Sejak era Renaisans, keyakinan akan kemampuan rasio manusia untuk menciptakan kemajuan dan kebahagiaan di dunia sudah disadari. Meskipun demikian, secara umum penggunaan rasio oleh umat manusia belum mengubah secara signifikan dalam hal kesejahteraan ekonomi. Immanuel Kant berpendapat bahwa manusia belum berani menggunakan rasionya karena masih dikuasai oleh otoritas-otoritas lain, seperti tradisi, kitab suci, Gereja, dan negara. Kant pun mengatakan bahwa ketergantungan pada otoritas-otoritas lain itu merupakan tanda jika manusia belum dewasa. Dengan demikian, terciptalah kata-kata Kant yang kemudian menjadi slogan utama Abad Pencerahan, yakni "Beranilah berpikir sendiri! (Sapere aude!)" yang berarti, dengan berani berpikir sendiri, niscaya manusia akan sejahtera dan bahagia. Itulah yang disebut Optimisme Pencerahan.
Pengaruh dari slogan "Beranilah berpikir sendiri! (Sapere aude!)" adalah berkembangnya berbagai ilmu pengetahuan di Eropa yang membangkitkan tradisi Yunani dan Romawi Kuno. Selain itu, memunculkan sebuah semangat untuk melakukan reformasi gereja yang nantinya akan berdampak pada lahirnya sekularisme, yaitu paham yang memisahkan antara kekuasaan pemerintah dengan negara. Pengaruh lainnya adalah lahirnya paham liberalisme.
Jadi, makna dari "Beranilah berpikir sendiri! (Sapere aude!)" adalah dengan berani berpikir sendiri, niscaya manusia akan sejahtera dan bahagia. Sedangkan pengaruhnya adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, semangat Reformasi Gereja, dan lahirnya paham sekularisme serta liberalisme.