Urutkan
Komposisi Penduduk Jakarta Tahun 2008
|
No. |
Kotamadya |
Laki-Laki |
Perempuan |
Total |
persentase |
|
1. |
Jakarta Pusat |
2.401 |
2.754 |
5.155 |
12.673 |
|
2. |
Jakarta Selatan |
4.002 |
5.129 |
9.131 |
22.448 |
|
3. |
Jakarta Timur |
3.333 |
4.011 |
7.344 |
18.055 |
|
4. |
Jakarta Utara |
4.238 |
4.342 |
8.580 |
21.094 |
|
5. |
Jakarta Barat |
5.170 |
5.296 |
10.466 |
25.730 |
|
|
|
19.144 |
21.532 |
40.676 |
100.000 |
Simpulan isi tabel tersebut adalah...
1
0.0
Dan Lebaran pun datang lagi. Persoalannya belum bergerak. Harga kebutuhan pokok naik. Masyarakat panik. Heboh mudik. Korban jiwa di jalanan bikin galau dan arus balik dapat dipastikan akan tetap kacau. Aku sendiri punya persoalan buntu yang tak bisa dipecahkan. Walau sudah setengah mati banting tulang, hasilnya hanya cukup untuk bayar uang pangkal sekolah anak-anak.
Sempat ada cucunguk yang menawarkan bagaimana mendapat SKM, dan KGS kartu yang bisa menolong mengurangi beban. Tapi apa daya hati kecil menolak. Akhirnya kesombongan itu terkumpul membuat bangkrut di puncak Ramadhan.
Sementara, orang suka ria jor-joran merayakan hari Kemenangan, kami sekeluarga teriris kesunyian. Untungnya tak ada anak-anak yang ngomel, Mungkin ibunya sudah berhasil mencuci otak mereka. Paling tidak untuk menyakiti hati bapaknya yang sudah keok.
Namun penderitaanku tetap tidak berkurang.
Karya: Putu Wjiaya
Dikutip dari: http://cerpen print.kompas.com/kumpulan-cerpen-kompas
diunduh 2 Februari 2017
Nilai kehidupan yang tergambar dalam kutipan cerpen adalah nilai....
1
1.0
Tiba-tiba dari ruang makan ada teriakan.
"Hee, ayo buruan! Nanti keburu dingin semua!"
Kami semua terkejut, lalu bergegas ke meja makan. Di situ menunggu Eyang dengan meja penuh makanan. Kami takjub. Bau sedap mengacau otak kami.
"Ayo serba saja, kalian sudah 30 hari kelaparan, kan?"
Tanpa menunggu komando kedua, kami menyerbu. Seperti piranha kami sikat habis yang ada di meja. Dalam sekejap, ludas tandas semua. Eyang memperhatikan kami makan dengan kagum. Matanya yang bersinar itu berkaca-kaca. la kelihatan begitu terharu pada kerakusan kami.
"Eyang belum pernah melihat orang menghargai makanan seperti kalian," kata Eyang sambil menepuk pundak anak-anakku, Dada ini rasanya plong, hidangan tidak ada sisanya. Besok di samping dipesankan lagi yang lebih enak, Eyang juga akan masak resep tradisional warisan leluhur Eyang. Setuju?"
Kami menjawab serentak, "Setuju!"
Habis makan, kami pindah ke ruang depan nonton televisi. Atas usul Eyang, anak-anak memilih mata acara, kemudian dinikmati bersama. Itu terbalik dari kebiasaan. Biasanya aku atau istriku yang berperan.
"Eyang heran, kenapa kalian tidak masak menjelang buka, air juga merah mengandung larutan zat besi begitu! Ternyata tidak ada beras lagi di dapur. Eyang pikir kalian berkecukupan, habis pakaiannya keren-keren begitu, eee ternyata itu keliru, kalian ternyata kere, he-he-he! Tapi tak apa. Biasa! Semua orang begitu! Besok semua biaya tanggungan Eyang!"
Karya Putu Wijaya
Dikutip dari: http://cerpen print.kompas.com/kumpulan-cerpen-kompast/#
diunduh 2 Februari 2017
Amanat dalam kutipan cerpen tersebut adalah............
1
0.0
"Las, mereka tahu apa dan siapa kamu sebenarnya. Tapi aku tidak tahu mengapa mereka lebih suka cerita palsu, barangkali untuk menyakiti aku dan kamu. Sudahlah Las, biarkan mereka. Kita sebaiknya nrima saja. Kata orang, nrima ngalah luhur wekasanae."
(Berkisar Merah, Ahmad Tohari)
Amanat pada kutipan novel tersebut adalah ...
1
5.0
Tiba-tiba dari ruang makan ada teriakan.
"Hee, ayo buruan! Nanti keburu dingin semua!"
Kami semua terkejut, lalu bergegas ke meja makan. Di situ menunggu Eyang dengan meja penuh makanan. Kami takjub. Bau sedap mengacau otak kami.
"Ayo serba saja, kalian sudah 30 hari kelaparan, kan?"
Tanpa menunggu komando kedua, kami menyerbu. Seperti piranha kami sikat habis yang ada di meja. Dalam sekejap, ludas tandas semua. Eyang memperhatikan kami makan dengan kagum. Matanya yang bersinar itu berkaca-kaca. la kelihatan begitu terharu pada kerakusan kami.
"Eyang belum pernah melihat orang menghargai makanan seperti kalian," kata Eyang sambil menepuk pundak anak-anakku, Dada ini rasanya plong, hidangan tidak ada sisanya. Besok di samping dipesankan lagi yang lebih enak, Eyang juga akan masak resep tradisional warisan leluhur Eyang. Setuju?"
Kami menjawab serentak, "Setuju!"
Habis makan, kami pindah ke ruang depan nonton televisi. Atas usul Eyang, anak-anak memilih mata acara, kemudian dinikmati bersama. Itu terbalik dari kebiasaan. Biasanya aku atau istriku yang berperan.
"Eyang heran, kenapa kalian tidak masak menjelang buka, air juga merah mengandung larutan zat besi begitu! Ternyata tidak ada beras lagi di dapur. Eyang pikir kalian berkecukupan, habis pakaiannya keren-keren begitu, eee ternyata itu keliru, kalian ternyata kere, he-he-he! Tapi tak apa. Biasa! Semua orang begitu! Besok semua biaya tanggungan Eyang!"
Karya Putu Wijaya
Dikutip dari: http://cerpen print.kompas.com/kumpulan-cerpen-kompast/#
diunduh 2 Februari 2017
Latar suasana dalam kutipan cerpen tersebut.....
1
0.0
Kutipan novel berikut untuk soal nomor 1-3.
Sementara di rumah neneknya, Srintil tidur dalam kamar seperti kebanyakan orang Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari bambu seluruhnya kecuali empat tiang penyangganya. Alasnya adalah tikar pandan dengan dua bantal yang sudah lusuh. Masuk ke dalam bilik seperti itu tak ada keraguan sedikit pun di hati Tampi.
"Bagaimana, Srin?" tanya Tampi setelah memangkahi pintu bilik.
Tubuh yang tergolek itu hampir tak, memberi tanggapan apa pun. Matanya kosong dan cekung.
"Ini kubawakan untukmu pisang raja yang matang di pohon. Wangi sekali," sambung Tampi. Bawahannya diletakkan di samping tubuh Srintil.
"Ah, Yu. Aku tak ingin makan apa pun. Yang kuharapkan dari sampean bukan makanan, melainkan anakmu. Nah, turunkan Goder, biar bermain bersamaku. Tanganku sudah gatal ingin menimangnya. Mari."
Tapi tidak bisa menolak permintaan itu meski dia merasa kasihan ketika melihat Srintil dengan tenaga yang sudah lemah berusaha bangun. Sebelum berpindah tangan Goder menatap emaknya, kemudian berganti menatap Srintil. Yang sedang dicari oleh sepasang mata bening itu adalah ketulusan hati. Seorang bayi dengan hati yang demikian bersih akan segera tahu sikap palsu di balik keramahan dan kehangatan yang dibuat-buat. Dia pasti akan menangis di tangan seorang yang tidak bersikap tulus.
Di pangkuan Srintil, Goder tidak menangis, bahkan melonjak-lonjak gembira.
Dikutip dari: Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2011
Watak tokoh Srintil dalam kutipan novel tersebut adalah....
2
1.0
Sudah 5 bulan ini Memey bekerja di tempat fotokopi milik Babah Liong. Setiap pulang sekolah ia tidak pulang ke rumah, ia langsung ke tempat fotokopi Babah Liong yang letaknya di pinggiran jalan perempatan Shinta Karawaci tidak jauh dari sekolahnya. Ia bisa kerja di sana karena istri Babah Liong menaruh kasihan padanya. Pada sembahyang Cap Go Me, Memey bertemu dengan istri Babah Liong saat itu sedang menangis tersedu-sedu di depan patung Budha. Ia sedih terkenang akan ayahnya. Biasanya 15 hari setelah tahun baru Imlek tepatnya pada perayaan Cap Go Me ia dan adik-adiknya diajak ayahnya ke pinggir sungai Cisadane dekat Plaza Robinson untuk melihat perahu naga dan tarian Barongsai yang sangat panjang. Kini semua itu tinggal kenangan.
Kaliat esai yang sesuai dengan kutipan cerpen tersebut adalah …
2
0.0
|
... Adikku mengecap dahinya yang berkeringat. "Enam bulan yang lalu, saat Dede datang ke rumah mereka, Om Danar minta tolong untuk mencetak revisi edisi kedua buku yang diterbitkan tahun lalu. Buku yang Kak Tania beli bersama Adi di toko buku Depok. Ingat, kan? Malam-malam setelah dari delapan tahun.. . dari pusara ibu." Aku menelan ludah mendengar nama Adi. "Om Danar memberikan password laptopnya. Dede membuka file naskah itu. Dede sungguh tidak berniat membuka file-file lain. Kak Tania tahu, Om Danar marah bukan lain waktu Dede membuka laptopnya tanpa izin. Dede hanya mencetak naskah itu, sesuai yang disuruh Om Danar. Dua ratus halaman. Besok Dede juga diminta mengantarkannya ke penerbit." Adikku tersengal. Aku masih mencengkram tangannya. "Tapi, tapi ... Dede nggak sengaja membuka recent document laptop Om Danar. Sumpah. Dede nggak sengaja. Di sana ada file dengan nama ganjil: Cinta dari Pohon Linden...Nama file itu berarti banyak bagi Dede. Nanti Kak Tania juga akan mengerti kenapa nama itu berarti banyak. Pohon linden. Dede penasaran. Maka Dede mengopinya dalam flash disk file." Adikku menatapmu sedih, tertunduk. Ulasan tepat sesuai kutipan novel tersebut adalah... |
1
0.0
Walaupun ayahnya seorang pengusaha hebat dan terkenal di bidang ekspor-impor, Jula tetap bersikap rendah hati. Ia sangat memamerkan kekayaan yang dimiliki orang tuanya. Ia tidak mau hanya menadahkan tangan. Kini ia akan menyelesaikan pendidikan dan jerih payahnya sendiri dan memperoleh nilai sangat memuaskan.
Frasa yang tepat untuk mengganti frasa yang bercetak miring tersebut adalah ….
1
1.0
...
Adikku mengecap dahinya yang berkeringat.
"Enam bulan yang lalu, saat Dede datang ke rumah mereka, Om Danar minta tolong untuk mencetak revisi edisi kedua buku yang diterbitkan tahun lalu. Buku yang Kak Tania beli bersama Adi di toko buku Depok. Ingat, kan? Malam-malam setelah dari delapan tahun.. . dari pusara ibu."
Aku menelan ludah mendengar nama Adi.
"Om Danar memberikan password laptopnya. Dede membuka file naskah itu. Dede sungguh tidak berniat membuka file-file lain. Kak Tania tahu, Om Danar marah bukan lain waktu Dede membuka laptopnya tanpa izin. Dede hanya mencetak naskah itu, sesuai yang disuruh Om Danar. Dua ratus halaman. Besok Dede juga diminta mengantarkannya ke penerbit."
Adikku tersengal. Aku masih mencengkram tangannya.
"Tapi, tapi ... Dede nggak sengaja membuka recent document laptop Om Danar. Sumpah. Dede nggak sengaja. Di sana ada file dengan nama ganjil: Cinta dari Pohon Linden...Nama file itu berarti banyak bagi Dede. Nanti Kak Tania juga akan mengerti kenapa nama itu berarti banyak. Pohon linden. Dede penasaran. Maka Dede mengopinya dalam flash disk file."
Adikku menatapmu sedih, tertunduk.
Latar yang menonjor ·dalam kutipan novel tersebut adalah ....
1
5.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia