Urutkan
Bacalah teks berikut ini!
Rumah Gadang berasal dari Sumatera dan berasal dari Suku Minangkabau. Ciri khas dari rumah adat ini adalah bentuk atapnya yang menyerupai sepasang tanduk kerbau dan badannya yang berbentuk seperti kapal. Dulunya, rumah ini ditinggali oleh keluarga besar sehingga pada saat ada acara tertentu, rumah beralih fungsi menjadi tempat upacara atau pernikahan. Berpindah ke Pulau Jawa, rumah adat dinamakan Joglo. Bentuk atap pada rumah ini meruncing simbol yang sakral karena diyakini sebagai tempat tinggal para dewa. Bagian dari rumah ini ada tiga yakni pendopo, pringgitan, dan dalem. Setiap bagian dari rumah ini memiliki nilai yang berbeda-beda.
Fenomena di atas menunjukkan konsep geografi ....
1
0.0
Danau yang terbentuk karena adanya peristiwa tektonik adalah ....
1
3.0
Secara kuantitas, air dibumi relatif tetap jumlahnya disebabkan oleh ....
1
0.0
Soal terdiri atas 3 bagian, yaitu PERNYATAAN; kata SEBAB; dan ALASAN yang disusun berurutan.
Jakarta adalah daerah tujuan wisata karena memiliki berbagai hotel, ruang terbuka, dan gedung pertemuan yang dapat menjadi lokasi perhelatan akbar.
SEBAB
Usaha penyewaan hotel, ruang terbuka, dan gedung pertemuan merupakan bagian dari industri pariwisata yang memberikan nilai tambah pada potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah.
Pernyataan yang tepat tentang kedua kalimat di atas adalah…
1
0.0
Unsur-unsur utama desa di Jawa adalah daerah penduduk dan tata kehidupan. Daerah dalam arti ...
1
0.0
lnteraksi desa-kota dapat menimbulkan dampak negatif bagi desa dan kota. Dampak negatif bagi desa-kota yang paling tepat ditunjukkan oleh pilihan…
5
0.0
Pengaruh interaksi wilayah desa dengan kota terhadap desa adalah ...
9
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Fenomena geografis itu sangat luas, apalagi sampai seluruh permukaan bumi. Dengan sudut pandang mata manusia yang terbatas, observasi tidak mungkin dilakukan secara langsung dengan menjelajahinya dan melihat dengan jelas, misalnya persebaran benua, samudra, pulau-pulau, dan sebagainya. Jaringan jalan di suatu kota pun makin sulit kita pahami dengan hanya berkeliling, kemudian menyimpulkannya. Kita memerlukan alat bantu yang dapat memperkecil fenomena luas tersebut sehingga sudut pandang kita menjadi lebih luas.
Alat bantu itulah yang kemudian antara lain berupa peta dan hakikat pemetaan itu dalam rangka membantu memperluas sudut pandang mata kita yang sebetulnya terbatas dengan memperkecilkan fenomena geografi yang sangat luas. Salah satu model pengecilan yang dapat mewakili bumi kita yang kita anggap berbentuk bulat seperti bola itu (jari-jari ±6.400 km) adalah dengan suatu globe, cermin bentuk bumi sebenarnya. Suatu globe dapat mencerminkan secara garis besar persebaran daratan benua, pulau-pulau, samudra, dan sebagainya. Dengan dilengkapi sistem gratikul, yaitu jaring-jaring meridian dan paralel, garis khatulistiwa, dan kedua kutubnya yang berguna untuk sistem penentuan lokasi objek di permukaan bumi.
Masalahnya, globe tidak praktis, apalagi kalau dibuat dalam skala besar sehingga perlu dipikirkan cara penyajian pada bidang datar, yaitu peta yang sebenarnya dan dapat dibuat dalam berbagai skala yang dikehendaki. Namun, pembuatan peta juga akan menemukan masalah karena model bumi yang bulat (globe) dipindah menjadi penyajian pada bidang datar akan terjadi distorsi, misalnya kesalahan dalam hal jarak, luas, bentuk ataupun arah sehingga perlu dilakukan cara-cara pemindahan yang disebut proyeksi peta dan meminimalkan kesalahannya (distorsi). Masalah lain adalah ketampakan-ketampakan yang ada di permukaan bumi itu sangat kompleks sehingga perlu pula memikirkan cara-cara yang sistematik dan konseptual dalam menggambarkannya pada bidang peta.
Apabila pemindahan bentuk muka bumi dari globe ke peta menggunakan proyeksi silinder yang bidang silindernya menyinggung khatulistiwa, maka semua garis paralel merupakan ....
2
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Fenomena geografis itu sangat luas, apalagi sampai seluruh permukaan bumi. Dengan sudut pandang mata manusia yang terbatas, observasi tidak mungkin dilakukan secara langsung dengan menjelajahinya dan melihat dengan jelas, misalnya persebaran benua, samudra, pulau-pulau, dan sebagainya. Jaringan jalan di suatu kota pun makin sulit kita pahami dengan hanya berkeliling, kemudian menyimpulkannya. Kita memerlukan alat bantu yang dapat memperkecil fenomena luas tersebut sehingga sudut pandang kita menjadi lebih luas.
Alat bantu itulah yang kemudian antara lain berupa peta dan hakikat pemetaan itu dalam rangka membantu memperluas sudut pandang mata kita yang sebetulnya terbatas dengan memperkecilkan fenomena geografi yang sangat luas. Salah satu model pengecilan yang dapat mewakili bumi kita yang kita anggap berbentuk bulat seperti bola itu (jari-jari ±6.400 km) adalah dengan suatu globe, cermin bentuk bumi sebenarnya. Suatu globe dapat mencerminkan secara garis besar persebaran daratan benua, pulau-pulau, samudra, dan sebagainya. Dengan dilengkapi sistem gratikul, yaitu jaring-jaring meridian dan paralel, garis khatulistiwa, dan kedua kutubnya yang berguna untuk sistem penentuan lokasi objek di permukaan bumi.
Masalahnya, globe tidak praktis, apalagi kalau dibuat dalam skala besar sehingga perlu dipikirkan cara penyajian pada bidang datar, yaitu peta yang sebenarnya dan dapat dibuat dalam berbagai skala yang dikehendaki. Namun, pembuatan peta juga akan menemukan masalah karena model bumi yang bulat (globe) dipindah menjadi penyajian pada bidang datar akan terjadi distorsi, misalnya kesalahan dalam hal jarak, luas, bentuk ataupun arah sehingga perlu dilakukan cara-cara pemindahan yang disebut proyeksi peta dan meminimalkan kesalahannya (distorsi). Masalah lain adalah ketampakan-ketampakan yang ada di permukaan bumi itu sangat kompleks sehingga perlu pula memikirkan cara-cara yang sistematik dan konseptual dalam menggambarkannya pada bidang peta.
Peta Rupa Bumi Indonesia atau peta topografi skala 1 : 25.000, yang merupakan peta resmi nasional (official map). Garis kontur yang digunakan untuk mencerminkan relief, memiliki interval kontur (contour interval) yang sesuai dengan standar umum adalah sebesar ....
1
0.0
Bacalah teks berikut ini!
Fenomena geografis itu sangat luas, apalagi sampai seluruh permukaan bumi. Dengan sudut pandang mata manusia yang terbatas, observasi tidak mungkin dilakukan secara langsung dengan menjelajahinya dan melihat dengan jelas, misalnya persebaran benua, samudra, pulau-pulau, dan sebagainya. Jaringan jalan di suatu kota pun makin sulit kita pahami dengan hanya berkeliling, kemudian menyimpulkannya. Kita memerlukan alat bantu yang dapat memperkecil fenomena luas tersebut sehingga sudut pandang kita menjadi lebih luas.
Alat bantu itulah yang kemudian antara lain berupa peta dan hakikat pemetaan itu dalam rangka membantu memperluas sudut pandang mata kita yang sebetulnya terbatas dengan memperkecilkan fenomena geografi yang sangat luas. Salah satu model pengecilan yang dapat mewakili bumi kita yang kita anggap berbentuk bulat seperti bola itu (jari-jari ±6.400 km) adalah dengan suatu globe, cermin bentuk bumi sebenarnya. Suatu globe dapat mencerminkan secara garis besar persebaran daratan benua, pulau-pulau, samudra, dan sebagainya. Dengan dilengkapi sistem gratikul, yaitu jaring-jaring meridian dan paralel, garis khatulistiwa, dan kedua kutubnya yang berguna untuk sistem penentuan lokasi objek di permukaan bumi.
Masalahnya, globe tidak praktis, apalagi kalau dibuat dalam skala besar sehingga perlu dipikirkan cara penyajian pada bidang datar, yaitu peta yang sebenarnya dan dapat dibuat dalam berbagai skala yang dikehendaki. Namun, pembuatan peta juga akan menemukan masalah karena model bumi yang bulat (globe) dipindah menjadi penyajian pada bidang datar akan terjadi distorsi, misalnya kesalahan dalam hal jarak, luas, bentuk ataupun arah sehingga perlu dilakukan cara-cara pemindahan yang disebut proyeksi peta dan meminimalkan kesalahannya (distorsi). Masalah lain adalah ketampakan-ketampakan yang ada di permukaan bumi itu sangat kompleks sehingga perlu pula memikirkan cara-cara yang sistematik dan konseptual dalam menggambarkannya pada bidang peta.
Bidang-bidang proyeksi peta yang digunakan dalam proses pemindahan globe ke bidang peta adalah bidang-bidang ....
1
0.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia