Derai-Derai Cemara
Chairil Anwar merupakan penyair terkemuka di Indonesia. Chairil Anwar terkenal sebagai penyair yang tidak dapat dilepaskan dari puisi Indonesia modern sehingga ia menjadi pelopor angkatan 45 dalam sejarah sastra Indonesia. Karya penyair asal Medan tersebut selau dibicarakan bahkan hingga saat ini. Tulisan ini pun akan mengulas salah satu puisinya yang berjudul ‘Derai-Derai Cemara’.
Derai-Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
(Chairil Anwar, 1949)
Derai-derai cemara yang digunakan untuk judul puisi merupakan gambaran dari runtuhnya harapan si aku lirik dalam puisi yang diibaratkan seperti daun-daun cemara yang berguguran.
Bait pertama, menggambarkan sesuatu yang lemah layaknya daun cemara yang mudah terhempas tertiup angin. Selain itu, pada bait pertama juga menggambarkan tentang malam yang identik dengan kegelapan dan kesunyian. Berdasarkan hal tersebut maka bait pertama dapat dimaknai bahwa si aku lirik dalam keadaaan yang lemah karena selalu diterpa cobaan sehingga hidupnya terasa gelap dan sunyi.
Pada bait kedua, digambarkan bahwa si aku lirik telah tumbuh menjadi orang yang dewasa yang sudah dapat menerima dan bertahan melalui cobaan hidup. Kini, si aku lirik sudah mampu menerima kenyataan bahwa impian atau cita-citanya yang cemerlang dulu sudah tidak dapat ia dapatkan karena keadaannya saat ini yang tidak memungkinkan, tergambar pada lirik ‘tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini’.
Pada bait ketiga, akhirnya si aku lirik bahwa hidup hanyalah sementara. Manusia pada akhirnya akan menyerah yaitu ketika bertemu dengan kematian.
Berdasarkan tafsiran di atas dapat disimpulkan bahwa puisi ‘Derai-Derai Cemara’ merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya selalu didera cobaan. Si aku lirik sempat memiliki cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya, tetapi pada kenyataannya takdir yang pahit membuatnya sadar bahwa keadaannya saat ini tidak memungkinkan untuknya menggapai cita-citanya. Pada akhirnya si aku lirik pun sadar bahwa kehidupan hanyalah sementara, sebab pada akhirnya semua manusia akan bertemu dengan kematian.