Dalam penelitian sejarah mengenai silsilah Kerajaan Jawa Kuno, sama seperti pengumpulan sumber pada umumnya yaitu dapat diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer berasal langsung dari para pelaku sejarah, seperti naskah, prasasti, artefak, dokumen-dokumen, foto, dan bangunan. Sedangkan sumber sekunder berasal dari pihak yang bukan pelaku sejarah, melainkan pihak lain di luar para pelaku sejarah (peneliti misalnya). Benda-benda yang termasuk sumber sekunder antara lain adalah laporan penelitian, ensiklopedia, catatan lapangan peneliti, buku, dll. Peneliti harus mengetahui latar belakang candi tersebut melalui laporan penelitian ataupun buku. Kemudian untuk mendapatkan ukuran, foto, dan hal-hal lain yang aktual, kamu perlu mendapatkan data primer sehingga kamu harus mengunjungi candi tersebut secara langsung.
Meski begitu, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi dalam mengumpulkan sumber-sumber sejarah, seperti bahasa yang digunakan dalam sumber sejarah bukanlah bahasa yang dipakai saat ini, sehingga sulit dipahami, banyak sumber sejarah yang usianya sudah tua sehingga sangat rapuh jika disentuh/digunakan, tidak semua orang bisa mengakses sumber sejarah yang dibutuhkan, serta ada beberapa catatan sejarah yang menggunakan tulisan tangan dan terkadang sulit dipahami. Selain itu juga, terkadang sumber sejarah mengenai kerajaan-kerajaan kuno cenderung bersifat anakronisme.
Dengan demikian, dalam meneliti silsilah Kerajaan Jawa Kuno, sama seperti pengumpulan sumber pada umumnya yaitu dapat diperoleh dari sumber primer dan sekunder, seperti prasasti, candi, arsip, dan lain sebagainya. Sedangkan tantangan yang dihadapi antara lain bahasa, sumber sejarah sudah rapuh/rentan, sumber sulit diakses, sulit dipahami, dan cenderung bersifat anakronisme.