Iklan

Iklan

Pertanyaan

Bacalah teks berikut! Kupu-Kupu Ibu Aku melihatnya. Aku melihat perempuan yang pernah kau ceritakan. Sepulang sekolah tadi, di dekat taman, aku melihat sepasang kupu-kupu berputar salingmelingkar. Akan tetapi, mereka tak seperti kupu-kupu dalam ceritamu, Ayah. Merekalebih cantik. Yang satu berwarna hitam dengan bintik biru bercahaya seperti mutiara.Yang lain bersayap putih jernih, sebening sepatu kaca Cinderella, dengan serat tipiskehijauan melintang di tepi sayapnya. Aku takjub. Aku mengejarnya. Kupu-kupu itu masuk ke dalam taman, dan akuterus saja mengikutinya. Dan ternyata kedua kupu-kupu itu menghampiri seorangperempuan yang duduk di bangku yang agak terpisah dari bangku-bangku tamanlainnya. Kupu-kupu itu asyik berputar-putar di atas kepala perempuan itu. Aku tersadar. Itu perempuan yang Ayah ceritakan. Sebelum aku sempat membalikkan badan untuk meninggalkan taman itu, ia berbicara padaku. Aku tak menyangka. Tidak, Ayah. Ia tidak bisu seperti yang kau bilang. Dan katamu ia seorangyang menyeramkan, hingga aku membayangkan perempuan itu sebagai nenek penyihir. Ayah, perempuan itu sangat cantik. Sama cantiknya dengan keduakupu-kupu itu.Oya, dia baik juga. Ia memintaku duduk di sisinya. Menemaninya bermain dengankupu-kupu itu. Dia mengajariku membelai sayap kupu-kupu. Kami bercerita tentangkesukaan kami masing-masing. Dan ternyata, selain menyenangi kupu-kupu, kamijuga sama-sama menyukai es krim rasa vanila dengan taburan kacang almond, senangbuah apel, dan tidur di antara banyak bantaldan boneka. *** Kau ingat ceritaku, Ning? Tentang dua ekor kupu-kupu dan seorang perempuan yang jatuh cinta pada mereka? Ah, kurasa kau sudah lupa. Ketika pertama kalikuceritakan ini, kau masih kecil, belum juga TK. Bahkan aku masih ingat, kau memakai terusan jingga dengan hiasan pita merah melingkar di pinggang, bergambarkelinci putih yang mengedipkan matanya di bagian depan. Baju kesukaanmu saat itu.Kau berbaring di tempat tidur. Menatapku. Menunggu dongeng pengantar tidur. Adasegaris senyum tipis di wajahkanakmu yang hening. Sehening namamu, Ning. Aku rindu menceritakannya lagi padamu. Sembari mengenang masa kecilmuyang penuh cekikik geli atau rengekan manja yang sering membuatku gemas. Anggap saja masa kecilmu tak sanggup mengingat dongeng itu. Dan sekarang, aku akanmengingatkannya kembali untukmu, Ning. Setiap senja, Ning, di taman dekat sekolah, selalu ada seorang perempuan yangduduk di sudut taman. Ketika langit mulai berwarna jingga, ia hadir di taman itu danselalu menunggu kedatangan dua ekor kupu-kupu cantik. Ya, keduanya cantik. Yangseekor bersayap hijau dengan serat-serat kecokelatan pada garis guratannya. Kira-kiraseperti daging buah avokad yang matang. Dan yang seekor lagi bersayap biru, dengansedikit bintik-bintik putih. Ya, mirip dengan motif tas tangan ibu di potret keluargayang ada di ruang tamu. Tak ada yang tahu tentang apa yang dilakukannya bersamakedua kupu-kupu itu setiap senja. Lalu setelah langit kehilangan garis jingga terakhir, kedua kupu-kupu itu pun meninggalkan taman, sebelum malam membuat matamereka jadi buta. Perempuan itu pun pergi. Berjalan gontai, dengan tundukan kepalayang dalam. Seolah ia ingin sekali melupakan seluruh hari yang pernah dijalaninya. Orang-orang di sekitar sini tak ada yang mengenalnya. Tak ada yang tahunamanya. Tak ada yang mengerti ia berasal dari keluarga yang mana. Bahkan takada yang pernah berbicara dengannya. Walau hanya sekadar perbincangan basa-basitanpa perkenalan. Orang-orang tak tahu di mana rumahnya. Kemudian setiap senjaberakhir, ketika orang-orang mulai sibuk dengan menu makan malam dengan keluarganya masing-masing, perempuan itu seakan-akan menghilang. Tak ada jejak yangbisa menunjukkan keberadaannya. Bagimu mungkin tak ada yang mengherankan. Seperti juga dirimu yangmencintai kupu-kupu. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada kejadian yang berarti.Sampai kemudian tersiar kabar bila perempuan itu bisu. Karena sempat di suatu pengujung senja, saat perempuan itu meninggalkan taman, seseorang tak sengaja melihatnya lalu menyapanya. Tapi perempuan itu cuma mengangguktersenyum, tanpabicara apa-apa. Lambat laun orang-orang mulai curiga dengan keberadaannya di taman.Orang-orang juga heran dengan keberadaan kedua kupu-kupu itu. Banyak yangmenduga bila perempuan itu bisa berbicara dengan kupu-kupu. Hanya dengan kupu-kupu, Ning. Orang-orang pun mulai menyiarkan kabar bila perempuan itu memiliki ilmu hitam. Sejak itu pula orang-orang mulai menjauhinya. Tak ada yang maudatang ke taman dekat sekolah setiap senja. Orang-orang takut akan bertemu denganperempuan itu bila datang ke sana. Itulah sebabnya, taman dekat sekolah selalu sunyisebelum senja datang, sebelum langit mengguratkan cahaya jingga di tubuhnya. Ning, ini bukanlah dongeng seperti yang biasanya kuceritakan sebelum kautidur. Bukan cerita serupa Putri Rapunzel, Cinderella, Putri dan Biji Kapri, Tiga BabiKecil, atau cerita Serigala yang Jahat.Tapi ini benar-benar ada. Perempuan itu betul-betul datang setiap senja ke taman dekat sekolah. Ayah sengaja menceritakan ini agarkau tak datang ke taman ketika kau pulang sekolah saat senja. *** Ning, mengapa kau kemari lagi? Segeralah pulang. Ayahmu akan curiga bilakau selalu pulang terlambat dari sekolah. Kau pun pasti telah mendengar dari orang-orang tentangku. Aku memangkesepian. Gunjingan orang-orang membuatku disingkirkan. Tapi, janganlah kau terlampau sering datang menemuiku. Apalagi bilahanya ingin bermain dengan kupu-kupu yang sering menemaniku. Atau sekadaringin membawakan aku es krim atau buah apel. Kau bisa bermain dengan kupu-kupu lain yang mungkin lebih cantik dari kedua kupu-kupu di taman ini. Kau jugabisa makan es krim dengan ayahmu. Sedangkan aku sudah terbiasa hidup dalamkesendirian. Setidaknya aku masih bisa menemukan sedikit keributan di taman inisetiap senja. Mendengar kepak sayap burung-burung yang pulang ke sarang, riuhpepohonan menyambut malam yang membawakan selimut tidurnya, bising binatangmalam yang bersiap keluar sarang bila malam tiba. Tonggeret, kodok, jangkrik. Jujur saja, aku lebih suka sendiri. Aku tak mau merepotkanmu. Karena suatu saat kaumungkin akan menemui kesulitan hanya karena keberadaanku. Aku yakin, Ning, suatu saat kau akan menemukan kupu-kupu yang kau sukai.Yang akan selalu menemanimu. Meski ia harus mengalami kelahiran berulang kali sebagai kupu-kupu, untuk menemanimu. Ning, aku tak ingin orang-orang akan ikutbergunjing tentangmu, hanya karena kau menemuiku di sini. Aku tak mau orang-orang menjauhimu, bila mereka tahu kau pernah datang mengunjungiku. Bahkanteman-teman sekolahmu mungkin tak mau lagi berbicara denganmu. Pulanglah,Ning. Aku juga harus bergegas pulang. Matahari telah tampak uzur hari ini.Sudahtiba waktunya bagi kedua kupu-kupu ini untuk tidur. *** Ayah, senja tadi aku tak melihat kedua kupu-kupu itu di taman. Mungkinmereka sedang tidur. Mungkin mereka tanpa sadar sudah menanggalkan sayapnya,menanggalkan ruhnya, menjadi telur-telur cantik yang akan menetas jadi ulat-ulatcantik warna-warni dan gemuk, dan sebentar lagi bersemayam dalam kepompongputih yang rapuh lalu menjadi kupu-kupu baru yang lebih cantik. Ayah, aku juga tak melihat perempuan itu. Tak ada seorang pun di tamansenja tadi. Aku sudah berkeliling mencarinya. Padahal, aku sudah membeli sebatangcokelat putih untuk kami nikmati bersama-sama. Ayah, apa perempuan itu marahpadaku? Apa perempuan itu kesal karena aku sering mengunjunginya? Apa kunjunganku membuat perempuan itu terganggu? Kalau ia memang marah, aku takmengerti sebabnya. Dia tak pernah marah padaku. Selalu tersenyum bila aku datang,mencium keningku setiap kami berpisah di pertigaan dekat taman ketika kami pulang bersama sehabis senja. Perempuan itu tak pernah mengatakan bila ia terganggudengan keberadaanku. Memang perempuan itu pernah melarangku untuk datang menemuinya.Perempuan itu mengatakan bila ia lebih suka sendiri. Tapi aku tak percaya padanya. Aku yakin bila ia tak mau menemuiku karena sebab lain. Karena biasanya wajahperempuan itu selalu tampak riang menyambut kedatanganku. Bila aku berlari meng-hampirinya, tangannya akan terentang lebar ingin memelukku. Aku tahu ia selalumenunggu kedatanganku. Ayah, aku rindu pada kedua kupu-kupu itu. Aku juga ingin bertemu denganperempuan itu. Kuharap kau tidak marah bila aku sering menemuinya. Aku sangatsenang bermain dengan mereka. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan bermainlompat tali dengan teman-teman. Ayah, apa kau betul-betul tak mengenal perempuanitu? Apa kau benar-benar tak tahu di mana ia tinggal? Kumohon,antarkan aku kesana. *** Ning, lihatlah halaman rumah kita, penuh dengan kupu-kupu mungil warna-warni yang cantik. Sayap mereka berkilauan. Tapi ada tiga kupu-kupu yang lebih besar.Lihatlah, yang dua ekor itu seperti yang kau temui di taman bukan? Dan yang palingbesar adalah kupu-kupu yang tercantik dari seluruh kupu-kupu itu. Aku pun baru kaliini melihat kupu-kupu seindah itu, Ning. Warna ungu dan hijau di sayapnya berpadusangat serasi. Caranya mengepakkan sayap dengan pelan dan lembut. Sangat anggun,seperti ibumu. Lihat, matamu sampai berkaca-kaca melihatnya. Kau senang bukan, sekarangkau memiliki banyak sekali kupu-kupu yang indah. Kau rindu pada kupu-kupu, kan?Bermainlah bersama mereka, Ning.Aku yakin mereka pun akan senang bermain denganmu. *** Tidak. Aku tak ingin bermain bersama mereka. Lihatlah kupu-kupu yang paling besar itu. Kupu-kupu itu memang yang paling cantik. Tapi, warnanya persis samadengan warna gaun perempuan itu ketika terakhir kali aku menemuinya. Perempuanitu, Ayah. Aku tak mau ia berubah menjadi kupu-kupu hanya untuk menemaniku.Biar saja kupu-kupu lainnya meninggalkanku, asalkan perempuan itu tetap ada untukku. Aku tak ingin bermain dengan kupu-kupu. Aku ingin perempuan itu, Ayah.Hanya perempuan itu. Aku hanya ingin ibuku. Yogyakarta , 2006 Sumber buku 20 Cerpen Terbaik 2008 . Tahun 2008. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Karya Komang Ira Puspitaningsih. Dia lahir di Denpasar, 31 Mei 1986.Beberapa karyanya terkumpul dalamsejumlah antologi bersama, antara lain: Ning(Sanggar Purbakaraka, 2002), Para Penari (Lingkaran Komunikasi Malang, 2002),Lampung Kenangan (Dewan Kesenian Lampung, 2002). Jawablah pertanyaan berikut! i.) Dapatkah kamu mengenali tokoh dari dialog atau penjelasan tentang tokoh? j.) Coba kamu tuliskan pesan atau nasihat apa yang ingin disampaikan pengarangmelalui cerita tersebut! k.) Pernahkah kamu mendengar riwayat pengarang cerita pendek tersebut?

Bacalah teks berikut! 


Kupu-Kupu Ibu 


    Aku melihatnya. Aku melihat perempuan yang pernah kau ceritakan. Sepulang sekolah tadi, di dekat taman, aku melihat sepasang kupu-kupu berputar salingmelingkar. Akan tetapi, mereka tak seperti kupu-kupu dalam ceritamu, Ayah. Mereka lebih cantik. Yang satu berwarna hitam dengan bintik biru bercahaya seperti mutiara. Yang lain bersayap putih jernih, sebening sepatu kaca Cinderella, dengan serat tipis kehijauan melintang di tepi sayapnya. 

    Aku takjub. Aku mengejarnya. Kupu-kupu itu masuk ke dalam taman, dan aku terus saja mengikutinya. Dan ternyata kedua kupu-kupu itu menghampiri seorang perempuan yang duduk di bangku yang agak terpisah dari bangku-bangku taman lainnya. Kupu-kupu itu asyik berputar-putar di atas kepala perempuan itu. 

    Aku tersadar. Itu perempuan yang Ayah ceritakan. Sebelum aku sempat membalikkan badan untuk meninggalkan taman itu, ia berbicara padaku. Aku tak menyangka. Tidak, Ayah. Ia tidak bisu seperti yang kau bilang. Dan katamu ia seorang yang menyeramkan, hingga aku membayangkan perempuan itu sebagai nenek penyihir. Ayah, perempuan itu sangat cantik. Sama cantiknya dengan kedua kupu-kupu itu. Oya, dia baik juga. Ia memintaku duduk di sisinya. Menemaninya bermain dengan kupu-kupu itu. Dia mengajariku membelai sayap kupu-kupu. Kami bercerita tentang kesukaan kami masing-masing. Dan ternyata, selain menyenangi kupu-kupu, kami juga sama-sama menyukai es krim rasa vanila dengan taburan kacang almond, senang buah apel, dan tidur di antara banyak bantal dan boneka. 

***

    Kau ingat ceritaku, Ning? Tentang dua ekor kupu-kupu dan seorang perempuan yang jatuh cinta pada mereka? Ah, kurasa kau sudah lupa. Ketika pertama kali kuceritakan ini, kau masih kecil, belum juga TK. Bahkan aku masih ingat, kau memakai terusan jingga dengan hiasan pita merah melingkar di pinggang, bergambar kelinci putih yang mengedipkan matanya di bagian depan. Baju kesukaanmu saat itu. Kau berbaring di tempat tidur. Menatapku. Menunggu dongeng pengantar tidur. Ada segaris senyum tipis di wajah kanakmu yang hening. Sehening namamu, Ning. 

    Aku rindu menceritakannya lagi padamu. Sembari mengenang masa kecilmu yang penuh cekikik geli atau rengekan manja yang sering membuatku gemas. Anggap saja masa kecilmu tak sanggup mengingat dongeng itu. Dan sekarang, aku akan mengingatkannya kembali untukmu, Ning. 

    Setiap senja, Ning, di taman dekat sekolah, selalu ada seorang perempuan yang duduk di sudut taman. Ketika langit mulai berwarna jingga, ia hadir di taman itu dan selalu menunggu kedatangan dua ekor kupu-kupu cantik. Ya, keduanya cantik. Yang seekor bersayap hijau dengan serat-serat kecokelatan pada garis guratannya. Kira-kira seperti daging buah avokad yang matang. Dan yang seekor lagi bersayap biru, dengan sedikit bintik-bintik putih. Ya, mirip dengan motif tas tangan ibu di potret keluarga yang ada di ruang tamu. Tak ada yang tahu tentang apa yang dilakukannya bersama kedua kupu-kupu itu setiap senja. Lalu setelah langit kehilangan garis jingga terakhir, kedua kupu-kupu itu pun meninggalkan taman, sebelum malam membuat mata mereka jadi buta. Perempuan itu pun pergi. Berjalan gontai, dengan tundukan kepala yang dalam. Seolah ia ingin sekali melupakan seluruh hari yang pernah dijalaninya. 

    Orang-orang di sekitar sini tak ada yang mengenalnya. Tak ada yang tahu namanya. Tak ada yang mengerti ia berasal dari keluarga yang mana. Bahkan tak ada yang pernah berbicara dengannya. Walau hanya sekadar perbincangan basa-basi tanpa perkenalan. Orang-orang tak tahu di mana rumahnya. Kemudian setiap senja berakhir, ketika orang-orang mulai sibuk dengan menu makan malam dengan keluarganya masing-masing, perempuan itu seakan-akan menghilang. Tak ada jejak yang bisa menunjukkan keberadaannya. 

    Bagimu mungkin tak ada yang mengherankan. Seperti juga dirimu yang mencintai kupu-kupu. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada kejadian yang berarti. Sampai kemudian tersiar kabar bila perempuan itu bisu. Karena sempat di suatu pengujung senja, saat perempuan itu meninggalkan taman, seseorang tak sengaja melihatnya lalu menyapanya. Tapi perempuan itu cuma mengangguk tersenyum, tanpa bicara apa-apa. 

    Lambat laun orang-orang mulai curiga dengan keberadaannya di taman. Orang-orang juga heran dengan keberadaan kedua kupu-kupu itu. Banyak yang menduga bila perempuan itu bisa berbicara dengan kupu-kupu. Hanya dengan kupu-kupu, Ning. Orang-orang pun mulai menyiarkan kabar bila perempuan itu memiliki ilmu hitam. Sejak itu pula orang-orang mulai menjauhinya. Tak ada yang mau datang ke taman dekat sekolah setiap senja. Orang-orang takut akan bertemu dengan perempuan itu bila datang ke sana. Itulah sebabnya, taman dekat sekolah selalu sunyi sebelum senja datang, sebelum langit mengguratkan cahaya jingga di tubuhnya. 

    Ning, ini bukanlah dongeng seperti yang biasanya kuceritakan sebelum kau tidur. Bukan cerita serupa Putri Rapunzel, Cinderella, Putri dan Biji Kapri, Tiga Babi Kecil, atau cerita Serigala yang Jahat. Tapi ini benar-benar ada. Perempuan itu betul-betul datang setiap senja ke taman dekat sekolah. Ayah sengaja menceritakan ini agar kau tak datang ke taman ketika kau pulang sekolah saat senja. 

***

    Ning, mengapa kau kemari lagi? Segeralah pulang. Ayahmu akan curiga bila kau selalu pulang terlambat dari sekolah. Kau pun pasti telah mendengar dari orang-orang tentangku. Aku memang kesepian. Gunjingan orang-orang membuatku disingkirkan. Tapi, janganlah kau terlampau sering datang menemuiku. Apalagi bila hanya ingin bermain dengan kupu-kupu yang sering menemaniku. Atau sekadar ingin membawakan aku es krim atau buah apel. Kau bisa bermain dengan kupu-kupu lain yang mungkin lebih cantik dari kedua kupu-kupu di taman ini. Kau juga bisa makan es krim dengan ayahmu. Sedangkan aku sudah terbiasa hidup dalam kesendirian. Setidaknya aku masih bisa menemukan sedikit keributan di taman ini setiap senja. Mendengar kepak sayap burung-burung yang pulang ke sarang, riuh pepohonan menyambut malam yang membawakan selimut tidurnya, bising binatang malam yang bersiap keluar sarang bila malam tiba. Tonggeret, kodok, jangkrik. Jujur saja, aku lebih suka sendiri. Aku tak mau merepotkanmu. Karena suatu saat kau mungkin akan menemui kesulitan hanya karena keberadaanku. 

    Aku yakin, Ning, suatu saat kau akan menemukan kupu-kupu yang kau sukai. Yang akan selalu menemanimu. Meski ia harus mengalami kelahiran berulang kali sebagai kupu-kupu, untuk menemanimu. Ning, aku tak ingin orang-orang akan ikut bergunjing tentangmu, hanya karena kau menemuiku di sini. Aku tak mau orang-orang menjauhimu, bila mereka tahu kau pernah datang mengunjungiku. Bahkan teman-teman sekolahmu mungkin tak mau lagi berbicara denganmu. Pulanglah, Ning. Aku juga harus bergegas pulang. Matahari telah tampak uzur hari ini. Sudah tiba waktunya bagi kedua kupu-kupu ini untuk tidur. 

***

    Ayah, senja tadi aku tak melihat kedua kupu-kupu itu di taman. Mungkin mereka sedang tidur. Mungkin mereka tanpa sadar sudah menanggalkan sayapnya, menanggalkan ruhnya, menjadi telur-telur cantik yang akan menetas jadi ulat-ulat cantik warna-warni dan gemuk, dan sebentar lagi bersemayam dalam kepompong putih yang rapuh lalu menjadi kupu-kupu baru yang lebih cantik. 

    Ayah, aku juga tak melihat perempuan itu. Tak ada seorang pun di taman senja tadi. Aku sudah berkeliling mencarinya. Padahal, aku sudah membeli sebatang cokelat putih untuk kami nikmati bersama-sama. Ayah, apa perempuan itu marah padaku? Apa perempuan itu kesal karena aku sering mengunjunginya? Apa kunjunganku membuat perempuan itu terganggu? Kalau ia memang marah, aku tak mengerti sebabnya. Dia tak pernah marah padaku. Selalu tersenyum bila aku datang, mencium keningku setiap kami berpisah di pertigaan dekat taman ketika kami pulang bersama sehabis senja. Perempuan itu tak pernah mengatakan bila ia terganggu dengan keberadaanku. 

    Memang perempuan itu pernah melarangku untuk datang menemuinya. Perempuan itu mengatakan bila ia lebih suka sendiri. Tapi aku tak percaya padanya. Aku yakin bila ia tak mau menemuiku karena sebab lain. Karena biasanya wajah perempuan itu selalu tampak riang menyambut kedatanganku. Bila aku berlari meng- hampirinya, tangannya akan terentang lebar ingin memelukku. Aku tahu ia selalu menunggu kedatanganku. 

    Ayah, aku rindu pada kedua kupu-kupu itu. Aku juga ingin bertemu dengan perempuan itu. Kuharap kau tidak marah bila aku sering menemuinya. Aku sangat senang bermain dengan mereka. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan bermain lompat tali dengan teman-teman. Ayah, apa kau betul-betul tak mengenal perempuan itu? Apa kau benar-benar tak tahu di mana ia tinggal? Kumohon, antarkan aku ke sana. 

***

    Ning, lihatlah halaman rumah kita, penuh dengan kupu-kupu mungil warna- warni yang cantik. Sayap mereka berkilauan. Tapi ada tiga kupu-kupu yang lebih besar. Lihatlah, yang dua ekor itu seperti yang kau temui di taman bukan? Dan yang paling besar adalah kupu-kupu yang tercantik dari seluruh kupu-kupu itu. Aku pun baru kali ini melihat kupu-kupu seindah itu, Ning. Warna ungu dan hijau di sayapnya berpadu sangat serasi. Caranya mengepakkan sayap dengan pelan dan lembut. Sangat anggun, seperti ibumu. 

    Lihat, matamu sampai berkaca-kaca melihatnya. Kau senang bukan, sekarang kau memiliki banyak sekali kupu-kupu yang indah. Kau rindu pada kupu-kupu, kan? Bermainlah bersama mereka, Ning. Aku yakin mereka pun akan senang bermain denganmu. 

***

    Tidak. Aku tak ingin bermain bersama mereka. Lihatlah kupu-kupu yang paling besar itu. Kupu-kupu itu memang yang paling cantik. Tapi, warnanya persis sama dengan warna gaun perempuan itu ketika terakhir kali aku menemuinya. Perempuan itu, Ayah. Aku tak mau ia berubah menjadi kupu-kupu hanya untuk menemaniku. Biar saja kupu-kupu lainnya meninggalkanku, asalkan perempuan itu tetap ada untukku. Aku tak ingin bermain dengan kupu-kupu. Aku ingin perempuan itu, Ayah. Hanya perempuan itu. Aku hanya ingin ibuku. 

Yogyakarta, 2006 

    Sumber buku 20 Cerpen Terbaik 2008. Tahun 2008. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Karya Komang Ira Puspitaningsih. Dia lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Beberapa karyanya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama, antara lain: Ning (Sanggar Purbakaraka, 2002), Para Penari (Lingkaran Komunikasi Malang, 2002), Lampung Kenangan (Dewan Kesenian Lampung, 2002). 


Jawablah pertanyaan berikut! 

i.) Dapatkah kamu mengenali tokoh dari dialog atau penjelasan tentang tokoh? 

j.) Coba kamu tuliskan pesan atau nasihat apa yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita tersebut! 

k.) Pernahkah kamu mendengar riwayat pengarang cerita pendek tersebut? 

  1. ... 

  2. ... 

Iklan

R. Trihandayani

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Iklan

Pembahasan

Pembahasan
lock

i. Tokoh-tokoh dalam teks cerita pendek di atas adalah tokoh Aku atau Ning, ayah tokoh Aku (Ning), dan perempuan yang bermain dengan kupu-kupu di taman atau Ibu. Dari gambaran secara keseluruhan cerpen di atas, tokoh Aku (Ning) terlihat sangat menyukai kupu-kupu dan menyayangi perempuan yang ada di taman dekat sekolah. Selanjutnya, watak ayah tokoh Aku (Ning) digambarkan sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi tokoh Aku dan juga khawatir jika tokoh Aku terus-menerus menemui kupu-kupu dan perempuan yang ada di taman dekat sekolah. Kekhawatiran ayah terhadap tokoh Aku (Ning) ini tersirat saat ayahnya melarang Ning menemui kupu-kupu dan perempuan itu di taman dekat sekolah (paragraf 10). Terakhir, sosok perempuan di taman dekat sekolah digambarkan sebagai sosok yang baik melalui tokoh Aku (paragraf 3), sosok yang misterius dan suka menyendiri melalui cerita ayah tokoh Aku (paragraf 6—12). j. Amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah tentang kasih sayang seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti meskipun sudah meninggal. Dalam cerpen di atas, digambarkan seorang ibu yang sudah meninggal dan membuktikan kasih sayang kepada anaknya itu dengan menjadi perempuan yang menyukai kupu-kupu di taman dekat sekolah. k. Pengarang cerpen di atas adalah Komang Ira Puspitaningsih. Dia lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Beberapa karyanya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama, antara lain "Ning" (Sanggar Purbakaraka, 2002), "Para Penari" (Lingkaran Komunikasi Malang, 2002), "Lampung Kenangan" (Dewan Kesenian Lampung, 2002). Berdasarkan pembahasan di atas, Tokoh-tokoh dalam teks cerita pendek di atas adalah tokoh Aku atau Ning, ayah tokoh Aku (Ning), dan perempuan yang bermain dengan kupu-kupu di taman atau Ibu. Melalui kisah ketiganya, penulis yang bernama Komang Ira Puspitaningsih ini ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembacanya tentang kasih sayang seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti meskipun sudah meninggal.

i. Tokoh-tokoh dalam teks cerita pendek di atas adalah tokoh Aku atau Ning, ayah tokoh Aku (Ning), dan perempuan yang bermain dengan kupu-kupu di taman atau Ibu. Dari gambaran secara keseluruhan cerpen di atas, tokoh Aku (Ning) terlihat sangat menyukai kupu-kupu dan menyayangi perempuan yang ada di taman dekat sekolah. Selanjutnya, watak ayah tokoh Aku (Ning) digambarkan sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi tokoh Aku dan juga khawatir jika tokoh Aku terus-menerus menemui kupu-kupu dan perempuan yang ada di taman dekat sekolah. Kekhawatiran ayah terhadap tokoh Aku (Ning) ini tersirat saat ayahnya melarang Ning menemui kupu-kupu dan perempuan itu di taman dekat sekolah (paragraf 10). Terakhir, sosok perempuan di taman dekat sekolah digambarkan sebagai sosok yang baik melalui tokoh Aku (paragraf 3), sosok yang misterius dan suka menyendiri melalui cerita ayah tokoh Aku (paragraf 6—12).

j. Amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah tentang kasih sayang seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti meskipun sudah meninggal. Dalam cerpen di atas, digambarkan seorang ibu yang sudah meninggal dan membuktikan kasih sayang kepada anaknya itu dengan menjadi perempuan yang menyukai kupu-kupu di taman dekat sekolah.

k. Pengarang cerpen di atas adalah Komang Ira Puspitaningsih. Dia lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Beberapa karyanya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama, antara lain "Ning" (Sanggar Purbakaraka, 2002), "Para Penari" (Lingkaran Komunikasi Malang, 2002), "Lampung Kenangan" (Dewan Kesenian Lampung, 2002).  

Berdasarkan pembahasan di atas, Tokoh-tokoh dalam teks cerita pendek di atas adalah tokoh Aku atau Ning, ayah tokoh Aku (Ning), dan perempuan yang bermain dengan kupu-kupu di taman atau Ibu. Melalui kisah ketiganya, penulis yang bernama Komang Ira Puspitaningsih ini ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembacanya tentang kasih sayang seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti meskipun sudah meninggal.undefined    
 

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

3

Iklan

Iklan

Pertanyaan serupa

Hal yang diperoleh setelah membaca cuplikan cerita di atas adalah ....

25

5.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

+62 815-7441-0000

Email info@ruangguru.com

[email protected]

Contact 02140008000

02140008000

Ikuti Kami

©2024 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia