Fauziah A
27 Januari 2026 01:22
Iklan
Fauziah A
27 Januari 2026 01:22
Pertanyaan
ubah cerpen itu menjadi naskah drama yang bagus



2
1
Iklan
Nur F
27 September 2026 16:16
BABAK 1
LATAR TEMPAT: Tepi hutan gaib dekat sungai desa, menjelang malam.
SUASANA: Remang-remang, terdengar siulan angin senja dan gemericik air sungai yang sunyi.(Panggung menggambarkan suasana hutan yang suram. Yahya tampak mondar-mandir dengan napas terengah-engah, memegang senter. Beberapa pemuda desa berdiri lesu di latar belakang, bersandar pada kayu).
PEMUDA 1(Mengusap keringat, berbicara dengan nada acuh) Matahari keburu tenggelam di ufuk sana, Yahya. Percuma kita lanjutkan sekarang.
PEMUDA 2 (Menimpali sinis) Iya! Dan sudah lima hari kita bahkan tidak menemukan satu jejak pun di mana Mahmud berada! Warga desa dan tim SAR saja sudah menyerah sejak hari kedua.
YAHYA (Berbalik dengan kilatan amarah di matanya) Kita masih harus menyisir daerah tepian sekali lagi! Mahmud menghilang di sekitar sini karena dia bilang hendak bermain dengan kawannya!
PEMUDA 1 (Menghela napas) Kau mesti sadar, Yahya. Adikmu... ia barangkali telah tiada kini.
PEMUDA 2
(Lirih, menatap sungai)
Kalaupun kita tahu ia telah tiada, tak ada juga jaminan kita bisa menemukan jasadnya di mana-mana. Sudahlah, Yahya. Tetua desa sudah bilang, Mahmud dibawa kerabat jauh di belantara hutan gaib. Ini takdir.
YAHYA
(Membentak keras, menunjuk-nunjuk Pemuda 2)
Takdir?! Jangan bawa-bawa hal mistis untuk menutupi kemalasan kalian! Hilangnya Mahmud itu hal logis, pasti ada rangkaian upaya dan kerja keras yang belum kita lakukan! Aku hanya memerlukan tenaga kalian, tanpa ada komentar-komentar tak berguna itu!
(Para pemuda desa saling berpandangan, berbisik kesal melihat kesombongan Yahya. Mereka perlahan berjalan meninggalkan Yahya sendirian di panggung).
PEMUDA 1
(Berbisik saat berjalan pergi)
Sombong sekali. Untuk apa mencari orang yang sejak kecil selalu dihardik dan tak pernah diberi kasih sayang?
PEMUDA 2
(Menimpali)
Hanya ego kota-nya saja itu. Biarkan dia cari sendiri.
(Suara azan Magrib berkumandang lamat-lamat. Yahya terduduk lemas di tanah, senternya meredup. Tatapannya kosong memandang hutan, dipenuhi rasa bersalah dan bayang-bayang masa lalu).
BABAK 2
LATAR TEMPAT: Teras rumah panggung sederhana milik orang tua Yahya.
SUASANA: Hening, malam hari, diterangi lampu petromaks yang temaram.
(Yahya berjalan dengan tungkai lemas masuk ke teras rumah. Ia duduk di kursi kayu sambil melepaskan sepatu gunungnya dengan lesu. Mamak keluar dari dalam rumah, tatapannya kosong menatap jauh ke arah sungai).
MAMAK
(Suara bergetar, pelan)
Abah belum sempat memberitahumu, Yahya...
YAHYA
(Menjawab dengan suara lelah dan lesu)
Tentang apa itu, Mak?
MAMAK
(Mata mulai berkaca-kaca, menerawang)
Kamu, begitu juga adikmu... punya saudara kembar jauh di sana. Orang-orang desa meyakini anak yang terlahir kembar tetapi tinggal jauh di dunia seberang adalah anak yang terpilih. Sosok yang menjaga si anak tumbuh bersama sejak kecil. Terutama ketika berada di daerah terlarang. Saudara kembar inilah penjaga keselamatan si anak...
YAHYA
(Berdiri, emosinya kembali tersulut)
Lantas kenapa aku tak dibawa ke sana juga sekalian?! (Membentak) Kenapa hanya Mahmud?! Mengapa Mamak tampak begitu ikhlas melepaskannya ke dunia yang tidak masuk akal itu?!
(Pintu rumah terbuka. Abah keluar dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya tajam membuat Yahya langsung terdiam).
ABAH
(Tenang, namun tegas)
Ada hal-hal yang mestinya Abah beri tahu padamu sebelum kamu merasa lebih dibanding adikmu, dan kawan-kawanmu di sini, Yahya.
(Yahya tertunduk, amarahnya runtuh berganti rasa malu yang amat sangat).
ABAH
(Melanjutkan)
Ada utang yang mesti dilunasi kepada alam ini, jauh sebelum kamu terlanjur mengunyah pendidikan kota yang mendasari semuanya dengan hal-hal logis belaka. Kesombonganmu tidak akan membawa adikmu kembali.
(Yahya perlahan berlutut, bersujud di depan kaki Mamak tanpa berani menatap wajah Abah. Ia menangis tanpa suara, menyadari risiko kutukan durhaka yang mengancam hidupnya jika ia terus menentang adat dan orang tuanya. Mamak mengelus kepala Yahya dengan air mata yang menetes).
· 5.0 (1)
Iklan
Tanya ke AiRIS
Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

LATIHAN SOAL GRATIS!
Drill Soal
Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian


Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!