Urutkan
Aku tiba di rumah satu jam kemudian, saat matahari bersiap tumbang di kaki barat. Mamak telah menungguku di teras rumah panggung.
"Kenapa kau pulang terlambat, Nung?" Mamak menyelidik.
Aku menelan ludah. Terbata-bata menceritakan apa yang terjadi. Bersiap dengan omelan dan seruan Mamak. Hening.
Aku tidak berani menatap wajah Mamak. Terus menunduk sejak tadi. Aku jelas mendengar hela napas tertahan Mamak. Aku jelas bisa merasakan ekspresi wajahnya, gerakan tubuhnya. Dalam masa paceklik panjang ini, uang yang ada di dalam dompet sangat penting bagi kami dan aku menghilangkannya begitu saja. Seharusnya, aku tadi langsung membeli keperluan rumah, bukan malah bermain, berkeliling, asyik sendiri.
Dikutip dari: Tere Liye, Si Anak Cahaya, Jakarta, Republika Penerbit, 2018
Latar dalam kutipan novel tersebut adalah ....
1
0.0
Aku tiba di rumah satu jam kemudian, saat matahari bersiap tumbang di kaki barat. Mamak telah menungguku di teras rumah panggung.
"Kenapa kau pulang terlambat, Nung?" Mamak menyelidik.
Aku menelan ludah. Terbata-bata menceritakan apa yang terjadi. Bersiap dengan omelan dan seruan Mamak. Hening.
Aku tidak berani menatap wajah Mamak. Terus menunduk sejak tadi. Aku jelas mendengar hela napas tertahan Mamak. Aku jelas bisa merasakan ekspresi wajahnya, gerakan tubuhnya. Dalam masa paceklik panjang ini, uang yang ada di dalam dompet sangat penting bagi kami dan aku menghilangkannya begitu saja. Seharusnya, aku tadi langsung membeli keperluan rumah, bukan malah bermain, berkeliling, asyik sendiri.
Dikutip dari: Tere Liye, Si Anak Cahaya, Jakarta, Republika Penerbit, 2018
Konflik dalam kutipan novel tersebut adalah ....
1
0.0
Perhatikan teks negosiasi berikut!
(Ketua RW membaca proposal)
Ketua RW: "Kami hanya bisa membantu untuk acara ini sebesar Rp500.000,00."
Dita: "Apakah terlalu sedikit, Pak."
Ketua RW: "Masalahnya kas RW kita tinggal sedikit. Coba adik mencari sponsor dari luar."
Dita: "Sudah, Pak. Apakah bantuannya bisa ditambah lagi, Pak? Demi meriahnya acara nanti, Pak."
Ketua RW: "Baiklah, ini penawaran terakhir saya. Untuk acara peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kas RW akan keluar Rp600.000,00."
Dita: "Baik, Pak. Terima kasih."
Bagian tersebut merupakan bagian . . . teks negosiasi.
2
0.0
Tuliskan dua kal imat menggunakan konjungsi korelatif.
1
0.0
Bacalah puisi berikut!
Perempuan-Perempuan Perkasa
(Karya: Hartojo Aldangdjaja)
Perempuan-perempuan perkasa yang membawa
bakul di pagi buta
dari manakah mereka
Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit
desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam
kereta
ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang
kota
merebut hidup di pasar-pasar kota
Larik-larik penggalan puisi tersebut dibaca dengan nada...
20
5.0
Bacalah puisi berikut!
Anakku
(Karya: J.E. Tatengkeng)
Ya, kekasihku...
Engkau datang menghintai hidup,
Engkau datang menunjukkan muka.
Tapi sekejap matamu kaututup,
Melihat terang anakda ta' suka.
Mulut kecil tiada kaubuka,
Tangis teriakmu ta' diperdengarkan,
Alamat hidup wartakan suka,
Kau diam, anakku, kami kautinggalkan
Suasana yang tergambar dalam puisi tersebut adalah...
2
2.6
Berikut ini unsur identitas yang tidak perlu dicantumkan dalam menyusun resensi adalah ....
2
5.0
Cermati kutipan novel berikut!
(Dikutip dari: Yudhi Herwibowo, Sang Penggesek Biola:Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman, Tangerang Selatan, Imania, 2018)
Sudut pandang dalam kutipan novel sejarah tersebut adalah ....
1
2.0
Tulislah sebuah puisi dengan mengikuti langkah langkah berikut!
Berilah judul menarik sesuai isi puisi.
1
0.0
Perhatikan kutipan drama berikut!
Ibu: Kau mau ke mana?
Anak: Aku mau pergi. Dia sudah menungguku. .
Ibu: Kau tak mau menunggu ayahmu?
Anak: Ayah mana yang harus kutunggu? Sudah berhari-hari aku di sini, tapi ia tak jua datang. Sudahlah Bu, jika ia memang datang aku tak mau mengenalinya sebagai ayahku.
Ibu: Jaga ucapanmu! Maksudmu apa mengatakan hal demikian?
Anak: Sudah sepantasnya, kan. Ayah macam apa namanya yang tega meninggalkan anak dan istrinya begitu lama. Hingga anaknya akan dipersunting orang pun ia tak ada.
Ibu: Ayahmu tak seperti itu. Dia laki-laki yang bertanggung jawab.
Anak: lbu sudah mengatakan itu berulang kali. Sejak dulu aku masih kecil. Tapi apa? Mana buktinya? Omong kosong.
Ibu: Kau anak durhaka!
Anak: Biarlah, tak apa aku durhaka pada orang yang telah durhaka pada keluarganya.
Dikutip daril: https.//dokumen.tips/document/janji-senja/-y.html, diunduh 20 Juli 2017
Permasalahan yang dibahas dalam kutipan drama tersebut adalah ...
1
3.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia