 2022 10:57
1
Silmi H
26 September 2022 10:57
4
Bani N
26 September 2022 10:57
6
Hilman H
26 September 2022 10:57
3
Aisha P
26 September 2022 10:57
1
Silmi H
26 September 2022 10:57
4
Kalimat utama pada paragraf di atas adalah...
1
3.0
Apa saja langkah-langkah dalam menulis puisi?
1
5.0
Bacalah puisi berikut!
Renungan Kelabu
Air tergenang dan rawa 1)
terhampar bagai tengadah ke langit basah 2)
Air keruh, tapi ikan-ikan terus berbiak 3)
Tak ada yang takluk pada alam 4)
yang ada rumput ganggang, kupu-kupu 5)
Dikutip dari: D.Zawawi Imron, "Renungan Kelabu" dalam Mata Badik Mata Puisi, Yogyakarta, Bening Pustaka dan Rua Aksara, 2018
Larik bermajas pada puisi tersebut terdapat pada larik berangka ....
2
5.0
Bacalah kutipan cerita berikut!
Tukang Cukur
Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran Kota Kudus, setiap hari kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilometer ke sekolahnya, sekolah dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh untuk menyenangkan hatinya.
Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apalagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot.
Pakaian Gito, demikian juga pakaian teman-temannya, serba compang-camping, penuh tambalan, demikian pula pakaian para guru. Semua pakaian sudah luntur warnanya dan kalau diwenter wamanya bisa tampak agak cerah, tapi dalam waktu singkat luntur lagi.
Gito tahu cara menangkal kelaparan. Kalau mau, dia bisa menangkap ikan di sungai tidak jauh dari rumahnya. Pada waktu pulang dari sekolah, kadang-kadang Gito lewat PasarJohar, tidak jauh dari stasiun jurusan Pati, Juana, Rembang, dan jurusan Pecangakan, Jepara. Di pasar itu dia bisa memunguti remah-remah gula jawa, gula yang bermanfaat untuk melewati rasa lapar.
Tidak jauh dari rumahnya ada pabrik bungkil kacang tanah untuk pakan temak. Kadang-kadang Gito juga memunguti remah-remah bungkil kacang tanah, meskipun dia tahu bungkil kacang tanah bisa menyebabkan sakit perut dan gondongen, leher bisa membengkak sampai besar.
Di rumah kalau beras padi habis, ayah, ibu, dan Gito, satu-satunya anak ayah dan ibunya, makan beras jagung, dan kalau beras jagung habis, mereka makan ketela pohung.
Pada suatu hari ketika pulang dan melewati kedai gulai kambing Kakek Leman, seorang laki-laki tua yang selalu memakai udeng Jawa di kepalanya, Gito dipanggil oleh Kakek Leman. Gito diberi makan. Lalu seperti biasa, Gito disuruh membersihkan rumput di pekarangan belakang kedai.
Dikutip dari: Budi Darma, "Tukang Cukur" dalam Tanah Air, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2017
Sudut pandang kutipan cerpen tersebut adalah....
5
5.0

lsi proposal tersebut berkaitan dengan . . .
3
5.0
Perhatikan kedua kutipan cerpen berikut!
Kutipan Cerpen I
Pagi menyingsing fajar, suasana masih berkabut dingin samar-samar dalam kegelapan. Sudah beberapa malam aku tidak dapat memejamkan mata, selalu terjaga. Rasa takut masih menyelimuti meskipun kini aku bersama yang lainnya telah berada di tenda pengungsian, setelah selamat dari amukan dahsyatnya gelombang tsunami yang memorak-porandakan wilayah Banten dan Lampung Selatan.
Dikutlp dari: Eti Nurbalimah, "Ujian di Penghujung Tahun" dalam Republika, 10 Februari 2019
Kutipan Cerpen II
Lagi-lagi Mek mendapatkan mimpi yang sama. Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat sang suami sudah duduk di kursi reyot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menyeruput kopi.
Dikutip dari: Rizqi Turama, "Mek Mencoba Menolak Memijit" dalam Kompas, 10 Februari 2019
Perbedaan pengembangan struktur orientasi pada kedua kutipan cerita tersebut adalah ....
1
5.0
Bacalah kutipan cerita berikut!
Tukang Cukur
Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran Kota Kudus, setiap hari kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilometer ke sekolahnya, sekolah dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh untuk menyenangkan hatinya.
Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apalagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot.
Pakaian Gito, demikian juga pakaian teman-temannya, serba compang-camping, penuh tambalan, demikian pula pakaian para guru. Semua pakaian sudah luntur warnanya dan kalau diwenter wamanya bisa tampak agak cerah, tapi dalam waktu singkat luntur lagi.
Gito tahu cara menangkal kelaparan. Kalau mau, dia bisa menangkap ikan di sungai tidak jauh dari rumahnya. Pada waktu pulang dari sekolah, kadang-kadang Gito lewat PasarJohar, tidak jauh dari stasiun jurusan Pati, Juana, Rembang, dan jurusan Pecangakan, Jepara. Di pasar itu dia bisa memunguti remah-remah gula jawa, gula yang bermanfaat untuk melewati rasa lapar.
Tidak jauh dari rumahnya ada pabrik bungkil kacang tanah untuk pakan temak. Kadang-kadang Gito juga memunguti remah-remah bungkil kacang tanah, meskipun dia tahu bungkil kacang tanah bisa menyebabkan sakit perut dan gondongen, leher bisa membengkak sampai besar.
Di rumah kalau beras padi habis, ayah, ibu, dan Gito, satu-satunya anak ayah dan ibunya, makan beras jagung, dan kalau beras jagung habis, mereka makan ketela pohung.
Pada suatu hari ketika pulang dan melewati kedai gulai kambing Kakek Leman, seorang laki-laki tua yang selalu memakai udeng Jawa di kepalanya, Gito dipanggil oleh Kakek Leman. Gito diberi makan. Lalu seperti biasa, Gito disuruh membersihkan rumput di pekarangan belakang kedai.
Dikutip dari: Budi Darma, "Tukang Cukur" dalam Tanah Air, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2017
Nilai kehidupan yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
1
5.0
Bacalah novel sejarah berikut!
Siti Saleha memperhatikan beberapa koper pakaian anaknya yang tergeletak di atas kasur. "Tak sedikit anak-anak muda di sana yang pelajarannya patah di jalan karena mereka sesungguhnya belum siap. Lebih baik kau meneruskan sekolah ke MULO dulu di Padang ini. Sesudah itu, menyambungnya ke HBS di Betawi."
"Aku sudah lulus ujian masuk HBS, Mak. Sayang sekali jika aku mengulangnya," bantah Hatta.
"Kenapa kau makin keras kepala, Atta." Hatta kecut sekaligus bingung, kenapa Mamak kembali melarang?
"Tak ada harimau yang memakan anaknya sendiri, seperti itulah orang tua. Tak ada orang tua yang merencanakan sesuatu jika itu bakal mencelakakan anaknya."
"Mak...' Hatta masih berusaha meyakinkan ibunya, "Mamak tak perlu mencemaskan Atta. Di Betawi nanti banyak famili kita yang akan membantu Atta."
Sebaliknya, Siti Saleha bergeming.
Dikutlp dari: Sergius Sutanto, Hatta: Aku Datang Karena Sejarah, Bandung,Qamlit, 2018.
Keterkaitan peristiwa dalam kutipan novel sejarah tersebut dengan kehidupan sehari-hari adalah ....
1
5.0
Cermati paragraf berikut!
Kementerian Perhubungan memastikan penundaan kenaikan tarif pelayanan jasa navigasi penerbangan tidak akan menurunkan kualitas pelayanan navigasi penerbangan. Penyesuaian tarif jasa ini tentu akan memengaruhi program investasi AirNav. Namun, penyesuaian ini masih dapat dimaklumi dengan penyusunan ulang prioritas program-programnya dengan tetap menjaga tingkat keselamatan penerbangan.
Disadur dari: https://ekonomi.kompas.com/read/2019/02/ 22/ 120808326/penundaan-kenaikan-jasa-navigasi-tak-pengaruh-ke-layanan-penerbangan, 25 Februari 2019
Kata navigasi dalam paragraf tersebut berarti...
2
5.0
Bacalah kutipan buku nonfiksi berikut!
Sebagai negara kepulauan, bangsa Indonesia tidak bisa terlepas dari transportasi Laut..Pada saat bangsa Indonesia mengalami kejayaan di lautan satu milenium lalu, transportasi Iaut jauh lebih penting daripada transportasi darat. Dengan transportasi laut, hubungan dan perdagangan, antarpulau dapat dilakukan. Oleh karena itu, banyak galangan kapal dan bengkel perahu dibangun Hampir di semua pelabuhan terdapat galangan kapal Seperti yang telah dibicarakan oleh para sejarawan, selain pelaut yang tangguh, bangsa kita dahulu juga bangsa yang ahli membuat kapal dan perahu.
Transportasi laut mempunyai banyak keuntungan, beberapa keuntungan transportasi laut sebagai berikut.
1. Biaya/ongkos lebih murah daripada transportasi darat dan udara
2. Bebas bergerak di lautan.
3. Dapat membawa muatan dalam jumlah banyak.
Disadur dari: Nunung Yuli Eti, Keanekaragaman Kekayaan Laut dan Samudra Kita, Klaten, Cempaka Putih, 2011
Buku tersebut termasuk ke dalam buku nonfiksi....
5
5.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia