Pada akhir tahun 1961, Suharto memperkenalkan dan memerintahkan Tiga Komando Rakyat (TRIKORA) yang berisikan:
- gagalkan pembentukan negara Papua,
- kibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat, dan
- bersiap untuk mobilisasi umum.
Dari semangat Trikora ini menandakan bahwa Presiden Sukarno meninggalkan usaha diplomasi dengan pihak Belanda dan Indonesia sangat siap dengan segala resiko yang dihadapi. Untuk persiapan merebut Irian Barat, pada tanggal 2 Januari 1962, Presiden Sukarno mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962 untuk membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Indonesia meminta bantuan Amerika Serikat untuk menyelesaikan perselisihan antara Indonesia dan Belanda. Amerika Serikat menyetujui, namun ]menolak memberikan bantuan senjata. Presiden Sukarno pun akhirnya menggunakan kekuatan persenjataan dengan bantuan dari Uni Soviet. Konfrontasi yang dilakukan Indonesia itu menarik perhatian Amerika Serikat.
Pada tahun 1962, Amerika Serikat mulai menekan Belanda untuk menyelesaikan sengketa dengan syarat-syarat yang menguntungkan Indonesia. Amerika Serikat khawatir apabila Uni Soviet makin kuat campur tangan dalam soal Papua bagian barat sehingga mendesak Belanda untuk mengadakan perundingan dengan Indonesia. Akhirnya, dilakukanlah perundingan dengan delegasi Indonesia dipimpin oleh Adam Malik dan Belanda oleh Dr. van Roijen, sedangkan E.Bunker dari Amerika Serikat menjadi perantaranya. Pada tanggal 15 Agustus 1962 diperoleh Perjanjian New York yang berisi penyerahan Papua bagian barat dari Belanda melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA).
Pada tanggal 1 Mei 1963, Papua bagian barat berhasil kembali ke Indonesia. Kedudukan Papua bagian barat menjadi lebih pasti setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 dimana rakyat Papua bagian barat memilih tetap dalam lingkungan RI. Bagi Presiden Sukarno, itu adalah kemenangan besar dalam mempertahankan sejengkal tanah air Indonesia. Kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi menjadi suatu peristiwa yang membanggakan karena dengan diplomasi berhasil mengembalikan Irian Barat tanpa penggunaan persenjataan yang lebih jauh.
Berdasarkan penjelasan di atas maka jawabannya adalah D.