Perhatikan teks berikut ini   Tetralogi Buru dan Novel 'Modern'     Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa yang dimaksud dengan menjadi Indonesia. Pada akhir tahun 50-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tidak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 . Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas.     Melalui karya tetraloginya, Pramoedya memperlihatkan betapa nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan anak kandung yang sah dari modernisme (sekali lagi modern-isme) Indonesia. Barangkali bahkan bisa dikatakan Tetralogi Buru sebagai sebuah karya modern dalam makna yang sesungguhnya: disanalah "identitas" menjadi penting dan manusia serta kemanusiaan menjadi perkara utama di atas segalanya. Dengan kata lain, modernisme merupakan tema pokok karya ini dan dari sanalah bagaimana nasionalisme Indonesia dibentuk.     Barangkali pramoedya tidak akan pernah menuliskan Tetralogi Buru seandainya apa yang disebut Indonesia telah terang benderang dan tidak ada masalah. Kenyataannya di awal tahun 60-an keadaan demikian gawat: persaingan antara Partai Komunis dan militer nyata terlihat; Soekarno memimpin dengan demokrasi yang "terpimpin"; perang dingin merongrong di luar dan di dalam perbatasan Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo setengah abad sebelumnya.     Novel ini seolah melengkapi nasib tragis untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya. Meskipun telah direncanakan sejak akhir tahun 50.-an, Tetralogi Buru baru ditulis sekitar dua belas tahun kemudian, di dalam tahanan. Inilah yang diperoleh Indonesia dalam usahanya menjadi "modern" di tahun 65. Melalui Hasta Mitra, dengan gigih Pramoedya terus menerbitkan karya-karya burunya, dan dengan gigih pula, Kejaksaan Agung terus membredelnya. Inilah harga yang harus dibayar novel "modern" di Indonesia yang konon "modern". (Disadur dari: https:llekakurniawan.coml esail tetralogi-buru-dan-novelmodern-178.php#more-178, diunduh 18 Maret 2020) Tentukan ide pokok dalam setiap paragraf teks esai tersebut!

Pertanyaan

Perhatikan teks berikut ini
 

Tetralogi Buru dan Novel 'Modern'

    Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa yang dimaksud dengan menjadi Indonesia. Pada akhir tahun 50-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tidak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 . Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas.

    Melalui karya tetraloginya, Pramoedya memperlihatkan betapa nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan anak kandung yang sah dari modernisme (sekali lagi modern-isme) Indonesia. Barangkali bahkan bisa dikatakan Tetralogi Buru sebagai sebuah karya modern dalam makna yang sesungguhnya: disanalah "identitas" menjadi penting dan manusia serta kemanusiaan menjadi perkara utama di atas segalanya. Dengan kata lain, modernisme merupakan tema pokok karya ini dan dari sanalah bagaimana nasionalisme Indonesia dibentuk.

    Barangkali pramoedya tidak akan pernah menuliskan Tetralogi Buru seandainya apa yang disebut Indonesia telah terang benderang dan tidak ada masalah. Kenyataannya di awal tahun 60-an keadaan demikian gawat: persaingan antara Partai Komunis dan militer nyata terlihat; Soekarno memimpin dengan demokrasi yang "terpimpin"; perang dingin merongrong di luar dan di dalam perbatasan Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo setengah abad sebelumnya.

    Novel ini seolah melengkapi nasib tragis untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya. Meskipun telah direncanakan sejak akhir tahun 50.-an, Tetralogi Buru baru ditulis sekitar dua belas tahun kemudian, di dalam tahanan. Inilah yang diperoleh Indonesia dalam usahanya menjadi "modern" di tahun 65. Melalui Hasta Mitra, dengan gigih Pramoedya terus menerbitkan karya-karya burunya, dan dengan gigih pula, Kejaksaan Agung terus membredelnya. Inilah harga yang harus dibayar novel "modern" di Indonesia yang konon "modern".

(Disadur dari: https:llekakurniawan.coml esail tetralogi-buru-dan-novelmodern-178.php#more-178, diunduh 18 Maret 2020)


Tentukan ide pokok dalam setiap paragraf teks esai tersebut!space 

  1. ...undefined 

  2. ...undefined 

R. Trihandayani

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Jawaban

itulah ide pokok masing-masing paragraf pada teks tersebut.

Pembahasan

Pembahasan

Paragraf 1:

Tetralogi Buru merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa yang dimaksud dengan menjadi Indonesia.

Paragraf 2:

Modernisme merupakan tema pokok karya Tetralogi Buru.

Paragraf 3:

Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo

Paragraf 4:

Novel Tetralogi Buru seolah melengkapi nasib tragis untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya.

Jadi, itulah ide pokok masing-masing paragraf pada teks tersebut.

351

5.0 (2 rating)

Pertanyaan serupa

Pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam esai tersebut yaitu ....

23

2.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Fitur Roboguru

Topik Roboguru

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

081578200000

Email info@ruangguru.com

info@ruangguru.com

Contact 02140008000

02140008000

Ikuti Kami

©2022 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia