Urutkan
Perhatikan paragraf berikut!
Strok atau serangan otak adalah penyakit yang [. . .]. Saat ini strok merupakan penyebab kematian [. . .] ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Strok juga merupakan faktor utama penyebab kecacatan serius. Meskipun demikian, strok dapat dicegah dengan mengetahui dan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan. Dengan demikian, jika terjadi serangan strok, penderita tidak mengalami serangan yang [. . .] daripada serangan sebelumnya.
Disadur dari: Lili Indrawati, Wening Sari, dan Catur Setia Dewi, Care Yourself Stroke: Cegah dan Obati Sendiri, Jakarta, Penebar Plus, 2016
Frasa yang tepat untuk melengkapi paragraf rumpang tersebut adalah ....
2
5.0
Perhatikan paragraf berikut!
Vitamin adalah zat [. . .] pelengkap makanan yang diperlukan tubuh untuk memperlancar [. . .] dan tidak berfungsi menghasilkan energi. Kerja vitamin mirip enzim yakni sebagai [...] energi. Tubuh membutuhkan vitamin dalam jumlah sedikit. Akan tetapi, jika kebutuhan yang jumlahnya sedikit itu diabaikan, kesehatan tubuh akan terganggu.
Disadur dari: Siti Pramitha Retno Wardhani, Gizi Dasar Plus 30 Resep Masakan Lezat Nan Praktis untuk Pemula, Yogyakarta, Diandra Kreatif, 2018
Kata yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ....
1
5.0
Pesan penggalan novel tersebut adalah..........
1
0.0
Perhatikan penggalan drama berikut!
Istri Pak Hasan keluar panggung sambil mempersilakan kepada tamunya untuk meminum teh yang telah disediakan. Kemudian, murid-murid meminumnya.
Pak Hasan: [. . . .]
Murid 2: Begini, Pak. Di samping kami yang datang kemari, beberapa siswa lain dari kelas tiga juga akan datang ke sini, ke rumah Bapak, untuk membicarakan masalah penting tadi. Mudah-mudahan sebentar lagi sudah sampai.
Pak Hasan: Lho, apa hubungannya dengan masalah tadi? Langsung saja ceritakan masalahnya. Bapak ini sudah tua, sering lupa dengan urusan-urusan pribadi, tapi kalau urusan sekolah, urusan pelajaran, dan kewajiban saya, Bapak selalu ingat. Tapi, soal tiga orang yang mencegat kalian, apalagi alumni yang sudah lama, Bapak sudah tak bisa mengingatnya satu per satu. Kan alumni sekolah kita banyak sekali. Dan tidak semuanya jadi orang baik-baik, jadi orang terhormat, ada juga yang nasibnya kurang beruntung. Malah saya pernah dengar, ada alumni sekolah kita yang jadi prema.
Murid 3: Tapi, kan tidak semua alumni sekolah kita jadi preman, Pak
Pak Hasan: Iy, betul. Tapi, ada pepatah; karena setitik nila, rusak susu sebelangga. Tahu kan maksudnya?
Murid-murid: Iya, Pak.
Dikutip dari: Hamdy Salad, "Tak Ada Bintang di Dadanya" dalam Tak Ada Bintang 'di Dadanya: Kumpulan Naskah Drama, Yogyakarta, Interlude, 2016
Kalimat yang tepat untuk melengkapi penggalan naskah drama tersebut adalah ....
1
5.0
Bacalah dengan seksama!
Inovasi dalam peningkatan kualitas dan distribusi buku kalah cepat dengan perkemangan . Teknologi internet dan gawai elektronik yang telah menyebar ke segala penjuru Indonesia. Kegiatan membaca digital memengaruhi cara seseorang mencerna informasi, perilaku membaca, dan cara memahami bacaan. Survei Nielsen di Indonesia pada Oktober, 2016 menemukan bahwa anak (usia 10-14 tahun) dan remaja Indonesia (umur 15-19) lebih gemar mengakses internet ketimbang membaca buku. Anak-anak dan remaja mengakses internet untuk mencari informasi (8% untuk anak-anak dan 17% untuk remaja) ketimbang bermain (hanya sekitar 6% pada kedua kelompok ini). Fakta bahwa media teknologi lebih banyak diakses ketimbang media cetak tak dapat dielakkan lagi.
Tentukan kalimat fakta dalam paragraf tersebut!
1
0.0
Tuliskan unsur-unsur penulisan resensi.
30
0.0
Bacalah resensi berikut!
Buku ini terlalu mahal untuk diabaikan karena merupakan buku kedua yang memberi fokus perhatian terhadap Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Buku pertama ditulis oleh I Putu Gede Ari Suta, salah satu ketua BPPN yang lebih menonjolkan aspek wacana ketimbang kritik atas perjalanan penyehatan perbankan.
Aspek yang dinilai adalah ....
2
0.0
Perhatikan teks berikut!
Pengarang dan Bayang-Bayang Kenangan dalam Kumcer Karya Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmodjo
Karya dan penulisannya (sastrawan) seringkali tidak bisa dipisahkan. Sastrawan sering menarasikan bagian dari pengalaman, kenangan, dan kecenderungan pemikirannya di dalam karyanya. Ia ingin mengabadikan sesuatu yang tidak hanya ia baca dan lihat, tetapi juga diri dan jalan hidup yang dilintasinya. Sastrawan menciptakan kenangan dalam cerita yang dituturkannya sebagai bagian dari teknik untuk memasukkan tokoh-tokohnya ke dalam masa lalunya.
Dalam beberapa cerpen Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmojo menggambarkan tokoh yang sedang mengenang masa lalunya. Kemudian, mereka membawa kenangan itu sebagai bahan menciptakan tikungan, perbandingan dengan masa kini, dan ketegangan-ketegangan titik cerita yang ditulis oleh sungging raga dan Gunawan Tri Atmojo memiliki aspek menarik yaitu kemunculan tokoh pengarang didalamnya. Tokoh pengarang dihadapkan dengan proses mengenang masa lalunya. Namun, sebagaimana lazimnya representasi kehidupan dalam karya sastra yang tidak bisa disamakan dengan kehidupan nyata membaca tidak seharusnya sepenuhnya percaya bahwa narasi tokoh sastrawan dalam karya sastra dan identitasnya adalah benar-benar sastrawan yang menulis karya tersebut.
Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmodjo seperti tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kenangan. Mereka menggunakan kenangan-kenangan tidak hanya sebagai media menyusun struktur alur mundur. Sungging Raga menggunakan ingatan masa lampau sebagai pemicu tekanan batin dan patah hati tokoh-tokoh dalam cerita yang ditulis dengan narasi dan dialog puitis. Begitu memuja kenangan dan cinta sebagai kekuatan penggerak cerita. Sementara itu, Gunawan Triatmodjo menelusuri kenangan-kenangan dengan bumbu kejenakaan dalam karyanya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan Gunawan lugas tidak seperti gaya bahasa Sungging Raga yang berkesan puitis.
Sebagai pengarang, Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmodjo telah menghadirkan narasi pengarang dan berbagai kenangan dengan pilihan tekniknya masing-masing. Relasi masa lampau dan masa kini Membuat tokoh ciptaan kedua pengarang ini beraktualisasi, menciptakan identitas, dan memunculkan berbagai ketegangan dan persoalan. Tampaknya pengarang dan kenangan telah bersekutu untuk membuat pembaca terhanyut selalu memikirkan masa lalu yang menjadi bayang-bayang masa depan tanpa ketidakpastian. Kemudian, Apakah buku-buku karya Sungging Raga dan Gunawan Tri atmodjo ini telah membawa anda seakan berhadapan dengan mereka berdua sebagai pengarang yang benar-benar memikirkan status kepengarangan atau berbagai kenangan.
(Disadur dari: Yusri Fajar, Sastra yang Melintasi Batas dan Identitas Sehimpunan Esai Sastra, Yogyakarta, Basabasi, 2017)
Tentukan aspek kebahasaan teks esai berikut!
1
0.0
Jelaskan manfaat wawancara dalam penulisan teks cerita sejarah!
2
4.0
Perhatikan teks berikut!
Puisi-Puisi Eko Susanto: Sebuah Kritik Reflektif
Kegiatan menulis puisi melihatkan banyak aspek. Aspek tersebut antara lain pengalaman, kedalaman, kejujuran, kecerdasan, dan sedikit kegilaan (Sarjono, 2010). Mengingat kompleksitas urusan menulis puisi, puisi yang baik tidak akan lahir dalam waktu singkat. Ada lima musuh puisi yang harus dihindari agar puisi mendapat predikat puisi bagus menurut Agus R Sarjono. Kelima musuh puisi tersebut antara lain keumuman, simplikasi, propaganda dan reklame, klise, dan nasihat. Kelima puisi tersebut harus dihindari jika ingin mencapai predikat puisi bagus.
Puisi "Ibu" karya Eko Susanto dalam antologi puisi Syair dari Sebuah Nama terasa sekali pandangan umum Eko Susanto terhadap sosok ibu. Keumuman ibu yang bijaksana masih tampak dalam puisi karya Eko Susanto. Apakah kita tidak boleh menulis puisi ibu yang bijak dan penuh kasih sayang? Tentu saja boleh, tetapi Apa bedanya puisi dengan tulisan deskripsi ibu? Itulah persoalannya. Dari puisi Eko Susanto berjudul "Buto (C)akil Indonesia" kita bisa menangkap kemarahan penyair. Namun, kemarin itu akan lebih indah jika dituangkan dalam puisi yang elegan dan tidak kasar.
Demikian penilaian saya terhadap puisi-puisi Eko Susanto dalam antologi puisinya berjudul Syair dari Sebuah Nama. Untuk sebuah profesi penyair tiada batas waktu melahirkannya dan tiada batas waktu menghentikannya. Tidak ada kata pensiun untuk seorang penyair. Semakin diasah kepekaan pengairannya akan semakin tajam dan pilihannya dan semakin dinantikan kehadirannya.
(Disadur dari. Esti Ismawati, Kritik Sastra, Yogyakarta , 2014)
Tentukan aspek kebahasaan dalam teks kritik tersebut!
4
3.0
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia