Urutkan
Rifa A
26 Januari 2023 06:58
1
Maei S
26 Januari 2023 03:36
2
Fadelia B
26 Januari 2023 03:30
1
Rini P
26 Januari 2023 03:30
6
Rini P
26 Januari 2023 03:30
1
Andy D
26 Januari 2023 03:30
1
Bacalah teks biografi berikut! Kemudian, tentukan struktur teksnya!
R.A. Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Kota Jepara, Jawa Tengah. la anak seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi oleh orang tuanya. la dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan keputusan tersebut. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang dibacanya di taman rumah.
Akhirnya, membaca menjadi kegemaran Kartini. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dari surat kabar yang dibaca, ia selalu menanyakan kepada ayahnya. Melalui buku-buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Belanda. Sejak saat itu timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya di dapur, tetapi juga harus mempunyai ilmu. la memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajar menulis dan ilmu pengatahuan lainnya.
Di tengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. la menulis surat pada Mr. J. H. Abendanon. la memohon diberi beasiswa untuk belajar di negeri Belanda. Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini. Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan Sekolah Wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa pun. la tidak membedakan antara orang miskin dan kaya.
Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia, tetapi ia juga seorang tokoh nasional. Dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut Kartini telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam lingkup nasional. Dengan keberanian dan pengorbanan tulus. Kartini mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati persamaan hak tersebut.
Tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihan Kartini. didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912. Kemudian, Sekolah Wanita juga didirikan di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-Kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan banyak orang. Pada era Kartini, akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai aspek. Mereka belum diizinkan untuk memperoleh pendidikan tinggi seperti pria, bahkan belum diizinkan menentukan jodoh sendiri.
Disadur dari:http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html, diunduh 24 Maret 2016
4
4.6
Bacalah kedua teks berikut!
Teks 1
Bu Tika: "Selamat siang, Pak."
Penjual Buah: "Selamat slang. Mau beli buah apa, Bu?"
Bu Tika: "Saya ingin beIi buah naga, Pak. Ada?"
Penjual Buah: "Oh, ada, Silakan dipilih dahulu!"
Bu Tika: "Kalau buah naga merah harganya berapa, Pak?"
Penjual Buah: "Sekilonya sembilan belas ribu."
Bu Tika: "Ya, mahal sekali, Pak. Biasanya hanya sepuluh ribu per kilo."
Penjual Buah: "Maklum, Bu. Buah naga bulan-bulan ini sedang tidak musim. Kaiau bulan Januarl-Februari itu harganya murah karena musim panen buah naga."
Bu Tika: "Kalau dua belas ribu bagaimana, Pak?"
Penjual Buah: "Belum dapat, Bu."
Bu Tika: "Bagaimana kalau lima belas ribu, Pak?"
Penjual Buah: "Belum dapat, Bu. Saya rnasih rugi kaiau segitu."
Bu Tika: "Begini saja, bagaimana kalau tujuh belas ribu?"
Penjual Buah: "Ya sudah. Bu. Setuju. Hitung-hitung sebagai penglaris."
Bu Tika: "Ini uangnya, Pak."
Penjual Buah: "Iya. Bu. Ini buah naga merahnya, terima kasih."
Bu Tika: "Sama-sama. Mari, Pak."
Penjual Buah: "Mari, Bu. Hati-hati di jalan."
Teks 2
Perundingan Permintaan Fasilitas Kesehatan di PT Prima Buana
Para buruh PT Prima Buana melakukan protes meminta fastlitas kesehatan berupa di pabrik PT Prima Buana. Seteiah lama berdemonstrasi, perwakilan PT Prima Buana menerima perwakilan buruh untuk bernegosiasi. Negosiasi tersebut berIangsung tertutup dan dijaga beberapa petugas pengamanan perusahaan.
Wakil Buruh: "Selamat pagi, Pak."
Wakil Pabrik: "Selamat pagi. Mari, silakan duduk."
Wakil Buruh: "Terima kasih, Pak."
Wakil Pabrik: "Saya, Reza. Perkenalkan diri Anda."
Wakil Buruh: "Saya Budi, Pak. Saya wakil dari teman-teman buruh untuk bertemu dengan Anda." (bersalaman)
Wakil Pabrik: "Saya ingin tahu, sebenarnya apa alasan para buruh melakukan aksi protes?"
Wakil Buruh: "Jadi begini, Pak. Teman-teman buruh menginginkan fasilitas kesehatan yang memadai di pabrik."
Wakil Pabrik: "Maksudnya? Bukannya sudah ada ruang kesehatan?"
Wakil Buruh: "Iya, Pak. Tapi, ruang kesehatan itu kami anggap belum memadai dan manusiawi."
Wakil Pabrik: "Maksudnya?"
Wakil Buruh: "Pak, kami menginginkan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, misalnya ada ruang laktasi yang dilengkapi dengan lemari pendingin, dokter yang setiap saat berjaga, dan peralatan pertolongan pertama secara lengkap. Ruang kesehatan yang ada sempit sekali dan hanya ada satu tempat tidur. Kotak obat juga hanya seadanya.
Wakil Pabrik: "Wah! Itu tidak mungkin. Saat ini perusahaan mempunyai banyak beban produksi. Pengadaan fasilitas kesehatan seperti yang diminta rekan-rekan Anda memberatkan perusahaan."
Wakil Buruh: "Kalau memang begitu adanya, Pak. Kami akan terus melakukan aksi protes dan mogok kerja."
Wakil Pabrik: "Tidak bisa begitu."
Wakil Buruh: "Apa ada solusi lain, Pak?"
Wakil Pabrik: "Kita cari jalan tengahnya saja. Saya akan mengusulkan pengadaan fasilitas kesehatan berupa ruang laktasi, ruang periksa dengan perawat, dan pertolongan pertama berupa tabung oksigen sedang."
Wakil Buruh: "Kira-kira kapan usul itu direalisasikan, Pak?"
Wakil Pabrik: "Ini saya usulkan dulu ke direksi dan pemegang saham. Jika disetujui segera kami bangun fasilitas tersebut."
Wakil Buruh: "Kalau bisa, tolong diusahakan, Pak."
Wakil Pabrik: "Baiklah, akan saya coba upayakan. Sekarang, tolong kendalikan teman-teman Anda. Kembalilah bekerja."
Wakil Buruh: "Balk, Pak. Terima kasih atas kebijakannya. Boleh saya keluar?"
Wakil Pabrik: "Ya, silakan."
Wakil Buruh: "Terima kasih, Pak. Selamat slang."
Wakil Pabrik: "Selamat siang." (keduanya bersalaman)
Setelah membaca kedua teks tersebut, kerjakan tugas-tugas berikut!
Apakah kedua teks tersebut termasuk dalam teks negosiasi? Jelaskan jawaban Anda!
2
5.0
Bacalah teks biografi berikut!
R.A. Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Kota Jepara, Jawa Tengah. la anak seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi oleh orang tuanya. la dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan keputusan tersebut. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang dibacanya di taman rumah.
Akhirnya, membaca menjadi kegemaran Kartini. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dari surat kabar yang dibaca, ia selalu menanyakan kepada ayahnya. Melalui buku-buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Belanda. Sejak saat itu timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya di dapur, tetapi juga harus mempunyai ilmu. la memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajar menulis dan ilmu pengatahuan lainnya.
Di tengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. la menulis surat pada Mr. J. H. Abendanon. la memohon diberi beasiswa untuk belajar di negeri Belanda. Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini. Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan Sekolah Wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa pun. la tidak membedakan antara orang miskin dan kaya.
Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia, tetapi ia juga seorang tokoh nasional. Dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut Kartini telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam lingkup nasional. Dengan keberanian dan pengorbanan tulus. Kartini mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati persamaan hak tersebut.
Tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihan Kartini. didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912. Kemudian, Sekolah Wanita juga didirikan di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-Kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan banyak orang. Pada era Kartini, akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai aspek. Mereka belum diizinkan untuk memperoleh pendidikan tinggi seperti pria, bahkan belum diizinkan menentukan jodoh sendiri.
Disadur dari:http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html, diunduh 24 Maret 2016
Tentukan keteladanan dari tokoh dalam teks biografi tersebut!
6
5.0
Bacalah teks biografi berikut! Kemudian, tentukan keteladanan dari tokoh dalam teks biografi tersebut!
Radhar Panca Dahana
Radhar Panca Dahana lahir pada tanggal 26 Maret 1965 di Jakarta. la anak kelima dari tujuh bersaudara. Orang tuanya bernama Radsomo dan Suharti. Radhar dididik dengan otoriter oleh ayahnya. Tidak heran, ia memutuskan kabur dari rumah ketika masih duduk di bangku SMP. Sejak itu, Radhar belajar hidup mandiri. la pun bersekolah sambil bekerja. Meskipun demikian, Radhar berhasil menyelesaikan pendidikannya pada Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia (1994). Setelah meraih gelar kesarjanaan, Radhar diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (EHESS), Prancis. Pada tahun 1999, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya itu.
Ketika masih bersekolah Radhar bekerja sebagai penata artistik dan wartawan untuk rubrik "Koma", sebuah rubrik pada majalah Hai. la juga pernah bekerja pada Kompas dengan memakai nama samaran Reza Mortafilini. Di kemudian hari, karier Radhar di bidang jurnalistik berkembang dengan sangat pesat. la dikenal sebagai tokoh penting di jajaran redaksi sejumlah media lbu Kota, seperti Hai, Jakarta Jakarta, Vista TV, Kompas, dan redaktur tamu majalah remaja Kawanku. Saat ini, Radhar bekerja sebagai tenaga pengajar pada Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pengasuh rubrik "Teroka" di harian Kompas.
Radhar telah memulai karier kepengarangannya sejak berusia sepuluh tahun. la mempublikasikan cerpen pertamanya berjudul "Tamu Tak Diundang" pada harian Kompas. Sejak saat itu, Radhar mulai produktif menulis. Sejumlah cerpennya tersebar di berbagai majalah, seperti Gadis, Nova, Hai, Keluarga, Pertiwi, dan Kartini.
Di kemudian hari, cerpen-cerpen Radhar dapat dikenali melalui cirinya yang mengedepankan sinisme terhadap hiruk-pikuk sistem kehidupan masyarakat modern. Tema semacam itu mendominasi cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam Masa Depan Kesunyian (1997), sebuah buku kumpulan cerpen pertamanya. Sinisme Radhar terhadap perkembangan peradaban tampak dalam kisah kehidupan para tokoh ceritanya yang menjalankan resistensi terhadap kehidupan masyarakat modern. Tema serupa juga terdapat dalam Cerita-Cerita Negeri Asap (2005). Sejumlah cerpen yang hadir dalam buku kumpulan cerpen ini mengangkat tema ambiguitas kehidupan manusia yang berkali-kali harus tersingkirkan oleh konstruksi realitas yang dibangunnya sendiri.
Sementara itu, wujud dari keterasingan konstruksi realitas terdapat dalam "Dunia Petilasan Diri" yang bercerita tentang kisah tragis Jaron yang terealineasi oleh konsep sederhananya tentang kehidupan. Tema serupa juga terdapat dalam "Dua Meter dari Kursi Tang Nadim" yang mengangkat kisah perjalanan hidup Tang Nadim yang dikuburkan oleh keberhasilannya menakhlukkan kehidupan.
Selain tema tersebut, Radhar juga berusaha mengungkapkan konstruksi keterasingan melalui cerita tentang orang-orang yang harus kehilangan kehidupan idealisnya. Hal ini terdapat dalam sejumlah karyanya, seperti "Sepi pun Menari di Tepi Hari", "Benarkah Duri Bisa Melukai", "Aurevoir Aryani", "Pulang Menari", "Bienvenue Aryani", dan "Sekian Rindu".
Selain cerpen, Radhar juga menghasilkan sejumlah puisi dan tulisan tentang kritik sastra serta teater. Berikut ini beberapa buku karya Radhar Panca Dahana yang telah diterbitkan.
Disadur dari: Indarti Yuni Asturi, Ensiklopedi Sastrawan Indonesia. Jakarta, Porrnata Equador Media, 2008
1
5.0
Perhatikan alamat surat berikut!
Kepada Yang Terhormat direktur p.t Naraya Cemerlang
Jalan Gonjen No. 1, Palu
Perbaikan yang tepat penulisan alamat surat tersebut adalah . . .
1
4.7
Cermatilah teks negosiasi berikut!
Membeli Apel di Pasar
(Sumber: http://www.dprdpayakumbuh.files.wordpress.com, diunduh
30 Mei 2016)
Bu Rinda: "Selamat siang, Pak."
Penjual Buah: "Selamat siang."
Bu Rinda: "Ada apel, Pak?"
Penjual Buah: "Ada. Silakan dipilih dahulu!"
Bu Rinda: "Kalau apel merah harganya berapa, Pak?"
Penjual Buah: "Sekilonya dua puluh lima ribu."
Bu Rinda: "Ya, mahal sekali, Pak"
Penjual Buah: "Memang segitu harganya."
Bu Rinda: "Kalau dua puluh ribu bagaimana, Pak?"
Penjual Buah: "Belum dapat, Bu."
Bu Rinda: " Bagaimana kalau dua puluh satu ribu, Pak?"
Penjual Buah: "Belum dapat, Bu. Saya masih rugi kalau segitu."
Bu Rinda: "Ayolah, Pak. Anak saya ingin sekali makan apel."
Penjual Buah: "Begini saja, bagaimana kalau dua puluh empat ribu."
Bu Rinda: "Dua puluh tiga ribu ya, Pak."
Penjual Buah: "Ya sudah, Bu. Setuju. Hitung-hitung sebagi penglaris. "
Bu Rinda: "Ini uangnya, Pak."
Penjual Buah: "Iya, Bu. Ini apel merahnya, terima kasih."
Bu Rinda: "Sama-sama. Mari, Pak."
Penjual Buah: "Mari, Bu. Hati-hati di jalan."
Apa isi teks tersebut?
1
4.2
Bacalah teks biografi berikut!
Abdul Muis lahir pada tanggal 3 Juni 1886 di Solok, Sumatra Barat. Ayahnya bernama Datuk Tumeriggung Lareh, seorang tokoh masyarakat Sungai Puar. Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, Abdul Muis melanjutkan ke sekolah kedokteran STOVIA. Akan tetapi, tiga tahun kemudian, ia terpaksa meninggalkan pendidikannya karena sakit.
Pada tahun 1903, Abdul Muis diangkat sebagai klerk di Department van Onderwijs en Eredienst. Kehadiran Abdul Muis di departemen ini tidak disukai teman-teman sekantornya yang didominasi orang-orang keturunan Belanda. Abdul Muis pun berhenti bekerja.
Setelah berhenti dari departemen tersebut, Abdul Muis mulai berpindah-pindah kerja. Awalnya ia bekerja di Bank Rakyat, lalu ia keluar dan bergabung dengan surat kabar Bintang Hindia. Setelah Bintang Hindia bangkrut ia bergabung dengah surat kabar de Prianger Bode. Setelah bosan berpindah-pindah pekerjaan, ia mendirikan surat kabar Kaum Muda.
Di sela-sela kesibukannya sebagai jurnalistik, ia juga aktif berpolitik. la tercatat sebagai anggota Sarekat Islam. Di bidang politik, karier Abdul Muis mengalami kemajuan. Abdul Muis adalah tokoh pejuang yang sangat gigih. la tidak pernah menyerah dan terus berjuang melalui surat kabar meski pernah dicekal Pemerintah Kolonia! Hindia Belanda.
Disadur dari: lndarti Yuni Astuti, Ensiklopedia Sastrawan Indonesia 1, Yogyakarta, Permata Equator Media, 2008
Pernyataan yang sesuai dengan paragraf kedua teks biografi tersebut adalah...
1
5.0
Bacalah teks biografi berikut!
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo pada tanggal 6 Agustus 1882. Ayahnya bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Tjokroaminoto adalah seorang anak nakal dan pemberani. Semasa di bangku sekolah ia sering dikeluarkan dari sekolah satu ke sekolah lain. Walaupun demikian, karena kecerdasan otaknya, beliau dapat juga masuk ke sekolah OSVIA di Magelang. Pada tahun 1902 ia berhasil menyelesaikan studinya.
Tjokroaminoto dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak priyayi yaitu Raden Ajeng Soeharsikin, putri seorang patih wakil bupati Ponorogo bernama Raden Mas Mangoensoema. Namun, Tjokroaminoto berselisih dengan mertuanya yang bermula dari perbedaan pandangan di antara keduanya. Tjokroaminoto tidak berhasrat menjadi seorang birokrat, sedangkan mertuanya menginginkan Tjokroaminoto menjadi birokrat.
Sadar akan kenyataan yang dihadapinya, Tjokroaminoto pun mengambil tindakan nekat. Dia meninggalkan rumah kediaman mertuanya walaupun istrinya sedang mengandung anak pertamanya. Perbuatan ini menimbulkan kemarahan, bahkan kebencian mertuanya. Mangoensoema memaksa Soeharsikin untuk bercerai dengan Tjokroaminoto sebab kepergiannya telah mencoreng martabat dan kehormatan keluarganya. Namun, Soeharsikin secara tegas tetap memilih suaminya.
Pada usia 35 tahun, Tjokroaminoto mencapai puncak kariernya sebagai pemimpin Sarekat Islam selama beberapa periode. Di Surabaya, Tjokroaminoto mulai aktif berorganisasi dan menjadi ketua perkumpulan Panti Harsoyo. Melalui H. Hasan Ali Surati, seorang saudagar kaya dari India yang menjadi ketua Perkumpulan Manikem, Tjokroaminoto diperkenalkan dengan empat pengurus Sarekat Islam yang sedang menjajaki pembukaan cabang di sana. Sejak itulah Tjokroaminoto menunjukkan ketertarikannya dan resmi menjadi anggota Sarekat Islam untuk kemudian menjadi ketua cabang di Surabaya. Bersama Agus Salim dan Abdul Muis, Tjokroaminoto bahu-membahu membesarkan Sarekat Islam hingga menjadi organisasi pergerakan pertama berskala nasional. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul Muis dikenal sebagai 'Tiga Serangkai' pejuang muslim yang amat disegani.
Dlsadur dari: http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/031biografi-hoscokroaminoto-pah/awan.html, diunduh 28 Maret 2016
Ide pokok paragraf keempat teks biografi tersebut membahas masalah ...
3
5.0
Pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu masalah atau isu dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing disebut...
2
3.2
Mosi: Pengaruh game online terhadap penurunan kualitas belajar siswa.
Pernyataan tepat untuk menyanggah mosi tersebut adalah...
1
4.5
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia