Roboguru

Analisislah tema, latar, dan penokohan kutipan hikayat tersebut!

Pertanyaan

    Siang itu mendung tebal masih menggelayut di wajah Gadis Cik Inam. Matanya yang biasanya bersinar cemerlang, siang itu tampak redup oleh sisa-sisa air mata yang masih menggenang. Muda Cik Leman merasa iba melihatnya. Perempuan itu duduk bersimpuh, tertunduk lesu berseberangan tikar pacar di hadapannya.

     Mereka baru saja selesai makan siang. Namun, gadis Cik Inam tidak makan sama sekali, dan Muda Cik Leman pun hanya makan sedikit. Muda Cik Leman berusaha tetap tenang, tetapi tak kuasa. Tanpa disadari ia menjadi gugup. Dadanya berdeburan, tetapi ia berusaha menyembunyikannya. Ramalan ahli nujum Kerajaan Galangan terus menghantuinya. Ia khawatir Gadis Cik Inam ingat ramalan itu.

    Sesudah mencuci tangannya, Muda Cik Leman memandang istrinya yang masih menunduk. Muda Cik Leman menghempaskan napas cukup keras. Gadis Cik Inam tetap menunduk, tak kuasa mengangkat kepalanya.

    "Bung Lung Cik Inam," sapa Muda Cik Leman dengan suara lirih karena tersekat di tenggorokannya. Gadis Cik Inam mengangkat wajahnya. Dengan ujung baju kurungnya, Gadis Cik Inam melap matanya yang basah oleh air mata. Dengan matanya yang sayu dan bolot, ia membalas tatapan mata suaminya. Lalu sepasang matanya itu bersiborok pandang. Gadis Cik Inam tak kuasa menahan kesedihannya. Air bening kembali melimbak memenuhi pelupuk matanya. Lalu butir-butir air itu menggelinding pelan-pelan ke pipinya. Tak sepatah kata pun keluar dari celah bibirnya yang indah.

    "Mimpimu memang menyiratkan firasat buruk, Bung Lung Inam," desis Muda Cik Leman lirih. Ia memang tak kuasa melepaskan suaranya. Ia pikir lebih baik berterus terang kepada istrinya. Lebih baik kecemasan itu mereka pikul bersama.

    Gadis Cik Inam tak menanggapi. Sepasang matanya sembab membalas tatapan mata suaminya. Air mata semakin deras melimbak keluar dari balik kelopak matanya, lalu berguling-guling di pipinya.

(Dikutip dari: Sudarno Mahyudin, Hikayat Muda Cik Leman, Yogyakarta, Yayasan Putra Jaya bekerja sama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2006)space 

Analisislah tema, latar, dan penokohan kutipan hikayat tersebut!space 

Pembahasan Video:

Pembahasan:

Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta. Dalam penyusunannya terdapat unsur-unsur yang memengaruhi penceritaan. Salah satunya adalah unsur intrinsik atau unsur di dalam cerita yang memengaruhi isi cerita.

Unsur intrinsik hikayat, di antaranya terdiri atas:

  1. Tema : dasar pikiran atau gagasan utama yang mendasari jalan cerita.
  2. Penokohan : watak atau karakter tokoh yang terdapat dalam sebuah cerita.
  3. Latar : gambaran tempat, waktu, dan suasana cerita.
  4. Alur : rangkaian kronologi peristiwa dalam cerita, yang dibedakan atas alur maju, mundur, atau alur campuran.
  5. Sudut pandang : pandangan pengarang terhadap cerita, dapat berupa sudut pandang orang pertama atau sudut pandang orang ketiga.
  6. Amanat : pesan moral yang hendak disampaikan oleh pengarang.
  7. Gaya Bahasa : pemakaian ragam bahasa yang berfungsi untuk memberikan kesan yang lebih menarik dengan menggunakan majas.

Kutipan hikayat di atas menceritakan tentang kesedihan yang dirasakan oleh Cik Inam karena ia takut ramalan kehidupan percintaannya dengan Cik Leman akan benar-benar terjadi, sehingga tema dalam kutipan hikayat tersebut adalah percintaan.

Latar dalam kutipan hikayat di atas sebagai berikut:

  • Latar tempat: diketahui dari kalimat "Perempuan itu duduk bersimpuh, tertunduk lesu berseberangan tikar pacar di hadapannya," maka latar tempatnya adalah di dalam rumah.
  • Latar waktu: diketahui dari kalimat "Mereka baru saja selesai makan siang", maka latar waktunya adalah siang hari.
  • Latar suasana: diketahui dari isi kutipan hikayat di atas bahwa Cik Inam menangis, maka latar suasananya adalah menyedihkan.

Tokoh dalam kutipan hikayat tersebut adalah Cik Inam dan Cik Leman. Penokohan masing-masing tokoh sebagai berikut:

  • Cik Inam: penakut, terlihat dari sikapnya yang tidak kuat menahan kesedihan akan sebuah ramalan buruk.
  • Cik Leman: bijaksana, tersirat salah satunya pada kalimat "Ia pikir lebih baik berterus terang kepada istrinya. Lebih baik kecemasan itu mereka pikul bersama." 

Dengan demikian, tema kutipan hikayat di atas adalah percintaan. Latar tempat kutipan hikayat di atas adalah di dalam rumah, latar waktunya adalah siang hari, dan latar suasananya adalah menyedihkan. Sementara itu, watak/penokohan Cik Inam adalah penakut dan penokohan Cik Leman adalah bijaksana.space 

Jawaban terverifikasi

Dijawab oleh:

N. Puspita

Terakhir diupdate 25 Oktober 2021

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

Pertanyaan serupa

Latar yang menonjol dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....

0

Roboguru

Roboguru sudah bisa jawab 91.4% pertanyaan dengan benar

Tapi Roboguru masih mau belajar. Menurut kamu pembahasan kali ini sudah membantu, belum?

Membantu

Kurang Membantu

Apakah pembahasan ini membantu?

Belum menemukan yang kamu cari?

Post pertanyaanmu ke Tanya Jawab, yuk

Mau Bertanya

RUANGGURU HQ

Jl. Dr. Saharjo No.161, Manggarai Selatan, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12860

Coba GRATIS Aplikasi Ruangguru

Produk Ruangguru

Produk Lainnya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

©2021 Ruangguru. All Rights Reserved