Azizah A
08 Januari 2024 09:03
Iklan
Azizah A
08 Januari 2024 09:03
Pertanyaan
1. Bacalah teks cerita inspiratif berikut dan pahami isi ceritanya dengan cermat!
Pertengkaran Ibu dan Anak
Suatu hari ada seorang anak yang bertengkar dengan ibunya, pertengkaran tersebut berawal ketika ibu tersebut menasihati anaknya, akan tetapi anaknya merasa terganggu dengan nasihat ibunya. Akhirnya, terjadilah pertengkaran di antara keduanya. Pertengkaran tersebut membuat si anak langsung pergi keluar dan meninggalkan si ibu di rumah.
Cuaca pada saat itu sangat panas, setelah berjalan cukup jauh dia berpikir sejenak untuk berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Di dekat pohon rindang tersebut terdapat kedai mi ayam, perutnya sudah mulai terasa lapar, akan tetapi dia baru tersadar kalau dia tidak membawa uang. la ingin membeli semangkuk mi ayam, akan tetapi karena ia tidak membawa uang, ia hanya terdiam sambil sesekali menatap kedai tersebut dan menahan rasa lapar.
Secara tidak sengaja ibu pemilik kedai tersebut melihat tingkah anak itu yang sering melihat ke arah kedainya sambil memegangi perutnya. Lalu pemilik kedai itu mendekati anak tersebut. "Nak ibu perhatikan kamu sepertinya sering melihat ke arah kedai ibu. Apakah kamu ingin makan mi ayam di kedai ibu?" ujar si pemilik kedai.
"Iya Bu, memang perut saya terasa lapar, tapi saya tidak memiliki uang untuk membeli mi ayam di kedai ibu." jawab anak tersebut.
"Oh, jadi karena itu kamu terus memperhatikan kedai Ibu. Ayo ke kedai Ibu nanti Ibu kasih semangkuk mi ayam," ucap si pemilik kedai.
"Tapi saya tidak memiliki uang untuk membayar mi ayam Ibu." jawab si anak.
"Sudahlah kamu tidak perlu khawatir, Ibu ikhlas kok," ucap si ibu.
Akhirnya anak tersebut memakan mi ayam pemberian si pemilik kedal. Tetapi, tiba-tiba si anak menetaskan air mata. "Kenapa kamu menangis, Nak?" tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa Bu, saya hanya terharu dengan kebaikan Ibu karena Ibu yang bukan siapa-siapa saya, tetapi rela memberikan semangkuk mi ayam secara gratis terhadap saya. Sementara ibu saya sendiri yang hari ini baru saja bertengkar dengan saya, membiarkan saya pergi begitu saja. Beliau tidak peduli kalau saat ini saya belum makan dan tidak membawa uang," ucap anak tersebut.
Mendengar ucapan anak tersebut, ibu pemilik kedai itu terdiam sesaat dan menghela napas, lalu dia mendekati si anak tersebut dan mengusap-usap pundak anak tersebut sambil berkata, "Nak, mengapa kau berpikir seperti itu? Aku hanya memberimu semangkuk mi ayam saja, tapi kau begitu terharu dan mengatakan aku sangat baik dan berbeda jauh dengan ibumu. Coba sekarang kamu renungkan, aku hanya memberimu semangkuk mi ayam, sementara ibumu telah memasak nasi dan berbagai hal lain untuk kamu makan, dari semenjak kamu lahir sampai sekarang ini. Semua itu diberikan secara gratis agar kamu bisa tumbuh sehat sampai saat ini. Kenapa orang yang selalu memberimu makan setiap hari secara gratis malah kamu bilang tidak baik, kenapa justru aku yang hanya sekali memberimu semangkuk mi ayam kamu bilang sangat baik. Seharusnya orang yang wajib kamu bilang sangat baik ialah ibumu. Dia yang mengandungmu, dia yang melahirkanmu. dia yang menyusuimu, dia yang memandikanmu, dia yang merawatmu dari kecil hingga sebesar saat ini, dia juga yang memberikan jiwa dan ragarnya untuk membesarkan dan merawat kamu. Sekarang pulanglah, Nak, lalu minta maaflah kepadanya karena dia orang yang seharusnya kau bilang sangat baik. Pulang dan berterima kasihlah kepada beliau."
Mendengar nasihat dari pemilik kedai tersebut, anak itu hanya terdiam, beberapa saat kemudian dia menangis, "Betapa durhakanya aku terhadap ibuku. Aku tak pernah peduli dengan apa yang pernah dia berikan untuk aku. Betapa berdosanya aku," ucap anak tersebut.
"Terima kasih Bu, sudah memberikan saya semangkuk mi ayam. Saya permisi pulang." tambah sang anak.
Anak tersebut langsung berjalan dengan cepat menuju rumahnya, setelah sampai di depan rumah, ternyata sang Ibu sedang berdiri tepat di depan pintu rumah. Seketika sang ibu langsung memanggil anaknya. "Nak, kamu dari mana saja? Ibu khawatir sama kamu, maafkan Ibu ya karena tadi sudah memarahi kamu, Ibu juga melihat dompet kamu ada di meja kamar kamu, pasti kamu belum makan. Ayo Nak masük, Ibu telah menyiapkan makan untuk kamu," ucap sang Ibu.
Mendengar ucapan ibunya, anak tersebut tak kuasa menahan rasa tangis dan langsung berlari serta bersujud di kaki ibunya. "Maafkan aku Bu, aku ini sudah durhaka terhadap Ibu. Aku tidak pernah menghargai apa yang sudah Ibu berikan kepadaku. Aku minta maaf, Bu. Aku ini memang tidak pernah bersyukur. aku tidak sadar kalau selama ini aku memiliki ibu terbaik di dunia. Aku tidak akan mengulanginya lagi, Bu. Aku akan selalu mendengarkan semua nasihat Ibu. Aku sayang Ibu," ucap sang anak.
Terkadang kita melupakan dan mengabaikan kebaikan dan kasih sayang yang begitu besar dari orang tua kita. Bahkan, kita sering marah dan bertengkar dengan mereka pada saat kita dinasihati mereka. Kita pun sering membandingkan orang tua kita dengan orang lain, dan menganggap orang tua lain lebih baik daripada orang tua kita ketika kita sedang diberi sesuatu oleh orang lain. Padahal apa yang diberikan oleh orang lain tidak akan mampu menandingi kebaikan dan kasih sayang orang tua kita. Percayalah, ketika orang tua kita menasihati kita itu karena mereka ingin yang terbaik untuk kita. Tidak ada kasih sayang yang dapat diberikan orang lain terhadap kita melebihi orang tua kita. Jangan pernah melupakan atau melawan terhadap mereka, karena merekalah orang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi diri kita tanpa pamrih.

1
0

Tanya ke AiRIS
Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

LATIHAN SOAL GRATIS!
Drill Soal
Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian


Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!