Roboguru

Perang Padri berubah menjadi perang melawan kolonial setelah rakyat menyadari bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda...

Pertanyaan

Perang Padri berubah menjadi perang melawan kolonial setelah rakyat menyadari bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda...

  1. melarang penyebaran agama Islam

  2. menolak pembaruan dalam agama Islam

  3. kaum adat tetap mempertahankan adatnya

  4. Ingin menguasai seluruh Minangkabau

  5. tidak menaati segala perjanjian yang dibuat bersama

Pembahasan Soal:

Perang Padri merupakan peperangan yang terjadi di Sumatera Barat tepatnya di wilayah Kerajaan Pagaruyung pada 1803-1838. Perang Padri awalnya terjadi karena adanya perbedaan prinsip mengenai agama antara kaum Padri dengan kaum Adat. Namun, lama-lama perang Padri menjadi perjuangan melawan penjajah Belanda. Karena kaum Padri dan kaum Adat bergabung jadi satu berjuang melawan Belanda.

Berdasarkan penjelasan tersebut, jawaban yang tepat adalah D.

Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru

Dijawab oleh:

F. Putri

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Lampung

Terakhir diupdate 04 Juni 2021

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

Pertanyaan yang serupa

Akibat penindasan Belanda di Indonesia maka timbul perlawanan dari kaum Bangsawan dan ulama di berbagai wilayah di Indonesia seperti?

Pembahasan Soal:

Perlawanan Indonesai terhadap Belanda pada abad ke-19 banyak dilakukan secara kedaerahan. Perlawanan ini banyak dipimpin oleh tokoh suatu daerah, terutama dari golongan bangsawan dan ulama. Beberapa contoh perlwanan tersebut diantaranya:

  1. Perang Padri diawali dengan konflik antara Kaum Padri dengan Kaum Adat terkait pemurnian agama Islam di Sumatera Barat. Kaum Adat masih sering melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan Islam, seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Kaum Padri yang terdiri dari para ulama menasihati Kaum Adat untuk menghentikan kebiasaan tersebut, Kaum Adat menolaknya, sehingga terjadi perang yang berlangsung tahun 1803 – 1821. Perang diakhiri dengan kekalahan Kaum Adat. Kondisi tersebut lalu dimanfaatkan Belanda untuk bekerja sama dengan Kaum Adat guna melawan Kaum Padri. Belanda memang bertujuan untuk menguasai wilayah Sumatera Barat. Tuanku Imam Bonjol yang berasal dari kamu Padri menjadi sosok utama yang melakukan perlwanan ke pada Belanda. Tuanku Imam Bonjol lalu mengajak Kaum Adat agar menyadari tipuan Belanda dan akhirnya bersatu melawan Belanda. Perang diakhiri dengan kekalahan di pihak Padri dan Adat karena militer Belanda yang cukup kuat.
  2. Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dialami Belanda. Perlawanan ini dipimpin Pangeran Diponegoro yang didukung pihak istana, kaum ulama, dan rakyat Yogyakarta. Perang ini terjadi karena Belanda memasang patok-patok jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro. Perang ini terjadi tahun 1825 – 1830. Pada tahun 1827, Belanda memakai siasat perang bernama Benteng Stelsel, yaitu setiap daerah yang dikuasai didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya. Antara satu benteng dan benteng lainnya dihubungkan pasukan gerak cepat, sehingga ruang gerak pasukan Diponegoro dipersempit.
  3. Perang Banjar, perang ini dilatarbelakangi oleh Belanda yang ingin menguasai kekayaan alam Banjar, serta keikut-campuran Belanda dalam urusan kesultanan. Akibatnya, rakyat yang dipimpin Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari melakukan perlawanan terhadap Belanda sekitar tahun 1859. Serangkaian pertempuran terus terjadi hingga Belanda menambahkan kekuatan militernya. Pasukan Pangeran Hidayatullah kalah, karena pasukan Belanda lebih unggul dari segi jumlah pasukan, keterampilan perang pasukannya, dan peralatan perangnya. Perlawanan rakyat Banjar mulai melemah ketika Pangeran Hidayatullah tertangkap dan dibuang ke Pulau Jawa, sementara itu Pangeran Antasari masih melakukan perlawanan secara gerilya hingga ia wafat.
  4. Perlawanan rakyat Batak, perang ini dipimpin Sisingamangaraja XII raja negeri Toba, Sumatera Utara. Latar belakang perlawanan ini adalah bangsa Belanda berusaha menguasai seluruh tanah Batak dan disertai dengan penyebaran agama Kristen. Sisingamangaraja XII masih melawan Belanda sampai akhir abad ke-19. Namun, gerak pasukan Sisingamangaraja XII semakin menyempit. Pada akhirnya, Sisingamangaraja XII wafat ditembak serdadu Marsose, dan Belanda menguasai tanah Batak.

Dengan demikian, akibat penindasan Belanda di Indonesia maka timbul perlawanan dari kaum Bangsawan dan ulama di berbagai wilayah di Indonesia diantaranya, Perang Padri yang dipimpin oleh ulama Tuanku Imam Bonjol, Perang Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, Perang Banjar yang dipelopori oleh Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari, serta perlawanan rakyat Batak yang dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII.

0

Roboguru

Perang Padri berubah menjadi perang melawan kolonial setelah rakyat menyadari bahwa Belanda ...

Pembahasan Soal:

Perang Padri merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat Sumatera Barat yang berlangsung sejak 1803 sampai dengan 1838. Perang Padri bermula dengan konflik internal masyarakat Minangkabau, yaitu antara golongan adat dan golongan ulama. Namun, sejak tahun 1821 hingga 1832, golongan adat bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda karena keadaan semakin terdesak oleh golongan ulama.  Perang ini mulai berubah menjadi perang melawan pemerintah kolonial setelah menyadari bahwa Belanda melakukan adu domba diantara kedua golongan tersebut. Hal ini dikarenakan Belanda memang sudah sejak lama ingin memperluas wilayah kekuasannya hingga Sumatera. Belanda berusaha untuk menguasai perdagangan kopi yang merupakan komoditi unggulan Tanah Minang serta sebagai pintu masuk untuk mengendalikan perdagangan lada di Aceh serta Selat Malaka. Jika Belanda berhasil memecah golongan adat dan golongan ulama, maka penguasaan wilayah Sumatera akan lebih mudah.

Jadi, Perang Padri berubah menjadi perang melawan Kolonial setelah rakyat menyadari bahwa Belanda ingin memecah belah golongan adat dan golongan ulama karena Belanda ingin menguasai wilayah Sumatera. space

0

Roboguru

Perang Padri di Sumatra Barat pada awalnya hanya merupakan pertentangan antara kaum Padri (ulama) melawan kaum Adat, tetapi kemudian berubah menjadi perlawanan rakyat Sumatra Barat melawan Belanda. Ha...

Pembahasan Soal:

Perang Padri merupakan perang yang terjadi di Minangkabau, Sumatera Barat. Perang tersebut berawal dari kemunculan kaum Padri pada awal abad ke-19. Kaum Padri terdiri atas kelompok masyarakat Minangkabau yang baru pulang dari Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka berusaha memurnikan ajaran Islam di Minangkabau. Salah satu pemimpin kaum Padri adalah Tuanku Imam Bonjol. Akibat gerakan kaum Padri adalah kedudukan kaum adat yang terdiri atas para raja dan bangsawan Minangkabau menjadi genting. Kondisi tersebut mendorong konflik antara kaum Padri dan kaum adat.

Dalam perjanjian yang ditandatangani pada 10 februari 1821, kaum adat secara resmi menyerahkan Minangkabau kepada Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda memberi bantuan dalam memerangi kaum Padri. Akan tetapi, dalam waktu bersamaan di Jawa terjadi Perang Diponegoro sehingga kedudukan Belanda terdesak. Akhirnya, Belanda menggunakan taktik damai dengan kaum Padri dengan Perjanjian Masang. Isi kesepakatan tersebut adalah kedua belah pihak tidak akan saling menyerang. Setelah perundingan itu, Belanda menarik pasukannya untuk menghadapi Perang Diponegoro di Jawa.

Seiring dengan berakhirnya Perang Diponegoro, pada 1830 Belanda mengirim kembali pasukannya ke Sumatera Barat untuk memerangi kaum Padri. Pada penyerangan kedua ini kaum Adat menyadari bahwa Belanda hanya ingin menguasai Minangkabau. Hal ini yang mendorong Kaum Adat dan kaum Padri untuk akhirnya bersatu dalam menghadapi Belanda.

Untuk menghadapi Perang Padri, Belanda menerapkan sistem pertahanan benteng stelsel seperti yang diterapkan dalam Perang Diponegoro. Benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan benteng Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya. Dengan siasat tersebut, akhirnya Belanda berhasil mengalahkan kaum adat dan Padri. Kemenangan ini ditandai jatuhnya benteng pertahanan terakhir kaum Padri di Bonjol pada 16 Agustus 1837. Pada Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol ditangkap oleh Belanda dalam perundingan di Palupuh. Selanjutnya, Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon dan terakhir ke Manado hingga wafat pada 1864.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka Perang Padri yang pada awalnya hanya merupakan pertentangan antara kaum Padri (ulama) melawan kaum Adat berubah menjadi perlawanan rakyat Sumatra Barat melawan Belanda disebabkan oleh kesadaran kaum adat bahwa Belanda hanya ingin menguasai Minangkabau dengan ikut campur pada konflik antara kaum Padri dan kaum adat.

0

Roboguru

Untuk memadamkan pemberontakan yang terjadi di Minangkabau, maka pemerintah Belanda menerapkan….

Pembahasan Soal:

Untuk mengalahkan pasukan Tuanku Imam Bonjol, Belanda menerapkan strategi Benteng Stelsel. Sebagai akibatnya, Belanda berhasil merebut wilayah-wilayah yang dulunya dikuasai Kaum Padri. Contohnya adalah wilayah Lintau yang direbut Belanda pada bulan Agustus 1831. Berdasarkan penjelasan tersebut, jawaban yang tepat adalah A.

0

Roboguru

Tekanan serangan kaum Paderi terhadap pertahanan Belanda berhasil membuat Belanda mengajak gencatan senjata terhadap kaum Paderi. Meski demikian, ajakan perdamaian yang dilakukan oleh pihak Belanda pa...

Pembahasan Soal:

Langkah perdamaian yang ditempuh oleh Belanda terhadap pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol adalah sebuah siasat agar Belanda bisa fokus untuk menghentikan perlawanan Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa. Belanda menyadari jika harus melawan kedua perlawanan tersebut secara bersamaan akan membuat Belanda mengalami kekalahan sehingga pada akhirnya Belanda mengajak Imam Bonjol untuk berdamai.

Jawaban yang tepat adalah B.undefined 

0

Roboguru

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved