Dalam kitab Pararaton (XXX:24) disebutkan bahwa pada tahun 1311 S (1389 M) Hayam Wuruk yang merupakan raja yang berhasil membawa Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya dinyatakan meninggal dengan tempat pendharmaannya tidak diketahui. Sepeninggal Hayam Wuruk, tahta kerajaan Majapahit dipegang oleh Wikramawardhana yang menikah dengan putri Hayam Wuruk, yaitu Kusumawardhani. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra (dari selirnya) bernama Wirabhumi, yang juga menuntut hak atas takhta. Sebenarnya, Wirabhumi telah diberi kekuasaan sebagai raja di Blambangan, di bagian timur Jawa Timur sekarang. Pada tahun 1400 M, Wikramawarddhana mengundurkan diri dari pemerintahan dan menjadi seorang pendeta. Wikramawardhana kemudian mengangkat anaknya yang bernama Suhita untuk menggantikannya menjadi raja Majapahit. Diangkatnya Suhita di atas tahta kerajaan Majapahit ternyata telah menimbulkan pangkal konflik di Majapahit, yaitu timbulnya pertentangan keluarga antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhumi. Pada tahun 1404 M persengketaan itu makin memuncak, dan muncul huru hara yang dikenal dengan nama Perang Paregreg. Dari Kitab Pararaton disebutkan bahwa dalam Perang Paregreg akhirnya Bhre Wirabhumi berhasil dibunuh Bhre Narapati.
Walaupun Bhre Wirabhumi sudah meninggal, peristiwa pertentangan keluarga itu belum reda juga. Bahkan peristiwa terbunuhnya Bhre Wirabhumi telah menjadi benih balas dendam dan persengketaan keluarga itu menjadi berlarut-larut. Masa pemerintahan Suhita berakhir dengan meninggalnya Suhita pada tahun 1447 M. Ia didharmakan di Singhajaya. Oleh karena Suhita tidak memiliki anak, maka tahta kerajaan diduduki oleh adiknya yang bernama Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya dengan gelar Prabu Brawijaya I. Ia tidak lama memerintah. Pada tahun 1451 M ia meninggal dan didharmakan di Krtawijaya pura. Dengan meninggalnya Kertawijaya, Bhre Pamotan menggantikannya menjadi raja dengan gelar Sri Rajasawarddhana. Ia dikenal pula dengan sebutan Sang Sinagara atau Prabu Brawijaya II. Ia memerintah hampir 3 tahun lamanya. Pada tahun 1453 M ia meninggal dan didharmakan di Sepang. Menurut Pararaton sepeninggal Rajasawarddhana selama 3 tahun (1453-1456 M) Majapahit mengalami masa kekosongan tanpa raja (interregnum).
Pada tahun 1456 M, tampillah Dyah Suryawikrama Girisawarddhana menduduki tahta dengan gelar Brawijaya III. Ia memerintah selama 10 tahun (1456-1466 M). Pada tahun 1466 M ia meninggal dan didharmakan di Puri (Soekmono, 1985). Sebagai penggantinya kemudian Bhre Pandan Salas diangkat menjadi raja dengan gelar prabu Brawijaya IV. Setelah Bhre Pandan Salas meninggal, kedudukannya sebagai raja Majapahit digantikan oleh anaknya Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Sebelum menjadi raja Majapahit, Ranawijaya berkedudukan sebagai Bhattara i Kling. Pada masa pemerintahannya ia tidak berkedudukan di Majapahit, melainkan tetap di Kling karena Majapahit diduduki Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V. Pada tahun 1478 M, Ranawijaya melancarkan serangan terhadap Bhre Kertabhumi. Dalam perang tersebut Ranawijaya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit dari tangan Bhre Kertabhumi, dan Kertabhumi gugur di Kadaton (Djafar, 2009).
Berdasarkan penjelasan di atas maka jawabannya adalah B.