Urutkan
Sarah M
18 November 2022 13:28
4
Mutiara N
18 November 2022 03:52
1
Helsa A
17 November 2022 21:58
1
Farah E
17 November 2022 11:39
1
Nama S
17 November 2022 10:56
1
Daen Y
17 November 2022 10:56
4
Sunshine H
17 November 2022 08:01
6
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna kata menghantui pada kalimat di atas adalah ....
1
2.5
Apa yang Anda ketahui tentang penyajian hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang?
1
3.5
Teks tersebut termasuk jenis komentar berupa ....
1
5.0
Perhatikan kutipan novel berikut!
Tiba-tiba ia berdiri dan mendadak menggebrak meja dan berdentum seperti meriam suaranya, "Verdomme! Saya pernah melihat kau. Siapa kau? Dan jangan bohong kepada Mayoor Verbruggen, tahu anak kelinci! Ya, kau anak kelinci. Verdomme"! ya, kau anak kelinci.”
Aku terkejut juga mendadak diroket kerongkongannya yang harus kuakui sangat berwibawa dan mengerikan. Tetapi aku tak gentar, sebab aku merasa pasti akan perkaranya.
"Kalau Mayoor jngin tahu namaku, harap kedua tanganku dibebaskan dulu."
"Benar-benar tidak tahu sopan santun kau, ya. Apa hubungannya dengan kedua tanganmu? Sakit, anak kelinci?" dan ia tersenyum ironis.
Dikutip dari: Y. B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2014
Kutipan novel tersebut menceritakan . ..
1
5.0
Perhatikan kutipan novel berikut!
Hari itu, Annabele sibuk belajar menjahit bersama pembantunya di paviliun belakang rumah. Sementara, Jantje berlarian ke sana ke mari sambil membidikkan pistol-pistolan kayunya ke segala arah. Beberapa jongos ikut bermain menemaninya, berpura-pura kesakitan karena terkena tembakan pistol Jantje.
Beberapa hari ini kondisi rumah keluarga Janshen mulai membaik, meski memang tak seramai biasanya. Jantje juga mulai berhenti menanyakan keberadaan anggota keluarganya yang lain dan mulai terbiasa melakukan segalanya hanya bersama Annabele.
Anna sibuk menjahit kemeja-kemeja kecil berwarna merah muda untuk Jantje. Dia sengaja membeli mesin jahit, menggunakan sedikit uang titipan papanya. Dia ingin mewujudkan keinginan adik bungsunya untuk memakai kemeja berwarna merah muda. Mungkin orang lain akan menganggap seorang anak laki-laki yang memakai kemeja merah muda aneh, tapi dia tak peduli. Baginya tak masalah, selama Jantje memang benar-benar menyukainya.
“Janshen! Bajunya sudah jadi!" teriaknya pada sang adik. Anna sudah mulai terbiasa memanggil Jantje dengan nama Janshen seperti keinginan adiknya.
Si kecil melompat-lompat menuju kakaknya, wajahnya berseri-seri saat Annabele memperlihatkan kemeja berwarna merah muda yang dia idam-idamkan. “Wow, Anna! Bagus sekali! Aku ingin memakainya!" teriaknya. Dia merebut baju itu dari tangan Anna dan meminta pengasuh untuk memakaikannya.
Jantje terus tersenyum selama memakai .kemeja baru buatan kakaknya. Dia merasa bangga dan sangat bahagia. "Terima kasih, Anna. Aku senang sekali!" Bertubi-tubi dia meinciumi pipi sang kakak.
Semua pegawai di sekeliling mereka tersenyum melihat pemandangan itu. Lambat laun, mereka juga mulai terbiasa akan.ketidakhadiran tuan, nyonya, dan dua nona di rumah Jarishen.
Kini Annabele disibukkan oleh berbagai rutinitas baru. Seperti yang Garrelt amanatkan padanya, gadis itu memantau toko dan para karyawannya. Dia juga kini bertugas menggaji para pekerja. Syukurlah Annabele sangat cerdas. Tanpa kendala berarti, dia bisa menguasai pekerjaan-pekerjaan barunya dengan cepat. Para pegawai yang bekerja untuk keluarganya pun sangat menghargai si nona muda. Mereka kagum karena kepintaran dan kebaikan Tuan Garrelt benar-benar diwarisi oleh Annabele Janshen.
Dalam melakukan tugas-tugasnya, Annabele tak pernah absen mengajak Jantje. Dia kerap menggendong Jantje jika sang adik mulai protes karena keleahan. Tapi, mereka berdua selalu bersemangat dan saling menguatkan.
Lucunya, Jantje bersikap seolah dialah bos yang sebenarnya, berlagak seperti sang papa saat berhadapan dengan para pegawai. Orang-orang biasanya tertawa melihat tingkah laku si tuan yang lucu.
Terkadang anak itu masih menanyakan perihal anggota keluarganya yang lain. Saat melihat bunga-bunga yang indah, dia selalu bilang teringat Mama, karena Martha memang sangat menyukai bunga dan tanaman-tanaman hijau. Jika melihat anak perempuan berseragam sekolah, dia berkata teringat Reina, yang menurutnya lebih pantas memakai seragam sekolah ketimbang Annabele. Jika melintasi rumah dokter, dia teringat pada Lizbeth yang sering dia temani berobat ke rumah itu. Semua itu selalu dia ungkapkan pada Anna. Dan Anna selalu menjawab atau menanggapi pernyataan-pernyataan Jantje dengan bijaksana, sekaligus membuat anak itu tenang.
Sesekali, Robbert Grunigen datang ke rumah keluarga Janshen, bermain mememani si kecil. Kedatangannya tanpa alasan. Dia ingin tahu, apakah ada kabar dari Netherland tentang kondisi kesehatan Reina? Namun, nihil, karena bahkan Anna pun belum mendapat kabar apa-apa dari mereka semua. Tapi, itu tak lantas membuat Robbert malas untuk tetap berkunjung. Lama-lama dia datang untuk menemani Jantje, karena dia paham, berat menjadi seorang Jantje yang masih kecil tapi harus ditinggal jauh oleh orang tuanya, tanpa tahu apa-apa. ''Kasihan anak itu ..." dalam hati ia berucap.
Lain halnya dengan Satirah. Dia memang sempat datang suatu malam, mengetuk pintu rumah keluarga Janshen dengan tergesa-gesa. Kebetulan, saat itu Anna yang membukakan pintu. Satirah datang mengenakan kerudung putih. Dia berkata baru pulang mengaji di surau. Satirah membawakan beberapa buku cerita untuk Janshen, juga beberapa buku pelajaran untuk Annabele. Dia bilang, buku-buku itu merupakan miliknya sendiri. Dia sengaja memberikannya pada Anna dan Jantje agar mereka berdua punya kegiatan untuk menghibur diri.
Satirah tak berlama-lama, dia terus-terusan menoleh ke belakang bagaikan ada orang yang sedang membuntutinya. Belum sempat Annabele bertanya, anak itu langsung permisi pulang. Dia berkata, sewaktu-waktu akan kembali, menengok Annabele dan Jantje.
Dikutip dari: Risa Saraswati, Janshen, Jakarta, Bukune Kreatif Cipta, 2017
Tentukan gaya bahasa atau majas yang terdapat dalam novel tersebut!
1
4.5
Hal apakah yang harus ditulis dalam peta pikiran buku nonfiksi?
1
5.0
Mengapa butir-butir penting dari sebuah buku disebut ikhtisar?
1
3.0
Berikut ini yang bukan merupakan penggambaran tokoh secara tidak langsung adalah ....
2
3.0
Perhatikan teks berikut.
Suatu siang Sendy kembali mendapatiku dan mengajakku bermain di rumahnya. Udara Jayapura terasa panas menyengat. Aku yang tak suka tidur siang ingin menyejukkan diri di luar. Rumah deret kami sunyi sekali. Pintu rumah Tante Bahar tertutup rapat. Tante Bahar memang teratur dan disiplin. Semua anaknya disuruh cuci kaki, cuci tangan, dan tidur siang. Pastinya Watik sedang tidur di dalam sana. Sementara Tutik adikku sedang tidur di dalam rumah.
Aku membuka pintu depan, pergi ke halaman dan memeriksa pohon kersen. Ada satu buah kersen matang di atas pohon, di cabang paling atas. Aku memperkirakan kemungkinannya. Kalau memanjat pohon itu—dan duduk di salah satu cabangnya, bisa saja aku meraih kersen matang itu. Aku kembali melihat ke atas. Kersen matang itu bergoyang lembut ditiup angin. Mengejekku.
(Dikutip dari: Nunuk Y. Kusmiana, Lengking Burung Kasuari, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2017)
Majas yang digunakan dalam kutipan novel sejarah tersebut adalah ....
4
5.0
Cermati kutipan teks cerita sejarah berikut!
Mataram lagi dirundung duka yang amat mendalam dengan kepergian Ki Ageng Mataram. Rakyat Mataram serasa tak bisa menyadari ditinggal pemimpin mereka selama-lamanya. Masih terbayang, di benak mereka kebaikan hati, ketegasan, dan kewibawaan Ki Ageng Mataram amat mereka cintai. Kini tubuh lelaki tua itu yang senantiasa berusaha menyejahterakan rakyat Mataram, teguh mendukung dan menghamparkan kesetiaannya kepada Sultan Hadiwijaya itu, membujur kaku. Berduyun-duyun rakyat Mataram mengiring kepergian petinggi mereka dengan dukacita dan bershaf-shaf mereka memenuhi masjid untuk turut menyalatkan serta menguburkan. Jasad Ki Ageng Mataram pun disemayamkan di barat masjid.
Rakyat Mataram masih berduka meski jasad Ki Ageng Mataram telah bersatu dengan tanah, asal penciptaannya. Selaku petinggi baru, Danang Sutawijaya berusaha mengusir kedukaan itu dan menatap masa depan untuk menata Mataram, melanjutkan usaha keras yang jelah dirintis ayahandanya.
(Dikutip dari: Gamal Komandoko, Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri, Yogyakarta, Diva Press, 2009)
Jelaskan watak tokoh Ki Ageng Mataram dalam kutipan teks cerita sejarah tersebut!
1
5.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia