Urutkan
Tissa Y
01 Oktober 2023 11:34
1
Jiny B
01 Oktober 2023 11:30
5
Anji V
01 Oktober 2023 11:30
0
Anji V
01 Oktober 2023 11:30
3
Lily S
01 Oktober 2023 11:30
0
Tissa Y
01 Oktober 2023 11:30
1
Jiny B
01 Oktober 2023 11:30
1
Demikianlah sekelumit gambaran generasi muda ditinjau dari sosok pribadi ataupun perannya dalam menghadapi era lepas landas. Semoga,
kajian yang sederhana ini dapat menggugah generasi muda khususnya dan masyarakat umumnya untuk selalu menyukseskan era tinggal landas
Penggalan paragraf tersebut dikutip dari bagian ....
1
5.0
Kegiatan tersebut diadakan dengan tujuan (1) menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, (2) menambah wawasan siswa untuk meningkatkan potensi diri, dan (3) menyalurkan dan meningkatkan kreativitas siswa.
Bagian proposal tersebut berisi informasi ...
3
4.6
Tuliskan perbedaan antara proposal dan laporan.
5
4.4
Perhatikan kutipan teks berikut!
Tahun 2019 adalah tahun yang penuh ketidakpastian akibat kebijakan ekonomi dan politik Amerika Serikat, baik melahtih perang dagang dengan Tiongkok dan berbagai negara lainnya, serta arah kebijakan bank sentral AS, The Fed. Selain itu, kondisi geopolitik di berbagai belahan dunia, termasuk Brexit, eskalasi ketegangan di Timur Tengah, dan belahan dunia lain menambah risiko ketidakpastian global. [....] Berbagai negara, termasuk Jerman dan Singapura, sempat mengalami kontraksi ekonomi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan India juga mengalami pelemahan. Pertumbuhan ekonomi global selama 2019 merupakan yang terburuk sejak krisis keuangan global 2009.
Sebagai ekonomi yang terbuka, ketidakpastian global tersebut juga turut menekan pertumbuhan ekonomi Indonsia selama 2019 melalui jalur ekspor, impor, dan investasi. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 masih bertahan dan diperkiraan mencapai 5,1 %, tingkat yang relatif baik dibandingkan negara negara lain di dunia, khususnya diantara ekonomi G20. Daya tahan ekonomi Indonesia di tengah volatilitas ekonomi global menjadi fondasi kuat bagi optimisme memasuki 2020. Meskipun demikian, kita tidak boleh lengah dan harus tetap waspada. Akibat perang dagang AS-RRT, sektor manufaktur di berbagai negara masih konsisten berada di zona kontraksi, mengindikasikan masih adanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi ke depan. Pelemahan ekonomi dunia dan ketidakpastian geopolitlk juga menyebabkan harga komoditas yang cenderung tertekan sepanjang tahun 2019. Nilai tukar terhadap dolar Amerika di berbagai negara di dunia yang sempat bergejolak sepanjang 2018 serta sebagian 2019 mulai menunjukkan stabilitas dan cenderung menguat menjelang akhir 2019. Hal ini seiring dengan penurunan suku bunga di berbagai negara dan meningkatnya likuiditas global.
Disadur dari: https://mediaindonesia.com/read/detail/280860-optimismedi-tengah-ciinamika-ekonom/-g/obal/, diunduh 5 Maret 2020.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi paragraf kesatu tersebut adalah .. .
1
5.0
Perhatikan kutipan buku berikut!
Diksi atau pilihan kata dalam puisi berkaitan erat dengan bahasa kias, yakni sarana untuk memperoleh efek puitis. Seperti diketahui, bahasa kias mencakup semua jenis ungkapan yang bermakna lain dengan makna harfiahnya yang bias berupa kata, frasa, ataupun satuan sintaksis yang lebih luas. Sesuai dengan hakikat puisi sebagai pemusatan dan pemadatan ekspresi, bahasa kias dalam puisi berfungsi sebagai sarana pengedepanan sesuatu yang berdimensi jamak dalam bentk sesingkat-singkatnya. Di samping itu, sebagai akibat bentuknya yang singkat, bahasa kias berfungsi membangkitkan tanggapan pembaca.
Dikutip dari: Suminto A: Sayuti, Berkenalan dengan Puis, Yogyakarta, Gama Media, 2010
Intisari kutipan buku tersebut terdapat dalam pernyataan . . .
3
5.0
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Tubuh Suing yang begitu lunglai direbahkan ke tanah. Karena bingung, Kimin hanya berdiri menatap temannya yang kini tergeletak tanpa daya. Ketika sadar harus berbuat sesuatu, Kimin membungkuk dan menggoyang tubuh yang terbujur itu.
"Suing, kamu masih kuat berjalan? Mari kita pulang. Aku akan memapahmu. Jangan takut kepada polisi kehutanan. Kukira mereka tak mau menangkap siapa pun yang dipapah. Ayo. Ayo, Suing! Kamu masih mendengar kataku, bukan?"
Bola mata yang pucat itu hanya bergulir perlahan. Bahkan napas Suing tersengal-sengal, membuat Kimin semakin tercekam rasa cemas. Laki-laki muda yang bingung itu keluar dari belukar. Lembah dan lereng yang terhampar di hadapannya tak memberi harapan apa pun. Hanya ribuan tonggak sonokeling yang mati dan dasar-dasar jurang yang tidak lagi berair. Ataukah Suing harus dibopong sampai ke kampong yang samar-samar jauh di tepi pensil? Boleh jadi orang lain mampu melakukannya. Namun, Kimin takkan sanggup karena tubuhnya yang lebih kecil.
Dikutip dari: Ahmad Tohari, Surabanglus" dalam Senyum Karyamin, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 201.5
Latar suasana pada kutipan cerpen tersebut...
3
5.0
Perhatikan teks berikut ini
Tetralogi Buru dan Novel 'Modern'
Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa yang dimaksud dengan menjadi Indonesia. Pada akhir tahun 50-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tidak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 . Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas.
Melalui karya tetraloginya, Pramoedya memperlihatkan betapa nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan anak kandung yang sah dari modernisme (sekali lagi modern-isme) Indonesia. Barangkali bahkan bisa dikatakan Tetralogi Buru sebagai sebuah karya modern dalam makna yang sesungguhnya: disanalah "identitas" menjadi penting dan manusia serta kemanusiaan menjadi perkara utama di atas segalanya. Dengan kata lain, modernisme merupakan tema pokok karya ini dan dari sanalah bagaimana nasionalisme Indonesia dibentuk.
Barangkali pramoedya tidak akan pernah menuliskan Tetralogi Buru seandainya apa yang disebut Indonesia telah terang benderang dan tidak ada masalah. Kenyataannya di awal tahun 60-an keadaan demikian gawat: persaingan antara Partai Komunis dan militer nyata terlihat; Soekarno memimpin dengan demokrasi yang "terpimpin"; perang dingin merongrong di luar dan di dalam perbatasan Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo setengah abad sebelumnya.
Novel ini seolah melengkapi nasib tragis untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya. Meskipun telah direncanakan sejak akhir tahun 50.-an, Tetralogi Buru baru ditulis sekitar dua belas tahun kemudian, di dalam tahanan. Inilah yang diperoleh Indonesia dalam usahanya menjadi "modern" di tahun 65. Melalui Hasta Mitra, dengan gigih Pramoedya terus menerbitkan karya-karya burunya, dan dengan gigih pula, Kejaksaan Agung terus membredelnya. Inilah harga yang harus dibayar novel "modern" di Indonesia yang konon "modern".
(Disadur dari: https:llekakurniawan.coml esail tetralogi-buru-dan-novelmodern-178.php#more-178, diunduh 18 Maret 2020)
Tentukan aspek kebahasaan teks esai tersebut!
2
4.5
Perhatikan teks berikut ini
Tetralogi Buru dan Novel 'Modern'
Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa yang dimaksud dengan menjadi Indonesia. Pada akhir tahun 50-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tidak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 . Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas.
Melalui karya tetraloginya, Pramoedya memperlihatkan betapa nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan anak kandung yang sah dari modernisme (sekali lagi modern-isme) Indonesia. Barangkali bahkan bisa dikatakan Tetralogi Buru sebagai sebuah karya modern dalam makna yang sesungguhnya: disanalah "identitas" menjadi penting dan manusia serta kemanusiaan menjadi perkara utama di atas segalanya. Dengan kata lain, modernisme merupakan tema pokok karya ini dan dari sanalah bagaimana nasionalisme Indonesia dibentuk.
Barangkali pramoedya tidak akan pernah menuliskan Tetralogi Buru seandainya apa yang disebut Indonesia telah terang benderang dan tidak ada masalah. Kenyataannya di awal tahun 60-an keadaan demikian gawat: persaingan antara Partai Komunis dan militer nyata terlihat; Soekarno memimpin dengan demokrasi yang "terpimpin"; perang dingin merongrong di luar dan di dalam perbatasan Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo setengah abad sebelumnya.
Novel ini seolah melengkapi nasib tragis untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya. Meskipun telah direncanakan sejak akhir tahun 50.-an, Tetralogi Buru baru ditulis sekitar dua belas tahun kemudian, di dalam tahanan. Inilah yang diperoleh Indonesia dalam usahanya menjadi "modern" di tahun 65. Melalui Hasta Mitra, dengan gigih Pramoedya terus menerbitkan karya-karya burunya, dan dengan gigih pula, Kejaksaan Agung terus membredelnya. Inilah harga yang harus dibayar novel "modern" di Indonesia yang konon "modern".
(Disadur dari: https:llekakurniawan.coml esail tetralogi-buru-dan-novelmodern-178.php#more-178, diunduh 18 Maret 2020)
Tentukan ide pokok dalam setiap paragraf teks esai tersebut!
2
5.0
Perhatikan teks berikut ini
Tetralogi Buru dan Novel 'Modern'
Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa yang dimaksud dengan menjadi Indonesia. Pada akhir tahun 50-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tidak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 . Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas.
Melalui karya tetraloginya, Pramoedya memperlihatkan betapa nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan anak kandung yang sah dari modernisme (sekali lagi modern-isme) Indonesia. Barangkali bahkan bisa dikatakan Tetralogi Buru sebagai sebuah karya modern dalam makna yang sesungguhnya: disanalah "identitas" menjadi penting dan manusia serta kemanusiaan menjadi perkara utama di atas segalanya. Dengan kata lain, modernisme merupakan tema pokok karya ini dan dari sanalah bagaimana nasionalisme Indonesia dibentuk.
Barangkali pramoedya tidak akan pernah menuliskan Tetralogi Buru seandainya apa yang disebut Indonesia telah terang benderang dan tidak ada masalah. Kenyataannya di awal tahun 60-an keadaan demikian gawat: persaingan antara Partai Komunis dan militer nyata terlihat; Soekarno memimpin dengan demokrasi yang "terpimpin"; perang dingin merongrong di luar dan di dalam perbatasan Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo setengah abad sebelumnya.
Novel ini seolah melengkapi nasib tragis untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya. Meskipun telah direncanakan sejak akhir tahun 50.-an, Tetralogi Buru baru ditulis sekitar dua belas tahun kemudian, di dalam tahanan. Inilah yang diperoleh Indonesia dalam usahanya menjadi "modern" di tahun 65. Melalui Hasta Mitra, dengan gigih Pramoedya terus menerbitkan karya-karya burunya, dan dengan gigih pula, Kejaksaan Agung terus membredelnya. Inilah harga yang harus dibayar novel "modern" di Indonesia yang konon "modern".
(Disadur dari: https:llekakurniawan.coml esail tetralogi-buru-dan-novelmodern-178.php#more-178, diunduh 18 Maret 2020)
Tentukan struktur teks esai tersebut!
4
4.7
Perhatikan teks berikut ini!
Sejak awal kepenyairannya, Sapardi Djoko Damono, termasuk kelompok penyair dengan .kesadaran diri yang boleh jadi tidak hanya mengandalkan datangnya sang ilham. Dalam hal ini, kesadaran menulis puisi bukan hanya semata-mata mengandalkan bakat alam, melainkan juga wawasan intelektual yang mesti diraih lewat berbagai bacaan. Kepercayaan pada sikap "menunggu ilham" yang digugurkan Chairil Anwar: bahwa penyair harus mencari dan menemukan ilham, dan bukan menunggunya, sebagaimana yang dipercaya oleh para penyair Pujangga Baru, makin terbenam di tangan para penyair (sastrawan) intelektual ini.
Dalam konteks kepenyairan Sapardi Djoko Damono, duduk perkaranya menjadi semakin jelas manakala kita coba mencermati salah satu antologi puisinya yang bertajuk Hujan Bulan ]uni (Jakarta, Grasindo, 1994). Meskipun setelah antologi itu, terbit pula antologi puisi Sapardi Djoko Damono lainnya, bagi saya antologi Hujan Bulan Juni laksana mewakili tonggak kepenyairannya. Tambahan lagi, di bawah judul itu tertulis: Pilihan Sajak, yang mengisyaratkan bahwa antologi itu memuat sejumlah puisi pilihan. Artinya juga, ia telah melewati proses seleksi pemilahan dan pemilihan.
Disadur dari: Maman S. Mahayana, Kitab Kritik Sastra, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015
Tentukan aspek kebahasaan teks kritik tersebut!
3
5.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia