Roboguru

Siapakah Daud Beureueh dan apa perannya dalam pemberontakan DI/TII Aceh ?

Pertanyaan

Siapakah Daud Beureueh dan apa perannya dalam pemberontakan DI/TII Aceh ?

Pembahasan Soal:

Teungku Muhammad Daud Beureueh atau Daud Beureueh merupakan seorang pejuang kemerdekaan sekaligus gubernur Aceh. Daud Beureuh. Ia dikenal sebagai tokoh yang kontroversional karena melakukan pemberontakan kepada pemerintah dengan mendirikan negara Islam Indonesia (NII). Pemberontakan NII Aceh sendiri dilandasi kekecewaan para tokoh Aceh karena Provinsi Aceh digabung dengan Provinsi Sumatra Utara. Peleburan itu dianggap sebagai sebuah penghianatan dan mengabaikan jasa baik masyarakat Aceh ketika perjuangan mempertahankan kedaulatan kemerdekaan Indonesia (1945-1950). Peran Daud Beureuh dalam DI/ TII menjadi sangat sentral, terlebih ia merupakan seorang pemimpin sipil, agama, dan militer di Aceh pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia sangat disegani saat memimpin perlawanan agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Atas perannya tersebut, Daud Beureuh pun tidak mengalami kesulitan untuk mempengaruhi masyarakat hingga pejabat pemerintahan Aceh. Selain itu, ia juga berhasil menguasai Pidie dan juga sebagian besar kota-kota di Aceh.

Dengan demikian, Daud Beureuh merupakan seorang pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh yang berperan penting dalam pemberontakan DI/TII Aceh.

Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru

Dijawab oleh:

F. Putri

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Lampung

Terakhir diupdate 05 Oktober 2021

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

Pertanyaan yang serupa

Alasan Daud Beureuh bergabung dengan DI/TII adalah ...

Pembahasan Soal:

Selain di Jawa Barat dan Jawa Tengah, sejarah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) juga pernah terjadi di Aceh pasca-kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakan DI/TII di Aceh berlangsung pada 1953-1962 dipimpin oleh Teungku Daud Beureueh. Pemberontakan ini dilatarbelakangi oleh penurunan status Provinsi Aceh menjadi karesidenan dibawah Provinsi Sumatera Utara. Hal tersebut dianggap sebagai pengingkaran janji oleh Presiden Sukarno, sebab pada Juni 1948 ia pernah menyatakan bahwa Aceh diperbolehkan menerapkan syariat Islam dan tetap menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Daud Beureuh menanggap pemerintah pusat seakan mengabaikan jasa rakyat Aceh ketika perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia pada masa revolusi fisik (1945-1950).

Berdasarkan penjelasan tersebut, jawaban yang tepat adalah B.

0

Roboguru

Ceritakan kembali pergolakan DI/TII Jawa Barat dan DI/TII Aceh dengan lengkap!

Pembahasan Soal:

Cikal bakal pemberontakan DI/TII yang meluas di beberapa wilayah Indonesia bermula dari sebuah gerakan di Jawa Barat yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo. Ia dulu adalah salah seorang tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Perjanjian Renville membuka peluang bagi Kartosuwiryo untuk lebih mendekatkan cita-cita lamanya untuk mendirikan negara Islam. Salah satu keputusan Renville adalah pasukan RI dari daerah-daerah yang berada di dalam garis van Mook harus pindah ke daerah yang dikuasai RI. Persoalan timbul ketika pasukan Siliwangi kembali balik ke Jawa Barat. Kartosuwiryo tidak mau mengakui tentara RI tersebut kecuali mereka mau bergabung dengan DI/TII. Ini sama saja Kartosuwiryo dengan DI/TII nya tidak mau mengakui pemerintah RI di Jawa Barat.


Daerah pemberontakan DI/TII berikutnya adalah Aceh. Ada sebab dan akhir yang berbeda antara pemberontakan di daerah ini dengan daerah-daerah DI/TII lainnya. Di Aceh, pemicu langsung pecahnya pemberontakan adalah ketika pada tahun 1950 pemerintah menetapkan wilayah Aceh sebagai bagian dari provinsi Sumatera Utara. Para ulama Aceh yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) menolak hal ini. Bagi mereka, pemerintah terlihat tidak menghargai masyarakat Aceh yang telah berjuang membela republik. Mereka menuntut agar Aceh memiliki otonomi sendiri dan mengancam akan bertindak bila tuntutan mereka tak dipenuhi. Tokoh terdepan PUSA dalam hal ini adalah Daud Beureuh. Pemerintah pusat kemudian berupaya menempuh jalan pertemuan. Wakil Presiden M. Hatta (1950), Perdana Menteri M. Natsir (1951), bahkan Soekarno (1953) menyempatkan diri ke Aceh untuk menyelesaikan persoalan ini, namun mengalami kegagalan. Akhirnya pada tahun 1953, setelah Daud Beureuh melakukan kontak dengan Kartosuwiryo, ia menyatakan Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang dipimpin Kartosuwiryo. Konflik antara pengikut Daud Beureuh dengan tentara RI pun berkecamuk dan tak menentu selama beberapa tahun, sebelum akhirnya pemerintah mengakomodasi dan menjadikan Aceh sebagai daerah istimewa pada tahun 1959. Tiga tahun setelah itu Daud Beureueh kembali dari pertempuran yang telah selesai. Ia mendapat pengampunan.


Dengan demikian pergolakan DI/TII di Jawa Barat terjadi karena kekecewaan Kartosuwiryo terhadap hasil perjanjian Renville dan cita-citanya untuk mendirikan negara Islam. Sementara itu, pergolakan DI/TII di Aceh terjadi karena kekecewaan Daud Beureueh terhadap kebijakan pemerintah Indonesia yang menurunkan status wilayah Aceh menjadi bagian dari provinsi Sumatera Utara.

0

Roboguru

Disepakatinya Perjanjian Renville merupakan salah satu pemicu munculnya gerakan Dl/Tll di Jawa Barat. Gerakan ini segera disusul oleh dukungan yang diberikan kepada Dl/Tll di berbagai daerah. Salah sa...

Pembahasan Soal:

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai pada tanggal 20 September 1953. Alasan pertama yang menjadi latar belakang dari gerakan ini adalah adanya kekecewaan para tokoh pimpinan masyarakat di Aceh atas dileburnya provinsi Aceh ke dalam provinsi Sumatera Utara yang beribu kota di Medan. Peleburan tersebut seakan mengabaikan jasa baik masyarakat Aceh ketika perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia dimasa revolusi fisik (1945-1950).

Jadi, pemberontakan DI/TII di Aceh dilatarbelakangi karena ketidakpuasan tokoh pimpinan masyarakat di Aceh akibat penurunan status Aceh.

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah D.

0

Roboguru

Perhatikan tabel berikut ini! Pimpinan DI/TII Daerah .....M.... Aceh

Pembahasan Soal:

Pimpinan DI/TII Daerah
Daud Beureuh Aceh


Pemberontakan DI/TII di wilayah Aceh digerakkan dan dipimpin oleh tokoh Aceh benama Daud Beureuh. Pemberontakan terjadi karena pemerintah saat itu memutuskan untuk menggabungkan wilayah Aceh ke dalam Provinsi Sumatra Utara, dengan alasan untuk mempertahankan provinsi otonomi. Daud Beureueh sempat melakukan penawaran terhadap presiden agar program tersebut tidak direalisasikan. Namun, permintaan Daud Beureuh tersebut tidak disetujui oleh presiden.

Dengan demikian, pemberontakan DI/TII yang terjadi di Aceh dipimpin oleh Daud Beureuh.

Jadi, jawaban sesuai soal yang terdapat dalam tabel yaitu huruf M adalah Daud Beureuh.

 

0

Roboguru

Ceritakan Kembali dengan tulis tangan mengenai pergolakan DI/TII Jawa Barat dan DI/TII Aceh dengan lengkap?

Pembahasan Soal:

Gerakan Separatisme DI/TII di Jawa Barat

Negara Islam Indonesia (NII) atau DI/TII yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah pemberontakan yang dimulai pada 7 Agustus 1949 oleh sekelompok milisi Muslim, dikoordinasikan oleh seorang politisi Muslim, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampang, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Kelompok ini mengakui syariat islam sebagai sumber hukum yang valid. Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam memberantas gerakan separatis tersebut, pemerintah melaksanakan operasi militer yang dinamakan operasi pagar betis. Operasi ini dilakukan dengan mengepung markas pemberontak di Gunung Geber. Dalam operasi ini, TNI yang dipimpin oleh Divisi Siliwangi, mengepung wilayah-wilayah yang menjadi basis kekuatan DI/TII dan membatasi gerakkan mereka. Operasi ini dinamakan “pagar betis” karena pasukan TNI mengepung basis-basis pemberontak DI/TII, sehingga membatasi ruang gerak mereka. Akhirnya pada 4 Juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditangkap di Gunung Geber. Tertangkapnya Kartosuwiryo ini mengakhiri pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.

Gerakan Separatisme DI/TII di Aceh

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai pada tanggal 20 September 1953. Dimulai dengan pernyataan Proklamasi berdirinya Negara Islam Indonesia oleh Daud Beureueh, proklamasi itu menyatakan diri bahwa Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) dibawah kepemimpinan Imam Besar NII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Alasan pertama yang menjadi latar dari gerakan DI/TII Aceh adalah kekecewaan para tokoh pimpinan masyarakat di Aceh atas dileburnya provinsi Aceh ke dalam provinsi Sumatra Utara yang beribu kota di Medan. Peleburan provinsi itu seakan mengabaikan jasa baik masyarakat Aceh ketika perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia dimasa revolusi fisik kemerdekaan Indonesia (1945-1950). Kekhawatiran kembalinya kekuasaan para ulee balang yang sejak lama telah menjadi pemimpin formal pada lingkup adat dan politik di Aceh. Akhir dari pemberontakan DI/TII di Aceh adalah menyerahnya Daud Beureueh setelah dicapai kesepakatan dalam Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh. Musyawarah ini berlangsung pada tanggal 17-21 Desember 1962, dan mendirikan kembali provinsi Aceh dengan status daerah istimewa.

Dengan demikian gerakan separatis DI/TII yang berpusat di Jawa Barat kemudian meluas ke Aceh, memiliki pemimpin gerakan dan latar belakang pemicu pemberontakan yang berbeda. 

0

Roboguru

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved