Alida S

08 Mei 2024 01:43

Iklan

Alida S

08 Mei 2024 01:43

Pertanyaan

Menyerah Aku kini harus menyerah Sudah kucoba bertahan namun tak kuasa Karenanya Aku harus menyerah Besar harapanku untuk dapat bertahan namun hati tak dapat juga menerima Aku ini harus menyerah Rasa sakit telah terlalu parah hingga membuat hatiku pecah dan bergelimang darah Dan perasaanku menjadi porak-poranda Aku menjadi harus menyerah 1. maknailah setiap baris pada puisi tersebut!

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

02

:

12

:

40

Klaim

2

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Nabilah Z

08 Mei 2024 02:18

Jawaban terverifikasi

<p>&nbsp;</p><ol><li>"Aku kini harus menyerah" - Pemberian pengakuan bahwa seseorang telah mencapai titik di mana mereka tidak bisa lagi melanjutkan perjuangan atau perlawanan.</li><li>"Sudah kucoba bertahan namun tak kuasa" - Menggambarkan upaya seseorang untuk tetap bertahan atau melawan, tetapi akhirnya mereka merasa tidak mampu lagi.</li><li>"Karenanya Aku harus menyerah" - Alasan atau konsekuensi logis dari kegagalan untuk bertahan, sehingga mereka merasa perlu untuk menyerah.</li><li>"Besar harapanku untuk dapat bertahan namun hati tak dapat juga menerima" - Meskipun harapan besar telah ada untuk tetap bertahan, hati atau perasaan seseorang tidak bisa menerima kenyataan bahwa itu tidak mungkin.</li><li>"Aku ini harus menyerah" - Penegasan bahwa keputusan untuk menyerah telah dibuat dengan sungguh-sungguh.</li><li>"Rasa sakit telah terlalu parah hingga membuat hatiku pecah dan bergelimang darah" - Penderitaan yang dialami sangatlah besar, hingga menyebabkan hati terasa hancur dan menyakitkan.</li><li>"Dan perasaanku menjadi porak-poranda" - Menyatakan bahwa emosi atau perasaan seseorang menjadi kacau balau dan tidak teratur.</li><li>"Aku menjadi harus menyerah" - Kesimpulan dari penderitaan dan keadaan emosional yang tidak stabil, seseorang merasa bahwa satu-satunya pilihan adalah menyerah.</li></ol>

 

  1. "Aku kini harus menyerah" - Pemberian pengakuan bahwa seseorang telah mencapai titik di mana mereka tidak bisa lagi melanjutkan perjuangan atau perlawanan.
  2. "Sudah kucoba bertahan namun tak kuasa" - Menggambarkan upaya seseorang untuk tetap bertahan atau melawan, tetapi akhirnya mereka merasa tidak mampu lagi.
  3. "Karenanya Aku harus menyerah" - Alasan atau konsekuensi logis dari kegagalan untuk bertahan, sehingga mereka merasa perlu untuk menyerah.
  4. "Besar harapanku untuk dapat bertahan namun hati tak dapat juga menerima" - Meskipun harapan besar telah ada untuk tetap bertahan, hati atau perasaan seseorang tidak bisa menerima kenyataan bahwa itu tidak mungkin.
  5. "Aku ini harus menyerah" - Penegasan bahwa keputusan untuk menyerah telah dibuat dengan sungguh-sungguh.
  6. "Rasa sakit telah terlalu parah hingga membuat hatiku pecah dan bergelimang darah" - Penderitaan yang dialami sangatlah besar, hingga menyebabkan hati terasa hancur dan menyakitkan.
  7. "Dan perasaanku menjadi porak-poranda" - Menyatakan bahwa emosi atau perasaan seseorang menjadi kacau balau dan tidak teratur.
  8. "Aku menjadi harus menyerah" - Kesimpulan dari penderitaan dan keadaan emosional yang tidak stabil, seseorang merasa bahwa satu-satunya pilihan adalah menyerah.

Iklan

Salsabila M

Community

10 Mei 2024 01:20

Jawaban terverifikasi

<p>Mari kita maknai setiap baris pada puisi tersebut:</p><p>1. "Aku kini harus menyerah": Pembicara dalam puisi ini menyatakan bahwa dia telah mencapai titik di mana dia tidak bisa lagi bertahan atau melanjutkan perjuangan yang dia hadapi.<br>2. "Sudah kucoba bertahan namun tak kuasa": Meskipun telah berusaha keras untuk bertahan, pembicara menyadari bahwa dia tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk melakukannya.<br>3. "Karenanya Aku harus menyerah": Ini adalah keputusan yang sulit, tetapi pembicara merasa bahwa dia tidak memiliki pilihan selain menyerah karena keadaannya.<br>4. "Besar harapanku untuk dapat bertahan namun hati tak dapat juga menerima": Pembicara awalnya berharap dapat bertahan, tetapi hatinya tidak mampu menerima rasa sakit atau penderitaan yang dia alami.<br>5. "Aku ini harus menyerah": Pembicara menegaskan kembali keputusannya untuk menyerah, menunjukkan bahwa itu adalah pilihan yang tidak dapat dihindari.<br>6. "Rasa sakit telah terlalu parah hingga membuat hatiku pecah dan bergelimang darah": Pembicara menjelaskan bahwa rasa sakit yang dia rasakan begitu besar dan menyakitkan sehingga rasanya seperti hatinya hancur dan dia merasakan kesakitan yang dalam.<br>7. "Dan perasaanku menjadi porak-poranda": Rasa sakit dan penderitaan yang dia alami telah mengacaukan perasaannya dan membuatnya merasa hancur.<br>8. "Aku menjadi harus menyerah": Pembicara menegaskan kembali keputusannya untuk menyerah, menunjukkan bahwa itu adalah satu-satunya jalan yang dia lihat di depannya.</p>

Mari kita maknai setiap baris pada puisi tersebut:

1. "Aku kini harus menyerah": Pembicara dalam puisi ini menyatakan bahwa dia telah mencapai titik di mana dia tidak bisa lagi bertahan atau melanjutkan perjuangan yang dia hadapi.
2. "Sudah kucoba bertahan namun tak kuasa": Meskipun telah berusaha keras untuk bertahan, pembicara menyadari bahwa dia tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk melakukannya.
3. "Karenanya Aku harus menyerah": Ini adalah keputusan yang sulit, tetapi pembicara merasa bahwa dia tidak memiliki pilihan selain menyerah karena keadaannya.
4. "Besar harapanku untuk dapat bertahan namun hati tak dapat juga menerima": Pembicara awalnya berharap dapat bertahan, tetapi hatinya tidak mampu menerima rasa sakit atau penderitaan yang dia alami.
5. "Aku ini harus menyerah": Pembicara menegaskan kembali keputusannya untuk menyerah, menunjukkan bahwa itu adalah pilihan yang tidak dapat dihindari.
6. "Rasa sakit telah terlalu parah hingga membuat hatiku pecah dan bergelimang darah": Pembicara menjelaskan bahwa rasa sakit yang dia rasakan begitu besar dan menyakitkan sehingga rasanya seperti hatinya hancur dan dia merasakan kesakitan yang dalam.
7. "Dan perasaanku menjadi porak-poranda": Rasa sakit dan penderitaan yang dia alami telah mengacaukan perasaannya dan membuatnya merasa hancur.
8. "Aku menjadi harus menyerah": Pembicara menegaskan kembali keputusannya untuk menyerah, menunjukkan bahwa itu adalah satu-satunya jalan yang dia lihat di depannya.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Pertanyaan Vaksinasi Covid-19 telah dimulai, Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang divaksin menggunakan vaksin Sinovac. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Emergency Use Authorization (EUA) telah memberikan izin atas penggunaan vaksin Sinovac. Namun, masih ada masyarakat yang merasa ragu tentang keamanan dan kehalalan vaksin Sinovac. Untuk mengatasi keraguan masyarakat terhadap vaksin Sinovac, ada empat aspek yang harus diketahui. Pertama adalah efikasi. Berdasarkan uji klinis fase ketiga yang telah dilakukan di Bandung, vaksin Sinovac memiliki tingkat efikasi sebesar 65,3 persen. Angka ini sudah memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). kedua adalah efek samping. Vaksin Sinovac buatan Tiongkok ini tidak memiliki efek samping yang serius. ketiga adalah halal. Berdasarkan fatwa MUI pada 11 Januari 2021, vaksin Sinovac dinyatakan suci dan halal. Selain itu, vaksin ini dapat digunakan oleh umat Islam selama keamanannya terjamin. keempat adalah reaksi. sesaat setelah divaksin akan ada beberapa reaksi seperti kemerahan, demam, nyeri otot, sakit kepala, dan mual. Berbagai asumsi tentang keamanan atau kehalalan provinsi novel telah terjawab. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan vaksinasi Covid-19. dengan demikian kasus Covid-19 di Indonesia dapat makin berkurang dan pandemi segera berakhir. 1. Tentukan kalimat opini dalam artikel tsb! 2. Tentukan kalimat fakta dalam artikel tsb! 3. Tentukan gagasan pokok paragraf kedua dalam artikel tsb! 4. Mengapa masyarakat masih ragu menerima vaksin Sinovac? Mohon dijawab kakkk

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Sahabat yang Tergadai Rina dan Maya telah bersahabat sejak kecil. Mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama, duduk di bangku sekolah yang sama, bahkan berbagi mimpi untuk bisa terus bersama hingga dewasa. Setiap sore, Rina selalu datang ke rumah Maya untuk bermain atau sekadar mengerjakan PR bersama. Rumah Maya terasa hangat dan nyaman, penuh dengan canda tawa dan rasa kekeluargaan. Maya adalah teman yang selalu mendukung Rina dalam segala hal, tak peduli apa yang terjadi. Namun, suatu hari segalanya berubah. Ayah Maya, yang sebelumnya memiliki usaha sukses, mengalami kebangkrutan. Usahanya gulung tikar setelah dihadapkan pada masalah keuangan yang tak terduga. Keluarga Maya terpaksa menjual rumah mereka dan pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Maya tak lagi bisa mengenakan seragam baru yang biasa mereka beli bersama di awal tahun ajaran. Kini, pakaian Maya tampak kusam, dan sepatu yang dia kenakan mulai berlubang di ujungnya. Pada awalnya, Rina tetap berteman dengan Maya seperti biasa. Mereka masih bertemu di sekolah, dan Rina sesekali mengundang Maya ke rumahnya. Namun, Rina mulai mendengar bisik-bisik dari teman-teman lainnya. "Kenapa masih berteman dengan Maya? Keluarganya sudah jatuh miskin. Nanti kamu jadi terlihat seperti dia." Salah seorang teman di kelas berkata dengan nada mengejek. Bisikan-bisikan itu semakin keras, bahkan beberapa di antaranya terang-terangan menertawakan Maya di depan Rina. Rina merasa tersudut. Di satu sisi, dia merasa bersalah kepada Maya, sahabatnya sejak kecil, yang tidak pernah memintanya apa-apa kecuali persahabatan tulus. Namun di sisi lain, dia merasa takut dijauhi oleh teman-teman lain yang mulai memandang rendah Maya. Rina mulai menjaga jarak. Suatu sore, Maya mendatangi Rina. "Kenapa kamu menjauh? Aku merindukanmu, Rina," Maya bertanya dengan mata yang penuh harap, mencoba mencari jawaban atas perubahan sikap sahabatnya. Rina menghindari tatapan Maya, menunduk dan berpura-pura sibuk dengan bukunya. "Aku sibuk sekarang, banyak tugas. Maaf, Maya." Maya terdiam. Hatinya hancur. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia berharap itu tidak benar. Namun, kenyataannya terlalu menyakitkan untuk diabaikan. Sejak itu Maya tak pernah lagi mengajak Rina berbicara. Mereka masih bertemu di sekolah, tetapi Maya belajar untuk menahan diri dari rasa sakit ditinggalkan. Waktu berlalu, dan pertemanan mereka tergerus oleh jarak yang diciptakan Rina. Suatu hari, sekolah mengadakan reuni kecil bagi siswa-siswa angkatan mereka. Maya, yang sekarang telah menemukan jalan hidupnya sendiri, datang dengan percaya diri. Dia tak lagi terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Rina melihat Maya dari jauh, merasa tertampar oleh keberadaan sahabatnya yang dulu. Maya telah tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan sukses, meski tanpa dirinya. Rina mendekat dengan perasaan bersalah. "Maya... maafkan aku." Maya menatapnya, senyumnya tenang. "Rina, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku hanya belajar bahwa tidak semua hal bisa kita pertahankan, bahkan persahabatan. Kadang, orang berubah, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, kita tetap berdiri dan melanjutkan hidup." Rina menahan air matanya. Pada saat itu, dia menyadari bahwa dia telah kehilangan lebih dari sekadar seorang sahabat. Dia telah kehilangan kesempatan untuk setia pada seseorang yang benar-benar berarti dalam hidupnya. Tapi, waktu tak bisa diputar kembali. Rina hanya bisa menerima kenyataan bahwa persahabatan mereka telah tergadai oleh ketakutan dan gengsi. Maya pun berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Rina dalam kesunyian yang menyesakkan. Ubahlah cerpen tersebut menjadi sebuah adegan 1, adegan 2, adegan 3, dan adegan 4

10

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Pertanyaan Vaksinasi Covid-19 telah dimulai, Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang divaksin menggunakan vaksin Sinovac. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Emergency Use Authorization (EUA) telah memberikan izin atas penggunaan vaksin Sinovac. Namun, masih ada masyarakat yang merasa ragu tentang keamanan dan kehalalan vaksin Sinovac. Untuk mengatasi keraguan masyarakat terhadap vaksin Sinovac, ada empat aspek yang harus diketahui. Pertama adalah efikasi. Berdasarkan uji klinis fase ketiga yang telah dilakukan di Bandung, vaksin Sinovac memiliki tingkat efikasi sebesar 65,3 persen. Angka ini sudah memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). kedua adalah efek samping. Vaksin Sinovac buatan Tiongkok ini tidak memiliki efek samping yang serius. ketiga adalah halal. Berdasarkan fatwa MUI pada 11 Januari 2021, vaksin Sinovac dinyatakan suci dan halal. Selain itu, vaksin ini dapat digunakan oleh umat Islam selama keamanannya terjamin. keempat adalah reaksi. sesaat setelah divaksin akan ada beberapa reaksi seperti kemerahan, demam, nyeri otot, sakit kepala, dan mual. Berbagai asumsi tentang keamanan atau kehalalan provinsi novel telah terjawab. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan vaksinasi Covid-19. dengan demikian kasus Covid-19 di Indonesia dapat makin berkurang dan pandemi segera berakhir. 1. Tentukan kalimat opini dalam artikel tsb! 2. Tentukan kalimat fakta dalam artikel tsb! 3. Tentukan gagasan pokok paragraf kedua dalam artikel tsb! 4. Mengapa masyarakat masih ragu menerima vaksin Sinovac? Mohon dijawab kakkk

1

5.0

Jawaban terverifikasi

temukan konjungsi dalam teks hikayat ibnu hasan kemudian jeniskan! Ibnu Hasan Syahdan, zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan, bernama Syekh Hasan. Banyak harta, banyak uang, terkenal ke setiap negeri, merupakan orang terkaya. Bertempat tinggal di negeri Bagdad yang terkenal ke mana-mana sebagai kota yang paling ramai saat itu. Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasihati yang berpikiran sempit, mengajarkan ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya berupa pakaian atau uang. Oleh karena itu, banyak pengikutnya. Syekh Hasan memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan, pendiam, dan baik budi, berusia sekitar tujuh tahun. Ibnu Hasan namanya. Ibnu Hasan sedang lucu-lucunya. Semua orang senang melihatnya, apalagi orang tuanya. Namun demikian, anak itu tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan. Ayahnya berpikir, "Alangkah salannya aku, menyayangi di luar batas, tanpa pertimbangan. Bagaimana kalau akhirnya dimurkai Allah Yang Agung? Aku pasti durhaka, tak dapat mendidik anak, mengkaji ilmu yang bermanfaat." Dipanggilnya putranya. Anak itu segera mendatanginya, diusap-usapnya putranya sambil dinasihati, bahwa ia harus mengaji, katanya, "Sekarang saatnya, Anakku. Sebenarnya aku khawatir, tapi pergilah ke Mesir. Carilah jalan menuju keutamaan." Ibnu Hasan menjawab, "Ayah jangan ragu-ragu, semua kehendak orang tua akan hamba turuti, tidak akan kutolak, siang malam hanya perintah Ayah Ibu yang hamba nantikan." Kemudian, Ibnu Hasan berangkat ke pesantren, berpisah dengan kedua orang tuanya, hatinya sangat sedih. Ibunya tidak tahan menangis terisak-isak harus berpisah dengan putranya yang masih sangat kecil, belum cukup usia. "Kelak, apabila Ananda sudah sampai ke tempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri karena jauh dari orang tua. Harus tahu ilmunya hidup, jangan keras kepala, angkuh, dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain, merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu, hidupmu tidak akan senang karena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang mau menolong. Kalau celaka tidak akan diperhatikan. Berada di rantau orang kalau judes akan mendapatkan kesusahan. Hati-hatilah menjaga diri. Jangan menganggap enteng segala hal." Ibnu Hasan menjawab dengan takzim, "Apa yang Ibu katakan akan selalu kuingat dan kucatat dalam hati. Doakanlah aku agar selamat. Semoga jangan sampai menempuh jalan yang salah. Pesan Ibu akan kuperhatikan, siang dan malam." Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun. Mereka berangkat berjalan kaki. Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang, sesekali menggantikan tugas Mairun. Perasaan sedih, prihatin, kehujanan, kepanasan selama perjalanan yang memakan waktu berhari-hari namun akhirnya sampai juga di pusat kota negara Mesir, dengan selamat berkat doa ayah dan ibunda. Selanjutnya, segeralah menemui seorang alim ulama, terus berguru padanya. Pada suatu hari, saat bakda zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu seseorang bernama Saleh yang baru pulang dari sekolah. Ibnu Hasan menyapa, "Anda pulang dari mana?" Saleh menjawab dengan sopan, "Saya pulang sekolah." Ibnu Hasan bertanya lagi, "Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!" Yang ditanya menjawab, "Apakah Anda belum tahu?Sekolah itu tempat ilmu, tepatnya tempat belajar, berhitung, menulis, mengeja, belajar tata krama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan." Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya. Dia segera pulang menghadap kyai dan meminta izinnya untuk belajar di sekolah guna mencari ilmu. "Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan," Kyai berkata demikian. Tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian. Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu, "Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba bersusah payah tanpa mengenal lelah mencari ilmu. Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang, ternaknya pun banyak. Hamba tidak usah bekerja karena tidak akan kekurangan. Namun, pendapat hamba tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah meninggal dunia, semua hartanya jatuh ke tangan hamba. Tapi, ternyata tidak terurus karena hamba tidak teliti akhimya harta itu habis, bukan bertambah. Di situlah terlihat temyata kalau hamba ini bodoh. Bukan bertambah masyhur, asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat hamba karena modal sudah ada, hamba hanya tinggal melanjutkan. Pangkat anakpun begitu pula, walaupun tidak melebihi orang tua, paling tidak harus sama dengan orang tua, dan tidak akan memalukan, apalagi kalau lebih miskin, ibaratnya anak seorang palih" Maka, yakinlah kyai itu akan baik muridnya.

4

4.0

Jawaban terverifikasi