Roboguru
SD

Identifikasi latar waktu, tempat, dan suasana dalam cerita pendek tersebut.

Pertanyaan

Cermatilah teks berikut.


KULIAH
Karya: Bakdi Soemanto

    Menjelang Dunia dalam Berita, hati Luru makin dag-dig-dug. Sore tadi, sebelum ayahnya berangkat memimpin rapat RW, berpesan bahwa tepat pukul 21.00 WIB, ia akan tiba di rumah. Dan Luru akan diajak berbincang-bincang tentang rencana studinya kalau sipenmaru yang baru ditempuhnya gagal diterobos. Tapi, Luru membayangkan lain. Ayahnya pasti akan melampiaskan marahnya karena hasil ujian SMA-nya tidak memuaskan. Dan, ia merasa pekerjaannya menjawab soal-soal tes masuk itu tak terlalu meyakinkan. Harapan untuk diterima di perguruan tinggi negeri sangat tipis, kecuali ada mukjizat. Tetapi, selama ia tidak lagi hidup dalam jagat perwayangan, mengharapkan turunnya Betara lndera sama saja menembak kode porkas. Lagi pula, sejak ia menerima nilai ebtanas murni yang rata-rata hanya enam kurang itu, ia menyadari bahwa ia merasa kurang untuk menyiapkan diri menempuh ebtanas itu. Ia menyesal bahwa justru menjelang ujian SMA, ia menuntut ayahnya membelikan motor dengan slinder besar itu. Dengan motor itu, hubungannya dengan Luzi teraktifkan.

    Di hadapan ayahnya, malam itu, ia harus mempertangungjawabkan semuanya. Ia perlahan-lahan memahami bahwa ia tak bisa lagi mengelak. Ia juga mulai membayangkan menjadi pelayan toko, buruh di pembangunan gedung SD itu, atau ikut membantu mas Mukijo, pemilik bengkel motor yang biasa memperbaiki motornya.

    Menurut ayah dan ibunya, mengeluarkan uang jutaan untuk memasuki perguruan tinggi swasta sungguh absurd. Ia masih punya tiga adik yang juga sangat memerlukan biaya untuk pendidikan mereka. Dan, mereka lebih serius dalam belajar.

    "Sebentar lagi, bapakmu pulang,” kata ibunya dengan nada iba,

    "Sebaiknya, kau menyiapkan kopinya dan goreng kerak nasi itu di meja depan,” sambungnya. Luru mengangguk dan segera menjalankan perintah itu.

    "lbumu tak bisa lagi membelamu. Bapakmu ternyata lebih benar bahwa motor itu telah membuatmu berantakan. Mula-mula ibumu, ibu berpendapat sebaliknya, motor akan mendorongmu belajar. Tapi ..."

    "Sudah, Bu!" tukas Luru sedikit bernada kesal. "Aku siap kerja. Jadi buruh sekalipun kalau sipenmaru nggak nimbus.”

    Dengan hati-hati, Luru mulai menyeduh kopi. Dengan hati-hati, ia mengaduk gula yang dituangkan ke dalam kopi di cangkir itu. Kopi hitam. Hitam pekat. Seperti jagatnya yang gelap. Tetapi, bukankah ada rasa manis di sana, ada rasa yang bisa membuat orang kecanduan, nikmat. Ia terus mengaduk kopi itu.

    Ketika ia mengangkat senduk teh pengaduk kopi itu, gerakan cairan kopi perlahan-lahan menjadi tenang. Dan, perlahan-lahan pula, wajahnya sendiri terpantul dari permukaan.

    "Kau mirip kakekmu,” tiba-tiba terngiang suara.

    Luru terkejut. Ia ingat suara itu suara Mbah Joyo, tetangganya yang tua, yang hidup serumah dengan almarhum kakeknya. Mbah Joyo dulu sebelum pindah selalu becerita bahwa almarhum kakeknya memiliki sejumlah kuda pacuan. Bahkan, kakeknya seorang penunggang kuda yang lihai. Konon, kakeknya mengharapkan kelak anak cucunya ada yang menjadi pecinta kuda.

    "Beliau bilang,” kata Mbah Joyo pada suatu malam, "Kalau ada salah seorang cucunya yang menjadi penggemar kuda, dialah yang berhak menerima surat wasiatnya.”

    "Apa isinya?" tanya Luru malam itu.

    "Wah, kurang tahu. Tapi, saya kira menyangkut soal sejumlah uang,” kata Mbah Joyo sangat perlahan hampir berbisik.

    "Uang?"

    "Ya.Tapi, uang itu tidak boleh dipergunakan untuk foya-foya. Uang itu hanya boleh digunakan untuk biaya sekolah sampai selesai. Kalau perlu, sekolah ke Negeri Belanda untuk mencapai titel Meester in de Rechtern ...

    "Wah, uang itu pasti banyak sekali,” tanya Luru.

    "Jelas. Apa lagi, kalau dikurs dengan uang sekarang…”

    Luru tertegun. Ia membayangkan seandainya ia pecinta kuda. Tetapi, bagaimana ia bisa menggemari binatang itu kalau di rumahnya tidak ada seekor pun. Bahkan, ia belum pernah sama sekali melihat, kecuali gambarnya, kuda pacuan itu. Mungkinkah makna kuda sama dengan motor? Menurut teman-temannya, terutama Luzi, ia seorang pengendara motor yang dahsyat dan lincah. Siapa tahu ia sebenarnya mewarisi bakat kakeknya sebagai pembalap. Sayang sekali, kakeknya sudah wafat. Seandainya kakek itu masih hidup, ia bisa membuktikan bahwa ia memang mewarisi bakat pembalap itu. Ia akan meyakinkan bahwa antara kuda balap dan motor balap pada dasarnya sama. Ia akan meyakinkan kakeknya bahwa ia tak keberatan disebut joki motor. Ia bahkan akan sangat bangga.

    Luru merasa pasti bahwa kakeknya akan mengakui ketulusan hatinya. Dan jika ia benar, surat wasiat itu akan diberikannya. Dan, ini artinya, ia akan memiliki uang yang jutaan jumlahnya. Ia tak usah kawatir jika ia gagaI menembus sipenmaru. Dengan uang yang banyak, ia akan memasuki perguruan tinggi swasta terbaik, yang uang kuliahnya termahal, dengan gedung yang sangat hebat, dengan perpustakaan yang dahsyat, ruang komputer berpendingin.

    Ia akan punya uang saku lebih dari cukup dan ia akan membeli buku sebanyak mungkin, lengganan jurnal-jurnal ilmiah yang terbit di dalam dan di luar negeri.

    "Tetapi,” pikirnya tiba-tiba, "Apakah setelah selesai kuliah ada jaminan pekerjaan?"

    Luru termenung. Ia pernah mendengar kabar bahwa cucu Mbah Joyo yang sulung,

    Mas Lantip, hingga sekarang masih menganggur. Padahal, Mas Lantip seorang sarjana. Demikian pula, saudara sepupunya, Sulonthong, yang berijazah sarjana pendidikan umum itu. Ia melihat sendiri Mas Sulonthong sering nongkrong di toko Pak Bluder itu, membantu menjual nomor-nomor.

    Tiba-tiba, Luru tersenyum. Ada gagasan canggih terlintas. Surat wasiat itu, antara lain berbunyi, "Uang ini hanya halal untuk biaya sekolah dan biaya hidup selama masa pendidikan….” Tak ada klausul yang menyebutkan batas waktu pendidikan itu. Karena itu, pikir Luru, ia merencanakan, begitu kuliah hampir tamat, ia keluar dari perguruan tinggi itu dan pindah ke perguruan tinggi lainnya, dan mulai dari tahun pertama lagi. Memang, idealnya selesai kuliah sarjana satu melanjutkan ke kuliah strata dua untuk memperoleh gelar Sarjana Utama (USU) atau Master.

    Tapi, kabarnya, kuliah di strata dua terlalu berat. Mahasiswa dituntut banyak menulis makalah, baik semacam makalah penelitian kecil atau berbentuk ringkasan buku-buku teks. lni tugas maut bagi Luru. Ia tidak mempunyai tradisi ini, tradisi dia adalah tradisi wayang orang atau kethoprak, yaitu tradisi telinga dan mulut, bukan tradisi menulis, membaca, dan merenung. Karena itu, sebaiknya, sebelum mulai menulis skripsi, Luru harus minta berhenti kuliah dan pindah ke perguruan tinggi lainnya. Begitu seterusnya. Dengan demikian, sepanjang hidupnya, ia akan tetap mahasiswa. Dan, siapa tahu, ia akan mendapat penghargaan karena memecahkan rekor belajar terlama di seluruh dunia. Ia mungkin akan bisa audiensi dengan Lurah, Camat, dan siapa tahu, dengan Walikota. Ia akan sangat terkenal tanpa bersusah-susah. Luru tersenyum. Hatinya bersorak-sorai walaupun tidak disentuh Tuhan.

    Hening sejenak. Luru termenung sejenak. Ia melihat ibunya berjalan menuju pintu depan, kemudian terdengar suara batuk-batuk ayahnya yang kemudian disusul permintaan agar kopinya segera dibawa ke meja kamar depan.

    "Duduk!" kata ayahnya penuh wibawa. Luru duduk. Ia tidak berani memandang ayahnya.

    "Bapak tadi beruntung sekali,” kata ayahnya memulai bicara. lbunya menunggu kelanjutan kata-kata ayahnya, juga Luru. Ada kegembiraan membersit. Setidaknya, jika ayahnya bergembira, kalaupun marah nantinya tak bakalan terlalu keras.

"Ketika bapa tahu hasil ujian SMA tidak terlalu bagus, bapa mulai memikirkan pekerjaan untukmu seandainya kau gagal menembus sipenmaru. Di samping itu, bapa juga mikir kemungkinan kalau ada orang yang baik hati bisa menolongmu, entah mencarikan pekerjaan atau memberi semacam biaya kuliah di perguruan tinggi swasta atau akademi," ayahnya berhenti berkata sejenak. Ia menyeruputi kopi dan mangut-mangut karena puas. Ukuran kekentalan kopi dan perbandigan gulanya pas. Ia bahkan tersenyum.

    "Nih, ada surat. Bacalah…,” sambung bapaknya , "Surat dari pak Lurah.”

    Terkesiap hati Luru. Ia membayangkan surat itu surat wasiat dari kakeknya yang siapa tahu disimpan Pak Lurah selama ini. Dengan cepat, Luru menerima surat itu dan segera membukanya. Gemetar, ia membacanya. Gemetar ibunya menunggu isi surat itu dibaca.

    "Luru,” bunyi surat itu, “Kalau kamu gagal menembus sipenmaru jangan gelisah. Dengan senang hatl, selaku Kepala Desa, akan memberi kesempatan kamu untuk bekerja, siapa tahu, tidak terlalu jauh dari bakatmu. Bagaimana kalau besok pagi, kira-kira pukul delapan, kamu menghadap kami di kelurahan. Kami sangat membutuhkan pemuda tegap perkasa seperti kamu. Kami memerlukan tambahan personel untuk tugas Hansip.

    Luru terdiam. Entah sadar atau tidak, ayahnya melihat Luru meraba-raba lengannya yang memang kekar.space  

Identifikasi latar waktu, tempat, dan suasana dalam cerita pendek tersebut.space 

A. Acfreelance

Master Teacher

Jawaban terverifikasi

Jawaban

jawaban yang benar adalah Latar waktu dalam cerpen tersebut adalah malam hari. Latar tempat cerpen tersebut adalah di rumah Luru. Latar suasana dalam cerpen tersebut adalah menegangkan.space 

Pembahasan

Latar merupakan landasan penceritaan yang menyaran pada tempat, berhubungan dengan waktu, dan suasana yang melingkupi tempat peristiwa-peristiwa terjadi.
Latar dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Latar tempat, yaitu menyaran pada lokasi suatu peristiwa terjadi dalam sebuah cerpen. Misalnya, di rumah, di kantor.
  2. Latar waktu, yaitu penggambaran waktu terjadinya peristiwa dalam sebuah cerpen. Misalnya, pagi, malam, kemarin, selasa.
  3. Latar suasana, yaitu menyaran pada kondisi batin tokoh (perasaan individu) dan bagaimana kondisi lingkungan dalam sebuah cerpen. Misalnya, suasana bahagia, ramai, hening.

Latar waktu dalam cerpen tersebut adalah malam hari. Latar tempat cerpen tersebut adalah di rumah Luru. Latar suasana dalam cerpen tersebut adalah menegangkan.

Berdasarkan kutipan:

  1. Sore tadi, sebelum ayahnya berangkat memimpin rapat RW, berpesan bahwa tepat pukul 21.00 WIB, ia akan tiba di rumah. Kalimat tersebut menunjukkan waktu malam hari.
  2. “Sebaiknya, kau menyiapkan kopinya dan goreng kerak nasi itu di meja depan”. Kalimat tersebut menunjukkan tempat peristiwa terjadi, yaitu di rumah Luru, tepatnya di meja depan.
  3. Menjelang Dunia dalam Berita, hati Luru makin dag-dig-dug. Kalimat tersebut menunjukkan suasana yang menegangkan.


Dengan demikian jawaban yang benar adalah Latar waktu dalam cerpen tersebut adalah malam hari. Latar tempat cerpen tersebut adalah di rumah Luru. Latar suasana dalam cerpen tersebut adalah menegangkan.space 

1rb+

0.0 (0 rating)

Pertanyaan serupa

Bacalah penggalan cerpen berikut! Di luar sudah gelap. Matahari sepenuhnya tenggelam. Ketika sedang asyiknya aku membaca buku Dunia di Ambang Kepunahan tulisan Anton Miline di bawah cahaya lampu keret...

139

5.0

Jawaban terverifikasi

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Roboguru

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Download di Google PlayDownload di AppstoreDownload di App Gallery

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ruangguru WhatsApp

081578200000

Email info@ruangguru.com

info@ruangguru.com

Contact 02140008000

02140008000

Ikuti Kami

©2022 Ruangguru. All Rights Reserved PT. Ruang Raya Indonesia