Azizah A

08 Januari 2024 09:03

Iklan

Azizah A

08 Januari 2024 09:03

Pertanyaan

Latihan Siswa Kerjakan tugas berikut! 1. Bacalah teks cerita inspiratif berikut dan pahami isi ceritanya dengan cermat! Pertengkaran Ibu dan Anak Suatu hari ada seorang anak yang bertengkar dengan ibunya, pertengkaran tersebut berawal ketika ibu tersebut menasihati anaknya, akan tetapi anaknya merasa terganggu dengan nasihat ibunya. Akhirnya, terjadilah pertengkaran di antara keduanya. Pertengkaran tersebut membuat si anak langsung pergi keluar dan meninggalkan si ibu di rumah. Cuaca pada saat itu sangat panas, setelah berjalan cukup jauh dia berpikir sejenak untuk berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Di dekat pohon rindang tersebut terdapat kedai mi ayam, perutnya sudah mulai terasa lapar, akan tetapi dia baru tersadar kalau dia tidak membawa uang. la ingin membeli semangkuk mi ayam, akan tetapi karena ia tidak membawa uang, ia hanya terdiam sambil sesekali menatap kedai tersebut dan menahan rasa lapar. Secara tidak sengaja ibu pemilik kedai tersebut melihat tingkah anak itu yang sering melihat ke arah kedainya sambil memegangi perutnya. Lalu pemilik kedai itu mendekati anak tersebut. "Nak ibu perhatikan kamu sepertinya sering melihat ke arah kedai ibu. Apakah kamu ingin makan mi ayam di kedai ibu?" ujar si pemilik kedai. "Iya Bu, memang perut saya terasa lapar, tapi saya tidak memiliki uang untuk membeli mi ayam di kedai ibu." jawab anak tersebut. "Oh, jadi karena itu kamu terus memperhatikan kedai Ibu. Ayo ke kedai Ibu nanti Ibu kasih semangkuk mi ayam," ucap si pemilik kedai. "Tapi saya tidak memiliki uang untuk membayar mi ayam Ibu." jawab si anak. "Sudahlah kamu tidak perlu khawatir, Ibu ikhlas kok," ucap si ibu. Akhirnya anak tersebut memakan mi ayam pemberian si pemilik kedal. Tetapi, tiba-tiba si anak menetaskan air mata. "Kenapa kamu menangis, Nak?" tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa Bu, saya hanya terharu dengan kebaikan Ibu karena Ibu yang bukan siapa-siapa saya, tetapi rela memberikan semangkuk mi ayam secara gratis terhadap saya. Sementara ibu saya sendiri yang hari ini baru saja bertengkar dengan saya, membiarkan saya pergi begitu saja. Beliau tidak peduli kalau saat ini saya belum makan dan tidak membawa uang," ucap anak tersebut. Mendengar ucapan anak tersebut, ibu pemilik kedai itu terdiam sesaat dan menghela napas, lalu dia mendekati si anak tersebut dan mengusap-usap pundak anak tersebut sambil berkata, "Nak, mengapa kau berpikir seperti itu? Aku hanya memberimu semangkuk mi ayam saja, tapi kau begitu terharu dan mengatakan aku sangat baik dan berbeda jauh dengan ibumu. Coba sekarang kamu renungkan, aku hanya memberimu semangkuk mi ayam, sementara ibumu telah memasak nasi dan berbagai hal lain untuk kamu makan, dari semenjak kamu lahir sampai sekarang ini. Semua itu diberikan secara gratis agar kamu bisa tumbuh sehat sampai saat ini. Kenapa orang yang selalu memberimu makan setiap hari secara gratis malah kamu bilang tidak baik, kenapa justru aku yang hanya sekali memberimu semangkuk mi ayam kamu bilang sangat baik. Seharusnya orang yang wajib kamu bilang sangat baik ialah ibumu. Dia yang mengandungmu, dia yang melahirkanmu. dia yang menyusuimu, dia yang memandikanmu, dia yang merawatmu dari kecil hingga sebesar saat ini, dia juga yang memberikan jiwa dan ragarnya untuk membesarkan dan merawat kamu. Sekarang pulanglah, Nak, lalu minta maaflah kepadanya karena dia orang yang seharusnya kau bilang sangat baik. Pulang dan berterima kasihlah kepada beliau." Mendengar nasihat dari pemilik kedai tersebut, anak itu hanya terdiam, beberapa saat kemudian dia menangis, "Betapa durhakanya aku terhadap ibuku. Aku tak pernah peduli dengan apa yang pernah dia berikan untuk aku. Betapa berdosanya aku," ucap anak tersebut. "Terima kasih Bu, sudah memberikan saya semangkuk mi ayam. Saya permisi pulang." tambah sang anak. Anak tersebut langsung berjalan dengan cepat menuju rumahnya, setelah sampai di depan rumah, ternyata sang Ibu sedang berdiri tepat di depan pintu rumah. Seketika sang ibu langsung memanggil anaknya. "Nak, kamu dari mana saja? Ibu khawatir sama kamu, maafkan Ibu ya karena tadi sudah memarahi kamu, Ibu juga melihat dompet kamu ada di meja kamar kamu, pasti kamu belum makan. Ayo Nak masük, Ibu telah menyiapkan makan untuk kamu," ucap sang Ibu. Mendengar ucapan ibunya, anak tersebut tak kuasa menahan rasa tangis dan langsung berlari serta bersujud di kaki ibunya. "Maafkan aku Bu, aku ini sudah durhaka terhadap Ibu. Aku tidak pernah menghargai apa yang sudah Ibu berikan kepadaku. Aku minta maaf, Bu. Aku ini memang tidak pernah bersyukur. aku tidak sadar kalau selama ini aku memiliki ibu terbaik di dunia. Aku tidak akan mengulanginya lagi, Bu. Aku akan selalu mendengarkan semua nasihat Ibu. Aku sayang Ibu," ucap sang anak. Terkadang kita melupakan dan mengabaikan kebaikan dan kasih sayang yang begitu besar dari orang tua kita. Bahkan, kita sering marah dan bertengkar dengan mereka pada saat kita dinasihati mereka. Kita pun sering membandingkan orang tua kita dengan orang lain, dan menganggap orang tua lain lebih baik daripada orang tua kita ketika kita sedang diberi sesuatu oleh orang lain. Padahal apa yang diberikan oleh orang lain tidak akan mampu menandingi kebaikan dan kasih sayang orang tua kita. Percayalah, ketika orang tua kita menasihati kita itu karena mereka ingin yang terbaik untuk kita. Tidak ada kasih sayang yang dapat diberikan orang lain terhadap kita melebihi orang tua kita. Jangan pernah melupakan atau melawan terhadap mereka, karena merekalah orang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi diri kita tanpa pamrih.

Latihan Siswa

Kerjakan tugas berikut!

1. Bacalah teks cerita inspiratif berikut dan pahami isi ceritanya dengan cermat!

Pertengkaran Ibu dan Anak

Suatu hari ada seorang anak yang bertengkar dengan ibunya, pertengkaran tersebut berawal ketika ibu tersebut menasihati anaknya, akan tetapi anaknya merasa terganggu dengan nasihat ibunya. Akhirnya, terjadilah pertengkaran di antara keduanya. Pertengkaran tersebut membuat si anak langsung pergi keluar dan meninggalkan si ibu di rumah.

Cuaca pada saat itu sangat panas, setelah berjalan cukup jauh dia berpikir sejenak untuk berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Di dekat pohon rindang tersebut terdapat kedai mi ayam, perutnya sudah mulai terasa lapar, akan tetapi dia baru tersadar kalau dia tidak membawa uang. la ingin membeli semangkuk mi ayam, akan tetapi karena ia tidak membawa uang, ia hanya terdiam sambil sesekali menatap kedai tersebut dan menahan rasa lapar.

Secara tidak sengaja ibu pemilik kedai tersebut melihat tingkah anak itu yang sering melihat ke arah kedainya sambil memegangi perutnya. Lalu pemilik kedai itu mendekati anak tersebut. "Nak ibu perhatikan kamu sepertinya sering melihat ke arah kedai ibu. Apakah kamu ingin makan mi ayam di kedai ibu?" ujar si pemilik kedai.

"Iya Bu, memang perut saya terasa lapar, tapi saya tidak memiliki uang untuk membeli mi ayam di kedai ibu." jawab anak tersebut.

"Oh, jadi karena itu kamu terus memperhatikan kedai Ibu. Ayo ke kedai Ibu nanti Ibu kasih semangkuk mi ayam," ucap si pemilik kedai.

"Tapi saya tidak memiliki uang untuk membayar mi ayam Ibu." jawab si anak.

"Sudahlah kamu tidak perlu khawatir, Ibu ikhlas kok," ucap si ibu.

Akhirnya anak tersebut memakan mi ayam pemberian si pemilik kedal. Tetapi, tiba-tiba si anak menetaskan air mata. "Kenapa kamu menangis, Nak?" tanya si pemilik kedai.


"Tidak apa-apa Bu, saya hanya terharu dengan kebaikan Ibu karena Ibu yang bukan siapa-siapa saya, tetapi rela memberikan semangkuk mi ayam secara gratis terhadap saya. Sementara ibu saya sendiri yang hari ini baru saja bertengkar dengan saya, membiarkan saya pergi begitu saja. Beliau tidak peduli kalau saat ini saya belum makan dan tidak membawa uang," ucap anak tersebut.

Mendengar ucapan anak tersebut, ibu pemilik kedai itu terdiam sesaat dan menghela napas, lalu dia mendekati si anak tersebut dan mengusap-usap pundak anak tersebut sambil berkata, "Nak, mengapa kau berpikir seperti itu? Aku hanya memberimu semangkuk mi ayam saja, tapi kau begitu terharu dan mengatakan aku sangat baik dan berbeda jauh dengan ibumu. Coba sekarang kamu renungkan, aku hanya memberimu semangkuk mi ayam, sementara ibumu telah memasak nasi dan berbagai hal lain untuk kamu makan, dari semenjak kamu lahir sampai sekarang ini. Semua itu diberikan secara gratis agar kamu bisa tumbuh sehat sampai saat ini. Kenapa orang yang selalu memberimu makan setiap hari secara gratis malah kamu bilang tidak baik, kenapa justru aku yang hanya sekali memberimu semangkuk mi ayam kamu bilang sangat baik. Seharusnya orang yang wajib kamu bilang sangat baik ialah ibumu. Dia yang mengandungmu, dia yang melahirkanmu. dia yang menyusuimu, dia yang memandikanmu, dia yang merawatmu dari kecil hingga sebesar saat ini, dia juga yang memberikan jiwa dan ragarnya untuk membesarkan dan merawat kamu. Sekarang pulanglah, Nak, lalu minta maaflah kepadanya karena dia orang yang seharusnya kau bilang sangat baik. Pulang dan berterima kasihlah kepada beliau."

Mendengar nasihat dari pemilik kedai tersebut, anak itu hanya terdiam, beberapa saat kemudian dia menangis, "Betapa durhakanya aku terhadap ibuku. Aku tak pernah peduli dengan apa yang pernah dia berikan untuk aku. Betapa berdosanya aku," ucap anak tersebut.

"Terima kasih Bu, sudah memberikan saya semangkuk mi ayam. Saya permisi pulang." tambah sang anak.

Anak tersebut langsung berjalan dengan cepat menuju rumahnya, setelah sampai di depan rumah, ternyata sang Ibu sedang berdiri tepat di depan pintu rumah. Seketika sang ibu langsung memanggil anaknya. "Nak, kamu dari mana saja? Ibu khawatir sama kamu, maafkan Ibu ya karena tadi sudah memarahi kamu, Ibu juga melihat dompet kamu ada di meja kamar kamu, pasti kamu belum makan. Ayo Nak masük, Ibu telah menyiapkan makan untuk kamu," ucap sang Ibu.

Mendengar ucapan ibunya, anak tersebut tak kuasa menahan rasa tangis dan langsung berlari serta bersujud di kaki ibunya. "Maafkan aku Bu, aku ini sudah durhaka terhadap Ibu. Aku tidak pernah menghargai apa yang sudah Ibu berikan kepadaku. Aku minta maaf, Bu. Aku ini memang tidak pernah bersyukur. aku tidak sadar kalau selama ini aku memiliki ibu terbaik di dunia. Aku tidak akan mengulanginya lagi, Bu. Aku akan selalu mendengarkan semua nasihat Ibu. Aku sayang Ibu," ucap sang anak.

Terkadang kita melupakan dan mengabaikan kebaikan dan kasih sayang yang begitu besar dari orang tua kita. Bahkan, kita sering marah dan bertengkar dengan mereka pada saat kita dinasihati mereka. Kita pun sering membandingkan orang tua kita dengan orang lain, dan menganggap orang tua lain lebih baik daripada orang tua kita ketika kita sedang diberi sesuatu oleh orang lain. Padahal apa yang diberikan oleh orang lain tidak akan mampu menandingi kebaikan dan kasih sayang orang tua kita. Percayalah, ketika orang tua kita menasihati kita itu karena mereka ingin yang terbaik untuk kita. Tidak ada kasih sayang yang dapat diberikan orang lain terhadap kita melebihi orang tua kita. Jangan pernah melupakan atau melawan terhadap mereka, karena merekalah orang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi diri kita tanpa pamrih.

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

17

:

59

:

40

Klaim

1

0


Empty Comment

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Mau jawaban yang cepat dan pasti benar?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Teks 1 Salah Kelas Pagi itu, Joni nampak bahagia sekali. Di meja makan, ibunya bertanya kepada Joni. "Jon, Ibu perhatikan dari tadi kamu senyum-senyum sendiri?" "Anu, Bu, semalam ibu wali kelas membagikan jadwal tatap muka terbatas. Senang rasanya karena besok aku bisa bertemu teman-teman. Belajar daring di rumah membosankan, Bu. Apalagi kalau zoom meeting Matematika." "Memangnya kenapa kalau Matematika, Jon?" Ibu bertanya kembali. "Gurunya galak, Bu, materinya juga susah, wong diajarkan di kelas saja masih susah pahamnya, apalagi daring," jawab Joni. "Oh, begitu," Ibu menimpali. "Ya sudah, Bu. Joni pamit, ya." Joni langsung pergi sambil mencium tangan ibunya. Sekolah sudah nampak ramai. Joni berjalan sambil sesekali melihat jadwal mapel yang dibagikan wali kelasnya. Lalu, dia segera masuk kelas dan ternyata sudah ada guru di dalam kelas. "Selamat pagi, Pak. Maaf, saya terlambat." "Selamat pagi juga, Nak, silakan duduk," sahut Pak Guru. Joni langsung mencari kursi dan duduk tanpa melihat kanan kiri. Saat mengeluarkan buku catatan, Joni mengedarkan pandangannya dan langsung kaget. Semua seperti asing. Dia seperti tidak mengenali teman sekelasnya, apalagi semuanya memakai masker. Dia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mereka adalah teman kelasnya. Tidak berapa lama, Joni kaget ketika melihat ke papan tulis Pak Guru sedang menjelaskan soal Matematika, padahal seingatnya jadwal pagi itu adalah Bahasa Indonesia. "Astaga, ini kan kelasku satu tahun yang lalu, ini kan kelas satu. Sekarang kan aku sudah naik kelas dua." Keringat dingin keluar di wajah Joni, lalu dia memberanikan diri menemui Pak Guru. "Maaf, Pak, karena sudah satu tahun daring, saya lupa kalau sekarang saya sudah kelas dua. Saya salah masuk kelas, Pak." Semua peserta didik pun tertawa. Dengan wajah malu, Joni keluar kelas. Teks 2 PKH Pada suatu hari, dua orang ibu rumah tangga sedang berbincang-bincang di depan rumah. Mereka sedang asyik membahas tentang bantuan pemerintah yang dinamakan PKH. Bu Tuti : Mar, aku semakin heran dengan pemerintah sekarang. Bu Marni Loh, kenapa, Bu? Ada masalah? (penasaran) Bu Tuti : Ya jelas ada. Kalau enggak ada, buat apa saya repot-repot membahas masalah ini? Bu Marni: Oalah, Bu, sempat-sempatnya memikirkan pemerintah, memangnya pemerintah memikirkan nasib kita? Bu Tuti : Jangan salah. Tuh, lihat tetangga sebelah kita. Dia dapat bantuan dari pemerintah. Setiap bulan, dia rutin mengambil sembako di warung dekat balai desa sana. Bu Marni Masa? Enggak salah, sampeyan, Bu? Dia, kan, lumayan mampu. Lihat saja, kulkas ada, mesin cuci punya, motor dua, kalau pergi perhiasannya selalu menempel di tangannya. Benar enggak salah, Bu? (sedikit tidak percaya) Bu Tuti : Nah, itu yang membuat saya bingung. Kenapa dia dapat bantuan? Padahal, kalau dipikir, dia tergolong keluarga mampu. Coba kita bandingkan dengan tetangga kita yang lain. Ada yang jauh lebih berhak mendapatkan bantuan itu sebenarnya. Bu Marni : Iya betul Bu. Ngomong-ngomong, bantuan apa yang bisa dia dapat, Bu? Bu Tuti Bu Marni: Masa kamu enggak tahu? Itu, loh, bantuan PKH. Oh, yang rumahnya ditempeli stiker "Keluarga Miskin" itu, to? Bu Tuti Nah, itu kamu tahu, Mar. (mengacungkan jempol kepada Bu Marni) Bu Marni Bu Tuti Ya tahu lah, Bu. Apa, sih, yang tidak saya ketahui? Mar, PKH itu apa, to? (penasaran) Bu Marni Program Keluarga Harapan. Bu Tuti : Harapan apa? Bu Marni Harapan biar dikasih sembako tiap bulan, ha...ha...ha... Bu Tuti : Ngawur kamu, Mar. Tulislah persamaan dan perbedaan kedua teks tersebut

3

3.7

Jawaban terverifikasi

Sahabat yang Tergadai Rina dan Maya telah bersahabat sejak kecil. Mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama, duduk di bangku sekolah yang sama, bahkan berbagi mimpi untuk bisa terus bersama hingga dewasa. Setiap sore, Rina selalu datang ke rumah Maya untuk bermain atau sekadar mengerjakan PR bersama. Rumah Maya terasa hangat dan nyaman, penuh dengan canda tawa dan rasa kekeluargaan. Maya adalah teman yang selalu mendukung Rina dalam segala hal, tak peduli apa yang terjadi. Namun, suatu hari segalanya berubah. Ayah Maya, yang sebelumnya memiliki usaha sukses, mengalami kebangkrutan. Usahanya gulung tikar setelah dihadapkan pada masalah keuangan yang tak terduga. Keluarga Maya terpaksa menjual rumah mereka dan pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Maya tak lagi bisa mengenakan seragam baru yang biasa mereka beli bersama di awal tahun ajaran. Kini, pakaian Maya tampak kusam, dan sepatu yang dia kenakan mulai berlubang di ujungnya. Pada awalnya, Rina tetap berteman dengan Maya seperti biasa. Mereka masih bertemu di sekolah, dan Rina sesekali mengundang Maya ke rumahnya. Namun, Rina mulai mendengar bisik-bisik dari teman-teman lainnya. "Kenapa masih berteman dengan Maya? Keluarganya sudah jatuh miskin. Nanti kamu jadi terlihat seperti dia." Salah seorang teman di kelas berkata dengan nada mengejek. Bisikan-bisikan itu semakin keras, bahkan beberapa di antaranya terang-terangan menertawakan Maya di depan Rina. Rina merasa tersudut. Di satu sisi, dia merasa bersalah kepada Maya, sahabatnya sejak kecil, yang tidak pernah memintanya apa-apa kecuali persahabatan tulus. Namun di sisi lain, dia merasa takut dijauhi oleh teman-teman lain yang mulai memandang rendah Maya. Rina mulai menjaga jarak. Suatu sore, Maya mendatangi Rina. "Kenapa kamu menjauh? Aku merindukanmu, Rina," Maya bertanya dengan mata yang penuh harap, mencoba mencari jawaban atas perubahan sikap sahabatnya. Rina menghindari tatapan Maya, menunduk dan berpura-pura sibuk dengan bukunya. "Aku sibuk sekarang, banyak tugas. Maaf, Maya." Maya terdiam. Hatinya hancur. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia berharap itu tidak benar. Namun, kenyataannya terlalu menyakitkan untuk diabaikan. Sejak itu Maya tak pernah lagi mengajak Rina berbicara. Mereka masih bertemu di sekolah, tetapi Maya belajar untuk menahan diri dari rasa sakit ditinggalkan. Waktu berlalu, dan pertemanan mereka tergerus oleh jarak yang diciptakan Rina. Suatu hari, sekolah mengadakan reuni kecil bagi siswa-siswa angkatan mereka. Maya, yang sekarang telah menemukan jalan hidupnya sendiri, datang dengan percaya diri. Dia tak lagi terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Rina melihat Maya dari jauh, merasa tertampar oleh keberadaan sahabatnya yang dulu. Maya telah tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan sukses, meski tanpa dirinya. Rina mendekat dengan perasaan bersalah. "Maya... maafkan aku." Maya menatapnya, senyumnya tenang. "Rina, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku hanya belajar bahwa tidak semua hal bisa kita pertahankan, bahkan persahabatan. Kadang, orang berubah, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, kita tetap berdiri dan melanjutkan hidup." Rina menahan air matanya. Pada saat itu, dia menyadari bahwa dia telah kehilangan lebih dari sekadar seorang sahabat. Dia telah kehilangan kesempatan untuk setia pada seseorang yang benar-benar berarti dalam hidupnya. Tapi, waktu tak bisa diputar kembali. Rina hanya bisa menerima kenyataan bahwa persahabatan mereka telah tergadai oleh ketakutan dan gengsi. Maya pun berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Rina dalam kesunyian yang menyesakkan. Ubahlah cerpen tersebut menjadi sebuah adegan 1, adegan 2, adegan 3, dan adegan 4

2

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Tentukan mana yang merupakan struktur abstraksi,orientasi,krisis,reaksi,dan koda Teks 1 Racun Serangga Alkisah hiduplah sepasang suami istri dengan dua orang anaknya. Setiap pagi kedua anak tersebut pergi berkebun untuk membantu orang tuanya. Namun, tiba-tiba mereka berdua pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. Kakak: "Bu, Ibu tolong bu, gawat ini adik menelan kecoa!" Ibu: "Astaga, kok bisa sih kak? Gimana ceritanya? Ayo cepat panggil Bapak suruh bawa dokter ke sini!" Kakak: "Jangan bu, malah tambah gawat nanti. Sebentar lagi kecoanya juga mati." Ibu: "Lho, kok bisa gitu kak?" Kakak: "Iya bu, soalnya adik sudah aku kasih racun serangga bu. Di botolnya kan ada tulisan "dapat membunuh serangga ekstra cepat." Ibu: "Astagfirullah, sembrono kamu!" Kakak: (bingung) Ibu: "Pak, Bapak anak kita makan kecoa." (sambil berlari mencari suaminya). Kakak: (masih tetap bingung) ------------------------------- Teks 2 Tukang roti Pada Pagi hari Azril duduk di teras rumahnya sembari menunggu tukang roti yang biasa lewat. Begitu tukang roti lewat Azril lantas memanggil sang penjual. Azril: "Beli rotinya, Pak." Tukang Roti: "Boleh silahkan mau roti yang mana." Azril: "Ini apa, Pak?" Tukang Roti: "Ini semangka." Azril: "Kalau yang ini apa?" Tukang Roti: "Srikaya." Azril: "Terus ini apa, Bang?" Tukang Roti: "Oh...kalau ini blueberry, dek." Azril: "Gimana sih, terus rotinya mana? Saya mau beli roti bukan buah, kok daritadi yang disebut buah-buahan aja. Gak jadi beli deh saya kalau gini." Tukang Roti: "Yang saya sebut tuh rasa rotinya!" Azril: "Gak jadi, deh!"

1

5.0

Jawaban terverifikasi