Urutkan
Soal terdiri atas 3 bagian, yaitu PERNYATAAN; kata SEBAB; dan ALASAN yang disusun berurutan.
Rona gelap mencirikan bahwa objek tersebut mengandung unsur-unsur padat yang dapat melemahkan pantulan cahaya terhadap sensor.
SEBAB
Intepretasi citra dalam hal ini selalu memperhatikan unsur-unsurnya seperti wahana, energi, dan sensor.
Pernyataan yang tepat tentang kedua kalimat di atas adalah ....
177
0.0
Sungai Bengawan Solo memiliki dua hulu sungai, yaitu dari daerah Pegunungan Sewu, Wonogiri dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. Jika dilihat dari debit airnya, sungai terpanjang di Pulau Jawa ini merupakan sungai ....
4
0.0
Perhatikan data penduduk di Desa Sukasari berikut!

Berdasarkan data tersebut, angka rasio beban ketergantungan (dependency ratio) di Desa Sukasari adalah ....
5
3.0
Keunggulan pengembangan energi listrik pasang surut air laut adalah ....
1
0.0
Sejak zaman Belanda, Pulau Bintan merupakan salah satu lokasi tempat penambangan bauksit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah ....
1
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia menjadi perhatian dan harus diwaspadai terutama khususnya pada musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan informasi terkait beberapa daerah di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Beberapa provinsi di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Papua.
Penyebab kebakaran hutan atau kebakaran lahan umumnya berupa faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam, misalnya kemarau berkepanjangan, sambaran petir, aktivitas vulkanis, kebakaran dalam tanah (ground fire pada Iahan gambut). Faktor manusia, kelalaian atau kesengajaan, misalnya pembakaran Iahan, meninggalkan bekas api unggun atau membuang puntuk rokok di hutan, kurangnya penegakan hukum mengenai aturan pembakaran hutan.
Dampak kebakaran hutan atau lahan, misalnya menyebarkan asap dan emisi gas karbon dioksida ke wilayah atmosfer dan berperan dalam fenomena penipisan lapisan ozon; rusak dan musnahnya ekosistem, habitat serta kehidupan flora dan fauna liar yang tumbuh dan hidup di hutan; Membuat masyarakat terganggu dan terserang penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, seperti ISPA, Asma, Penyakit Paru dan Jantung, bahkan iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung; Menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan; Menyebabkan terjadinya tanah longsor maupun banjir; Kehilangan bahan baku industri yang akan berpengaruh pada perekonomian; Memicu cuaca cenderung panas; Menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke sebuah negara; Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan.
Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan yang dapat dilakukan, misalnya: Membuat menara pengamat yang tinggi berikut alat telekomunikasi; Melakukan patroli keliling hutan secara rutin untuk mengatasi kemungkinan kebakaran; Menyediakan sistem transportasi mobil pemadam kebakaran yang siap digunakan; Melakukan pemotretan citra secara berkala, terutama pada musim kemarau untuk memantau wilayah hutan dengan titik api cukup tinggi yang merupakan rawan kebakaran.
Sebagai warga negara yang baik kita juga harus berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan, misalnya ikut mengawasi dan memantau titik rawan kebakaran hutan atau mewaspadai daerah dengan potensi kebakaran hutan tinggi. Langkah lainnya yang bisa dilakukan masyarakat adalah: Tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara membakar hutan; Tidak membuang puntung rokok secara sembarangan di hutan; Tidak meninggalkan api unggun dalam hutan, Api unggun harus dipadamkan terlebih dahulu jika ingin meninggalkan hutan; Ketika musim kemarau atau berangin, sebaiknya jangan sembarangan melakukan pembakaran. Jika melakukan aktivitas pembakaran, usahakan dilakukan dengan minimal jarak 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan. Pastikan terlebih dahulu api telah padam setelah melakukan aktivitas pembakaran.
(Sumber: https:/ /www.indolok. id/blog/Kebakaran-Hutan-dilndonesia)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan informasi terkait beberapa daerah di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Beberapa provinsi di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan adalah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Papua.
Prinsip yang tepat untuk mempelajari fenomena tersebut adalah ....
1
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia menjadi perhatian dan harus diwaspadai terutama khususnya pada musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan informasi terkait beberapa daerah di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Beberapa provinsi di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Papua.
Penyebab kebakaran hutan atau kebakaran lahan umumnya berupa faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam, misalnya kemarau berkepanjangan, sambaran petir, aktivitas vulkanis, kebakaran dalam tanah (ground fire pada Iahan gambut). Faktor manusia, kelalaian atau kesengajaan, misalnya pembakaran Iahan, meninggalkan bekas api unggun atau membuang puntuk rokok di hutan, kurangnya penegakan hukum mengenai aturan pembakaran hutan.
Dampak Kebakaran hutan atau lahan, misalnya menyebarkan asap dan emisi gas karbon dioksida ke wilayah atmosfer dan berperan dalam fenomena penipisan lapisan ozon; rusak dan musnahnya ekosistem, habitat serta kehidupan flora dan fauna liar yang tumbuh dan hidup di hutan; Membuat masyarakat terganggu dan terserang penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, seperti ISPA, Asma, Penyakit Paru dan Jantung, bahkan iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung; Menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan; Menyebabkan terjadinya tanah longsor maupun banjir; Kehilangan bahan baku industri yang akan berpengaruh pada perekonomian; Memicu cuaca cenderung panas; Menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke sebuah negara; Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan.
Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan yang dapat dilakukan, misalnya: Membuat menara pengamat yang tinggi berikut alat telekomunikasi; Melakukan patroli keliling hutan secara rutin untuk mengatasi kemungkinan kebakaran; Menyediakan sistem transportasi mobil pemadam kebakaran yang siap digunakan; Melakukan pemotretan citra secara berkala, terutama pada musim kemarau untuk memantau wilayah hutan dengan titik api cukup tinggi yang merupakan rawan kebakaran.
Sebagai warga negara yang baik kita juga harus berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan, misalnya ikut mengawasi dan memantau titik rawan kebakaran hutan atau mewaspadai daerah dengan potensi kebakaran hutan tinggi. Langkah lainnya yang bisa dilakukan masyarakat adalah: Tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara membakar hutan; Tidak membuang puntung rokok secara sembarangan di hutan; Tidak meninggalkan api unggun dalam hutan, Api unggun harus dipadamkan terlebih dahulu jika ingin meninggalkan hutan; Ketika musim kemarau atau berangin, sebaiknya jangan sembarangan melakukan pembakaran. Jika melakukan aktivitas pembakaran, usahakan dilakukan dengan minimal jarak 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan. Pastikan terlebih dahulu api telah padam setelah melakukan aktivitas pembakaran.
(Sumber: https:/ /www.indolok. id/blog/Kebakaran-Hutan-dilndonesia)
Kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia menjadi perhatian dan harus diwaspadai terutama khususnya pada musim kemarau. Beberapa provinsi atau kota di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan adalah ....
2
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia menjadi perhatian dan harus diwaspadai terutama khususnya pada musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan informasi terkait beberapa daerah di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Beberapa provinsi di Indonesia yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Papua.
Penyebab kebakaran hutan atau kebakaran lahan umumnya berupa faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam, misalnya kemarau berkepanjangan, sambaran petir, aktivitas vulkanis, kebakaran dalam tanah (ground fire pada Iahan gambut). Faktor manusia, kelalaian atau kesengajaan, misalnya pembakaran Iahan, meninggalkan bekas api unggun atau membuang puntuk rokok di hutan, kurangnya penegakan hukum mengenai aturan pembakaran hutan.
Dampak Kebakaran hutan atau lahan, misalnya menyebarkan asap dan emisi gas karbon dioksida ke wilayah atmosfer dan berperan dalam fenomena penipisan lapisan ozon; rusak dan musnahnya ekosistem, habitat serta kehidupan flora dan fauna liar yang tumbuh dan hidup di hutan; Membuat masyarakat terganggu dan terserang penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, seperti ISPA, Asma, Penyakit Paru dan Jantung, bahkan iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung; Menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan; Menyebabkan terjadinya tanah longsor maupun banjir; Kehilangan bahan baku industri yang akan berpengaruh pada perekonomian; Memicu cuaca cenderung panas; Menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke sebuah negara; Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan.
Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan yang dapat dilakukan, misalnya: Membuat menara pengamat yang tinggi berikut alat telekomunikasi; Melakukan patroli keliling hutan secara rutin untuk mengatasi kemungkinan kebakaran; Menyediakan sistem transportasi mobil pemadam kebakaran yang siap digunakan; Melakukan pemotretan citra secara berkala, terutama pada musim kemarau untuk memantau wilayah hutan dengan titik api cukup tinggi yang merupakan rawan kebakaran.
Sebagai warga negara yang baik kita juga harus berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan, misalnya ikut mengawasi dan memantau titik rawan kebakaran hutan atau mewaspadai daerah dengan potensi kebakaran hutan tinggi. Langkah lainnya yang bisa dilakukan masyarakat adalah: Tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara membakar hutan; Tidak membuang puntung rokok secara sembarangan di hutan; Tidak meninggalkan api unggun dalam hutan, Api unggun harus dipadamkan terlebih dahulu jika ingin meninggalkan hutan; Ketika musim kemarau atau berangin, sebaiknya jangan sembarangan melakukan pembakaran. Jika melakukan aktivitas pembakaran, usahakan dilakukan dengan minimal jarak 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan. Pastikan terlebih dahulu api telah padam setelah melakukan aktivitas pembakaran.
(Sumber: https:/ /www.indolok. id/blog/Kebakaran-Hutan-dilndonesia)
Kebakaran hutan atau kebakaran lahan umumnya disebabkan oleh faktor alam, misalnya kemarau berkepanjangan, sambaran petir, aktivitas vulkanis, kebakaran dalam tanah (ground fire pada lahan gambut) dan juga faktor manusia, misalnya pembakaran Iahan, meninggalkan bekas api unggun atau membuang puntung rokok di hutan. Peristiwa tersebut dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan ....
1
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Citra satelit beresolusi spasial tinggi seperti IKONOS dan Quickbird, telah membuka kesempatan dan peluang baru dalam pengembangan aplikasi dan kegiatan penelitian. Dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, saat ini telah diperkenalkan apa yang disebut dengan "pemetaan kehutaan detail (precision agriculture mapping)".
Pada teknik pemetaan detail ini juga digunakan GPS sebagai sarana navigasi. Pemetaan kehutanan detail ini dikemukakan pada bulan Juni tahun 2001 di University of Washington's Forestry Symposium. Dalam simposium ini dibahas tentang metode pengumpulan, analisis, dan pemanfaatan daya yang mempunyai keakuratan dan ketelitian yang tinggi dari permukaan bumi untuk pengelolaan sumber daya alam.
Dalam kehutanan detail, biasanya digunakan alat pendukung yang juga mempunyai ketelitian yang tinggi, misalnya penggunaan EDM (Elektronik Distance Measuring) tool untuk merekam posisi spasial dari suatu fitur bentang alam secara teliti dan tepat waktu.
Citra lkonos akan lebih sangat cocok untuk analisis detail seperti kehutanan dan wilayah perkotaan. Namun, tidak efektik untuk ....
1
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Citra satelit beresolusi spasial tinggi seperti IKONOS dan Quickbird, telah membuka kesempatan dan peluang baru dalam pengembangan aplikasi dan kegiatan penelitian. Dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, saat ini telah diperkenalkan apa yang disebut dengan "pemetaan kehutaan detail (precision agriculture mapping)".
Pada teknik pemetaan detail ini juga digunakan GPS sebagai sarana navigasi. Pemetaan kehutanan detail ini dikemukakan pada bulan Juni tahun 2001 di University of Washington's Forestry Symposium. Dalam simposium ini dibahas tentang metode pengumpulan, analisis, dan pemanfaatan daya yang mempunyai keakuratan dan ketelitian yang tinggi dari permukaan bumi untuk pengelolaan sumber daya alam.
Dalam kehutanan detail, biasanya digunakan alat pendukung yang juga mempunyai ketelitian yang tinggi, misalnya penggunaan EDM (Elektronik Distance Measuring) tool untuk merekam posisi spasial dari suatu fitur bentang alam secara teliti dan tepat waktu .
Penggunaan GPS dan EDM pada bacaan bertujuan ....
60
0.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia