Azzahraa N

11 Mei 2024 15:22

Iklan

Iklan

Azzahraa N

11 Mei 2024 15:22

Pertanyaan

Tugas Materi Hetrogenitas! Uraikan kondisi daerah Candi, Sidoarjo meliputi: - Diferensiasi: ras, suku bangsa, Agama, profesi dan gender - Stratifikasi : tingkat usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan tingkat jabatan.

Tugas Materi Hetrogenitas!

Uraikan kondisi daerah Candi, Sidoarjo meliputi:
- Diferensiasi: ras, suku bangsa, Agama, profesi dan gender
- Stratifikasi : tingkat usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan tingkat jabatan.


11

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Nanda R

Gold

12 Mei 2024 08:52

Jawaban terverifikasi

<p><br>Daerah Candi, Sidoarjo adalah daerah yang beragam dalam hal diferensiasi dan stratifikasi sosial. Berikut adalah uraian kondisi daerah Candi, Sidoarjo berdasarkan diferensiasi dan stratifikasi:</p><p><strong>Diferensiasi:</strong></p><p><strong>Ras</strong>: Daerah Candi, Sidoarjo mungkin memiliki populasi yang beragam ras, meskipun mayoritas penduduknya mungkin merupakan orang Jawa karena wilayahnya berada di Jawa Timur. Namun, bisa saja terdapat minoritas ras lainnya di daerah tersebut.</p><p><strong>Suku Bangsa</strong>: Sidoarjo memiliki beragam suku bangsa. Selain suku Jawa yang dominan, bisa juga terdapat suku Madura, Sunda, Batak, dan suku lainnya di daerah tersebut.</p><p><strong>Agama</strong>: Daerah Candi, Sidoarjo mungkin memiliki beragam agama, meskipun mayoritas penduduknya mungkin memeluk agama Islam. Namun, bisa saja terdapat pula umat Kristen, Hindu, Buddha, dan agama lainnya di daerah tersebut.</p><p><strong>Profesi</strong>: Penduduk daerah Candi, Sidoarjo akan memiliki beragam profesi, mulai dari petani, pedagang, pekerja industri, pegawai negeri, wiraswasta, hingga profesional seperti dokter, guru, dan lain sebagainya.</p><p><strong>Gender</strong>: Penduduk daerah Candi, Sidoarjo terdiri dari beragam gender, yaitu laki-laki dan perempuan, dengan peran dan keterlibatan yang mungkin berbeda dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu ekonomi, sosial, maupun politik.</p><p><strong>Stratifikasi:</strong></p><p><strong>Tingkat Usia</strong>: Terdapat stratifikasi berdasarkan usia di daerah Candi, Sidoarjo, dengan kategori seperti anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa, dan lanjut usia. Setiap kelompok usia mungkin memiliki peran dan kebutuhan yang berbeda.</p><p><strong>Tingkat Pendidikan</strong>: Penduduk daerah Candi, Sidoarjo akan memiliki tingkat pendidikan yang beragam, mulai dari tidak sekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan ini akan memengaruhi akses mereka terhadap peluang dan sumber daya.</p><p><strong>Tingkat Ekonomi</strong>: Stratifikasi ekonomi akan terjadi di daerah Candi, Sidoarjo, dengan kategori seperti miskin, rendah, menengah, dan tinggi. Tingkat ekonomi ini akan memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur lainnya.</p><p><strong>Tingkat Jabatan</strong>: Terdapat stratifikasi berdasarkan tingkat jabatan atau status sosial di daerah Candi, Sidoarjo, mulai dari pekerja kasar, pekerja kantoran, hingga pejabat pemerintahan. Stratifikasi ini akan memengaruhi kekuasaan dan pengaruh seseorang dalam masyarakat.</p><p><br>&nbsp;</p>


Daerah Candi, Sidoarjo adalah daerah yang beragam dalam hal diferensiasi dan stratifikasi sosial. Berikut adalah uraian kondisi daerah Candi, Sidoarjo berdasarkan diferensiasi dan stratifikasi:

Diferensiasi:

Ras: Daerah Candi, Sidoarjo mungkin memiliki populasi yang beragam ras, meskipun mayoritas penduduknya mungkin merupakan orang Jawa karena wilayahnya berada di Jawa Timur. Namun, bisa saja terdapat minoritas ras lainnya di daerah tersebut.

Suku Bangsa: Sidoarjo memiliki beragam suku bangsa. Selain suku Jawa yang dominan, bisa juga terdapat suku Madura, Sunda, Batak, dan suku lainnya di daerah tersebut.

Agama: Daerah Candi, Sidoarjo mungkin memiliki beragam agama, meskipun mayoritas penduduknya mungkin memeluk agama Islam. Namun, bisa saja terdapat pula umat Kristen, Hindu, Buddha, dan agama lainnya di daerah tersebut.

Profesi: Penduduk daerah Candi, Sidoarjo akan memiliki beragam profesi, mulai dari petani, pedagang, pekerja industri, pegawai negeri, wiraswasta, hingga profesional seperti dokter, guru, dan lain sebagainya.

Gender: Penduduk daerah Candi, Sidoarjo terdiri dari beragam gender, yaitu laki-laki dan perempuan, dengan peran dan keterlibatan yang mungkin berbeda dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu ekonomi, sosial, maupun politik.

Stratifikasi:

Tingkat Usia: Terdapat stratifikasi berdasarkan usia di daerah Candi, Sidoarjo, dengan kategori seperti anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa, dan lanjut usia. Setiap kelompok usia mungkin memiliki peran dan kebutuhan yang berbeda.

Tingkat Pendidikan: Penduduk daerah Candi, Sidoarjo akan memiliki tingkat pendidikan yang beragam, mulai dari tidak sekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan ini akan memengaruhi akses mereka terhadap peluang dan sumber daya.

Tingkat Ekonomi: Stratifikasi ekonomi akan terjadi di daerah Candi, Sidoarjo, dengan kategori seperti miskin, rendah, menengah, dan tinggi. Tingkat ekonomi ini akan memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur lainnya.

Tingkat Jabatan: Terdapat stratifikasi berdasarkan tingkat jabatan atau status sosial di daerah Candi, Sidoarjo, mulai dari pekerja kasar, pekerja kantoran, hingga pejabat pemerintahan. Stratifikasi ini akan memengaruhi kekuasaan dan pengaruh seseorang dalam masyarakat.


 


Iklan

Iklan

Salsabila M

Community

14 Mei 2024 00:47

Jawaban terverifikasi

<p>Kondisi daerah Candi, Sidoarjo dalam konteks heterogenitas melalui diferensiasi dan stratifikasi berdasarkan berbagai kriteria:</p><p><strong>Diferensiasi:</strong></p><p><strong>Ras</strong>: Daerah Candi, Sidoarjo, seperti sebagian besar wilayah Indonesia, memiliki populasi yang heterogen secara rasial. Di sana bisa ditemui orang-orang dengan berbagai ras seperti Jawa, Sunda, Madura, Batak, Tionghoa, dan lainnya.</p><p><strong>Suku Bangsa</strong>: Sidoarjo juga menjadi rumah bagi beragam suku bangsa di Indonesia. Beberapa suku yang mungkin ditemui di daerah tersebut antara lain Jawa, Madura, Sunda, Batak, Minang, dan suku-suku lainnya.</p><p><strong>Agama</strong>: Masyarakat di daerah Candi, Sidoarjo, mungkin menganut berbagai agama. Mayoritas penduduknya mungkin beragama Islam, tetapi juga bisa ditemui umat Kristen, Hindu, Buddha, dan agama-agama lainnya.</p><p><strong>Profesi</strong>: Terdapat beragam profesi yang dimiliki oleh penduduk Candi, Sidoarjo, mulai dari petani, pedagang, nelayan, pekerja industri, pegawai pemerintah, hingga profesional seperti dokter, guru, dan lainnya.</p><p><strong>Gender</strong>: Perbedaan gender juga menjadi bagian dari diferensiasi di daerah tersebut. Ada perbedaan peran dan tanggung jawab antara pria dan wanita dalam masyarakat, meskipun semakin banyak wanita yang terlibat dalam berbagai bidang profesi.</p><p><strong>Stratifikasi:</strong></p><p><strong>Tingkat Usia</strong>: Masyarakat di daerah Candi, Sidoarjo, dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa muda, hingga lansia. Setiap kelompok usia memiliki kebutuhan, peran, dan tantangan yang berbeda.</p><p><strong>Tingkat Pendidikan</strong>: Ada stratifikasi pendidikan di mana penduduk dapat dibedakan berdasarkan tingkat pendidikan yang mereka capai, mulai dari yang tidak berpendidikan hingga yang memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi.</p><p><strong>Tingkat Ekonomi</strong>: Masyarakat di Candi, Sidoarjo, juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat ekonominya. Ada yang hidup di bawah garis kemiskinan, di tengah-tengah, dan di atasnya. Tingkat ekonomi ini memengaruhi akses mereka terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan fasilitas lainnya.</p><p><strong>Tingkat Jabatan</strong>: Stratifikasi berdasarkan jabatan mencakup perbedaan dalam hierarki sosial dan pekerjaan. Ada yang menjadi pemimpin atau pejabat pemerintah, ada yang menjadi pengusaha atau profesional, dan ada yang bekerja sebagai buruh atau pekerja kasar.</p>

Kondisi daerah Candi, Sidoarjo dalam konteks heterogenitas melalui diferensiasi dan stratifikasi berdasarkan berbagai kriteria:

Diferensiasi:

Ras: Daerah Candi, Sidoarjo, seperti sebagian besar wilayah Indonesia, memiliki populasi yang heterogen secara rasial. Di sana bisa ditemui orang-orang dengan berbagai ras seperti Jawa, Sunda, Madura, Batak, Tionghoa, dan lainnya.

Suku Bangsa: Sidoarjo juga menjadi rumah bagi beragam suku bangsa di Indonesia. Beberapa suku yang mungkin ditemui di daerah tersebut antara lain Jawa, Madura, Sunda, Batak, Minang, dan suku-suku lainnya.

Agama: Masyarakat di daerah Candi, Sidoarjo, mungkin menganut berbagai agama. Mayoritas penduduknya mungkin beragama Islam, tetapi juga bisa ditemui umat Kristen, Hindu, Buddha, dan agama-agama lainnya.

Profesi: Terdapat beragam profesi yang dimiliki oleh penduduk Candi, Sidoarjo, mulai dari petani, pedagang, nelayan, pekerja industri, pegawai pemerintah, hingga profesional seperti dokter, guru, dan lainnya.

Gender: Perbedaan gender juga menjadi bagian dari diferensiasi di daerah tersebut. Ada perbedaan peran dan tanggung jawab antara pria dan wanita dalam masyarakat, meskipun semakin banyak wanita yang terlibat dalam berbagai bidang profesi.

Stratifikasi:

Tingkat Usia: Masyarakat di daerah Candi, Sidoarjo, dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa muda, hingga lansia. Setiap kelompok usia memiliki kebutuhan, peran, dan tantangan yang berbeda.

Tingkat Pendidikan: Ada stratifikasi pendidikan di mana penduduk dapat dibedakan berdasarkan tingkat pendidikan yang mereka capai, mulai dari yang tidak berpendidikan hingga yang memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi.

Tingkat Ekonomi: Masyarakat di Candi, Sidoarjo, juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat ekonominya. Ada yang hidup di bawah garis kemiskinan, di tengah-tengah, dan di atasnya. Tingkat ekonomi ini memengaruhi akses mereka terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan fasilitas lainnya.

Tingkat Jabatan: Stratifikasi berdasarkan jabatan mencakup perbedaan dalam hierarki sosial dan pekerjaan. Ada yang menjadi pemimpin atau pejabat pemerintah, ada yang menjadi pengusaha atau profesional, dan ada yang bekerja sebagai buruh atau pekerja kasar.


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

HOS Cokroaminoto, Yang Guru Bangsa Haji Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah barname RM Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakaknya, RM. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo Tjokro lahir di Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur, pada tanggal 16 Agustus 1882. Awalnya kehidupan Tjokro terbilang biasa-basa saja. Semasa kecil ia dikenal sebagai anak yang nakal dan suka berkelahi. Setelah beberapa kali berpindah sekolah, akhirnya ia berhasil menyelesaikan sekolahnya di osvia (sekolah calon pegawai pervarintah atau pamong praja di Magelang pada tahun 1902. Setelah menamatkan osvia, Tjokro bekerja sebagai seorang juru tulis di Ngawi, Jawa Timur Tiga tahun kemudian ia bekerja di perusahaan dagang di Surajaya. Keindahannya ke Surajaya membawanya terjun ke dunia politik. Di kota pahlawan itu Tjokro kemudian bergabung dalam Sarekat Dagang Islam (sdi pimpinan H. Samanhudi, la menyarankan agar SDI diubah menjadi partai politik. SDI kemudian resmi diubah menjadi Sarekat Islam (50) dan Tjokro menjadi Ketua SI pada tanggal 10 Sepetember 1912. Tjokroaminoto dipercaya untuk memangiku jabatan ketua setelah sebelumnya menjabat sebagai komisaris Sl. Di bawah kepemimpinannya, Sl mengalami kemajuan pesat dan berkembang menjadi partai massa sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda. Pemerintah Hindia Belanda berupaya menghalangi St yang termasuk organisasi Islam terbesar pa anak tu. Pemerintah kolonial sangat membatasi kekuasaan pengurus pusat Si agar mudah di dipengaruhi pangreh praja setempat. Situasi itu menjadikan Sl menghadapi kesenjangan antara p dan daerah yang menyebabkan kesulitan dalam mobilisasi para anggotanya. G 57 tahap Thidangka ke by Iharaar magedi inspire smu generasi muda Pada periode tahun 1912-1916, Tjokroaminoto dan para pemimpin Si lainnya sedikit bersikap moderat terhadap pamarntah Belancia. Mereka memperjuangkan penegakan hak-hak manusia sewa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tapi sejak tahun 1916, menghadapi pembentukan Dewan Rakyat 8. sana m jadi hangat. Dalam kongres kongres 51, Tjokroaminoto mulai melancarkan ide pembentukan kation (bangsa) dan pemerintahan sendiri. Sebagai reaksi terhadap seni Novembar (November beloftemt, Gubernur Jenderal dan Limburgh Stanum, Tjokroaminoto selaku wakil SI delam Volksraad bersama sastrawan, aktivis, jurnalis Adul Kuis, Cipto Mangunkusumo mengajukan mosi yang kemudian dikenal dengan Mosi Tjokroaminoto pada tanggal 25 November 1918. Mereka menuntut Pertama, pembentukan Dewan Negara di mana penduduk semua wakil dari kerajaan. Kedua, pertanggungjawaban departemen/pemerintah Hindia Belanda terhadap perwakilan rakyat. Tiga, pertanggungjawaban terhadap perwakilan rakyat. Keempat, reformasi pemerintahan dan desentralisasi. Intinya, mereka menuntut pemerintah Belanda membentuk parlemen yang anggotama dipilih dari rakyat dan oleh rakyat Pemerintah sendiri dituntut bertanggung jawab pada parlemen Namun, oleh Ketua Parlemen Belanda, tuntutan tersebut dianggap hanya fantasi belaka. Selanjutnya, pada kongres gas ona SI di Yogyakata tanggal 2-6 Maret 1921, SI pimpinan Tjokro . memberikan reaksi atas sikap pemerintah Belanda tersebut dengan merumuskan tujuan perjuangan politik Sl sebagai, Untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan Belanda. Selama hidupnya, Tjokroaminoto merupakan sosok yang berpengaruh besar terhadap tokoh-tokoh muda pergerakan nasional saat itu. Keahliannya berpidato ia gunakan untuk mengecam kesewenang wenangan pemerintah Belanda. Semasa perjuangannya, dia misalnya mengecam perampasan tanah oleh Belanda untuk dijadikan perkebunan milik Belanda. la juga mendesak Sumatera Landsyndicaat supaya mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung (tepi Danau Danau, Sumatera Selatan). Nasib para dokter pribumi juga turut diperjuangkannya dengan menuntut kesetaraan kedudukan antara dokter Indonesia dengan dokter Belanda. Pada tahun 1920, Tjokro dijebloskan ke penjara dengan tuduhan marghasut dan mempersiapkan pemberontakan untuk menggulingkan pemerintah Belanda. Pada Apris 1922, setelah tujuh bulan meringkuk di penjara, ia kemudian dibebaskan. cokroaminoto kemudian diminta kembali untuk duduk am Volksraad, namun permintaan itu ditolaknya kerena ia sudah tak mau lagi bekerja sama dengan pemerintah Belanda Sebagai tokoh masyarakat, pemerintah koloria menjulukinya sebagai de Ongekroonde Kuning dan Jasa (Raja Jawa yang tidak bermahkota atau tidak dinobatkan). Pengaruh Tjokro yang Luas menjadikannya sebagai tokoh panutan masyarakat. Karena alasan itu pula maka R.M. Soekemi Sesrodihardjo mengirimkan anaknya Soekamo untuk pendidikan dengan in de kost di rumahnya. Selain menjadi politikus, Tjokroaminoto aktif menulis karangan di majalah dan surat kabar. Salah satu karyanya ialah buku yang berjudul Islam dan Nasionalisme. Tjokroaminoto menghembuskan napasnya yang terakhir pada tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakata pada usia 51 tahun. Atas jasa-jasanya kepada negara, Haji Gemar Siad Cokroaminoto dianugerahkan gelar pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No.590 Tahun 1961, tanggal 9 Nopember 1961. 1. carilah gagasan penjelas dari teks diatas 2. carilah keteladanan atau hikmah dari teks diatas

9

0.0

Jawaban terverifikasi

Fenomena Sosial Pengamen Jalanan Pengamen perkotaan adalah fenomena yang mulai dipandang sebagai masalah serius, terutama dengan semakin banyaknya permasalahan sosial ekonomi dan politik yang ditimbulkannya. Modernisasi dan industrialisasi sering dituding sebagai pemicu utama dari banyak pengamen di perkotaan. Perkembangan daerah perkotaan secara pesat mengundang terjadinya urbanisasi. Orang yang datang ke kota tidak mempunyai keterampilan untuk mencari kerja di kota. Akibatnya, mereka berdiam di daerah kumuh yang identik dengan kemiskinan perkotaan. Indonesia merupakan negara berkembang.Masalah kemiskinan menjadi masalah utama, baik di kota maupun di desa. Kita dapat melihat di setiap kota pasti ada perumahan yang berimpitan satu dengan yang lainnya. Selain itu, banyaknya pengamen, pengemis, dan anak jalanan makin memperjelas wajah kumuh perkotaan. Pada malam hari terlihat orang-orang tertentu tidur di emperan toko pinggir jalan. Kondisi demikian sangat memprihatinkan dan harus segera diatasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya pengamen jalanan. Faktor-faktor yang membuat seseorang mengamen sebagai berikut. 1. Faktor Ekonomi Anak mengamen demi tuntutan ekonomi. Orang tua tidak mampu membiayai kebutuhan hidup dan kebutuhan sekolah mereka. Demi memenuhi kebutuhan tersebut, seorang anak harus mengamen. Orang tua yang malas hanya mengandalkan hasil mengamen anaknya tanpa mau bekerja. 2. Kurang Kasih Sayang Anak yang kurang kasih sayang atau tidak menerima kasih sayang dari orang tua rawan menjadi pengamen jalanan. Artinya, orang tua terlalu sibuk mencari harta atau kesenangan. Orang tua tidak memiliki waktu untuk mencurahkan perhatian, bertanya tentang masalah anak, bertukarpikiran, dan berbagi rasa dengan anak. Dengan tidak menerima kasih sayang dari orang tua, anak pun mencari kesenangan lain untuk menghibur diri. Mengamen adalah salah satu sarana untuk menghibur diri bagi anak. Dengan bernyanyi sebagai pengamen, mereka dapat menghibur hati, mengungkapkan isi hati, dan menghabiskan waktu. 3. Rasa Ikut-ikutan Anak dipengaruhi lingkungan atau teman sebaya untuk mencari hiburan, menghindari pekerjaan rumah, tugas- tugas sekolah, atau merasa hebat akan dirinya. Padahal jika ditelusuri, segi ekonomi bukan penyebab anak menjadi seorang pengamen. Kadang-kadang mereka hanya ikut-ikutan atau dipengaruhi oleh teman-temannya. Meskipun pengamen anak-anak tersebut harus mengalami panas terik, hujan, caci maki, pukulan, mereka tetap berjumlah banyak. Hampir di setiap persimpangan jalan dapat ditemui pengamen berusia anak-anak. Selain di persimpangan jalan, mereka mengamen di pasar, rumah makan, dan terminal, Mereka dianggap sebagai penyebab kemacetan lalu lintas, berkurangnya nilai estetika tata ruang kota, dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan raya. Hasil penelitian menjelaskan bahwa psikologis pengamen anak-anak tidak memiliki rasa malu, tidak peduli atau tak acuh. Sikap tersebut dilakukan agar keberadaan mereka diterima masyarakat sebagai bentuk budaya baru. Agar keberadaan mereka tetap eksis, pengamen anak-anak juga berupaya untuk melawan berbagai pihak, baik pihak hukum maupun pihak nonhukum. Mereka hanya mempertahankan harga diri dan rasa solidaritas di antara mereka. Fenomena sosial kehidupan pengamen anak-anak memiliki dua arti, yaitu pengaruh yang hanya bekerja di jalanan dan menunjukkan gaya kehidupan di jalanan. Bekerja di jalanan artinya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup anaknya, sedangkan gaya hidup di jalanan hanya sekadar mewujudkan gaya hidup jalanan yang bebas. Dari segi usia, sebenarnya mereka tidak wajib mencari nafkah. Orang tua merekalah harus memiliki tanggung jawab dan memberi kasih sayang kepada mereka. Meskipun orang tua tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebaiknya anak tidak diperbolehkan mengamen. Orang tua harus mampu memberikan tanggung jawab dan kasih sayang kepada anak agar tidak menjadi pengamen di tengah kota. Di samping itu, aparat hukum harus memiliki aturan yang tegas terhadap hukum, Hukum harus ditegakkan demi masa depan anak bangsa. Apabila hal-hal ini dilakukan, sangat tipis kemungkinan munculnya pengamen sebagai penyebab di jalanan perkotaan. Tentukan struktur teks eksplanasi di atas!

27

0.0

Jawaban terverifikasi