L L

17 Januari 2024 22:00

Iklan

L L

17 Januari 2024 22:00

Pertanyaan

Membaca Puisi sebagai Partitur Bentuk paling purba dari musikalisasi puisi adalah kegiatan membaca puisi diiringi oleh musik. Musik iringan kerap dalam bentuk petikan gitar atau dentingan piano yang sayup-sayup. Dalam bentuk semacam ini, baik musik maupun puisi sesungguhnya masih cenderung berdiri sendiri, belum berdialog, apalagi menyatu dalam sebuah kesatuan. 5. Sebutkan perbandingan cara pandang penulis pada "Puisi 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' Kritik Mimetik" dan "Membaca Puisi sebagai Partitur" tersebut!

Membaca Puisi sebagai Partitur

Bentuk paling purba dari musikalisasi puisi adalah kegiatan membaca puisi diiringi oleh musik. Musik iringan kerap dalam bentuk petikan gitar atau dentingan piano yang sayup-sayup. Dalam bentuk semacam ini, baik musik maupun puisi sesungguhnya masih cenderung berdiri sendiri, belum berdialog, apalagi menyatu dalam sebuah kesatuan.

5. Sebutkan perbandingan cara pandang penulis pada "Puisi 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' Kritik Mimetik" dan "Membaca Puisi sebagai Partitur" tersebut!

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

22

:

12

:

09

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Iklan

R. Mulia

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Jakarta

18 Januari 2024 04:40

Jawaban terverifikasi

<p>Jawaban yang benar adalah sebagai berikut.</p><p>&nbsp;</p><p>Berikut ini penjelasannya.</p><p>&nbsp;</p><p>Puisi adalah karya sastra yang berasal dari ungkapan hati dan perasaan penyair sebagai bentuk ekspresi diri.</p><p>&nbsp;</p><p>Membaca puisi kritik mimetik yaitu dengan mimik wajah serius guna untuk menyampaikan pesan kritikan dalamnya. &nbsp;Sedangkan puisi partitur adalah pandangan atau konsep bahwa puisi dapat dipandang seperti partitur musik, yaitu dengan memperhatikan tanda-tanda atau simbol-simbol yang terdapat pada teks puisi, termasuk penggunaan kata, ritme, rima, dan sebagainya. Seperti halnya seorang pemain musik yang memainkan lagu sesuai dengan tanda-tanda pada partitur, pembaca puisi dapat membaca puisi dengan memperhatikan tanda-tanda pada teks puisi dan menginterpretasikannya secara tepat.</p><p>&nbsp;</p><p>Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah &nbsp;seperti penjelasan di atas.</p>

Jawaban yang benar adalah sebagai berikut.

 

Berikut ini penjelasannya.

 

Puisi adalah karya sastra yang berasal dari ungkapan hati dan perasaan penyair sebagai bentuk ekspresi diri.

 

Membaca puisi kritik mimetik yaitu dengan mimik wajah serius guna untuk menyampaikan pesan kritikan dalamnya.  Sedangkan puisi partitur adalah pandangan atau konsep bahwa puisi dapat dipandang seperti partitur musik, yaitu dengan memperhatikan tanda-tanda atau simbol-simbol yang terdapat pada teks puisi, termasuk penggunaan kata, ritme, rima, dan sebagainya. Seperti halnya seorang pemain musik yang memainkan lagu sesuai dengan tanda-tanda pada partitur, pembaca puisi dapat membaca puisi dengan memperhatikan tanda-tanda pada teks puisi dan menginterpretasikannya secara tepat.

 

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah  seperti penjelasan di atas.


Iklan

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Membaca Puisi sebagai Partitur Bentuk paling purba dan musikalisasi puisi adalah kegiatan membaca puisi diiringi oleh musik. Musik iringan kerap dalam bentuk petikan gitar alau dentingan piano yang sayup-sayup. Dalam bentuk semacam ini, baik musik maupun puisi sesungguhnya masih cenderung berdiri sendiri, belum berdialog. apalagi menyatu dalam sebuah kesatuan. Bentuk musikalisasi puisi lainnya berupa puisi yang dinyanyikan atau dijadikan syair untuk sebuah lagu. Oleh karena itu, jadilah sebuah Iagu puisi atau puisi lagu. Bentuk musikalisasi puisi ini pernah menjadi begitu populer dalam khazanah musik pop kita. Bentuk musikalisasi ini sangat tampak ketika kelompok musik Bimbo menderdangkan puisi-puisi Tautik Franky Sahilatua menyanyikan puisi Yudhistra ANM Massardt, hingga Ebiet G. Ade menyanyikan puisi-puisinya. Puisi menjadi sesuatu yang akrab dengan musik sejak era Birnbo dan Ebiet G Ade. Pemosisian puisi sebagai objek dalam peristiwa musikalisasi puisi tidak ada salahnya. Namun, dalam konteks pemahaman terminology musikalisasi puisi yang lebih luas memiliki pengertian berbeda. Musikalisasi sebenarnya tidak cukup hanya berhenti pada sekadar memberi alunan musik pada sebuah puisi baik bersifat ilustratif maupun dalam bentuk dinyanyikan. Akan tetapi, justru bagaimana cara menangkap bunyi dan puisi itu sendri untuk kemudian dituangkan dalarn bentuk alunan musik. Dengan demikian, musikalisasi puisi seyogianya adalah sebentuk tafsir musikal atau puisi itu sendiri. Jadi, musikalisasi puisi tidak sekadar menyanyikan atau memberi alunan musik kepada sebuah puisi, tetapi bagaimana membaca bunyi dan sebuah puisi. Dengan kata lain, bagaimana menjadikan sebuah puisi sebagai 'partitur’ musik itu sendiri. Tentukan unsur pendukung yang terdapat dalam teks esai tersebut!

1

4.3

Jawaban terverifikasi

Dilema Nara Karya: Alya Khalisah - Nana terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam. Kemudian, Nana bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar. Nana menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan. Nana berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nana berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya. “Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya. Nana mendongak. Wajahnya terasa familiar. “Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak. Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!” Nana tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nana terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya. Nana adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya. Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nana. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh. Istri pertama ayah Nana adalah sahabat dekat ibu Nana. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama. Nira, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya. “Na?” Lamunan Nana terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong. “Nana? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nana beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu. “Nana, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,” Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nana selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya. Nana bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nira. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nana musnah. Nara tahu apa artinya itu. * Nana memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat. Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nana tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang. Nana tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan. Nana menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian. JELASKAN APA AMANAT PADA TEKS DIATAS!

4

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Membaca Puisi sebagai Partitur Bentuk paling purba dari musikalisasi puisi adalah kegiatan membaca puisi diiringi oleh musik. Musik iringan kerap dalam bentuk petikan gitar atau dentingan piano yang sayup-sayup. Dalam bentuk semacam ini, baik musik maupun “puisi sesungguhnya masih cenderung berdiri sendiri, belum berdialog, apalagi menyatu dalam sebuah kesatuan. Bentuk musikalisasi puisi lainnya berupa puisi yang dinyanyikan atau dijadikan syair untuk sebuah lagu. Oleh karena itu, jadilah sebuah lagu puisi atau puisi lagu. Bentuk musikalisasi puisi ini pernah menjadi begitu populer dalam khazanah musik pop kita. Bentuk musikalisasi ini sangat tampak ketika kelompok musik Bimbo mendendangkan puisi-puisi Taufik Ismail, Franky Sahilatua menyanyikan puisi Yudhistira ANM Massardi, hingga Ebiet G. Ade menyanyikan puisi-puisinya. Puisi menjadi sesuatu yang akrab dengan musik sejak era Bimbo dan Ebiet G. Ade. Pemosisian puisi sebagai objek dalam peristiwa musikalisasi puisi tidak ada salahnya. Namun, dalam konteks pemahaman terminologi musikalisasi puisi yang lebih luas memiliki pengertian berbeda. Musikalisasi sebenarnya tidak cukup hanya berhenti pada sekadar memberi alunan musik pada sebuah puisi baik bersifat ilustratif maupun dalam bentuk dinyanyikan. Akan tetapi. justru bagaimana cara menangkap bunyi dari puisi itu sendiri untuk kemudian dituangkan dalam bentuk alunan musik. Dengan demikian, musikalisasi puisi seyogianya adalah sebentuk tafsir musikal atau puisi itu sendiri. Jadi, musikalisasi puisi tidak sekadar menyanyikan atau memberi aluna musik kepada sebuah puisi, tetapi bagaimana membaca bunyi dari sebuah puisi. Dengan kata lain, bagaimana menjadikan sebuah puisi sebagai 'partitur' musik itu sendiri. : Sumber: Hamdy Salad, Panduan Wacana dan Apresiasi Musicakaai Puisi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2015 Tentukan unsur pendukung yang terdapat dalam teks esai tersebut!

2

0.0

Jawaban terverifikasi

Pertemuan Dua Hati Mengalah tidak berarti kalah. Biarkan bila orang lain menganggap kita pengecut. Diri pribadi kita tahu betul bahwa kita menghindari pertikaian dengan kekerasan. "Kalau memang betul tanamanmu kurang subur, jangan malu mengakui kenyataan," kataku membesarkan hatinya. "Bagaimana yang sesungguhnya? Subur atau tidak?" Waskito tidak menjawab. Dia juga tidak memandang ke wajahku. "Kutunggu jawabanmu, bagaimana menurut pendapatmu apakah tariamanmu subur atau tidak?" Aku terus mendesak. Antara kami berdua kurasakan telah ada pintu penghubung sejak pekan-pekan terakhir itu. Meskipun pintu itu tidak terbuka Iebar, tetapi aku yakin bahwa itu juga tidak terkunci . Anak itu tetap terdiam. Badannya tidak tenang. Pantatnya beringsut, kakinya usil di bawah kursi. Akhirnya aku memutuskan mengalah. Hatiku masih dibayangi kekhawatiran kalau-kalau dia merasa diri terjepit. Kujelaskan bahwa mengakui kekurangannya sendiri sama seperti mengakui kesalahan. ltu sifat satria, sportif. Jangan dikira keseganan dan hormat orang mengurang karena pengakuan kita tersebut. "Tidak ada orang yang baik atau pandai atau cekatan dalam segala-galanya. Kamu terampil dalam hal pertukangan, otakmu cerdas meskipun pelajaranmu biasa-biasa saja. Bukankah itu sudah sangat mencukupi? Kalau memang kamu hendak membalas dendam terhadap teman-temanmu, tidak dengan cara membanting dan menginjak-injak tanaman mereka. Bikinlah prestasi dalam hal lain yang kamu kira lebih mampu. Tekunilah pelajaranmu misalnya! Bejanamu dipasang di ruang keterampilan, dipergunakan sebagai contoh untuk kelas-kelas lain. ltulah prestasimu! Tunjukkan lain-lainnya! Kalau memang kamu lemah dalam tumbuh-menumbuhkan biji, itu bukan merupakan masalah . Cari sebab-sebabnya. Barangkali kurang air, atau kurang matahari . Anak seperti kamu tidak seharusnya cepat berputus asa. Memalukan sekali!" Waskito menoleh, menatap pandangku, seolah-olah apa yang kukatakan baru kali itu terpikir olehnya. Dari sinar matanya jelas nampak bahwa dia merenungkan kal imatku yang pal ing akhir. Aku mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya, menambahkan: "Kita semua cenderung memuaskan. nafsu kekesalan dan kemarahan semau kita. ltu memang sifat manusia .. Bu Suci berusaha memberi didikan kerendahan hati dan menahan perasaan kepada murid-murid. Hingga saat ini kamu berhasil mendapat pujian para guru dan Kepala Sekolah. Pertahankanlah ini! Jangan selalu membuat seisi kelas dan aku ketakutan semacam tadi." Dan sebagai tanda bahwa percakapan kami selesai, aku bangkit. "Ayo, kembal i ke kelas! Tadi kawan-kawanmu akan menyapu dan membenahi hasil pelampiasan kemarahanmu. Baik hati mereka, bukan? Meskipun tadi mereka mengejekmu, ternyata mereka mau membantumu juga. Tapi mereka kularang menyapu. Aku yakin, sebegitu kamu akan membersihkan lantai, pastilah ada yang menolongmu tanpa kusuruh." Kejadian hari itu merupakan tambahan yang melengkapi pertemuan hati Waskito dan hatiku. Untuk selanjutnya, kami lebih terbuka berunding dan berbincang, baik berduaan maupun di hadapan orang lain. Rapor berikutnya berisi angka-angka normal . Untuk menghadiahi usaha kerasnya yang berhasil meraih tempat sebagai murid "biasa", pada waktu liburan Waskito kami bawa menengok kota kecil kami, Purwodadi. Dia diajak suamiku memancing sepuas-puas hatinya. Dan aku tidak menyesal memenuhi janji itu terlalu dini, karena sekembali dari liburan, kuperhatikan dia semakin berubah . Seolah-olah dia bertekaa untuk menjadi murid yang lebih dari biasa saja. Untuk seterusnya dia selalu terdaftar ke dalam baris anak-anak yang pandai di kelasku. Akhir tahun pelajaran , Waskito naik kelas. Bu De-nya datang ke sekolah. Dia b.erterima kasih kepada Kepala Sekolah, para guru, dan kepadaku sendiri. Aku menjawab bahwa aku gembira dapat menolo.ng Waskito. Ucapan terima kasih kebanyakan hanya berupa basa-basi, tetapi yang sesungguhnya sangat kami hargai . Kami guru-guru Sekolah Dasar terlalu biasa menerima kata-kata sesalan atau cacian jika murid tidak naik kelas. Sebaliknya, jika anak didik naik, itu dianggap sebagai hal yang semestinya sehingga orang tua atau wali tidak merasa berkepentingan mengunjungi kami untuk sekedar menyalami. Apalagi membawakan rasa terima kasih mereka! Tetapi tidak mengapalah. Masing-masing dari kami mempunyai tugas dalam hidup ini. Aku memilih menjadi pendidik, bagi ·anak-anakku dan murid yang dipasrahkan kepadaku. Gaji atau penghargaan seringkali meleset, tidak sesuai dengan jasa yang secara rendah hati kami sumbangkan bagi pembangunan watak tiang masa depan bangsa. Mudah-mudahan Tuhan selalu menolongku dalam melaksanakan tugas ini. (Pertemuan Dua Hati, N.H. Dini) Bagaimana alur yang tergambar dalam novel Pertemuan Dua Hati?

3

0.0

Jawaban terverifikasi