Hilya H

29 Maret 2024 03:19

Iklan

Hilya H

29 Maret 2024 03:19

Pertanyaan

Penanaman pohon pelindung di jalan bukan hanya untuk memperindah tata kota, namun berupaya untuk menanggulangi pencemaran yang terjadi. Hal ini disebabkan karena pohon dapat turut membantu menurunkan suhu udara. Pernyataan yang tepat terkait hal tersebut adalah .… A. Pohon menghasilkan oksigen B. Pohon memiliki kanopi yang teduh C. Pemanfaatan CO2 oleh pohon D. Pohon melakukan transpirasi

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

01

:

34

:

47

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Dela A

Community

29 Maret 2024 03:20

Jawaban terverifikasi

<p><strong>Jawaban: C. Pemanfaatan CO2 oleh pohon</strong></p><p><br>Pohon atau tumbuhan dapat melakukan fotosintesis. Fotosintesis membutuhkan<br>bahan berupa gas karbondioksida (CO2) dari lingkungan.</p>

Jawaban: C. Pemanfaatan CO2 oleh pohon


Pohon atau tumbuhan dapat melakukan fotosintesis. Fotosintesis membutuhkan
bahan berupa gas karbondioksida (CO2) dari lingkungan.


Iklan

Nanda R

Community

30 Maret 2024 04:31

Jawaban terverifikasi

<p>jawabannya adalah C.</p><p>&nbsp;</p><p>Pohon melakukan proses fotosintesis, di mana mereka menggunakan CO2 (karbon dioksida) dan menghasilkan oksigen. Proses ini membantu menyerap CO2 dari udara, yang merupakan gas rumah kaca, dan membantu mengurangi jumlahnya dalam atmosfer. Hal ini membantu mengurangi efek pemanasan global dan pencemaran udara.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

jawabannya adalah C.

 

Pohon melakukan proses fotosintesis, di mana mereka menggunakan CO2 (karbon dioksida) dan menghasilkan oksigen. Proses ini membantu menyerap CO2 dari udara, yang merupakan gas rumah kaca, dan membantu mengurangi jumlahnya dalam atmosfer. Hal ini membantu mengurangi efek pemanasan global dan pencemaran udara.

 

 

 


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Sepekan terakhir, banjir dan longsor melanda banyak daerah yang diawali hujan berjam-jam. Di tengah kekalutan pascabencana, anomali cuaca sering dijadikan biang utama bencana. Hingga Minggu (5/5/2019), sejumlah daerah masih dilanda banjir, seperti Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Masyarakat di sejumlah daerah juga masih merasakan dampak yang mulai surut, seperti di Bengkulu Tengah (Bengkulu), Pulau Sembilan (Kalimantan Selatan), serta sejumlah kabupaten di Sulawesi, seperti Sigi, Manado, Jeneponto, Enrekang, Luwu, Tana Toraja, dan Selayar. Bahkan, di Sentani, Jayapura, warga masih mengungsi akibat luapan Danau Sentani. Di sejumlah daerah, posko-posko pengungsian didirikan dan disiapkan. "Untuk penanganan keseluruhan, termasuk pemulihan pascabanjir, masih kami susun,” kata Wakil Bupati Tana Toraja Viktor Datuan Batara. Banjir di Toraja akibat meluapnya Sungai Saddang. Sejumlah daerah hingga kini masih kewalahan menangani bencana dan pascabencana. Para pengambil kebijakan daerah masih bergantung kepada pemerintah pusat, khususnya menyangkut pendanaan. Di tengah berbagai penanganan kedaruratan yang kedodoran serta rehabilitasi dan rekonstruksi, fenomena cuaca di wilayah Indonesia masih harus diwaspadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, hujan lebat masih akan mengguyur wilayah Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua hingga Selasa besok. Hal itu disebabkan sirkulasi angin di sekitar Laut Banda. Berdasarkan data Badan ” Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), periode JanuariApril 2019, tercatat 1.586 kejadian bencana di Indonesia yang menewaskan 325 orang, menyebabkan 113 orang hilang dan 1.439 warga luka-luka, serta mengakibatkan 996.143 orang mengungsi. Itu belum termasuk kerugian berupa infrastruktur publik dan rumah warga yang rusak. Lebih dari 98 persen kejadian terkait banjir, banjir bandang, longsor, dan puting beliung. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, frekuensi bencana naik 7,2 persen. “Jumlah korban jiwa meningkat 192 persen dan korban luka meningkat 212 persen," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (4/5), di Jakarta. Secara alamiah, frekuensi dan dampak bencana hidrometeorologi memang meningkat. Itu dikaitkan dengan pemanasan global yang mengubah pdla hujan ekstrem dan menguatkan intensitas siklon tropis yang kian berisiko. Namun, bencana juga terkait pengelolaan lingkungan dan tata ruang. Menurut peneliti iklim yang juga Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, pola hujan di Indonesia saat ini cenderung berubah. Hujan lebat hingga ekstrem meningkat pesat pada 1961-2010 sekalipun rata-rata tahunannya cenderung sama, bahkan menurun. Sekalipun banyak bukti adanya “perubahan aspek meteorologis, kata Siswanto, bencana juga terkait kerentanan wilayah. Itu tergantung perubahan tata guna lahan, pertumbuhan populasi, urbanisasi, sampah dan sedimentasi, serta budaya masyarakat. Berdasarkan teks di atas, banyak daerah dilanda banjir, kecuali .... A. Gresik B. Pulang Pisang C. Pulau Sembilan D. Manado E. Malang

1

5.0

Jawaban terverifikasi

Zona Pelindung di Jalan Tol Pada rentang waktu 2015-2019, Indonesia memiliki hal baru di bidang infrastruktur, yakni pembangunan Jalan Tol Trans-Jawa. Jalan bebas hambatan ini menghubungkan Pelabuhan Merak di Jakarta dengan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi. Pembangunan jalan tol ini menjadi gebrakan yang nyata. Berbagai manfaat pun mulai tampak dan dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan jalan tal ini. Melalui jalan tal ini, para pengguna mampu mempersingkat waktu perjalanan dan memudahkan akses jalan penghubung antarkota. Selain itu, manfaat terbesar dari jalan tal ini adalah menciptakan dan menumbuhkan daerah industri serta melancarkan distribusi sembako ke berbagai daerah. Meskipun memberikan banyak manfaat, bukan berarti keberadaan jalan tol ini mampu menyenangkan semua pihak. Jalan tol ini nyatanya menimbulkan efek yang kurang baik bagi sebagian warga yang tinggal di beberapa ratus meter di sekitar ruas jalan tol. Memang benar banyak manfaat yang mampu diberikan dari jalan tal ini. Namun, apakah pihak yang merancang dan membangun jalan tal memikirkan keadaan fisik dan mental warga di tepi jalan tol? Kebetulan saya tinggal di daerah yang berjarak 500 meter dari Jalan Tol Ngawi-Kertosono. Saya memahami dengan baik penderitaan yang dialami warga desa di tepi jalan tal tersebut. Sebelum pembangunan jalan tol, warga di desa tersebut hidup dengan tenteram, nyaman, dan tenang. Saat malam hari, suasana desa hening dengan dihiasi suara jangkrik dan kodak. Embusan udara di desa tersebut juga bersih dan segar. Namun, sekarang, suasana desa menjadi berisik karena suara truk, bus, dan kendaraan-kendaraan lain yang lalu-lalang tanpa henti. Mereka selalu dihantui dengan asap hitam, suara bising, dan klakson setiap hari. Oleh karena itu, saya berharap, pemerintah dan pengembang jalan tol berkenan memikirkan dampak buruk jalan tal bagi kesehatan fisik dan mental warga yang tinggal di sekitarnya. Salah satu solusi yang bisa saya berikan adalah pemerintah dalam membangun jalan tol seharusnya tidak hanya membeli tanah untuk jalan aspal dan bidang pengapit terbuka di kanan-kirinya. Akan tetapi, pemerintah juga sebaiknya membeli tanah di luar (di kanan-kiri) dua bidang itu yang lebarnya dua kali Iebar jalan aspal dan bidang pengapit. Selanjutnya, pada dua bidang di kanan-kiri jalan aspal dan bidang pengapit tersebut ditanami pohon-pohon besar yang bisa menyerap debu dan asap dari kendaraan. Selain untuk menyaring udara, pohon-pohon itu juga bisa meredam suara bising kendaraan. Lahan tersebut dapat kita namakan ""zona pelindung"" karena berfungsi melindungi warga yang tinggal di tepi jalan tol dari polusi asap, debu, dan suara. Pemerintah memang akan mengeluarkan banyak dana, tetapi bukankah rakyat, khususnya warga di tepi jalan tol juga butuh diperhatikan kesehatan fisik dan ketenteraman batinnya? Seandainya zona pelindung jalan tal terwujud, saya yakin Indonesia akan memiliki tambahan lahan paru-paru dunia. Hal tersebut tidak hanya berdampak positif bagi bangsa Indonesia, tetapi juga dunia. Pembangunan jalan tal memang mampu memberikan berbagai manfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia. Namun, pemerintah juga semestinya jangan lupa untuk memperhatikan kesehatan dan ketenteraman warga yang tinggal di tepi jalan tal tersebut. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membuat zona pelindung yang dapat melindungi warga dari polusi kendaraan pengguna jalan tol. 8. Meskipun memberikan banyak manfaat, bukan berarti keberadaan jalan tol ini mampu menyenangkan semua pihak. Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa ... a. Seluruh pihak menjadi tidak senang. b. Setiap pihak berusaha saling menyenangkan. c. Seluruh kalangan senang dengan manfaat yang ada. d. Tidak semua pihak senang dengan manfaat yang ada.

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Sepekan terakhir, banjir dan longsor melanda banyak daerah yang diawali hujan berjam-jam. Di tengah kekalutan pascabencana, anomali cuaca sering dijadikan biang utama bencana. Hingga Minggu (5/5/2019), sejumlah daerah masih dilanda banjir, seperti Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Masyarakat di sejumlah daerah juga masih merasakan dampak yang mulai surut, seperti di Bengkulu Tengah (Bengkulu), Pulau Sembilan (Kalimantan Selatan), serta sejumlah kabupaten di Sulawesi, seperti Sigi, Manado, Jeneponto, Enrekang, Luwu, Tana Toraja, dan Selayar. Bahkan, di Sentani, Jayapura, warga masih mengungsi akibat luapan Danau Sentani. Di sejumlah daerah, posko-posko pengungsian didirikan dan disiapkan. "Untuk penanganan keseluruhan, termasuk pemulihan pascabanjir, masih kami susun,” kata Wakil Bupati Tana Toraja Viktor Datuan Batara. Banjir di Toraja akibat meluapnya Sungai Saddang. Sejumlah daerah hingga kini masih kewalahan menangani bencana dan pascabencana. Para pengambil kebijakan daerah masih bergantung kepada pemerintah pusat, khususnya menyangkut pendanaan. Di tengah berbagai penanganan kedaruratan yang kedodoran serta rehabilitasi dan rekonstruksi, fenomena cuaca di wilayah Indonesia masih harus diwaspadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, hujan lebat masih akan mengguyur wilayah Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua hingga Selasa besok. Hal itu disebabkan sirkulasi angin di sekitar Laut Banda. Berdasarkan data Badan ” Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), periode JanuariApril 2019, tercatat 1.586 kejadian bencana di Indonesia yang menewaskan 325 orang, menyebabkan 113 orang hilang dan 1.439 warga luka-luka, serta mengakibatkan 996.143 orang mengungsi. Itu belum termasuk kerugian berupa infrastruktur publik dan rumah warga yang rusak. Lebih dari 98 persen kejadian terkait banjir, banjir bandang, longsor, dan puting beliung. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, frekuensi bencana naik 7,2 persen. “Jumlah korban jiwa meningkat 192 persen dan korban luka meningkat 212 persen," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (4/5), di Jakarta. Secara alamiah, frekuensi dan dampak bencana hidrometeorologi memang meningkat. Itu dikaitkan dengan pemanasan global yang mengubah pdla hujan ekstrem dan menguatkan intensitas siklon tropis yang kian berisiko. Namun, bencana juga terkait pengelolaan lingkungan dan tata ruang. Menurut peneliti iklim yang juga Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, pola hujan di Indonesia saat ini cenderung berubah. Hujan lebat hingga ekstrem meningkat pesat pada 1961-2010 sekalipun rata-rata tahunannya cenderung sama, bahkan menurun. Sekalipun banyak bukti adanya “perubahan aspek meteorologis, kata Siswanto, bencana juga terkait kerentanan wilayah. Itu tergantung perubahan tata guna lahan, pertumbuhan populasi, urbanisasi, sampah dan sedimentasi, serta budaya masyarakat. Berdasarkan teks di atas, Provinsi yang mengalami kejadian bencana paling rendah adalah .... A. Nusa Tenggara Barat B. Papua Barat C. Bengkulu D. Aceh E. Maluku Utara

4

0.0

Jawaban terverifikasi