Roboguru

Tuntutan Mahasiswa menuntut reformasi mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei 1998. Dalam aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti,terjadi bentrok dengan aparat, yang mengakibatkan beberapa mahasiswa terluka parah dan 4 (empat) orang tewas terkena peluru tajam, antara lain. Kecuali...

Pertanyaan

Tuntutan Mahasiswa menuntut reformasi mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei 1998. Dalam aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti,terjadi bentrok dengan aparat, yang mengakibatkan beberapa mahasiswa terluka parah dan 4 (empat) orang tewas terkena peluru tajam, antara lain. Kecuali...

  1. Elang Mulya Lesmana

  2. Hery Hartanto

  3. Arief Rahman Hakim

  4. Hendriawan Sie E. Hafidin Royan

Pembahasan Soal:

Tragedi Trisakti terjadi pada tanggal 12 Mei 1998. Dalam tragedi ini, mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut Presiden  Soeharta turun dari jabatannya, mereka juga terlibat bentrok dengan aparat yang ingin membubarkan demonstrasi. Empat orang mahasiswa meninggal dunia akibat tertembak dalam tragedi ini, di antaranya Hafidin Royan, Elang Mulia Lesmana, Hertanto dan Hendriawan Sie.

Berdasarkan penjelasan tersebut, jawaban yang tepat adalah C.

Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru

Dijawab oleh:

F. Putri

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Lampung

Terakhir diupdate 04 Juni 2021

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

Pertanyaan yang serupa

Simaklah Kasus Pelanggaran HAM TSS (Tragedi Trisakti-Semanggi I/II)! Kasus Pelanggaran HAM TSS terjadi pada masa Orde Baru, Tragedi Trisakti terjadi pada tanggal 12 Mei 1998, Tragedi Semanggi I pada ...

Pembahasan Soal:

Kasus Pelanggaran HAM TSS (Tragedi Trisakti-Semanggi I/II) yang menjatuhkan banyak korban merupakan penggaaran HAM berat yang pernah terjadi di Indonesia, sehingga perlu penanganan dari berbagai aspek.

  • Hukum, DPR harus mengusulkan pembentukan pengadilan HAM ad hoc kepada Presiden, sesuai pasal 43, UU 26/2000. Pasal itu berbunyi, Seorang komandan dinyatakan bersalah jika tak mencegah anak buahnya melakukan pelanggaran HAM, atau tidak mau menyerahkannya ke penuntutan untuk diadili. Faktanya, pengadilan militer sudah menghukum para prajurit yang jadi tersangka kasus ini. Sementara, untuk mengadili para komandannya harus dibentuk pengadilan HAM ad hoc dulu. Pembentukan pengadilan seperti itu pun melanggar pasal 91, UU Hak Asasi Manusia, Nomor 39/1999. Penegakan HAM di Indonesia masih tergolong lemah, ketiga kasus ini merupakan beberapa kasus yang belum berhasil ditangani pemerintah karena lemahnya hukum di Indonesia. Ketegasan dan pelaksanaan hukum sesuai UU harus dilakukan dengan bertanggungjawab, sehingga kasus pelanggaran HAM serupa tidak terjadi lagi pada masa kini.
  • Politik, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran berat HAM Tragedi Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II (TSS) melalui jalur non-yudisial atau rekonsiliasi. Penyelesaian yang diputuskan pemerintah ini tentu bukan pilihan yang tepat, jika melihat kondisi perpolitikan di Indonesia di mana tidak adanya tindak lanjut yang tegas dari Mahkamah Agung dalam mengadili kasusu ini. Seharusnya pemerintah dapat menjadi tonggak penegakan HAM. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan memiliki hak dalam menentukan kelanjutan kasus tersebut, di mana pemerintah tidak hanya mengacu pada satu opsi penyelesaian saja. Sehingga, menimbulkan efek jera bagi pelakunya.
  • Sosial, dilakukan dengan memberikan kebebasan pers kepada para aktivis untuk menyuarakan aspirasinya terkait penyelesaian kasus tersebut. Masyarakat dapat melakukan berbagai aksi sosial yang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Selain itu, perlu ditegakkan juga norma sosial di masyarakat sehingga para pihak yang terlibat dapat memikirkan akibatnya pada keluarga sebelum melakukan tindakan yang tidak sesuai norma khususnya bagi pelanggaran HAM.
  • Agama, ketiga kasus tersebut telah menyalahi kodrat sang maha kuasa dari berbagai agama terkait kebebasan hidup. Perlu adanya pemberian pendidikan agama pada tingkat dasar hingga tinggi untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama dan menghargai hak setiap manusia agar kejadian serupa tidak terjadi pada masa kini. Agama dapat menjadi cerminan diri serta pedoman bagi pemeluknya. Hal ini dilakukan untuk membatasi tindakan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama yang dianut.

Dengan demikian, kasus TSS (Tragedi Trisakti-Semanggi I/II) dapat diselesaikan dari berbagai aspek, seperi: aspek hukum dengan membuat UU yang tegas terkait pelanggaran HAM, aspek politik di mana pemerintah memegang peranan penting dalam membuat aturan penegakan HAM, aspek sosial dengan memberikan kebebasan pers bagi masyarakat luas, dan agama dengan memberikan pendidikan agama sebagai pendidikan pokok sebagai pedoman untuk bertindak bagi pemeluknya.

0

Roboguru

Apa dampak yang ditimbulkan dari penembakan mahasiswa Trisakti pada awal Reformasi ?

Pembahasan Soal:

Diketahui bahwa menjelang turunnya Presiden Soeharto, terjadi berbagai peristiwa yang memicu turunnya presiden Soeharto dari kursi Presiden, salah satunya adalah gerakan reformasi yang dilakukan oleh para mahasiswa. Gerakan reformasi ini berlangsung pada tahun 1998 yang dipicu karena krisis multidimensi yang melanda Indonesia. Gerakan ini bertujuan untuk melakukan tekanan kepada pemerintah agar pemerintah mengadakan perubahan politik yang berarti melalui reformasi secara total. Terdapat enam agenda reformasi, yakni sebagai berikut.

  1. Suksesi kepemimpinan nasional.
  2. Amendemen UUD 1945.
  3. Pemberantasan KKN.
  4. Penghapusan dwifungsi ABRI.
  5. Penegakan supremasi hukum.
  6. Pelaksanaan otonomi daerah.

Pada mulanya, gerakan ini dilakukan dengan cara berdemonstrasi di lingkungan kampus. Namun, dalam perkembangannnya para mahasiswa turun ke jalan karena aspirasi mereka tidak didengar oleh pemerintah. Pada tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa Trisakti tewas ditangan aparat keamanan pada saat terjadi demonstrasi menuntut Soeharto mundur. Keempat mahasiswa tersebut adalah Elang Mulya, Hery Hertanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan. Kematian empat mahasiswa Trisakti tersebut memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar.

Pada tanggal 13 Mei 1998 terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan di Jakarta dan Solo. Mulai tanggal 14 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Bahkan, para demonstran mulai menduduki gedung-gedung pemerintah di pusat dan daerah. Mahasiswa Jakarta menjadikan gedung DPR/MPR sebagai pusat gerakan yang relatif aman. Ratusan ribu mahasiswa menduduki gedung rakyat. Bahkan, mereka menduduki atap gedung tersebut. Mereka berupaya menemui pimpinan MPR/DPR agar mengambil sikap yang tegas. Akhirnya, tanggal 18 Mei 1998 Ketua MPR/DPR Harmoko meminta Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden. Hingga pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia.

Dengan demikian, dampak yang ditimbulkan dari penembakan mahasiswa Trisakti adalah memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar diberbagai daerah yang dilakukan oleh mahasiswa dihari selanjutnya.  

0

Roboguru

Perhatikan nama-nama di bawah ini! Arif Rahman Hakim Elang Mulia Lesmana Hendriawan Sie Heri Hertanto Nama-nama di atas yang merupakan para pejuang reformasi sekaligus menjadi korban dalam Tra...

Pembahasan Soal:

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya, pada tanggal 12 Mei 1998. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti, serta puluhan lainnya terluka. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998). Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Sebagai bentuk penghormatan kepada empat mahasiswa tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan Bintang Jasa Pratama dan memberikan gelar gelar Pahlawan Reformasi.

Dengan demikian, jawaban yang benar adalah C.undefined  

0

Roboguru

Berikut ini merupakan nama-nama korban tragedi Trisakti yang disebut juga sebagai "Pahlawan Reformasi", kecuali.

Pembahasan Soal:

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka. Empat mahasiswa tersebut adalah Elang Mulia Lesmana (mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur-1996), Hafidin Royan (mahasiswa Fakultas Teknik Sipil-1996), Hendriawan Lesmana (mahasiswa Fakultas Ekonomi-1996), Hery Hartanto (mahasiswa  Fakultas Teknik Mesin-1995). Keempat mahasiswa tersebut namanya diabadikan sebagai nama jalan di Kampus Universitas Trisakti Nagrak, di Jalan KH Rafei-Alternatif Cibubur, Km 6, Kelurahan Ciangsana Kecamatan Gunung Putri, Bogor.

Oleh karena itu, jawaban paling benar adalah A dan E.

0

Roboguru

Presiden Abdurrahman Wahid berhasil merajut kebinekaan Indonesia, merangkul kelompok-kelompok minoritas seperti etnis Tionghoa yang sebelumnya kerap diperlakukan diskriminatif. Namun demikian, pada ma...

Pembahasan Soal:

Beberapa kasus penyimpangan yang terjadi pada masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid adalah pembubaran Departemen Sosial dan Departemen Penerangan kemudian kasus Bulog Gate, kasus ini melibatkan nama Badan Urusan Logistik (Bulog) serta jajaran pimpinannya. Abdurrahman Wahid beranggapan bahwa Bulog sebagai badan yang bergerak di bidang logistik dapat digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah yang terkait dengan logistik baik itu dalam bidang sosial budaya, ekonomi maupun politik. Abdurrahman Wahid pun dengan leluasa dapat menggunakan dana dan materi dari Bulog dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul. Namun, DPR menganggap bahwa kebijakan yang dilakukan oleh Abdurrahman Wahid kurang tepat karena berpotensi menyebabkan perilaku korupsi. Sehingga Abdurrahman Wahid mendapat memorandum dari DPR.Belum selesai pada kasus Bulog Gate, timbul masalah baru, yaitu Brunei Gate. Brunei Gate ini merupakan kasus penyaluran dana Sultan Brunei  yang diserahkan kepada pengusaha yang dekat dengan Presiden Wahid, yaitu Ario Wowor. Dana tersebut kemudian disimpan oleh Abdurrahman Wahid dalam rekening pribadinya. Hal ini menyebabkan Abdurrahman Wahid dinilai melakukan tindak pidana korupsi. Namun, Abdurrahman Wahid beralasan bahwa Sultan Brunei memintanya untuk merahasiakan dana tersebut, sehingga Abdurrahman Wahid pun menyimpan  dana itu sendiri tanpa diketahui oleh publik. Melihat kasus-kasus yang melibatkan orang nomor satu di Indonesia saat itu, DPR mengeluarkan memorandum keduanya kepada Presiden Gus Dur. Namun, memorandum tersebut tidak digubris oleh Gus Dur, sehingga muncullah memorandum-memorandum selanjutnya sampai akhirnya DPR mengusulkan kepada MPR untuk melengserkan Abdurrahman Wahid dari jabatannya sebagai presiden.Langkah DPR tersebut membuat Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membekukan DPR dan MPR. Namun, dekrit tersebut tidak dapat dilaksanakan karena dianggap bertentangan dengan konstitusi dan tidak memiliki kekuatan hukum.MPR pun mengadakan sidang istimewa yang menghasilkan keputusan untuk melengserkan Abdurrahman Wahid dari posisinya sebagai presiden, dan secara otomatis Megawati yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia dan posisi wakil presiden dipegang oleh Hamzah Haz.
Dengan demikian, kebijakan yang menyimpang pada masa Abdurrahman Wahid yaitu membubarkan 2 departemen negara, dugaan Buloggate dan dikeluarkannya dekrit presiden.

0

Roboguru

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved