Keberadaan kerajaan Islam di Spanyol merupakan perantara sekaligus obor kebudayaan dan peradaban. Ilmu pengetahuan kuno dan filsafat ditemukan kembali. Di samping itu, Spanyol menjadi pusat kebudayaan karena banyaknya para sarjana dan mahasiswa dari berbagai pelosok dunia berkumpul menuntut ilmu di Granada, Cordova, Seville, dan Toledo. Di kota-kota tersebut banyak terlahir ilmuwan terkemuka, seperti:
- Abdur Rabbi (sastrawan terkemuka),
- Ali ibnu Hazm (penulis 400 jilid buku sejarah, agama, logika, adat istiadat),
- Al Khatib (ahli sejarah),
- Ibnu Khaldun (ahli filsafat yang terkenal dengan bukunya “Muqaddimah”), Al Bakri dan Al Idrisi (ahli ilmu bumi), dan
- Ibnu Batuta (pengembara terkenal yang menjelajahi negeri-negeri Islam di dunia).
Perlu pula diketahui bahwa peranan wanita-wanita muslim di Spanyol saat itu tidak hanya mengurus dapur mereka, tetapi mereka juga memberikan sumbangan besar di bidang kesusasteraan. Beberapa tokoh wanita tersebut seperti Nazhun, Zaynab, Hamda, Hafsah, Al-Kalayyah, Safia dan Marian dari Seville (adalah seorang guru terkenal). Penulis-penulis wanita dan dokter-dokter wanita, seperti Sysyah, Hasanah At Tamiyah, dan Ummul Ula serta masih banyak lagi.
Dengan demikian, peranan wanita-wanita muslim di Spanyol saat itu tidak hanya mengurus rumah tangga saja tetapi mereka juga memberikan sumbangan besar di bidang kesusastraan, diantaranya adalah Nazhun, Zaynab, Hamda, Hafsah, Al-Kalayyah, Safia, dan Marian dari Seville (adalah seorang guru terkenal).