Novel sejarah merupakan sebuah novel yang ditulis dengan mengambil sumber-sumber yang memiliki nilai-nilai sejarah atau fakta-fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat. Nilai-nilai sejarah itu biasanya diangkat melalui penokohan, tempat, dan kejadian.
Salah satu unsur intrinsik novel ialah sudut pandang. Pada dasarnya, sudut pandang dalam karya sastra adalah strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang merupakan masalah teknis yang digunakan pengarang untuk menyampaikan makna, karya, artistiknya untuk sampai dan berhubungan dengan pembaca.
Jenis-Jenis Sudut Pandang Novel:
- Sudut pandang orang pertama
Dalam sudut pandang orang pertama, penuturnya adalah "aku". Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh karakter yang menarasikan, hanya tahu apa yang diketahui sang karakter. Penutur biasanya si karakter utama dan memiliki karakter protagonis. Namun, narator ini bisa juga sebagai tangan kanan si tokoh utama.
- Sudut pandang orang kedua
Sebuah novel yang ditulis dengan sudut pandang orang kedua biasanya menggunakan "kamu" atau "kau". Sudut pandang ini jarang digunakan penulis. Penulis berusaha untuk melibatkan pembaca seakan-akan merekalah tokoh utamanya atau menceritakan "kau" yang menjadi tokoh utama.
- Sudut pandang orang ketiga
Sebuah novel yang ditulis dengan sudut pandang orang ketiga biasanya menggunakan "dia", "ia", "beliau", atau secara langsung menyebutkan nama tokohnya. Peran penulis pada sudut pandang ini dapat menjadi peran yang memantau aktivitas tokoh-tokoh dalam cerita.
Berikut analisis sudut pandang pada kutipan novel di atas:
- Kata sang kyai ketika Ontowiryo belajar baca tulis jawa, "Harus kamu ketahui, bacaan Ha Na Ca Ra Ka, memang sepenuhnya adalah aksara.
Pada kutipan di atas, penulis menggunakan penyebutan nama tokoh dengan menyebutkan nama "Ontowiryo". Sudut pandang yang menggunakan nama merupakan salah satu ciri yang menandai sudut pandang orang ketiga.
- Anak-anak seusia Ontowiryo yang lain bengong karena tidak mudeng kata-kata yang diucapkan sang kyai, tapi ajaib, Ontowiryo benar-benar menangkap dan meresapi ajaran itu.
Sama seperti kutipan nomor (1), kutipan ini juga menggunakan sudut pandang orang ketiga karena penulis secara langsung menggunakan penyebutan nama tokoh Ontowiryo.
Kedua analisis tersebut menunjukkan bahwa kutipan novel tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga. Pengarang memosisikan dirinya sebagai orang yang mengetahui jalan pemikiran tokoh.
Oleh karena itu, kutipan novel di atas menggunakan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu.
Dengan demikian, jawaban yang tepat ialah pilihan C.