Kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular selesai ditulis di masa kejayaan Majapahit sekitar tahun 1389 M. Karya tersebut berisikan nilai-nilai luhur yang akan selalu relevan untuk diimplementasikan kapan saja dan di mana saja. Dalam Kakawin Sutasoma persisnya pada pupuh 139 bait 5, terdapat pesan-pesan penting sebagai berikut.
- Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa (Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda)
- Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen (Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Atau meskipun Buddha dan Siwa berbeda, tetapi dapat dikenali)
- Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal (Sebab kebenaran Buddha dan Siwa adalah tunggal)
- Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa (Berbeda tetapi tunggal, sebab tidak ada kebenaran yang rancu)
Opsi A salah, karena tidak ada kerancuan dalam kebenaran merupakan makna dari ungkapan tan hana dharma mangrwa.
Opsi B salah, karena sebab kebenaran Buddha dan Siwa adalah tunggal merupakan makna dari ungkapan Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal.
Opsi D salah, karena meskipun Buddha dan Siwa berbeda, tetapi dapat dikenali merupakan makna dari ungkapan Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen.
Opsi E salah, karena berbeda tetapi tunggal, sebab tidak ada kebenaran yang mendua merupakan makna dari ungkapan Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Jadi, makna ungkapan Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa yang tercantum dalam kitab Sutasoma adalah konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah C.