Urutkan
Novianti N
07 Maret 2023 11:43
6
Syifa A
07 Maret 2023 10:38
1
M R
07 Maret 2023 06:23
5
Najwa A
07 Maret 2023 04:18
1
Kamila F
07 Maret 2023 03:59
10
Kamila F
07 Maret 2023 03:57
5
Kamila F
07 Maret 2023 03:55
3
Tokoh utama kutipan hikayat tersebut adalah . . . .
1
5.0
Makna simbolis dari kata satpam, tukang tebang kayu, dan tukang angkut kayu dalam kutipan novel tersebut adalah....
3
4.8
Sebutkan unsur intrinsik dalam hikayat!
2
4.5
Sebutkan contoh ungkapan arkais dalam hikayat!
1
5.0
Sebutkan jenis-jenis hikayat berdasarkan isinya!
4
4.5
Perhatikan kutipan hikayat berikut ini!
Hatta, maka hari pun petanglah. Maka si Miskin pun berjalanlah masuk ke dalam hutan, tempatnya sediakala itu. Di sanalah ia tidur, maka disapunyalah darah yang di tubuhnya tiada boleh keluar, karena darah itu sudah kering. Maka si Miskin itu pun tidurlah di dalam hutan itu.
Setelah pagi-pagi hari, maka berkatalah si Miskin kepada istrinya, "Ya, tuanku, matilah rasaku ini, sangatlah sakit rasanya tubuhku ini. Maka tiadalah berdaya lagi; hancurlah rasanya anggotaku ini." Maka ia pun tersedu-sedulah menangis, maka terlalu belas rasa hati istrinya, melihat laku suaminya demikian itu; maka ia pun menangis pula seraya mengambil daun kayu, lalu dimamahnya, maka disapunyalah seluruh tubuh suaminya, sambil ia berkata, "Diamlah tuan, jangan menangis!" Sudahlah dengan untung kita, maka jadi selaku ini!"
(Dikutip dari: Aliudin Mahyudin (alih aksara), Hikayat Si Miskin, Jakarta, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1981)
Latar tempat dalam kutipan hikayat tersebut ditunjukkan pada ....
2
4.5
Perhatikan kutipan hikayat berikut ini!
Hikayat Indera Bangsawan
Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa kunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Putri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan.
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah; tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya, "Barangsiapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri."
(Dikutip dari: Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 1, Jakarta, Erlangga, 1991)
Perbuatan tidak lazim yang terdapat dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....
3
5.0
Perhatikan kutipan hikayat berikut ini!
Hikayat Indera Bangsawan
Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa kunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Putri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan.
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah; tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya, "Barangsiapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri."
(Dikutip dari: Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 1, Jakarta, Erlangga, 1991)
Sifat tokoh raja Indera Bungsu dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....
2
4.3
Nilai sosial yang tampak pada kutipan tersebut adalah ....
2
5.0
Kemustahilan yang terdapat dalam kutipan tersebut adalah ...
4
5.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia