Anonim A

20 Mei 2024 09:13

Iklan

Iklan

Anonim A

20 Mei 2024 09:13

Pertanyaan

membuat narasi dengan tema "AKU TIDAK MAU MISKIN" tolong bantuannya ya kak, terimakasih


1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Nanda R

Gold

24 Mei 2024 13:58

Jawaban terverifikasi

<p><strong>AKU TIDAK MAU MISKIN</strong></p><p>Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan. Ayahku seorang buruh tani, dan ibuku penjual sayur di pasar. Setiap hari, mereka bekerja dari pagi hingga petang demi memastikan aku dan adik-adikku bisa makan dan bersekolah. Aku melihat sendiri bagaimana keringat mereka mengalir, bagaimana tangan mereka yang kasar dan lelah tetap bergerak tanpa henti. Satu hal yang selalu terpatri dalam pikiranku: aku tidak mau miskin.</p><p>Seiring berjalannya waktu, kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan semakin kuat. Aku belajar dengan tekun, mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan penuh semangat, dan tidak pernah absen meski hujan atau panas menyengat. Di malam hari, ketika orang lain sudah terlelap, aku masih terjaga, belajar di bawah sinar lampu minyak. Tekadku bulat, aku harus sukses.</p><p>Selepas SMA, aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di universitas ternama di kota. Itu adalah titik balik dalam hidupku. Di kampus, aku bertemu dengan berbagai macam orang, belajar banyak hal baru, dan memperluas wawasan. Meski tantangan semakin besar, aku tidak pernah menyerah. Aku bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetap fokus pada kuliah, dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi.</p><p>Empat tahun berlalu, aku lulus dengan predikat cum laude. Gelar sarjana yang kuperoleh bukan sekadar kertas, melainkan tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan gaji yang cukup untuk membantu keluargaku. Mimpi yang dulu terasa jauh kini mulai terwujud.</p><p>Namun, aku tahu perjalanan ini belum berakhir. Menjadi sukses bukan hanya tentang mencapai kenyamanan finansial, tetapi juga tentang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Aku mulai menginisiasi program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu di desa, memberikan pelatihan keterampilan, dan mendirikan koperasi agar para petani seperti ayahku bisa mendapatkan harga yang layak untuk hasil panennya.</p><p>Kini, setiap kali aku pulang ke desa, melihat senyum bangga di wajah ayah dan ibu, aku merasa segala usaha dan kerja keras selama ini terbayar. Aku berjanji pada diriku sendiri, kemiskinan yang pernah menjadi bayangan gelap dalam hidupku tidak akan kembali. Aku akan terus berjuang, bukan hanya untuk diriku, tetapi untuk semua orang yang pernah merasakan pahitnya hidup dalam keterbatasan.</p><p>Aku tidak mau miskin, dan lebih dari itu, aku ingin membantu orang lain keluar dari jerat kemiskinan. Sebab, kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa berbagi dan membawa perubahan positif bagi sesama.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

AKU TIDAK MAU MISKIN

Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan. Ayahku seorang buruh tani, dan ibuku penjual sayur di pasar. Setiap hari, mereka bekerja dari pagi hingga petang demi memastikan aku dan adik-adikku bisa makan dan bersekolah. Aku melihat sendiri bagaimana keringat mereka mengalir, bagaimana tangan mereka yang kasar dan lelah tetap bergerak tanpa henti. Satu hal yang selalu terpatri dalam pikiranku: aku tidak mau miskin.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan semakin kuat. Aku belajar dengan tekun, mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan penuh semangat, dan tidak pernah absen meski hujan atau panas menyengat. Di malam hari, ketika orang lain sudah terlelap, aku masih terjaga, belajar di bawah sinar lampu minyak. Tekadku bulat, aku harus sukses.

Selepas SMA, aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di universitas ternama di kota. Itu adalah titik balik dalam hidupku. Di kampus, aku bertemu dengan berbagai macam orang, belajar banyak hal baru, dan memperluas wawasan. Meski tantangan semakin besar, aku tidak pernah menyerah. Aku bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetap fokus pada kuliah, dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi.

Empat tahun berlalu, aku lulus dengan predikat cum laude. Gelar sarjana yang kuperoleh bukan sekadar kertas, melainkan tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan gaji yang cukup untuk membantu keluargaku. Mimpi yang dulu terasa jauh kini mulai terwujud.

Namun, aku tahu perjalanan ini belum berakhir. Menjadi sukses bukan hanya tentang mencapai kenyamanan finansial, tetapi juga tentang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Aku mulai menginisiasi program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu di desa, memberikan pelatihan keterampilan, dan mendirikan koperasi agar para petani seperti ayahku bisa mendapatkan harga yang layak untuk hasil panennya.

Kini, setiap kali aku pulang ke desa, melihat senyum bangga di wajah ayah dan ibu, aku merasa segala usaha dan kerja keras selama ini terbayar. Aku berjanji pada diriku sendiri, kemiskinan yang pernah menjadi bayangan gelap dalam hidupku tidak akan kembali. Aku akan terus berjuang, bukan hanya untuk diriku, tetapi untuk semua orang yang pernah merasakan pahitnya hidup dalam keterbatasan.

Aku tidak mau miskin, dan lebih dari itu, aku ingin membantu orang lain keluar dari jerat kemiskinan. Sebab, kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa berbagi dan membawa perubahan positif bagi sesama.

 

 


Iklan

Iklan

lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

"Aku tidak percaya! Aku tidak percaya, jika hanya oleh melompat-lompat dan berkejaran semalaman penuh. Aku tidak percaya itu. Aku mulai percaya desas-desus itu bahwa kau orang yang tamak. Orang yang kikir. Penghisap. lintah darat. Inilah ganjarannya! Aku mulai percaya desas-desus itu, tentang dukun-dukun yang mengilui luka sunatan anak-anak kita. Aku mulai yakin bahwa itu karena kesombonganmu, kekikiranmu, angkuhmu, dan tak mau tahu dengan mereka. Aku yakin mereka menaruh racun di pisau dukun-dukun itu." Sumber: dikutip dari Panggilan Rasul karya Hamsad Rangkuti. Bagaimana pengarang menggambarkan rasa marah pada penggalan cerpen tersebut.... A. Merasa tidak percaya dengan dukun yang menaruh racun di pisau. B. Memikirkan desas-desus terhadap tokoh kau. C. Mengenang rasa dendam.

10

0.0

Jawaban terverifikasi