Rafael M

06 Maret 2024 01:13

Iklan

Rafael M

06 Maret 2024 01:13

Pertanyaan

Seseorang anak laki-laki mengalami gangguan fungsi otot (distrofi otot) perlahan-lahan sehingga akhirnya meninggal pada usia remaja. Berdasarkan pengamatan, kedua orang tuanya tidak menunjukkan adanya gangguan tersebut. Berdasarkan informasi dari dokter, gangguan otot ini hanya dialami oleh pasien laki-laki. Berdasarkan data tersebut: b. apakah gen kelainan tersebut terdapat pada gonosom atau autosom? Jelaskan.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

10

:

04

:

49

Klaim

3

3

Jawaban terverifikasi

Iklan

BimBim B

06 Maret 2024 03:14

Jawaban terverifikasi

<h2>Jawabannya adalah gonosom.</h2><p>&nbsp;</p><p><strong><u>Penjelasan</u></strong></p><p>Dari informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa gangguan fungsi otot yang mengakibatkan distrofi otot ini merupakan kondisi yang terkait dengan gen yang terletak pada kromosom s-e-k-s (gonosom), bukan pada kromosom autosom.</p><p>Penyebab utama distrofi otot pada anak laki-laki adalah mutasi pada gen yang terletak pada kromosom X. Anak laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, yang mereka dapatkan dari ibu mereka, sedangkan anak perempuan memiliki dua kromosom X. Karena itu, jika gen yang terkait dengan distrofi otot itu terdapat pada kromosom X, maka kondisi tersebut akan terjadi pada anak laki-laki yang mewarisi kromosom X yang termutasi dari ibunya.</p><p>Karena kedua orang tua anak tersebut tidak menunjukkan gejala distrofi otot, namun anak laki-laki mereka menderita gangguan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa ibu membawa satu salinan gen yang terkait dengan distrofi otot, tetapi tidak menunjukkan gejala karena ia memiliki kromosom X yang normal. Kemudian, anak laki-laki mungkin mewarisi kromosom X yang termutasi dari ibunya, yang menyebabkan munculnya distrofi otot pada dirinya.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Dengan demikian, gen kelainan yang menyebabkan distrofi otot tersebut terletak pada gonosom, dalam hal ini kromosom X.</strong></p>

Jawabannya adalah gonosom.

 

Penjelasan

Dari informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa gangguan fungsi otot yang mengakibatkan distrofi otot ini merupakan kondisi yang terkait dengan gen yang terletak pada kromosom s-e-k-s (gonosom), bukan pada kromosom autosom.

Penyebab utama distrofi otot pada anak laki-laki adalah mutasi pada gen yang terletak pada kromosom X. Anak laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, yang mereka dapatkan dari ibu mereka, sedangkan anak perempuan memiliki dua kromosom X. Karena itu, jika gen yang terkait dengan distrofi otot itu terdapat pada kromosom X, maka kondisi tersebut akan terjadi pada anak laki-laki yang mewarisi kromosom X yang termutasi dari ibunya.

Karena kedua orang tua anak tersebut tidak menunjukkan gejala distrofi otot, namun anak laki-laki mereka menderita gangguan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa ibu membawa satu salinan gen yang terkait dengan distrofi otot, tetapi tidak menunjukkan gejala karena ia memiliki kromosom X yang normal. Kemudian, anak laki-laki mungkin mewarisi kromosom X yang termutasi dari ibunya, yang menyebabkan munculnya distrofi otot pada dirinya.

 

Dengan demikian, gen kelainan yang menyebabkan distrofi otot tersebut terletak pada gonosom, dalam hal ini kromosom X.


Iklan

S. Agita

06 Maret 2024 15:48

Jawaban terverifikasi

Jawaban yang benar adalah gonosom. Pembahasan: Berdasarkan informasi yang diberikan, gangguan otot ini hanya dialami oleh pasien laki-laki, sedangkan kedua orang tuanya tidak menunjukkan gejala gangguan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa gangguan otot tersebut terkait dengan kromosom seks (gonosom) karena gangguan hanya dialami oleh individu laki-laki. Distrofi otot terutama disebabkan oleh mutasi pada gen tertentu yang terletak pada kromosom X. Karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X (dari ibu) dan satu kromosom Y (dari ayah), jika gen yang bertanggung jawab terletak pada kromosom X yang terinfeksi, maka laki-laki akan menunjukkan gejala distrofi otot jika gen tersebut bermutasi. Sementara itu, perempuan memiliki dua kromosom X yang memungkinkan mereka memiliki satu kromosom X yang normal yang dapat mengkompensasi gen bermutasi. Jadi, jawaban yang benar adalah gonosom.


Nanda R

Community

07 Maret 2024 21:32

Jawaban terverifikasi

<p>Gangguan otot distrofi otot, seperti yang dijelaskan, terjadi hanya pada pasien laki-laki, sementara kedua orang tuanya tidak menunjukkan gangguan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa distrofi otot terkait dengan kelainan pada kromosom se-ks atau gonosom.</p><p>Distrofi otot biasanya disebabkan oleh mutasi pada gen tertentu yang terletak pada kromosom X. Karena laki-laki memiliki satu salinan kromosom X dan satu salinan kromosom Y (XY), jika gen tersebut bermutasi pada kromosom X, laki-laki akan mengalami distrofi otot jika hanya memiliki satu salinan gen tersebut yang bermutasi.</p><p>Sebagai tambahan, karena perempuan memiliki dua kromosom X (XX), jika satu salinan gen bermutasi, kromosom X lainnya yang normal dapat berfungsi sebagai cadangan, menjadikan perempuan pembawa (carrier) tanpa menunjukkan gejala. Namun, laki-laki tidak memiliki cadangan seperti itu, sehingga gejala distrofi otot muncul jika gen bermutasi pada kromosom X yang mereka miliki.</p>

Gangguan otot distrofi otot, seperti yang dijelaskan, terjadi hanya pada pasien laki-laki, sementara kedua orang tuanya tidak menunjukkan gangguan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa distrofi otot terkait dengan kelainan pada kromosom se-ks atau gonosom.

Distrofi otot biasanya disebabkan oleh mutasi pada gen tertentu yang terletak pada kromosom X. Karena laki-laki memiliki satu salinan kromosom X dan satu salinan kromosom Y (XY), jika gen tersebut bermutasi pada kromosom X, laki-laki akan mengalami distrofi otot jika hanya memiliki satu salinan gen tersebut yang bermutasi.

Sebagai tambahan, karena perempuan memiliki dua kromosom X (XX), jika satu salinan gen bermutasi, kromosom X lainnya yang normal dapat berfungsi sebagai cadangan, menjadikan perempuan pembawa (carrier) tanpa menunjukkan gejala. Namun, laki-laki tidak memiliki cadangan seperti itu, sehingga gejala distrofi otot muncul jika gen bermutasi pada kromosom X yang mereka miliki.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

temukan konjungsi dalam teks hikayat ibnu hasan kemudian jeniskan! Ibnu Hasan Syahdan, zaman dahulu kala, ada seorang kaya hartawan, bernama Syekh Hasan. Banyak harta, banyak uang, terkenal ke setiap negeri, merupakan orang terkaya. Bertempat tinggal di negeri Bagdad yang terkenal ke mana-mana sebagai kota yang paling ramai saat itu. Syekh Hasan sangat bijaksana, mengasihi fakir miskin, menyayangi yang kekurangan, menasihati yang berpikiran sempit, mengajarkan ilmu yang baik, walaupun harus mengeluarkan biaya berupa pakaian atau uang. Oleh karena itu, banyak pengikutnya. Syekh Hasan memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan, pendiam, dan baik budi, berusia sekitar tujuh tahun. Ibnu Hasan namanya. Ibnu Hasan sedang lucu-lucunya. Semua orang senang melihatnya, apalagi orang tuanya. Namun demikian, anak itu tidak sombong, perilakunya kalem, walaupun hidupnya dimanjakan, tidak kekurangan. Ayahnya berpikir, "Alangkah salannya aku, menyayangi di luar batas, tanpa pertimbangan. Bagaimana kalau akhirnya dimurkai Allah Yang Agung? Aku pasti durhaka, tak dapat mendidik anak, mengkaji ilmu yang bermanfaat." Dipanggilnya putranya. Anak itu segera mendatanginya, diusap-usapnya putranya sambil dinasihati, bahwa ia harus mengaji, katanya, "Sekarang saatnya, Anakku. Sebenarnya aku khawatir, tapi pergilah ke Mesir. Carilah jalan menuju keutamaan." Ibnu Hasan menjawab, "Ayah jangan ragu-ragu, semua kehendak orang tua akan hamba turuti, tidak akan kutolak, siang malam hanya perintah Ayah Ibu yang hamba nantikan." Kemudian, Ibnu Hasan berangkat ke pesantren, berpisah dengan kedua orang tuanya, hatinya sangat sedih. Ibunya tidak tahan menangis terisak-isak harus berpisah dengan putranya yang masih sangat kecil, belum cukup usia. "Kelak, apabila Ananda sudah sampai ke tempat merantau, pandai-pandailah menjaga diri karena jauh dari orang tua. Harus tahu ilmunya hidup, jangan keras kepala, angkuh, dan menyombongkan diri, merasa lebih dari yang lain, merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. Kalau begitu perbuatanmu, hidupmu tidak akan senang karena dimusuhi semua orang, tidak akan ada yang mau menolong. Kalau celaka tidak akan diperhatikan. Berada di rantau orang kalau judes akan mendapatkan kesusahan. Hati-hatilah menjaga diri. Jangan menganggap enteng segala hal." Ibnu Hasan menjawab dengan takzim, "Apa yang Ibu katakan akan selalu kuingat dan kucatat dalam hati. Doakanlah aku agar selamat. Semoga jangan sampai menempuh jalan yang salah. Pesan Ibu akan kuperhatikan, siang dan malam." Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil, Mairin dan Mairun. Mereka berangkat berjalan kaki. Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian, sementara Mairin mengikuti dari belakang, sesekali menggantikan tugas Mairun. Perasaan sedih, prihatin, kehujanan, kepanasan selama perjalanan yang memakan waktu berhari-hari namun akhirnya sampai juga di pusat kota negara Mesir, dengan selamat berkat doa ayah dan ibunda. Selanjutnya, segeralah menemui seorang alim ulama, terus berguru padanya. Pada suatu hari, saat bakda zuhur, Ibnu Hasan sedang di jalan, bertemu seseorang bernama Saleh yang baru pulang dari sekolah. Ibnu Hasan menyapa, "Anda pulang dari mana?" Saleh menjawab dengan sopan, "Saya pulang sekolah." Ibnu Hasan bertanya lagi, "Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!" Yang ditanya menjawab, "Apakah Anda belum tahu?Sekolah itu tempat ilmu, tepatnya tempat belajar, berhitung, menulis, mengeja, belajar tata krama, sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda, dan terhadap sesama, harus sesuai dengan aturan." Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut, betapa girang hatinya. Dia segera pulang menghadap kyai dan meminta izinnya untuk belajar di sekolah guna mencari ilmu. "Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan," Kyai berkata demikian. Tujuan untuk menguji muridnya, apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian. Ibnu Hasan menunduk, menjawab agak malu, "Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba bersusah payah tanpa mengenal lelah mencari ilmu. Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya, tidak kekurangan uang, ternaknya pun banyak. Hamba tidak usah bekerja karena tidak akan kekurangan. Namun, pendapat hamba tidak demikian, akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada, sudah meninggal dunia, semua hartanya jatuh ke tangan hamba. Tapi, ternyata tidak terurus karena hamba tidak teliti akhimya harta itu habis, bukan bertambah. Di situlah terlihat temyata kalau hamba ini bodoh. Bukan bertambah masyhur, asalnya anak orang kaya, harus menjadi buruh. Begitulah pendapat hamba karena modal sudah ada, hamba hanya tinggal melanjutkan. Pangkat anakpun begitu pula, walaupun tidak melebihi orang tua, paling tidak harus sama dengan orang tua, dan tidak akan memalukan, apalagi kalau lebih miskin, ibaratnya anak seorang palih" Maka, yakinlah kyai itu akan baik muridnya.

4

4.0

Jawaban terverifikasi

Berita 1 Pasien Lupa Orang Tua karena Kecanduan Ponsel Kamis, 17 Okt 2019 Selain di Bandung Barat, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainudin Surakarta juga menerima pasien kecanduan ponsel. Tahun ini, jumlah pasien tersebut semakin meningkat. Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, Aliyah Himawati, mengatakan fenomena tersebut sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Namun belakangan, fenomena tersebut memang makin marak. “Tiga tahun lalu ada tapi sedikit. Sejak tahun ajaran baru ini ada sekitar 35 anak remaja. Sehari ada 1-2 anak yang berobat,” kata Aliyah,Kamis (17/10/2019). Kondisi gangguan kejiwaan mereka berbeda-beda. Pasien dengan kondisi yang sangat parah bahkan tidak mengakui dan menganiaya orang tuanya. “Orang tuanya tidak dianggap. Dia bilang kalau dia itu turun dari langit. Isi pikirannya itu yang ada di gim itu, bahasanya bahasa di gim itu,” ujarnya. Kebanyakan pasien tersebut kecanduan gim ekstrem. Mereka tidak mau makan hingga tak mau sekolah. Kalaupun sekolah, mereka ingin segera pulang untuk bermain gim. “Ada yang niat ke sekolah itu untuk main gim. Karena di sekolah ada wifi gratis. Sedangkan di rumah sudah diputus orang tuanya,” kata Aliyah. Penanganan pasien kecanduan ponsel ini dilakukan sesuai dengan gejalanya. Pertama, pasien harus mengakui jika dirinya kecanduan ponsel. Setelah itu, pasien diberi obat. “Kondisi kecanduan ini membuat cairan otak atau kerja saraf tidak seimbang. Langkah farmakoterapi atau pemberian obat ini yang paling cepat bisa menyeimbangkan,” ujar dia. Kemudian pasien akan menjalani terapi perilaku. Secara berangsur, dosis obat juga diturunkan. “Untuk pasien rawat jalan, kita evaluasi dua minggu sekali. Mereka kita beri kontrak kegiatan. Sehari ngapain saja. Sehari pegang ponsel itu hanya dua jam,” katanya. Sebagai langkah pencegahan, dia mengimbau kepada orang tua agar menjauhkan ponsel dari anak sejak dini. Saat ini banyak orang tua yang mengenalkan ponsel terlalu dini. (Sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4749582/ pasien-kecanduan-ponsel-di-rsj-solo-juga-bertambah-ada-yang-sampai-lupa-ortu dengan penyesuaian) Berita 2 Pasien Anak Kecanduan Ponsel Bertambah di RS Jiwa Solo Kamis : 17 Oktober 2019 Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainudin, Solo, Jawa Tengah, mencatat adanya kenaikan signifikan jumlah pasien kecanduan ponsel. Bahkan dalam tiga bulan terakhir sudah ada 35 pasien kecanduan ponsel yang berobat ke RSJD Solo. Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJD dr. Arif Zainudin, Aliyah Himawati, mengatakan, dulu pasien kecanduan ponsel baru ada mungkin satu orang dalam sepekan. Sekarang, dalam satu hari bisa satu sampai dua pasien. Semuanya merupakan anak-anak usia sekolah. “Ini kan tahun ajaran baru, baru mid semester itu sudah kira-kira ada 35 anak bahkan sampai rawat inap. Yang rawat inap kemarin ada dua anak, sekarang sudah pulang,” kata Aliyah kepada wartawan, Kamis (17/10). Pasien yang rawat inap tersebut terdiri dari satu siswa SMP dan satu siswa SMA. Sedangkan pasien rawat jalan paling kecil usianya 10 tahun. Puluhan pasien tersebut berasal dari Solo dan sekitarnya. Dia menyebutkan, ciri-ciri anak kecanduan ponsel biasanya orang tuanya sudah tahu si anak pegang ponsel terus. Kemudian, anak sudah tidak bisa melakukan fungsi tugasnya sebagai anak sekolah seperti sudah membolos sekolah, tidak mau sekolah, tidak mau belajar. Selain itu, anak mengalami gangguan emosi dan kesulitan tidur. Menurutnya, dalam menangani pasien kecanduan ponsel disesuaikan dengan gejala yang muncul. Gejala bisa berbeda pada setiap anak. Misalnya, gangguan emosi dan sulit tidur diatasi terlebih dahulu. “Ada beberapa langkah yang kami lakukan untuk mengatasi gangguan emosi itu salah satunya dengan obat farmakoterapi, setelah itu langsung masuk ke terapi perilaku,” ungkapnya. Pada awalnya, terkadang anak merasa tidak kecanduan ponsel dan merasa baik-baik saja. Langkah pertama sebelum masuk ke terapi perilaku, lanjutnya, anak harus mengakui kalau kecanduan ponsel. Aliyah menyatakan, proses terapi tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Untuk farmakoterapi paling tidak dua pekan agar pasien lebih stabil. Sepekan pertama sudah bisa mulai terapi perilaku dan berlanjut paling tidak enam bulan. “Ada daftar kontrak apa yang harus dilakukan pasien. Misalnya untuk anak yang masih sekolah jam belajar sepulang sekolah harus ngapain, kalau dulu pegang ponsel setiap waltu sekarang harus dibatasi. Pegang ponsel hanya boleh jam tertentu maksimal satu hari hanya dua, jam apapun alasannya,” tegasnya. Aliyah menambahkan, orang tua perlu melakukan upaya dan memberi contoh untuk mencegah agar anak tidak kecanduan ponsel. Meskipun, praktiknya agak susah karena tugas-tugas sekolah terkadang memakai gawai. Cara mencegahnya dengan menggunakan gawai hanya untuk tugas-tugas sekolah. Kemudian, pada jam-jam tertentu harusnya di keluarga tidak pegang ponsel semua. “Kalau orang tua pegang ponsel, anaknya tidak boleh ya sama saja,” ujarnya. (Sumber: https://nasional.republika.co.id/berita/pzilao430/pasien-anak-kecanduan-ponsel-di-rs-jiwa-solo-bertambah dengan penyesuaian) 1. Tuliskan informasi yang sama dari berita 1, berita 2 dan komik berikut.

6

5.0

Jawaban terverifikasi