Gerakan Nasionalisme di dunia Timur termasuk di dalamnya Asia Tenggara dan Indonesia biasanya menggunakan istilah kebangkitan nasional. Berbeda dengan Barat, nasionalisme di Timur bangkit karena reaksi dari kolonialisme dan imperialisme. Pada umumnya kebangkitannya disertai dengan sikap anti kolonialisme dan imperialisme. Gerakan nasionalisme di dunia Timur merupakan fenomena abad XX. Adapun yang membedakan Nasionalisme di antara Negara-negara di dunia Timur dengan Indonesia adalah.
Gerakan Nasionalisme di Indonesia bersifat realistis dan keterbukaan. Sikap realistis dan keterbukaan dapat terwujud dalam sikap berani mengambil yang baik dari luar untuk memperbaiki bangsa sendiri, tetapi juga berani menghilangkan yang tidak baik yang ada pada diri bangsa sendiri. Selain keterbukaan sebagai ciri sifat rasional, ciri lain yaitu adanya perhitungan dan terarah pada modernisasi. Hal itu juga dapat dilihat pada pernyataan Hatta, bawah nasionlisme yang menolak pendapat atau perbuatan dunia, adalah nasionalisme yang reaksioner. Hal ini dapat di lihat saat masa pendudukan Jepang di Indonesia kita mengenal adanya gerakan kooperatif yang dilakukan beberapa tokoh pergerakan saat itu. Itu adalah bagian dari gerakan nasional yang terbuka walaupun pada akhirnya kerja sama yang dilakukan Indonesia dengan Jepang justru di manfaatkan oleh Jepang untuk membantu mereka dalam Perang Pasifik.
Selain itu Soekarno menegaskan sesuatu yang amat penting mengenai karakteristik nasionalisme Indonesia dan kesatuan bangsa Indonesia sebagai berikut:
”Kesatuan bangsa Indonesia tidak bersifat alami, melainkan historis, artinya berbeda dengan bangsa Korea, bangsa Indonesia bersatu bukan karena dipersatukan oleh satu bahasa Ibu, atau oleh kesatuan suku, budaya ataupun agama. Dalam arti alami masyarakat-masyarakat di bumi Indonesia merupakan keanekaan dengan ratusan bahasa, suku, budaya daerah, dan dengan pluralitas agama yang tersebar atas ribuan pulau yang secara geografispun tidak dengan sendirinya mendukung persatuan nusantara. Yang mempersatukan masyarakat-masyarakat di bumi Indonesia adalah sejarah yang dialami bersama, sebuah sejarah penderitaan, penindasan, perjuangan kemerdekaan, dan tekad pembangunan kehidupan bersama. Itulah dasar kesatuan bangsa Indonesia ,dasar kesatuan bangsa Indonesia bukan tendensi-tendensi bawah sadar masing-masing golongan penduduk, melainkan sebuah tekad bersama. Persatuan bangsa Indonesia tidak bersifat etnik, melainkan etis (Soekarno:1963)
Dari penjelasan di atas, gerakan nasionalime di Indonesia melahirkan karakteristik nasionalisme Indonesia bukan tipe nasionalisme yang chauvinis yang sombong dan menutup dari pergaulan dunia. Nasionalisme Indonesia juga bukan tipe nasionalisme yang ekspansif dan juga bukan nasionalisme yang sempit dengan etnisitas dan primordialnya.
Dengan demikian, gerakan nasionalisme di Indonesia memiliki karakteristik nasionalisme yang terbuka tapi tetap rasional dan disatukan dengan sejarah serta tekad yang sama untuk mencapai kemerdekaan.