Urutkan
Andy D
28 Januari 2023 09:28
7
Juliana I
28 Januari 2023 09:28
1
Rini P
28 Januari 2023 09:28
2
Rini P
28 Januari 2023 09:28
1
Juliana I
28 Januari 2023 09:27
1
Nur H
27 Januari 2023 12:45
2
Anggun M
27 Januari 2023 02:52

1
Tri K
27 Januari 2023 01:13
2
Pilihlah jawaban yang tepat!
Andra: "Selamat siang."
Indra: "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
Andra: "Apakah ini rumah Pak Indra?"
Indra: "Betul. Saya Pak Indra."
Andra: "Perkenalkan, nama saya Andra. Saya membaca iklan di Kedaulatan Warga kemarin. Saya bermaksud menyewa mobil Pak Indra untuk berwisata di Kota Yogyakarta. Kalau boleh tahu, berapa harga yang ditawarkan untuk sewa mobil selama 24 jam, Pak?"
Indra: "Tujuh ratus lima puluh ribu, Mas. Sudah termasuk sopir dan bahan bakar."
Andra: "Tidak boleh kurang, Pak?"
Indra: "Sudah murah itu, Mas."
Andra: "Bagaimana kalau tujuh ratus ribu, Pak?"
Indra: "Ya sudah. Tidak apa-apa. Hitung-hitung harga perkenalan."
Andra: "Baik, Pak. Ini uangnya. Saya ambil mobil- nya besok pagi pukul 6."
Indra: "Baik. Nanti saya siapkan mobilnya."
Andra: "Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak."
Indra: "Silakan. Hati-hati di jalan."
Andra: "Selamat siang."
Indra: "Selamat siang."
Berikut informasi yang tidak sesuai dengan isi teks negosiasi tersebut adalah ....
2
4.6
Tuliskan lima kelompok adjektiva yang dapat digunakan untuk menyatakan keunggulan atau kelemahan isi buku!
2
4.5
Teks prosedur berikut untuk soal nomor 13 dan 14.
Membuat Emping Melinjo
Kalimat yang menggunakan konjungsi temporal adalah...
3
3.6
Perhatikan kutipan teks berikut!
Lina: "Maksud kedatangan saya ke sini untuk menawarkan sprei kepada lbu.''
Bu Rosa: ''Berapa harga sprei yang ukuran 200 x 180 cm ini?"
Lina: "Seratus enam puluh ribu, Bu."
Pada kutipan tersebut, Lina bermaksud ...
11
5.0
Bacalah teks biografi berikut!
Ali Audah lahir pada tanggal 14 Juli 1924 di Bondowoso, Jawa Timur. Sejak kecil, ia terbiasa hidup menderita. Ayahnya meninggal ketika ia berumur tujuh tahun. Ali hanya menikmati pendidikan formal sampai kelas dua sekolah dasar. Meskipun demikian, ia mempunyai kemauan belajar yang sangat tinggi.
Ali mencoba belajar sendiri atau bersama teman-teman sepermainannya. la belajar menulis dengan mencoret-coret tanah sambil bermain gundu. la juga belajar membaca dari koran bekas pembungkus kue, majalah bekas, serta buku-buku pelajaran, dan bacaan anak-anak milik teman sepermainannya. Setelah dewasa, barulah Ali berkesempatan mengikuti kursus. Ali Audah menguasai sejumlah bahasa asing, seperti Arab, lnggris, Prancis, Jerman, dan Belanda.
Sepeninggal sang ayah, Ali Audah dan keempat saudaranya dibesarkan oleh ibunya, Aisyati Jubran. Untuk menghidupi keluarga, ibu Ali membuka warung makan di kota kewedanan, tetapi tidak berhasil. Akhirnya, mereka pun pindah ke Surabaya. Di kota ini Ali dibesarkan dan bekerja sebagai buruh.
Berkat perkenalannya dengan Moh. Dimyati, seorang wartawan dan sastrawan, Ali mendapat dorongan untuk belajar menulis. Tidak disangka, Ali ternyata berbakat di bidang itu. Sejak tahun 1952 Ali mulai bekerja sebagai wartawan lepas di berbagai harian. Ali bekerja sebagai penerjemah. Kemudian, Ali bekerja di bidang pendidikan.
Semangat kemauan belajar Ali yang cukup tinggi dan bakat yang dimiliki Ali dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua. Keterbatasan kemampuan untuk bersekolah tidak menghalangi Ali untuk tetap bisa belajar membaca dan menulis. Semoga kita semua dapat meniru semangat Ali Audah.
Disadur dari: lndarti Yuni Astuti, Ensiklopedia Sastrawan Indonesia 1, Yogyakarta, Permata Equator Media, 2008
Tentukan keteladanan tokoh yang terdapat dalam teks biografi tersebut!
1
5.0
Bacalah teks biografi berikut!
Ali Audah lahir pada tanggal 14 Juli 1924 di Bondowoso, Jawa Timur. Sejak kecil, ia terbiasa hidup menderita. Ayahnya meninggal ketika ia berumur tujuh tahun. Ali hanya menikmati pendidikan formal sampai kelas dua sekolah dasar. Meskipun demikian, ia mempunyai kemauan belajar yang sangat tinggi.
Ali mencoba belajar sendiri atau bersama teman-teman sepermainannya. la belajar menulis dengan mencoret-coret tanah sambil bermain gundu. la juga belajar membaca dari koran bekas pembungkus kue, majalah bekas, serta buku-buku pelajaran, dan bacaan anak-anak milik teman sepermainannya. Setelah dewasa, barulah Ali berkesempatan mengikuti kursus. Ali Audah menguasai sejumlah bahasa asing, seperti Arab, lnggris, Prancis, Jerman, dan Belanda.
Sepeninggal sang ayah, Ali Audah dan keempat saudaranya dibesarkan oleh ibunya, Aisyati Jubran. Untuk menghidupi keluarga, ibu Ali membuka warung makan di kota kewedanan, tetapi tidak berhasil. Akhirnya, mereka pun pindah ke Surabaya. Di kota ini Ali dibesarkan dan bekerja sebagai buruh.
Berkat perkenalannya dengan Moh. Dimyati, seorang wartawan dan sastrawan, Ali mendapat dorongan untuk belajar menulis. Tidak disangka, Ali ternyata berbakat di bidang itu. Sejak tahun 1952 Ali mulai bekerja sebagai wartawan lepas di berbagai harian. Ali bekerja sebagai penerjemah. Kemudian, Ali bekerja di bidang pendidikan.
Semangat kemauan belajar Ali yang cukup tinggi dan bakat yang dimiliki Ali dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua. Keterbatasan kemampuan untuk bersekolah tidak menghalangi Ali untuk tetap bisa belajar membaca dan menulis. Semoga kita semua dapat meniru semangat Ali Audah.
Disadur dari: lndarti Yuni Astuti, Ensiklopedia Sastrawan Indonesia 1, Yogyakarta, Permata Equator Media, 2008
Tentukan unsur kebahasaan teks biografi tersebut dengan mengisi tabel berikut!
2
4.0
Perhatikan kutipan novel berikut!
....
Mengapa aku dinamai seperti itu, mengapa aku bernama jamur bukannya menur, beracun dan. bisa bikin orang mati, aku tak mengerti. Mengapa pula aku seperti tak nyata, hanya kelihatan di mata, semata muncul dari dalam pikiran-alam pikiran yang telah teracun, seperti jamur berbahaya itu-aku tak akan mengerti, dan tak peduli. Apa hubungannya nama dengan manusia, arti-arti nama mereka, seperti di buku nama-nama bayi? Tak ada, nama-nama tak berarti apa-apa, tak menyatakan pemiliknya. Karena sebal dengan namaku, aku jadi cenderung menyepelekan nama-nama, sering tak mengingat nama teman-teman lama, hanya ingat wajah-wajah, tahi lalat di lengan, kebiasaan, rumah, nomor-nomor telepon lama. Aku sering kerepotan dengan nama-nama.
Dikutip dari: Nukila Amal, Cala lbi, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2015
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah . . .
1
4.0
Bacalah hasil interpretasi pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel berikut!
Novel berjudul Koala Kumal ini adalah hasil karya penulis berbakat Raditya Dika. Karya-karyanya sukses di pasaran dan diadaptasikan ke dalam film layar lebar. Tidak hanya itu, ia juga sering membintangi film hasil adaptasi dari novel-novelnya, seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon, atau Koala Kumal. Seperti novel-novel karya Raditya lainnya, novel Koala Kumal Ini menganalogikan kisah di dalamnya dengan sifat atau karakter hewan.
Novel berjudul Koala Kumal ini lebih menjelaskan perasaan patah hati adalah dialami oleh seseorang. Sebuah kisah tentang sepasang kekasih yang dahulu saling menyayangi dan memberi rasa nyaman. Akan tetapi yang dahulu ada kini telah berubah drastis kisah dalam novel ini dianalogikan seperti seekor koala yang pergi meninggalkan hutan tempat tinggalnya. Saat kembali ke hutan tersebut, koala itu bingung karena hutan menjadi kompleks perumahan yang dihuni oleh manusia.
Novel Koala Kumal mengisahkan seorang lelaki bernama Dika (Raditya Dika). Jika baru saja mengalami patah hati karena batal menikah. Wanita yang ingin ia nikahi tersebut berpaling pada seorang pria tampan bernama James. Karena pada patah hati, Dika yang seorang penulis merasa frustasi dan kesulitan menuliskan bab terakhir dari buku yang hendak ia selesaikan.
Suatu hari pada sebuah pertemuan yang tidak disengaja, jika bertemu dengan seorang gadis cantik dan unik bernama Trisna. Pertemuan Dika dan Trisna kala itu berlanjut dengan sebuah hubungan pertemanan di antara keduanya. Sisi unik yang ada pada diri Trisna membuat Dika merubah pandangan pesimis nya terhadap dunia. Lambat laun hubungan pertemanan mereka menjadi semakin akrab. Mengetahui belum menyelesaikan belum menyelesaikan buku yang ia tulis, Trisna berkeinginan untuk membantu Dika dalam penyelesaian akhir bukunya tersebut. Krisna pun berupaya keras agar Dika berhenti merasakan pahitnya patah hati dengan segala cara. Ia pun tidak henti-hentinya memotivasi Dika agar dapat bangkit dari kegagalan cinta dan membalaskan dendamnya pada gadis yang gagal ia nikahi tersebut. Waktu pun terus berlalu dan pada akhirnya jika mengetahui hubungan Trisna dengan kekasihnya di masa lalu titik ternyata dahulu Trisna pernah mengalami rasa sakit akibat kegagalan cinta melebihi apa yang dirasakan. Jika pun merasa penasaran dan ingin tahu seperti apa pengalaman pahit masa lalu yg dialami Trisna. Hubungan kedekatan mereka terus berlanjut dengan segala keseruan dan kelucuan yang mereka alami.
(Disadur dari: https://ruangseni.com/contoh-resensi-novel-koala/ diunduh12 Maret 2020)
Berikan pendapat Anda secara tertulis mengenai hasil interpretasi pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel tersebut!
3
4.3
Cermatilah teks negosiasi berikut!
Risti ingin membuat rujak. Risti ke pasar untuk membeli buah-buhan yang akan dipakai sebagai bahan rujak. Di pasar, ia membeli bengkoang, mentimun, dan belimbing.
Risti: "Selamat siang, Bu."
Penjual: "Selamat siang, Dik. Mau beli apa Dik?"
Risti: "Bengkoang ada, Bu?"
Penjual: "Ada. Bengkoangnya bagus-bagus, lo."
Risti: " Sekilonya berapa, Bu?"
Penjual: "Sekilonya sepuluh ribu."
Risti: "Kok mahal, Bu. Boleh saya tawar?"
Penjual: "Silakan, Dik."
Risti: "Lima ribu ya, Bu?"
Penjual: "Belum dapat, Dik."
Risti: "Bagaimana kalau tujuh ribu?"
Penjual: "Belum dapatlah, Dik."
Risti: "Pasnya saja berapa?"
Penjual: "Untuk Adik saya beri harga delapan ribu lima ratus."
Risti: "Delapan ribu ya, Bu?"
Penjual: "Baiklah kalau begitu."
Risti: "Ada mentimun, Bu?"
Penjual: "Ada, Dik."
Risti: "Saya butuh tiga biji saja, Bu."
Penjual: "Empat ribu."
Risti: "Dua ribu, ya?"
Penjual: "Tiga ribu."
Risti: "Baiklah saya juga mau beli belimbing. Yang mana belimbingnya, Bu?"
Penjual: "Belimbingnya sedang kosong,Dik."
Risti: "Ya sudah, Bu. semua jadi berapa, Bu?"
Penjual: "Sebelas ribu."
Risti: "Ini, Bu." (memberikan uang dua puluh ribu)
Penjual: "Ini kembaliannya, Dik. Terima kasih kunjungannya."
Risti: "Sama-sama, Bu. Selamat siang."
Penjual: "Selamat siang."
Jelaskan kesantunan bahasa yang digunakan dalam negosiasi tersebut!
1
4.5
Perhatikan kutipan teks berikut ini!
Mungkin benar, Dee terkadang tidak peduli dengan penyuntingan, dengan tata bahasa yang semaunya. kebiasaan Dee, sejak novel pertama tidak melakukan penyuntingan, mungkin membuat novelnya bermasalah. Meski demikian, saya tetap dapat menikmati novel ini tanpa jeda.
<style type="text/css">
</style>
Pernyataan tersebut merupakan kutipan resensi bagian ....
2
5.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia