Gracia Y

25 Februari 2026 08:32

Iklan

Gracia Y

25 Februari 2026 08:32

Pertanyaan

teks berita

teks berita

 

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

21

:

24

:

56

Klaim

6

2


Iklan

Hesti A

26 Februari 2026 08:52

<p>&nbsp;</p><h2><strong>Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Bandung, Ratusan Warga Terdampak</strong></h2><p><strong>Bandung, 26 Februari 2026</strong> โ€” Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Bandung sejak Selasa malam menyebabkan sejumlah titik mengalami banjir pada Rabu pagi. Beberapa kawasan pemukiman warga terendam air dengan ketinggian mencapai 50โ€“80 sentimeter.</p><p>Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan bahwa banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi serta saluran drainase yang tidak mampu menampung debit air. Selain itu, meluapnya sungai di beberapa titik turut memperparah kondisi.</p><p>Akibat peristiwa tersebut, ratusan warga terdampak dan sebagian di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk membantu evakuasi serta mendistribusikan bantuan logistik.</p><p>Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dalam beberapa hari ke depan. Warga juga diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air, guna meminimalkan risiko banjir.</p><p>Situasi saat ini dilaporkan mulai berangsur surut, namun petugas masih terus melakukan pemantauan di lokasi terdampak.</p>

 

Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Bandung, Ratusan Warga Terdampak

Bandung, 26 Februari 2026 โ€” Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Bandung sejak Selasa malam menyebabkan sejumlah titik mengalami banjir pada Rabu pagi. Beberapa kawasan pemukiman warga terendam air dengan ketinggian mencapai 50โ€“80 sentimeter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan bahwa banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi serta saluran drainase yang tidak mampu menampung debit air. Selain itu, meluapnya sungai di beberapa titik turut memperparah kondisi.

Akibat peristiwa tersebut, ratusan warga terdampak dan sebagian di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk membantu evakuasi serta mendistribusikan bantuan logistik.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dalam beberapa hari ke depan. Warga juga diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air, guna meminimalkan risiko banjir.

Situasi saat ini dilaporkan mulai berangsur surut, namun petugas masih terus melakukan pemantauan di lokasi terdampak.


Iklan

Yusri H

25 Februari 2026 09:58

<h2><strong>Antariksa vs. Samudra: Mengapa Negara Maju Lebih Terobsesi dengan Bintang?</strong></h2><p>Palembang โ€“ Hingga saat ini, manusia telah berhasil memetakan permukaan Bulan dan Mars dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan pemetaan dasar laut kita sendiri. Padahal, sekitar 70% permukaan Bumi tertutup air, dan baru sekitar 20-25% dasar laut yang berhasil dijelajahi secara mendalam.</p><p>Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Mengapa negara-negara maju seperti AS, Tiongkok, dan negara-negara Uni Eropa lebih memilih menggelontorkan miliaran dolar untuk eksplorasi angkasa luar daripada menyelami misteri samudra?</p><p><strong>1. Keamanan dan Pertahanan Global</strong></p><p>Bagi negara maju, eksplorasi angkasa luar bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan strategi <strong>geopolitik</strong>. Orbit Bumi adalah lokasi vital bagi satelit komunikasi, GPS, dan pengawasan militer. Menguasai teknologi roket berarti menguasai sistem pertahanan jarak jauh. Di sisi lain, meskipun laut memiliki jalur perdagangan, dominasi teknologi di ruang hampa dianggap memberikan keuntungan strategis yang lebih luas secara global.</p><p><strong>2. Potensi Sumber Daya "Masa Depan"</strong></p><p>Luar angkasa menawarkan konsep <i>Asteroid Mining</i>. Beberapa asteroid diketahui mengandung logam mulia seperti platinum dan kobalt dalam jumlah yang jauh melampaui cadangan di Bumi. Sementara laut memiliki nodul polimetalik di dasarnya, proses penambangan bawah laut menghadapi tantangan regulasi lingkungan internasional yang sangat ketat dan risiko kerusakan ekosistem yang masif.</p><p><strong>3. Faktor Teknis: Tekanan vs. Hampa Udara</strong></p><p>Secara teknis, mengirim manusia ke luar angkasa seringkali dianggap "lebih mudah" secara mekanis dibandingkan ke dasar laut terdalam.</p><p><strong>Di Luar Angkasa:</strong> Tantangan utamanya adalah ketiadaan tekanan (vakum). Perbedaan tekanannya hanya sebesar 1 atm.</p><p><strong>Di Dasar Laut:</strong> Di Palung Mariana, tekanannya mencapai lebih dari 1.000 atm. Ini setara dengan memikul satu unit pesawat jet tempur di atas ibu jari Anda. Membangun material yang mampu menahan tekanan ekstrim bawah laut sering kali lebih mahal dan rumit secara teknis.</p><p><strong>4. Narasi "Rencana Cadangan" Umat Manusia</strong></p><p>Eksplorasi angkasa membawa narasi eksistensial. Tokoh-tokoh seperti Elon Musk mempromosikan ide Mars sebagai "Planet B" jika Bumi mengalami bencana besar. Narasi menjadi "spesies multi-planet" memiliki daya tarik politik dan publik yang jauh lebih kuat untuk menggalang dana dibandingkan narasi mendiami dasar laut.</p><p><strong>Kesimpulan</strong></p><p>Meskipun laut menyimpan kunci untuk obat-obatan baru dan pemahaman iklim, kilauan bintang-bintang nampaknya lebih menjanjikan secara ekonomi dan politik bagi negara-negara adidaya. Namun, dengan semakin canggihnya teknologi robotika bawah laut (AUV), para ahli berharap keseimbangan riset antara "langit dan bumi" bisa segera tercapai.</p>

Antariksa vs. Samudra: Mengapa Negara Maju Lebih Terobsesi dengan Bintang?

Palembang โ€“ Hingga saat ini, manusia telah berhasil memetakan permukaan Bulan dan Mars dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan pemetaan dasar laut kita sendiri. Padahal, sekitar 70% permukaan Bumi tertutup air, dan baru sekitar 20-25% dasar laut yang berhasil dijelajahi secara mendalam.

Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Mengapa negara-negara maju seperti AS, Tiongkok, dan negara-negara Uni Eropa lebih memilih menggelontorkan miliaran dolar untuk eksplorasi angkasa luar daripada menyelami misteri samudra?

1. Keamanan dan Pertahanan Global

Bagi negara maju, eksplorasi angkasa luar bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan strategi geopolitik. Orbit Bumi adalah lokasi vital bagi satelit komunikasi, GPS, dan pengawasan militer. Menguasai teknologi roket berarti menguasai sistem pertahanan jarak jauh. Di sisi lain, meskipun laut memiliki jalur perdagangan, dominasi teknologi di ruang hampa dianggap memberikan keuntungan strategis yang lebih luas secara global.

2. Potensi Sumber Daya "Masa Depan"

Luar angkasa menawarkan konsep Asteroid Mining. Beberapa asteroid diketahui mengandung logam mulia seperti platinum dan kobalt dalam jumlah yang jauh melampaui cadangan di Bumi. Sementara laut memiliki nodul polimetalik di dasarnya, proses penambangan bawah laut menghadapi tantangan regulasi lingkungan internasional yang sangat ketat dan risiko kerusakan ekosistem yang masif.

3. Faktor Teknis: Tekanan vs. Hampa Udara

Secara teknis, mengirim manusia ke luar angkasa seringkali dianggap "lebih mudah" secara mekanis dibandingkan ke dasar laut terdalam.

Di Luar Angkasa: Tantangan utamanya adalah ketiadaan tekanan (vakum). Perbedaan tekanannya hanya sebesar 1 atm.

Di Dasar Laut: Di Palung Mariana, tekanannya mencapai lebih dari 1.000 atm. Ini setara dengan memikul satu unit pesawat jet tempur di atas ibu jari Anda. Membangun material yang mampu menahan tekanan ekstrim bawah laut sering kali lebih mahal dan rumit secara teknis.

4. Narasi "Rencana Cadangan" Umat Manusia

Eksplorasi angkasa membawa narasi eksistensial. Tokoh-tokoh seperti Elon Musk mempromosikan ide Mars sebagai "Planet B" jika Bumi mengalami bencana besar. Narasi menjadi "spesies multi-planet" memiliki daya tarik politik dan publik yang jauh lebih kuat untuk menggalang dana dibandingkan narasi mendiami dasar laut.

Kesimpulan

Meskipun laut menyimpan kunci untuk obat-obatan baru dan pemahaman iklim, kilauan bintang-bintang nampaknya lebih menjanjikan secara ekonomi dan politik bagi negara-negara adidaya. Namun, dengan semakin canggihnya teknologi robotika bawah laut (AUV), para ahli berharap keseimbangan riset antara "langit dan bumi" bisa segera tercapai.


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Berikan saya penjelasan nya

20

0.0

Jawaban terverifikasi