Roboguru

Perhatikan informasi berikut. Prasasti Kedukan Bukit (684 M). Prasasti Karang Berahi (686 M). Prasasti yang di tulis di atas tujuh yupa (tugu batu). Berita Tiongkok berupa catatan I-tsing (664-667 M). Berita Tiongkok pada zaman Dinasti Tang (618-906 M). Sumber sejarah yang penting tentang Kerajaan Holing bercorak Buddha Hinayana ditunjukkan nomor ...

Pertanyaan

Perhatikan informasi berikut.

  1. Prasasti Kedukan Bukit (684 M).
  2. Prasasti Karang Berahi (686 M).
  3. Prasasti yang di tulis di atas tujuh yupa (tugu batu).
  4. Berita Tiongkok berupa catatan I-tsing (664-667 M).
  5. Berita Tiongkok pada zaman Dinasti Tang (618-906 M).

Sumber sejarah yang penting tentang Kerajaan Holing bercorak Buddha Hinayana ditunjukkan nomor ...

  1. 1)

  2. 2)

  3. 3)

  4. 4)

  5. 5)

Pembahasan Soal:

Catatan sejarah mengenai keberadaan kerajaan Kalingga berasal dari kronik berita Tiongkok dan catatan-catatan lokal masyarakat Jawa Tengah. Kerajaan Kalingga oleh masyarakat Tiongkok disebut sebagai Ho-ling, yang pertama kali diberitakan oleh seorang penjelajah, sekaligus pendeta bernama I-Tsing. Catatan perjalanan bangsa Tiongkok menyebutkan bahwa di Jawa pada abad ke-7 M telah berkembang salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Salah satunya berada di Ho-ling yang dipimpin oleh seorang pendeta bernama Janabadra. Pendeta dari Jawa itu kemudian bekerja bersama pendeta dari Tiongkok bernama Hwining untuk menerjemahkan kitab Buddha ke dalam bahasa Tiongkok. 

Dengan demikian, maka jawaban yang benar adalah D.

Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru

Dijawab oleh:

A. Jasmine

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Jakarta

Terakhir diupdate 13 September 2021

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

Pertanyaan yang serupa

Prasasti Kedukan Bukit berisi tentang ...

Pembahasan Soal:

Di Sumatra sekitar abad ke-7 diketahui terdapat tiga kerajaan, yakni kerajaan Tulangbawang, Melayu dan Sriwijaya. Salah satu kerajaan yang dikenal cukup luas adala kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan bercorak Buddha yang berdiri sekitar abad ke-7 di Sumatra. Sumber Informasi mengenai perkembangan kerajaan Sriwijaya diketahui dari berita Tiongkok dan prasasti-prasasti, dimulai dari prasasti Kedukan Bukit (683 M) hingga prasasti Karang Berahi (686 M). Prasasti pertama yang ditemukan adalah prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 605 Saka (683 M), prasasti ini ditemukan di Tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini berisi mengenai seorang Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu. Ia berangkat dari Minangtamwan dengan membawa 20.000 tentara.

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah C.

0

Roboguru

Mengapa bahasa Melayu cepat berkembang di Nusantara?

Pembahasan Soal:

Bahasa Melayu digunakan hampir pada semua pelabuhan-pelabuhan di Kepulauan Nusantara.Sejak zaman kuno bahasa itu sudah menjadi bahasa resmi negara Melayu (Jambi). Bahkan, pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi dan bahasa ilmu pengetahuan. Bahasa Melayu tumbuh menjadi bahasa perantara dan menjadi lingua franca di seluruh Kepulauan Nusantara. Perkembangannya semakin pesat pada masa Islam dan erat dengan kehidupan masyarakat hingga masa Pergerakan Nasional. Hal ini dapat dilihat pada saat terjadi kongres pemuda yang akan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi. Dengan demikian, bahasa Melayu dapat berkembang cepat karena beberapa hal antara lain: digunakan oleh kerajaan besar sebagai bahasa resmi, bersifat sederhana, serta mudah diterima masyarakat.

4

Roboguru

Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa, bermakna bahwa walaupun beraneka ragam, tetap dalam satu kesatuan, tidak ada agama yang mendua. Kalimat tersebut terdapat pada kitab …

Pembahasan Soal:

Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa merupakan salah satu potongan kalimat yang terdapat dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kalimat tersebut bermakna bahwa walaupun beraneka ragam, tetap dalam satu kesatuan, tidak ada agama yang mendua. Secara garis besar, Kitab Sutasoma bercerita mengenai Pangeran Sutasoma. Di dalamnya juga mengajarkan toleransi beragama, khususnya antara Hindu dan Buddha. Kitab tersebut ditulis menggunakan aksara Bali dalam bahasa Jawa Kuno, dengan bahan naskah terbuat dari daun lontar.

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah A.

0

Roboguru

Kerajaan Hindu pertama di Indonesia, adalah ...

Pembahasan Soal:

Hindu Buddha diperkirakan masuk ke Nusantara pada abad ke-5 masehi, hal ini didasarkan pada temuan Tujuh Buah Prasasti Yupa di Kalimantan Timur. Adapun dengan temuan prasasti tersebut, yang di dalamnya bertuliskan aksara Pallawa dengan menggunakan bahasa Sanskerta, diketahui bahwa telah ada kerajaan di Kalimantan Timur, yakni Kutai Martadipura, tempat di mana prasasti itu ditemukan. Hal ini dipahami sebab isi dari ketujuh prasasti tersebut menyebutkan vaprakecvara (lapangan luas untuk pemujaan Hindu), dengan kata lain kerajaan ini sudah terpengaruh Hindu dan karenanya kerajaan ini bercorak Hindu. Selain itu, isi dalam prasasti ini juga menyebutkan silsilah raja-raja dari Raja Mulawarman, Raja Asmawarman dan Raja Kundungga. 

Jadi, opsi jawaban yang benar adalah B. 

0

Roboguru

Berikut raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur, kecuali….

Pembahasan Soal:

Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan Hindu-Budha yang ada di Jawa Timur. Kerajaan yang beribu kota di Medang Kamulan ini berdiri pada abad ke-8 M. Kerajaan Mataram Kuno terdapat 3 Wangsa (dinasti) yang pernah berkuasa, yakni:

  1. Wangsa Sanjaya,
  2. Wangsa Syailendra, dan
  3. Wangsa Isana.

Wangsa Sanjaya sendiri adalah pemeluk agama Hindu beraliran Syiwa, Syailendra dianggap sebagai pengikut Budha, dan Isana merupakan wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sendok. Berdasarkan Prasasti Canggal (732), raja yang dianggap pertama kali berkuasa di Kerajaan Mataram adalah Raja Sanna yang kemudian digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya dianggap tidak lain adalah keponakan Raja Sanna, yakni putra dari Sannaha atau saudara perempuan Raja Sanna. Hal ini karena Raja Sanna tidak memiliki keturunan sebagai penggantinya. Saat masa pemerintahan Sanjaya yang dimulai dari 717-746 M, Kerajaan Mataram menganut agama Hindu. Raja Sanjaya pada masa itu memimpin sangat bijaksana sehingga rakyatnya hidup makmur, aman, dan tentram. Hal ini sesuai dengan prasasti Canggal yang telah menyebutkan bahwa tanah Jawa kaya akan emas dan padi.

Setelah meninggalnya Sanjaya, Mataram pada masa itu dipimpin oleh Panangkaran atau Syailendra (746-784 M) yang menganut agama Budha beraliran Mahayana. Pada saat itu, agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Mataram Kuno. Penganut agama Hindu pada masa itu tinggal di Jawa Tengah bagian utara dan pengikut agama Budha berada dibagian selatan. Kemudian, Syailendra digantikan oleh Rakai Pikatan. Di tahun 850, Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya menikah dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Hal ini menyebabkan Wangsa Sanjaya akirnya kembali memerintah Mataran Kuno dan berhasil menyingkirkan Wangsa Syailendra sekaligus mempersatukan dua dinasti tersebut dalam satu kerajaan. Wilayah Mataram berkembang hinga mencapai Jawa Tengan dan Jawa Timur. Sepeninggal Pikatan, Mataram Kuno pada masa itu dikuasai oleh Dyah Balitung (898-910 M). Setelah itu, Mataram diperintah secara berturut-turut oleh Raja Daksa, Raja Tulodung, dan Raja Wawa (924-919) yang kemudian digantikan oleh menantunya bernama Mpu Sindok. Beberapa raja yang pernah memerintah Mataram Kuno, diantaranya adalah:

  1. Sri Isanatunggawijaya
  2. Dharmawangsa
  3. Airlangga
  4. Empu Sendok

Adapun yang bukan raja yang memerintah Mataram Kuno adalah dari Purnawarman yang berasal dari Kerajaan Tarumanegara.

Jadi, jawaban yang tepat adalah B.

0

Roboguru

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved