Iklan
Pertanyaan
Bacalah cuplikan hikayat berikut!

Dengan tiba-tiba, Seri Laut duduk menyembah kaki Anggun Dewa.
"Ampun hamba pada kakak, usahlah hati dipermalukan. Jangan bicara diperpanjang. Hamba tahu, hamba arif. Kata kakak, kata menyindir, ngilu tulangku mendengarkannya. Dosa hamba seberat bukit, kesalahan sebesar bumi. Bagaimana hamba akan menurut, bagaimana hamba akan pulang menentang kakak, hamba malu. Bukanlah kakak yang celaka, untung hamba kiranya. Jangan suka mendengar asut petenah, buah bicara orang penghasut. Akhirnya, badan yang menanggung. Menanggung dendam siang malam, hidup bagai hantu rimba," demikianlah kata Seri Laut sambil menangis.
"Manalah Tuan Seri Laut, jangan Tuan panjang bicara. Hari hampir berjuak malam, matahari hampir terbenam. Bawa hamba ke tempat Tuan. Menjemput inang dan pengasuh. Mari kita pulang ke rumah, menjelang ayah dengan bunda."
Tuliskan kembali cuplikan hikayat tersebut dengan kalimat Anda sendiri.
Iklan
K. Khoirunnisa
Master Teacher
Mahasiswa/Alumni Universitas Sriwijaya
2
1.0 (1 rating)
Laura ursula
Pembahasan terpotong
Iklan
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia