Iklan
Pertanyaan
Perhatikan wacana berikut.
Munawir Aziz dalam buku Merawat Kebhinekaan menulis, perayaan Imlek menjadi bagian dari ekspresi kultural orang-orang Tionghoa di Indonesia. Perayaan Imlek tidak hanya ramai diselenggarakan di kelenteng, tetapi juga menjadi ritual tradisi di gereja, masjid, bahkan sebagai kirab massal lintas komunitas. Di Semarang, perayaan Imlek dinikmati warga lintas etnis. Banyak masyarakat yang mengunjungi beragam festival di kawasan pecinan. Pasar Imlek Semawis (PIS) menjadi rujukan penyelenggaraan perayaan Imlek. Terdapat beragam acara, seperti festival kuliner, pertunjukkan wayang potehi, hingga pengobatan massal. Di Lasem, Jawa Tengah, Imlek tidak hanya milik orang Tionghoa. Warga setempat turut merasakan denyut nadi Imlek. Perayaannya bukan sebagai kegiatan keagamaan, melainkan sebagai ruang publik bersama yang diakses warga lintas etnis. Di Surakarta, orang Tionghoa bersama warga lintas etnis menyelenggarakan lmlek dalam tradisi Jawa. Sementara itu, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Yogyakarta menyelenggarakan Imlek di Masjid Syuhada beberapa tahun lalu. Pembaruan lintas etnis inilah yang menjadikan momentum lmlek sebagal peristiwa penting. Momentum tradisi ini menjadi jembatan untuk menegosiasikan ritual antarsekat etnis dan agama.
Pola hubungan antarkelompok masyarakat multikultural yang tampak dalam wacana tersebut adalah ...
adanya dominasi kelompok minoritas dalam segi aspek kehidupan tertentu
diskriminasi terhadap tradisi yang difakukan oleh salah satu kelompok etnis
akulturasi antara dua kebudayaan berbeda yang hidup berdampingan
sering terjadi konflik akibat perbedaan kebudayaan di antara dua kelompok
sikap primordialisme yang berkembang dalam masing-masing kelompok etnis
Iklan
N. Puspita
Master Teacher
1
0.0 (0 rating)
Iklan
RUANGGURU HQ
Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860
Produk Ruangguru
Bantuan & Panduan
Hubungi Kami
©2026 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia