Urutkan
Juliana I
09 September 2023 08:48
3
Fadelia B
09 September 2023 08:48
1
Andy D
09 September 2023 08:48
1
Juliana I
09 September 2023 08:48
3
Fadelia B
09 September 2023 08:48
2
Rini P
09 September 2023 08:48
3
Andy D
09 September 2023 08:48
1
Juliana I
09 September 2023 08:48
2
Fadelia B
09 September 2023 08:48
1
Rini P
09 September 2023 08:48
1
Perhatikan kutipan novel berikut!
Hari itu, Annabele sibuk belajar menjahit bersama pembantunya di paviliun belakang rumah. Sementara, Jantje berlarian ke sana ke mari sambjl membidikkan pistol-pistolan kayunya ke segala arah. Beberapa jongos ikut bermain menemaninya, berpura-pura kesakitan karena terkena tembakan pistol Jantje.
Beberapa hari ini kondisi rumah keluarga Janshen mulai membaik, meski memang tak seramai biasanya. Jantje juga mulai berhenti menanyakm keberadaan anggota keluarganya yang lain, mulai terbiasa melakukan segalanya hanya bersama Annabele.
Anna sibuk menjahit kemeja-kemeja kecil berwarna merah muda untuk Jantje. Dia sengaja membeli mesin jahit, menggunakan sedikit uang titipan papanya. Dia ingin mewujudkan keinginan adik bungsunya untuk memakai kemeja berwarna merah muda. Mungkin orang lain akan menganggap seorang anak laki-laki yang memakai kemeja merah muda aneh, tapi dia tak peduli. Baginya tak masalah, selama Jantje memang benar-benar menyukainya.
“Janshen! Bajunya sudah jadi!" teriaknya pada sang adik. Anna sudah mulai terbiasa memanggil Jantje dengan nama Janshen seperti keinginan adiknya.
Si kecil melompat-lompat menuju kakaknya, wajahnya berseri-seri saat Annabele memperlihatkan kemeja berwarna merah muda yang dia idam-idamkan. “Wow, Anna! Bagus sekali! Aku ingin memakainya!" teriaknya. Dia merebut baju itu dari tangan Anna dan meminta pengasuh untuk memakaikannya.
Jantje terus tersenyum selama memakai .kemeja baru buatan kakaknya. Dia merasa bangga dan sangat bahagia. "Terima kasih, Anna. Aku senang sekali!" Bertubi-tubi dia meinciumi pipi sang kakak.
Semua pegawai di sekeliling mereka tersenyum melihat pemandangan itu. Lambat laun, mereka juga mulai terbiasa akan.ketidakhadiran tuan, nyonya, dan dua nona di rumah Jarishen.
Kini Annabele disibukkan oleh berbagai rutinitas baru. Seperti yang Garrelt amanatkan padanya, gadis itu memantau toko dan para karyawannya. Dia juga kini bertugas menggaji para pekerja. Syukurlah Annabele sangat cerdas. Tanpa kendala berarti, dia bisa menguasai pekerjaan-pekerjaan barunya dengan cepat. Para pegawai yang bekerja untuk keluarganya pun sangat menghargai si nona muda. Mereka kagum karena kepintaran dan kebaikan Tuan Garrelt benar-benar diwarisi oleh Annabele Janshen.
Dalam melakukan tugas-tugasnya, Annabele tak pernah absen mengajak Jantje. Dia kerap menggendong Jantje jika sang adik mulai protes karena keleahan. Tapi, mereka berdua selalu bersemangat dan saling menguatkan.
Lucunya, Jantje bersikap seolah dialah bos yang sebenarnya, berlagak seperti sang papa saat berhadapan dengan para pegawai. Orang-orang biasanya tertawa melihat tingkah laku si tuan yang lucu.
Terkadang anak itu masih menanyakan perihal anggota keluarganya yang lain. Saat melihat bunga-bunga yang indah, dia selalu bilang teringat Mama, karena Martha memang sangat menyukai bunga dan tanaman-tanaman hijau. Jika melihat anak perempuan berseragam sekolah, dia berkata teringat Reina, yang menurutnya lebih pantas memakai seragam sekolah ketimbang Annabele. Jika melintasi rumah dokter, dia teringat pada Lizbeth yang sering dia temani berobat ke rumah itu. Semua itu selalu dia ungkapkan pada Anna. Dan Anna selalu menjawab atau menanggapi pernyataan-pernyataan Jantje dengan bijaksana, sekaligus membuat anak itu tenang.
Sesekali, Robbert Grunigen datang ke rumah keluarga Janshen, bermain mememani si kecil. Kedatangannya tanpa alasan. Dia ingin tahu, apakah ada kabar dari Netherland tentang kondisi kesehatan Reina? Namun, nihil, karena bahkan Anna pun belum mendapat kabar apa-apa dari mereka semua. Tapi, itu tak lantas membuat Robbert malas untuk tetap berkunjung. Lama-lama dia datang untuk menemani Jantje, karena dia paham, berat menjadi seorang Jantje yang masih kecil tapi harus ditinggal jauh oleh orang tuanya, tanpa tahu apa-apa. ''Kasihan anak itu ..." dalam hati ia berucap.
Lain halnya dengan Satirah. Dia memang sempat datang suatu malam, mengetuk pintu rumah keluarga Jarnhen dengan tergesa gesa. Kebetulan, saat itu Anna yang membukakan pintu. Satirah datang mengenakan kerudung putih. Dia berkata baru pulang mengaji di surau. Satirah membawakan beberapa buku cerita untuk Janshen, juga beberapa buku pelajaran untuk Annabele. Dia bilang, buku-buku itu merupakan miliknya sendiri. Dia sengaja memberikannya pada Anna dan Jantje agar mereka berdua punya kegiatan untuk menghibur diri.
Satirah tak berlama-lama, dia terus-terusan menoleh ke belakang bagaikan ada orang yang sedang membuntutinya. Belum sempat Annabele bertanya, anak itu langsung permisi pulang. Dia berkata, sewaktu-waktu akan kembali, menengok Annabele dan Jantje.
Dikutip dari: Risa Saraswati, Janshen, Jakarta, Bukune Kreatif Cipta, 2017
Tentukan tema kutipan novel tersebut!
3
5.0
Perhatikan kutipan novel berikut !
Sesudah bertahun-tahun mengajar, aku tidak menyesal telah menuruti nasihat orang tua. Aku senang kepada pekerjaanku. Setiap hari aku berhadapan dengan anak-anak yang berlainan watak dan geraknya. Murid kelas-kelas rendahan memberi pengalaman yang berlainan dari anak-anak kelas empat hingga kelas enam. Hari yang satu berbeda dari yang sekarang maupun yang bakal datang kemudian. Seandainya aku bekerja di kantor, yang kuhadapi adalah mesin ketik!
Dikutip dari: Nh. Dini, Pertemuan Dua Hati, Jakarta, Gramedia, 2001.
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel tersebut adalah ....
1
5.0
Perhatikan kutipan novel berikut!
Berempat kami meringkuk. Jamilah pusat pucat pasi, tubuhnya gemetar. Aku pelan-pelan meniup api lampu canting. Ruangan tempat yang bersembunyi tidak serta merta gelap. Ada cahaya bulan yang menembus atap serdang dan celah dinding kulit kayu. Di bawah dangau, api perapian masih menyala. Umbi ketela yang kami panggang telah jadi arang.
Suara senyap membuat kami mendengar jelas langkah-langkah kaki. Semakin lama semakin jelas, pertanda tipu yang memang melangkah mendekati dangau kami. Jantungku berdegup kencang. Siti dan Rukayah mencengkram bajuku. Entah apa yang terjadi pada Jamilah—dia sepertinya nyaris pingsan.
Sekarang langkah kaki itu terdengar proses di bawah dangau, sejenak kemudian suara langkahnya hilang, berganti dengusan nafas memburu. Dengan mengumpulkan keberanian tersisa, aku mengintip ke bawah, melalui celah bilah-bilah bambu.
Aku melihat harimau besar itu di dekat perapian. Bulunya kekuningan, dengan ekor yang mengibas-ngibas. Tingginya tak kurang dari satu meter dengan panjang dua meter. Lalu, dia berjalan lagi, mengitari perapian. Tidak lama kemudian, rahang siku yang bergerak. Mengeluarkan auman yang menggetarkan dangau tempat kami berada.
"AUUUMMM!"
Jamilah benar-benar pingsan.
(Disadur dari: Tere Liye, Si Anak Cahaya, Jakarta, Republika Penerbit, 2018)
Situasi dalam penggalan novel tersebut adalah ...
3
5.0
Poin yang merupakan judul esai adalah ....
1
3.8
Kalima yang menunjukkan koda adalah ....
1
4.8
Penggalan teks tersebut temasuk ke dalam bagian ... dari teks anekdot.
8
5.0
Kutipan ceramah tersebut merupakan bagian...
1
5.0
Teks dialog tersebut termasuk jenis teks ....
1
5.0
Kata yang menunjukan urutan kegiatan adalah ….
1
4.2
Kalimat berikut yang termasuk unsur lucu/konyol/jengkel dari teks anekdot adalah ...
2
4.5
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia