Adzkia D

Ditanya 6 hari yang lalu

Iklan

Adzkia D

Ditanya 6 hari yang lalu

Pertanyaan

Maaf oot mau nanya cara banyak dapat starchamp itu gimana yah? Dan cara dapat koin utama untuk sesi tutor gimana yah? Dan katanya perbulan dapat koin utama untuk sesi tutor kok aku gaada samsek yah? Yang udh jawab thankss bgtt

Maaf oot mau nanya cara banyak dapat starchamp itu gimana yah? Dan cara dapat koin utama untuk sesi tutor gimana yah? Dan katanya perbulan dapat koin utama untuk sesi tutor kok aku gaada samsek yah? Yang udh jawab thankss bgtt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

05

:

42

:

43

Klaim

26

2


Iklan

Fayyaz Z

Dijawab 6 hari yang lalu

<p>Banyak ngerjain driil soal</p>

Banyak ngerjain driil soal


Adzkia D

Dijawab 5 hari yang lalu

aku ga dapet euyy dapet tpi bukan starchamp yg ada di perlihatkan didekat sesi live teaching itu lochhhh

Iklan

Allyssa S

Dijawab 6 hari yang lalu

<p>Ngerjain drill soal, atau nonton nonton video yang ada di Ruangguru</p><p>Aku sii seringnya gituuu</p>

Ngerjain drill soal, atau nonton nonton video yang ada di Ruangguru

Aku sii seringnya gituuu


Adzkia D

Dijawab 5 hari yang lalu

drill soal ga dapett euyy dapet star nya bukan star yg ku maksuddd bedaa nnton video yg mana? yang apa?

Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

1.Bacalah kutipan drama berikut! Abah: "Kalau cari suami harus yang jelas masa depannya, jangan seperti si Kabayan!" Iteung: "Tapi Kang Kabayan mah baik nyaah sama Iteung." Abah: "Baik? Baik apanya? Kalau memang baik pasti suka ngirim uang, paling sedikit ngirim ikan kesenangan Abah. Ikan gurame!" Ambu: "Abah teh kumaha. Apa-apa selalu saja diukur pakai uang." Tokoh Iteung pada kutipan drama tersebut akan lebih menarik jika menggunakan kostum a. celana panjang dan kaos dengan rambut panjang dibiarkan terurai b. celana panjang dan kaos dengan rambut dikepang dua c. kebaya dan celana panjang dengan rambut dibiarkan terurai d. kebaya dan kain dengan rambut di kepang dua 2.Jo : "Hey, jalan yang bener dong!" (keluar dari mobil) Yuda: (tampak terkejut dan menguasai diri) "Maaf Pak." Jo: (melotot) "Maaf, maaf!" (1) Bapak: "Sudahlah Jo, dia sudah minta maaf kok, lagi pula ayah buru- buru nanti terlambat ke kantor." (cepat menyusul keluar dari mobil) Jo : "Tidak bisa, dia harus diberi pela- jaran!" (nyaris melayangkan tinju) (2) Bapak : "Sabar Jo. (melihat kasihan pada Yuda) "Kau pergilah, Nak!" Yuda : "Terima kasih, Pak!" (3) Bapak "Hey, apa yang kau bawa, Nak?" (heran) "Kamu jual lukisan?" Yuda : "lya Pak, ini lukisan kaca." (4) Bapak: "Sungguh baru kali ini aku melihat lukisan kaca, biasanya saya di rumah memajang lukisan kanvas, lukisan kertas, lukisan bulu, dan lain-lain. Tapi, lukisan ini? Ah ya berapa kamu menjual ini?" Yuda: "Yang mana Pak?" (5) Bapak: "Semuanya. Ah sudah jangan bingung, gini aja gimana kalau lukisan itu saya beli lima juta rupiah." Yuda : "Apa? Lima juta!" (6) Bapak: "Apa kurang?" Yuda : "Cu... kup, Pak." Bukti latar waktu dalam kutipan drama tersebut terdapat pada dialog nomor .... a. (1) b. (3) c. (4) d. (6) 3.Perhatikan penggalan drama berikut! "Dari mana saja kau, Badar? Hari sudah petang tapi kau baru pulang," tanya ayah sambil berkacak pinggang. Dialog tersebut diucapkan dengan nada a. keras sambil bercanda b. marah dan serius c. rendah dan penuh tanya d. penuh kasih sayang 4.Cermati kutipan bacaan berikut! "Mohammad-san inilah rumahku." Toshihiko berkata ketika kami sampai di depan sebuah rumah kayu yang sederhana. Lalu berteriak, "Ibu! Ibu! Inilah tamu yang kita tunggu. Lihatlah, seorang Indonesia yang tersesat di kebun anggur Katsunuma. Bukankah ini suatu kehormatan bagi kita?" Bacaan tersebut termasuk teks fiksi karena a. memiliki unsur tema dan tokoh b. bersifat sistematis berdasarkan fakta yang ada c. narasi dan dialog menggunakan ragam bahasa baku d. menggunakan peribahasa untuk membandingkan suatu hal 5.Perhatikan teks berikut! Perkembangan teknologi informatika dalam satu dekade terakhir mengalami lonjakan luar biasa. Munculnya internet memudahkan setiap orang mendapat akses informasi. Tidak hanya sekadar berita, melalui internet orang bisa ber- jualan, memasang iklan, menikmati musik, dan memungkinkan individu mengetahui berbagai peristiwa secara intensif. Berdasarkan wacana tersebut, istilah yang dapat dideretkan dalam indeks dengan tepat adalah a. akses-individu-informatika-informasi- teknologi b. akses-iklan-individu-intensif-internet C. iklan-individu-informasi-intensif-internet d. individu-informasi-intensif-internet-iklan 6.Perhatikan kutipan indeks berikut! Gaib 8 Ilmu Fisika 7 Ilustrasi 57 Imajinasi 59 Implikasi 54 Magnetis 65 Pengetahuan eksakta 46 Pengetahuan keras 47 Pengetahuan lunak 48 Pengetahuan non-eksakta 45 Berikut ini pernyataan yang tidak benar berdasarkan indeks tersebut adalah a. Di halaman 46, kita dapat mempelajari materi pengetahuan keras. b. Materi tentang implikasi dapat kita jumpai di halaman 54. C. Di halaman 45 kita dapat mempelajari pengetahuan non-eksakta d. Pengetahuan eksakta dapat kita pelajari di halaman 46. *kutipan teks drama berikut untuk soal nomor 7 - 9* (1) Mayor: "Berapa lama lagi aku harus menunggu? Lihat semburat matahari sudah terlihat." (sambil menggebrak meja) (2) Kopral: "Sabarlah sedikit, Pak." (3) Mayor "Jangan ditawar lagi." (4) Kopral: "Apanya, Pak?" (5) Mayor: "Kesabarannya! Sejak kemarin kesabaran saya habis. Sabar itu prinsip. Tidak bisa ditawar- tawar, ngerti?" (6) Kopral: "Kalau begitu kuralat ucapanku tadi." (7) Mayor: "Ya, tapi pertanyaanku belum Bung jawab. Berapa lama lagi? Semburat matahari sudah terlihat tu!" 7.Dialog pada kutipan teks drama tersebut yang berisi kramagung ditandai dengan nomor a. (1) b. (3) c. (4) d. (5) 8.Latar disertai bukti nomor pada kutipan drama tersebut adalah .... a.. siang hari, bukti pada dialog nomor (7) b. menjelang maghrib, bukti pada dialog nomor (5) c.pagi hari, bukti pada dialog nomor (7) d. sore hari, bukti pada dialog nomor (1) 9.Amanat yang sesuai dengan kutipan teks drama tersebut adalah .... a. Kemarahan bukanlah cara penyelesaian masalah yang bijak. b. Seorang bawahan tidak sepatutnya melawan atasan sekalipun untuk membela kebenaran. c. Kita harus lebih banyak bersabar menghadapi apa pun. d. Kita harus mengikuti keinginan atasan walaupun tidak sejalan dengannya. *kutipan drama berikut untuk soal nomor 10-13* Fikri: "Hai sobat. Lho ada apa ini? Kamu kok kelihatan sedih?" Bayu: "Enggak. Perasaan kamu saja." Fikri: "Ayolah... Aku kenal kamu dari kecil. Aku bisa tahu kamu sedih, senang, malas, atau marah? Ayo katakan padaku siapa tahu aku bisa membantu." Bayu: "Kamu ini tau aja. Hari ini hari terakhir aku harus membayar SPP. Bapakku masih di luar kota. Ibuku sakit. Aku bingung harus bagaimana." Fikri :"Kenapa harus bingung. Aku bisa membantumu." Bayu: "Maksudmu?" Fikri: "Ya... membantumu. Aku punya uang tabungan dan cukup untuk membayar SPP mu." Bayu: "Wah... enggak ... enggak ... enggak aku tidak bisa menggunakan uang tabunganmu." Fikri: "Ayolah teman... aku tulus... kapan-kapan kamu dapat mengembalikannya." 10. Tema yang digambarkan pada kutipan drama tersebut adalah a. persahabatan antara kedua orang b. tolong-menolong antarteman yang mem- butuhkan c. persahabatan yang didukung oleh kedua orang tua d. masalah ekonomi keluarga yang tak kunjung reda 11.Tokoh Fikri dalam kutipan drama tersebut memiliki watak a. rendah hati b. tinggi hati c. baik hati d. kecil hati 12. Kutipan drama suasana tersebut menceritakan a. haru b. kaget c. kecewa d. sedih 13.(sambil terpogoh-pogoh masuk kamar tamu, Naja menangis) Naja: "Bu, aku sudah tidak kuat lagi kalau begini." Ibu: "Percayalah, Nak, masalah ini akan segera teratasi. Tuhan Maha Pengatur dan Mahabaik." Naja: "Tapi kapan? Kapan? Aku bosan sudah!" Ibu: "Bersabarlah, Nak. Jika sabar, masalah akan terurai satu per satu." (sambil membelai rambut Naja dengan penuh Kesabaran). Dalam struktur teks drama, kutipan tersebut merupakan bagian .... a. orientasi b. resolusi c. komplikasi d. epilog *kutipan buku berikut untuk soal nomor 14 dan 15* Bumi adalah tempat di mana kita, manusia, dan makhluk hidup lainnya berada. Bumi sering disebut juga sebagai planet biru. Kenapa? Karena bumi kalau dilihat dari luar angkasa terlihat dengan warna dominan biru. Tahukah kamu warna biru bumi yang terlihat dari angkasa raya itu? Itu adalah lautan. Karena sekitar 70% permukaan bumi merupakan lautan yang sangat luas. Sisanya 30% merupakan daratan yang tersusun atas dataran, gunung, dan lembah. Bumi juga dikelilingi oleh lapisan atmosfer yang merupakan pelindung bumi. 14. Teks tersebut tergolong sebagai karya nonfiksi karena .... a. berisi cerita karangan manusia b. bersifat informatif dan berisi kenyataan c. berasal dari imajinasi pengarang d. memiliki makna ganda 15. Inti dari kutipan buku tersebut adalah .... a. memaparkan tentang alam dan kerusakannya b. memaparkan secara detail tentang bumi c. menggambarkan tentang jenis-jenis atmosfer d. menjelaskan jenis-jenis planet 16.Bacalah kutipan teks fiksi berikut! Kehidupan keluarga ini sangat sederhana. Ayah dan Ibu setiap hari membanting tulang di ladang, seolah-olah kepala jadi betis, betis jadi kepala demi beberapa mulut yang harus dipenuhi. Orang tua ini ikhlas bekerja dengan tanggung jawab demi keluarga dan anak-anaknya kelak supaya jadi orang. Tak ada rotan akar pun jadi, begitulah kata orang tua itu. Daya tarik cuplikan teks fiksi tersebut tampak pada..... a. konflik dalam cerita b. latar cerita c. gaya bahasa penulis d. tema cerita 17.Perhatikan cuplikan teks berikut! Perempuan memang paling rentan terhadap anemia, terutama anemia karena kekurangan zat besi. Darah memang sangat penting bagi perempuan. Hal ini terutama pada saat hamil, zat besi itu dibagi dua, yaitu bagi si ibu dan janinnya. Apabila si ibu mengalami anemia, bisa terjadi abortus, lahir prematur, dan juga kematian saat melahirkan. Bahkan, bagi janin, zat besi juga dibutuhkan, terutama juga ada kaitannya dengan kecerdasan. Topik untuk diskusi berdasarkan bacaan tersebut adalah a. manfaat zat besi bagi bayi b. kesehatan ibu dan janin C. anemia sebagai penyakit berbahaya bagi perempuan d. sebab-sebab tingginya kernatian bayi dan anak di Indonesia *indeks berikut untuk soal nomor 18 dan 19* Aliterasi, 89, 93 Amanat, 5, 70 Arbitrer, 3, 65 Artikel, 8, 90 Balada, 25, 75 Drama, 89, 99 Epilog, 34, 36, 74 Fiksi, 3, 25, 90 18. Berdasarkan indeks buku nonfiksi tersebut, kita dapat menemukan istilah epilog di halaman.... a. 3,65 b. 25,75 c. 34, 36, dan 74 d. 3, 25, dan 90 19. Berdasarkan indeks buku tersebut, saat membuka halaman 25 kita dapat menemukan kata .... a. balada dan epilog b. balada dan fiksi c. balada dan drama d. balada

5

1.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah teks drama modern berikut. Majalah Dinding Karya : Bakdi Soemanto Pelaku: - Anton - Kardi - Rini - Trisno - Wilar Di sebuah ruangan tampak meja dan kursi yang kurang begitu rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan menelungkup di meja. Ada tiga orang di ruangan itu meski ini Minggu pagi. Seorang bersilang tangan sambil duduk di salah satu meja. Ia adalah Anton, pemimpin redaksi majalah dinding. Seorang lagi adalah Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi. Seorang lainnya adalah Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah esais yang mulai dikenal tulisan-tulisannya lewat majalah dinding itu. Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Witar, wakil pemimpin redaksi, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah. lni disebabkan karikatur Trisno yang terkesan mengejek Pak Kusno, guru karate. Anton : Kardi. Kardi : Ya! Anton : Kau ada waktu nanti sore? Kardi : Ada apa? Anton : Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes. Rini : Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa. Kardi : ltu tafsiranmu, Rin. Menurutku, tindakannya itu mendidik. Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Aneh! Kardi : Masak begitu? Anton : Kalau mendidik anaknya kan bukan begitu caranya. Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya sendiri. Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi semua. Anton : Tapi masih ada satu bahaya. Rini : Bahaya? Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu. Anton : Bisa jadi dia akan celaka. Rini : Lalu? Anton : Kita harus selesaikan masalah ini. Rini : Caranya? Anton : Kita harus buka front terbuka. Kardi : ltu nggak taktis, Bung! Anton : Habis, kalau main gerilya kita kalah. Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya. Rini : Orang luar bisa lihat semua itu. Sekolah jadi tercemar. Kardi : Betul! Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita *mati kutu? Kardi : Ada, tapi jangan grasa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah. Anton : Baik, filsuf! Apa rencanamu? Trisno masuk. Napasnya engah-engah. Peluhnya berleleran. Rini : Kau dari mana, Tris? Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah? Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah dan kau dimarahi? Trisno : Huuuuuhhhh. Disemprot pagi-pagi. Rini : Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil? Anton : Kau ini gimana, Tris? Masak pagi-pagi ke sana. Kardi : Sebaiknya kau nggak ke sana sebelum berembug dengan kami. Rini : Haaaahh! lndividualisme itu mbok dikurangi. Anton : Kau selalu begitu setiap kali. Kardi : Terus disemprot apa? Trisno : Kalian itu yang aneh kabeh. Anton : Lho! Rini : Aku aneh? Secantik ini aneh? Trisno : Belum tahu sudah disemprot. Kardi : Pak Kepala ke rumahmu? Trisno : lya. Terus aku mau rembugan gimana sama kalian. Belum bernapas sudah dicekik. Rini : lbumu tahu? Trisno : Untung mereka ibadah pagi. Anton : Terus? Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau belum? Anton : Jawabmu? Trisno : Aku bilang, ide itu ide ... Anton : Ide Anton? Trisno· : Ide Albertus Sutrisno, sang pelukis! Dengar! Rini : Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi? Trisno : Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini. Anton : Kau bilang apa padanya? Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar! Kardi : Edaaann. Pahlawan tenan iki. Rini : Ooooooo, hebat kau, Tris. Trisno : Ah, Rin, mbok jangan gitu. Anton : Kenapa kau bilang begitu? Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mestinya digantung, bukan kau! Kardi : Lho, lho, sabar-sabar, sabaaaar! Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu! Trisno : Begini, Ton. Maksudku agar kau ... Anton : Tidak. Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau! Trisno : Begini, Ton, maksudku, bahwa aku telah ... Anton : Sudah! Aku tahu kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ... Rini : Anton! lni apa? lni apa? Kardi : Anton, sabar. Kau mau bun-uh diri apa bagaimana? Masak sedang gawat malah bertengkar sendiri. Semua membisu. Trisno : Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak ahlawan. Aku sekedar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau ... kau di ... Anton : (membisu) Trisno : Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah, mungkin kita memang tidak harus dalam satu ide. (keluar) Anton : Tris, Tris, Trisno, Trisno. Kardi : Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia? Rini : Tapi, dia bisa memihak kepala sekolah. Kardi : Ah, tidak. Biar saja dia pergi. Anton : Maaf, Di. Kardi : Aku ngerti, kenapa kau tersinggung. Tetapi, dalam keadaan gawat, kita tidak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita. Rini : Kau absurd! (keluar) Anton : Rin, Rini. Kardi : Nah, gimana ini kalau begini? Anton : (membisu) Kardi : Bagaimana? Anton : Pergi! Kardi : (terbengong) Anton : Pergi sana kau. Pergi! (keluar) *** Anton : (diam sendiri, berjalan hilir mudik) Rini : (masuk) Ton! Anton : Pergi! Rini : (membisu) Anton : Rin. Rini : Anton. Wilar (masuk) Lha! Rini : Bagaimana? Pak Lukas mau? Anton : Mana Pak Lukas? Wilar : Lha. Rini : Ayo, Laaaarrrrr, bagaimana? Kau ini mengejek. Anton : Kau menemuinya pagi ini? Wilar : Dia mau. Anton : Mau. Rini : Mau? Wilar : Jelas. Malah dia bilang begini: "Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno. Tapi kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi." (menirukan cara berbicara Pak Lukas) Rini : Anton! Wilar : Lha. (Kardi muncul) Lha. (Trisno muncul) Lha. Semua: Lhaaaaa! Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri. Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu. Trisno : Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat? Semua : Setujuuuuuuuu! Kardi : (termenung) Rini : Ada apa, filsuf? Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini. Anton : Waaa, kumat dia. Rini : Renungan apa, Di? Trisno : Renungan apa lagi? Kardi : Bahwa ... bahwa kreativitas ternyata ... ternyata membutuhkan perlindungan. Konflik apa yang terjadi dalam teks drama tersebut? Jelaskan hal yang menjadi tanda terjadinya konflik tersebut.

2

1.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Bacalah teks drama modern berikut. Majalah Dinding Karya : Bakdi Soemanto Pelaku: - Anton - Kardi - Rini - Trisno - Wilar Di sebuah ruangan tampak meja dan kursi yang kurang begitu rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan menelungkup di meja. Ada tiga orang di ruangan itu meski ini Minggu pagi. Seorang bersilang tangan sambil duduk di salah satu meja. Ia adalah Anton, pemimpin redaksi majalah dinding. Seorang lagi adalah Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi. Seorang lainnya adalah Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah esais yang mulai dikenal tulisan-tulisannya lewat majalah dinding itu. Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Witar, wakil pemimpin redaksi, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah. lni disebabkan karikatur Trisno yang terkesan mengejek Pak Kusno, guru karate. Anton : Kardi. Kardi : Ya! Anton : Kau ada waktu nanti sore? Kardi : Ada apa? Anton : Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes. Rini : Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa. Kardi : ltu tafsiranmu, Rin. Menurutku, tindakannya itu mendidik. Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Aneh! Kardi : Masak begitu? Anton : Kalau mendidik anaknya kan bukan begitu caranya. Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya sendiri. Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi semua. Anton : Tapi masih ada satu bahaya. Rini : Bahaya? Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu. Anton : Bisa jadi dia akan celaka. Rini : Lalu? Anton : Kita harus selesaikan masalah ini. Rini : Caranya? Anton : Kita harus buka front terbuka. Kardi : ltu nggak taktis, Bung! Anton : Habis, kalau main gerilya kita kalah. Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya. Rini : Orang luar bisa lihat semua itu. Sekolah jadi tercemar. Kardi : Betul! Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita *mati kutu? Kardi : Ada, tapi jangan grasa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah. Anton : Baik, filsuf! Apa rencanamu? Trisno masuk. Napasnya engah-engah. Peluhnya berleleran. Rini : Kau dari mana, Tris? Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah? Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah dan kau dimarahi? Trisno : Huuuuuhhhh. Disemprot pagi-pagi. Rini : Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil? Anton : Kau ini gimana, Tris? Masak pagi-pagi ke sana. Kardi : Sebaiknya kau nggak ke sana sebelum berembug dengan kami. Rini : Haaaahh! lndividualisme itu mbok dikurangi. Anton : Kau selalu begitu setiap kali. Kardi : Terus disemprot apa? Trisno : Kalian itu yang aneh kabeh. Anton : Lho! Rini : Aku aneh? Secantik ini aneh? Trisno : Belum tahu sudah disemprot. Kardi : Pak Kepala ke rumahmu? Trisno : lya. Terus aku mau rembugan gimana sama kalian. Belum bernapas sudah dicekik. Rini : lbumu tahu? Trisno : Untung mereka ibadah pagi. Anton : Terus? Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau belum? Anton : Jawabmu? Trisno : Aku bilang, ide itu ide ... Anton : Ide Anton? Trisno· : Ide Albertus Sutrisno, sang pelukis! Dengar! Rini : Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi? Trisno : Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini. Anton : Kau bilang apa padanya? Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar! Kardi : Edaaann. Pahlawan tenan iki. Rini : Ooooooo, hebat kau, Tris. Trisno : Ah, Rin, mbok jangan gitu. Anton : Kenapa kau bilang begitu? Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mestinya digantung, bukan kau! Kardi : Lho, lho, sabar-sabar, sabaaaar! Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu! Trisno : Begini, Ton. Maksudku agar kau ... Anton : Tidak. Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau! Trisno : Begini, Ton, maksudku, bahwa aku telah ... Anton : Sudah! Aku tahu kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ... Rini : Anton! lni apa? lni apa? Kardi : Anton, sabar. Kau mau bu-nuh diri apa bagaimana? Masak sedang gawat malah bertengkar sendiri. Semua membisu. Trisno : Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak ahlawan. Aku sekedar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau ... kau di ... Anton : (membisu) Trisno : Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah, mungkin kita memang tidak harus dalam satu ide. (keluar) Anton : Tris, Tris, Trisno, Trisno. Kardi : Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia? Rini : Tapi, dia bisa memihak kepala sekolah. Kardi : Ah, tidak. Biar saja dia pergi. Anton : Maaf, Di. Kardi : Aku ngerti, kenapa kau tersinggung. Tetapi, dalam keadaan gawat, kita tidak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita. Rini : Kau absurd! (keluar) Anton : Rin, Rini. Kardi : Nah, gimana ini kalau begini? Anton : (membisu) Kardi : Bagaimana? Anton : Pergi! Kardi : (terbengong) Anton : Pergi sana kau. Pergi! (keluar) *** Anton : (diam sendiri, berjalan hilir mudik) Rini : (masuk) Ton! Anton : Pergi! Rini : (membisu) Anton : Rin. Rini : Anton. Wilar (masuk) Lha! Rini : Bagaimana? Pak Lukas mau? Anton : Mana Pak Lukas? Wilar : Lha. Rini : Ayo, Laaaarrrrr, bagaimana? Kau ini mengejek. Anton : Kau menemuinya pagi ini? Wilar : Dia mau. Anton : Mau. Rini : Mau? Wilar : Jelas. Malah dia bilang begini: "Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno. Tapi kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi." (menirukan cara berbicara Pak Lukas) Rini : Anton! Wilar : Lha. (Kardi muncul) Lha. (Trisno muncul) Lha. Semua: Lhaaaaa! Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri. Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu. Trisno : Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat? Semua : Setujuuuuuuuu! Kardi : (termenung) Rini : Ada apa, filsuf? Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini. Anton : Waaa, kumat dia. Rini : Renungan apa, Di? Trisno : Renungan apa lagi? Kardi : Bahwa ... bahwa kreativitas ternyata ... ternyata membutuhkan perlindungan. Jelaskan latar waktu, latar suasana, dan latar tempat yang tampak pada teks drama tersebut?

5

5.0

Jawaban terverifikasi

Tentukan mana yang merupakan struktur abstraksi,orientasi,krisis,reaksi,dan koda Teks 1 Racun Serangga Alkisah hiduplah sepasang suami istri dengan dua orang anaknya. Setiap pagi kedua anak tersebut pergi berkebun untuk membantu orang tuanya. Namun, tiba-tiba mereka berdua pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. Kakak: "Bu, Ibu tolong bu, gawat ini adik menelan kecoa!" Ibu: "Astaga, kok bisa sih kak? Gimana ceritanya? Ayo cepat panggil Bapak suruh bawa dokter ke sini!" Kakak: "Jangan bu, malah tambah gawat nanti. Sebentar lagi kecoanya juga mati." Ibu: "Lho, kok bisa gitu kak?" Kakak: "Iya bu, soalnya adik sudah aku kasih racun serangga bu. Di botolnya kan ada tulisan "dapat membunuh serangga ekstra cepat." Ibu: "Astagfirullah, sembrono kamu!" Kakak: (bingung) Ibu: "Pak, Bapak anak kita makan kecoa." (sambil berlari mencari suaminya). Kakak: (masih tetap bingung) ------------------------------- Teks 2 Tukang roti Pada Pagi hari Azril duduk di teras rumahnya sembari menunggu tukang roti yang biasa lewat. Begitu tukang roti lewat Azril lantas memanggil sang penjual. Azril: "Beli rotinya, Pak." Tukang Roti: "Boleh silahkan mau roti yang mana." Azril: "Ini apa, Pak?" Tukang Roti: "Ini semangka." Azril: "Kalau yang ini apa?" Tukang Roti: "Srikaya." Azril: "Terus ini apa, Bang?" Tukang Roti: "Oh...kalau ini blueberry, dek." Azril: "Gimana sih, terus rotinya mana? Saya mau beli roti bukan buah, kok daritadi yang disebut buah-buahan aja. Gak jadi beli deh saya kalau gini." Tukang Roti: "Yang saya sebut tuh rasa rotinya!" Azril: "Gak jadi, deh!"

2

5.0

Jawaban terverifikasi