Peristiwa pemberontakan Sadeng dan Keta yang terjadi pada masa Kerajaan Majapahit merupakan buntut rangkaian dari peristiwa pemberontakan yang terjadi sebelumnya. Sadeng dan Keta merupakan wilayah taklukan Majapahit. Kedua tempat tersebut merupakan wilayah pemasok pangan dan perdagangan Kerajaan Majapahit sebab letaknya yang strategis, yaitu berada di kawasan Pantai Selatan, Jawa Timur.
Kematian Nambi, yang merupakan Mahapatih pertama Kerajaan Majapahit dan orang kepercayaan Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit, memberikan luka mendalam bagi masyarakat Sadeng dan Kreta. Hal ini disebabkan karena jasanya dalam mengangkat derajat orang Sadeng dan Keta yang dikenal pemberani, tangguh, dan hebat dalam pertempuran terutama dengan pasukan gajahnya. Kematian Nambi pada 1316 Masehi oleh tiga Panglima Majapahit: Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-ikalan Bang membuat kemarahan dan dendam bagi dua wilayah tersebut dan mencapai puncaknya ketika masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi.
Tunggadewi sebagai penguasa Majapahit memiliki inisiatif untuk melakukan konsolidasi damai dengan kedua wilayah tersebut dengan cara mengirim Gajah Mada. Akan tetapi, aksi damai tersebut berhasil didahului oleh gerakan Ra Kembar, panglima lain Majapahit yang menganggap Gajah Mada sebagai pesaingnya. Akibat gerakan Ra Kembar, masyarakat Sadeng dan Keta melakukan pemberontakan sehingga memaksa Gajah Mada untuk turut meredamkan pertempuran itu. Setelah penaklukan perlawanan Sadeng dan Keta, pada tahun 1334 Masehi Gajah Mada diangkat sebagai Patih Amangkubhumi (Mahapatih) untuk menggantikan pendahulunya, yakni Arya Tadah (Mpu Krewes).
Jadi, pemberontakan yang membawa Gajah Mada menjadi mahapatih adalah Keta dan Sadeng.