Perhatikan kutipan buku fiksi berikut!     Namaku Wulan. Aku merupakan anak kelas dua SMA yang bersekolah di salah satu sekolah negeri di Bali. Aku ditugasi oleh sekolah untuk mewawancarai seorang pahlawan. Syukurlah temanku memiliki seorang paman yang juga pengelola panti jompo dan di sana terdapat seorang nenek yang merupakan istri seorang pahlawan. Nenek ini biasa dipanggil Odah Jati atau Nenek Jati.     "Odah, ini anak-anak yang ingin bertemu. Mereka mendapat tugas untuk mewawancarai peristiwa yang terjadi saat Perang Puputan,” jelas seorang pengurus panti kepadanya.     "Selamat siang, Odah. Saya Dian dan ini taman saya Wulan," sapa Dian sopan. Dian mengulurkan tangan dan diterima oleh Odah Jati. Selanjutnya aku pun melakukan hal yang sama. Odah Jati menampilkan seulas senyum meneduhkan untuk kami berdua.     "Odah sangat terharu masih ada anak muda yang mau mendengarkan sejarah bangsa kita. Tidak semua kejadian peperangan diceritakan dalam buku-buku sejarah kalian . Masih banyak peristiwa yang tidak dijelaskan secara lengkap. Pada zaman itu, Odah tidak ikut turun ke medan perang. Jadi, Odah hanya bisa menceritakan apa yang Odah alami pada saat itu. Apa tidak apa-apa?" jelas Odah Jati.     'Tidak apa-apa, Odah. Kami hanya ditugasi untuk melakukan wawancara tentang kejadian pada masa itu, bahkan kami akan sangat senang apabila Odah bisa menceritakan perang tersebut dari sisi lainnya, bukan hanya yang diceritakan dalam buku-buku kami," Dian terlihat sangat antusias menunggu Odah Jati untuk melanjutkan ceritanya.     "Baiklah. Jika benar tidak ada masalah, Odah akan menceritakan bagaimana perjuangan wanita pada zaman itu. Kami kaum wanita tidak turun langsung ke medan perang. Tugas kami adalah menyediakan bahan makanan pagi para pejuang. Kami menyediakan logistik yang akan dibawa untuk bergerilya. Saat para pejuang beristirahat, kami membantu membersihkan senjata-senjata mereka. Bahkan, kami juga kerap merangkap sebagai perawat saat ada pejuang yang terluka. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk membantu mereka. Prinsip kami pada saat itu adalah lakukan yang bisa dilakukan. Kaum wanita bukanlah kaum lemah. Kalaupun diperlukan untuk ikut angkat senjata, kami siap melakukannya. Namun, kami sadar bahwa kami lebih dibutuhkan untuk menyediakan logistik dan perawat bagi para pejuang,” Odah Jati tersenyum tipis dan tampak menikmati ekspresi kaget di wajah kami yang sangat kentara.     “Jadi, wanita mempunyai peran sangat penting pada zaman itu ya, Odah?" ucapku. Akhirnya aku angkat bicara setelah kebisuan panjangku semenjak menginjakkan kaki di panti ini. Odah Jati hanya tersenyum memandangku. Lagi-lagl senyum meneduhkan itu. Mungkin, senyum beliau bisa menjadi salah satu senyum terbaik yang pernah aku lihat.  Dikutip dari: Lenny Omi Priyatni, "Gelora Wanita Lintas Generasi" dalam Kumpulan Cerita Pendek Kartini Masa Kini, Jakarta, Andamari Creative, 2019   Jelaskan nilai dalam kutipan buku fiksi tersebut! Sertakan alasan penentuan nilai tersebut!

Pertanyaan

Perhatikan kutipan buku fiksi berikut!


    Namaku Wulan. Aku merupakan anak kelas dua SMA yang bersekolah di salah satu sekolah negeri di Bali. Aku ditugasi oleh sekolah untuk mewawancarai seorang pahlawan. Syukurlah temanku memiliki seorang paman yang juga pengelola panti jompo dan di sana terdapat seorang nenek yang merupakan istri seorang pahlawan. Nenek ini biasa dipanggil Odah Jati atau Nenek Jati.
    "Odah, ini anak-anak yang ingin bertemu. Mereka mendapat tugas untuk mewawancarai peristiwa yang terjadi saat Perang Puputan,” jelas seorang pengurus panti kepadanya.
    "Selamat siang, Odah. Saya Dian dan ini taman saya Wulan," sapa Dian sopan. Dian mengulurkan tangan dan diterima oleh Odah Jati. Selanjutnya aku pun melakukan hal yang sama. Odah Jati menampilkan seulas senyum meneduhkan untuk kami berdua.
    "Odah sangat terharu masih ada anak muda yang mau mendengarkan sejarah bangsa kita. Tidak semua kejadian peperangan diceritakan dalam buku-buku sejarah kalian . Masih banyak peristiwa yang tidak dijelaskan secara lengkap. Pada zaman itu, Odah tidak ikut turun ke medan perang. Jadi, Odah hanya bisa menceritakan apa yang Odah alami pada saat itu. Apa tidak apa-apa?" jelas Odah Jati.
    'Tidak apa-apa, Odah. Kami hanya ditugasi untuk melakukan wawancara tentang kejadian pada masa itu, bahkan kami akan sangat senang apabila Odah bisa menceritakan perang tersebut dari sisi lainnya, bukan hanya yang diceritakan dalam buku-buku kami," Dian terlihat sangat antusias menunggu Odah Jati untuk melanjutkan ceritanya.
    "Baiklah. Jika benar tidak ada masalah, Odah akan menceritakan bagaimana perjuangan wanita pada zaman itu. Kami kaum wanita tidak
turun langsung ke medan perang. Tugas kami adalah menyediakan bahan makanan pagi para pejuang. Kami menyediakan logistik yang akan dibawa untuk bergerilya. Saat para pejuang beristirahat, kami membantu membersihkan senjata-senjata mereka. Bahkan, kami juga kerap merangkap sebagai perawat saat ada pejuang yang terluka. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk membantu mereka. Prinsip kami pada saat itu adalah lakukan yang bisa dilakukan. Kaum wanita bukanlah kaum lemah. Kalaupun diperlukan untuk ikut angkat senjata, kami siap melakukannya. Namun, kami sadar bahwa kami lebih dibutuhkan untuk menyediakan logistik dan perawat bagi para pejuang,” Odah Jati tersenyum tipis dan tampak menikmati ekspresi kaget di wajah kami yang sangat kentara.
    “Jadi, wanita mempunyai peran sangat penting pada zaman itu ya, Odah?" ucapku. Akhirnya aku angkat bicara setelah kebisuan panjangku semenjak menginjakkan kaki di panti ini. Odah Jati hanya tersenyum memandangku. Lagi-lagl senyum meneduhkan itu. Mungkin, senyum beliau bisa menjadi salah satu senyum terbaik yang pernah aku lihat. 

Dikutip dari: Lenny Omi Priyatni, "Gelora Wanita Lintas Generasi" dalam Kumpulan Cerita Pendek Kartini Masa Kini, Jakarta, Andamari Creative, 2019
 

Jelaskan nilai dalam kutipan buku fiksi tersebut! Sertakan alasan penentuan nilai tersebut!space 

  1. ...undefined 

  2. ...undefined 

R. Trihandayani

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Pembahasan

Nilai yang terdapat dalam kutipan buku fiksi tersebut adalah nilai moral dan nilai sosial. Nilai moral digambarkan melalui sikap tokoh Dian yang bertutur secara sopan dan santun kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Selain itu Dian dan Wulan juga memiliki kepedulian terhadap sejarah bangsanya. Sedangkan nilai sosial tergambar melalui cerita yang dituturkan tokoh Odah tentang perjuangan perempuan saat perang puputan berlangsung.

213

5.0 (1 rating)

Maria Widya

Makasih ❤️

Pertanyaan serupa

Ibu: (Tidak menoleh benar) Malam Lebaran Narto, dengarlah tabuh itu bersahutan. Pada malam Lebaran ini, dia pergi dengan tidak meninggalkan kata. Gunarto: (Agak kesal) Ayah...? Ibu: Keesokan harinya...

4rb+

3.8

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

081578200000

Email info@ruangguru.com

info@ruangguru.com

Contact 02140008000

02140008000

Ikuti Kami

©2022 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia