Urutkan
Terlahir dengan nama Liem Tjoan Hok, di Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937, Teguh Karya yang oleh rekan terdekatnya akrab dipanggil Om Steve, adalah sutradara film pelanggan piala citra. Dia layak disebut suhu teater Indonesia yang banyak melahirkan sineas-sineas terkemuka. Ia seorang pekerja keras dan selalu bersungguh-sungguh dalam menggarap film maupun drama. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman. Beberapa aktor-aktris film Indonesia berjaya dan populer setelah membintangi film-film Teguh Karya.
Walau lahir dengan nama Liem Tjoan Hok, Teguh lebih merasa sebagai orang Banten. Memasuki bangku SMP, Teguh pindah ke Jakarta, menumpang di rumah Engku-Dek, pamannya. Anak pertama dari lima bersaudara pedagang kelontong ini kemudian mewarisi kegemaran membaca dari sang paman. Teguh boleh mendapat nilai jelek untuk aljabar dan ilmu ukur, tetapi untuk pelajaran sejarah, menggambar, dan bahasa ia selalu unggul.
Keteladanan tokoh Teguh Karya dalam kutipan biografi tersebut adalah ...
1
0.0
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Yanti : (kesal menunggu) Ke mana Herman ini? Katanya datang duluan, nyatanya belum nongol, pembohong rupanya dia! (semakin kesal dan gelisah, tiba-tiba muncul dua pemuda berandal yang memperhatikan Yanti)
Pemuda II : (memperhatikan Yanti) Rupanya ada anak baru. Rupanya bintang kelas dari sekolah sebelah. Kamu dulu yang menggoda.
Yanti : (takut, gelisah, menjauh kedua pemuda itu; tersandung dan jatuh lalu ditolong pemuda I; Yanti meronta melepaskan diri)
Pemuda I : Berteriaklah, siapa yang akan menolongmu? Jarang orang melintasi gubuk ini.
Yanti : (ketakutan, lemas, menangis keras) Herman, Herman ....
Suasana kutipan naskah drama tersebut adalah ....
1
0.0
Perhatikan puisi berikut!
Kenangan
Rintik hujan sore itu
Angin sepoi menyapu basah (1)
Sirnalah sudah harapan
Walau tinggal kenangan (2)
Tak mungkin terlupakan
Tembang harapan lari menjauh (3)
Kini kuserahkan kepada-Nya (4)
Larik bermajas dalam puisi tersebut bernomor….
2
0.0
Perhatikan kutipan puisi berikut!
IBU KARTINIKU
Bayang jiwa senyum Ibu Kartini
Ada kulihat pada mama
Yang mengharap, mendorong, dan mendoakan aku
Agar citaku yang tinggi tercapai
Oleh tanganku tangan wanita
Yang tegar, kokoh, tapi lemah
Bagiku, mama adalah juga Kartini
Tema puisi tersebut adalah….
13
0.0
|
Kutipan Novel I |
Kutipan Novel II |
|
Wahai, kasihan anakku! Celaka benar untungnya, sudah tiada diindahkan oleh mamandanya, jodohnya pun tak dapat dicarikannya. Anak umur 12 atau 13 tahun, setua-tuanya 14 tahun, telah dikawinkan lagi, tapi anakku, sudah hampir berubah, masih perawan juga. |
Aku tak bisa menyembunyikan tangisku saat menceritakan semuanya. Pertemuanku dengan Aisha di Metro, diskusi dengan Alicia, tawaran Syaikh Ustman, pertemuan dengan Aisha dengan keluarganya, sampai rencana akad nikah dan walimah yang tinggal menunggu jam H-nya |
Perbedaan karakteristik kedua kutipan novel tersebut adalah ....
1
0.0
Tante Lien melihat Corrie penuh emas dan intan, alangkah sakit hatinya. Maka diperlihatkan kepada Corrie sepasang kerabu berlian yang amat besar dan berkilau-kilau sinarnya.
"Aduh, Tante Lien!, Bagus sekali."
"Apa pantas pakai giwang sebesar ini, Tante?" tanya Corrie
"Apa saja yang aku pakai, tentu pantas." Jawab Tante Lien.
Kebiasaan Tante Lien yang tergambar dalam kutipan novel tersebut adalah ...
1
0.0
Berbuka puasa merupakan hal yang sangat dinantikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah puasa. Terlebih bagi anak-anak karena yang baru belajar berpuasa. Makanan yang disajikan di meja makan sangat menggugah selera, namun ditambah dengan aneka makanan dan minuman khas Ramadhan yang bervariasi. Dan pada akhirnya, tidak semua makanan mampu dihabiskan saat berbuka puasa.
Perbaikan kata penghubung yang tercetak miring pada paragraf tersebut adalah ...
2
0.0
Seseorang perlu disiplin dalam masalah … waktu karena hal itu merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang. Jika seseorang sudah memiliki disiplin yang baik, … sebanyak apa pun tidak akan menjadi beban baginya.
Kata serapan yang baku untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ….
1
5.0
Gelombang
Gelombang itu telah berhasil menenggelamkan kapal tua
Semua isinya telah tertumpah ke laut
Di atas papan orang-orang berenang
Ingin menyelamatkan diri
Nahkoda kapal yang berpuluh tahun memegang kendali kapal itu
Kini terantuk karang, tubuhnya
Namun tidak juga mati
(Eko Yepe)
Suasana yang tergambar dalam puisi tersebut adalah ....
1
0.0
Sukroso : “Telah kukatakan kepada Bibi, bahwa mereka harus dipisahkan.”
Perempuan tua : “Tidak perlu kau ulangi lagi. Coba pikirkan andaikata karena obatku ini, mereka bercerita, apa yang akan terjadi dengan Satilawati?”
Sukroso : “Tidak akan terjadi apa-apa.”
Perempuan tua : “Ia akan menanggung selama hidupnya. Ia akan merasa ada sesuatu yang hilang dari dadanya.”
Sukroso : “Aku yakin, tidak akan begitu jadinya dengan Satilawati. Di kota besar ini pemuda-pemuda lain masih banyak.”
Perempuan tua : “Tapi cintanya pada Ishak telah mandalam kulihat.”
Sukroso : “Pokoknya Bibi harus memisahkan mereka.”
(Kejahatan Membalas Dendam, Idrus)
Watak tokoh Sukroso dalam kutipan tersebut adalah ....
2
0.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia