Roboguru
SD

Tengkuk Menot meriang, bulu kuduk di lengannya juga ikut berdiri ketika dia menyebut hewan itu dalam hatinya. Harimau belang. Binatang yang selama ini mereka keramatkan. Orang-orang Tanah Abang percaya, harimau belang adalah titisan leluhur dari masa silam. Puyang, begitulah mereka menyebutnya. Harimau belang tak boleh diburu. Tak boleh dibunuh. Bila ada yang berpapasan dengannya di rimba karet atau pun belukar, biarkan saja harimau itu lewat. Atau jika seseorang melintas di hutan dan ada harimau belang, dia harus permisi.      Lantas, apa pasal yang membuat orang-orang Tanah Abang berbalik arah? Sebulan silam, harimau belang keluar dari dalam rimba, masuk ke dusun dan memangsa ternak. Beberapa kambing sudah dimakan, juga anak sapi. Mula-mula orang dusun tak tahu ihwal ini, mereka menduga dusun sudah tak aman. Ada maling yang menggondol hewan-hewan itu. Seminggu kemudian, beberapa.orang menyaksikan sendiri, harimau belang berukuran besar menyergap kambing yang sedang merumput di darat dusun, batas kampung dengan rimba. ·      Cerita tentang harimau yang menyergap kambing milik Seron itu segera edar. Orang-orang yang penasaran segera mengikuti jejak harimau yang membekas di tanah juga bekas badan kambing yang diseret. Hanya beberapa ratus meter, mereka menemukan tulang belulang dan sisa-sisa kambing malang itu. Di sana pula, orang-orang kampung menemukan sisa hewan lainnya yang mulai membusuk.      Lantaran inilah, orang-orang mulai memasukkan ternak ke dalam kandang atau hewan-hewan itu diikat dan merumput di tengah dusun. Tak dibiarkan lagi berkeliaran sampai dekat hutan rimba itu. Dikutip dari: Guntur Alam,  “Harimau Belang” dalam Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon, Jakarta, Kompas, 2015 Nilai sosial budaya dalam kutipan cerpen tersebut adalah . . . .

Pertanyaan

     Tengkuk Menot meriang, bulu kuduk di lengannya juga ikut berdiri ketika dia menyebut hewan itu dalam hatinya. Harimau belang. Binatang yang selama ini mereka keramatkan. Orang-orang Tanah Abang percaya, harimau belang adalah titisan leluhur dari masa silam. Puyang, begitulah mereka menyebutnya. Harimau belang tak boleh diburu. Tak boleh dibunuh. Bila ada yang berpapasan dengannya di rimba karet atau pun belukar, biarkan saja harimau itu lewat. Atau jika seseorang melintas di hutan dan ada harimau belang, dia harus permisi.

     Lantas, apa pasal yang membuat orang-orang Tanah Abang berbalik arah? Sebulan silam, harimau belang keluar dari dalam rimba, masuk ke dusun dan memangsa ternak. Beberapa kambing sudah dimakan, juga anak sapi. Mula-mula orang dusun tak tahu ihwal ini, mereka menduga dusun sudah tak aman. Ada maling yang menggondol hewan-hewan itu. Seminggu kemudian, beberapa.orang menyaksikan sendiri, harimau belang berukuran besar menyergap kambing yang sedang merumput di darat dusun, batas kampung dengan rimba. ·

     Cerita tentang harimau yang menyergap kambing milik Seron itu segera edar. Orang-orang yang penasaran segera mengikuti jejak harimau yang membekas di tanah juga bekas badan kambing yang diseret. Hanya beberapa ratus meter, mereka menemukan tulang belulang dan sisa-sisa kambing malang itu. Di sana pula, orang-orang kampung menemukan sisa hewan lainnya yang mulai membusuk.

     Lantaran inilah, orang-orang mulai memasukkan ternak ke dalam kandang atau hewan-hewan itu diikat dan merumput di tengah dusun. Tak dibiarkan lagi berkeliaran sampai dekat hutan rimba itu.

Dikutip dari: Guntur Alam,  “Harimau Belang” dalam Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon, Jakarta, Kompas, 2015


Nilai sosial budaya dalam kutipan cerpen tersebut adalah . . . .undefined 

  1. warga dusun membiarkan harimau liar berkeliaran di dekat hutanundefined 

  2. warga dusun ramai-ramai mengusir hewan buas untuk keamanan dusunundefined 

  3. banyak orang dusun yang mengira kampungnya tidak aman karena malingundefined 

  4. orang dusun percaya bahwa harimau belang adalah titisan leluhur masa silamundefined 

  5. orang-orang mengamankan peliharaannya supaya tidak diburu hewan buasundefined 

L. ISTANTI,

Master Teacher

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Surabaya

Jawaban terverifikasi

Jawaban

jawaban yang tepat adalah pilihan D.undefined 

Pembahasan

Nilai budaya adalah nilai dalam cerpen yang berhubungan dengan adat istiadat, kebiasaan, serta kebiasaan suatu masyarakat. Nilai sosial budaya dalam kutipan cerpen tersebut adalah orang-orang Tanah Abang percaya, harimau belang adalah titisan leluhur dari masa silam.

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah pilihan D.undefined 

945

0.0 (0 rating)

Pertanyaan serupa

Bukti yang menunjukkan bahwa kutipan tersebut mengajarkan nilai-nilai bahwa manusia harus mendermakan sebagian hartanya adalah kalimat ...

546

0.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

081578200000

Email info@ruangguru.com

info@ruangguru.com

Contact 02140008000

02140008000

Ikuti Kami

©2022 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia