Dewi R

07 Juli 2024 14:16

Iklan

Iklan

Dewi R

07 Juli 2024 14:16

Pertanyaan

Halo!!! Aku lagi coba kerjain adaptoX yang clash of champions. Ada yang bisa bantu aku buat dapetin nilai D sama L? Karna aku udah ngitung berkali-kali dan akhirnya gak ketemu buat nilai A. Bantu aku ya, terima kasih

Halo!!! Aku lagi coba kerjain adaptoX yang clash of champions. Ada yang bisa bantu aku buat dapetin nilai D sama L? Karna aku udah ngitung berkali-kali dan akhirnya gak ketemu buat nilai A. Bantu aku ya, terima kasih

alt

89

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Minggus Y

07 Juli 2024 15:10

Jawaban terverifikasi

I => (8+4x5)/7 = 28/7= 4 G => (96x3)/16 = 18 E => 7^E = 7^-2 E = -2 K => G-1-E = 18-1-(-2) = 19 L => 19(-2)^2 = 4(4)+4L 19(4) = 16 + 4L 76 = 16+4L 4L = 76-16 4L = 60 L = 15 D => E+G-I-L = -2+18-4-15 = -3


Dewi R

07 Juli 2024 15:22

Terima kasih banyak😭😭

— Tampilkan 1 balasan lainnya

Iklan

Iklan

Nency A

07 Juli 2024 15:19

Jawaban terverifikasi

<p>Maaf ya KLO difoto jawabannya berantakan nulisnya&nbsp;</p><p>A= -9</p><p>B=2</p><p>C=1</p><p>D=-3</p><p>E=-2</p><p>F=5</p><p>G=18</p><p>H=27</p><p>I=4</p><p>J=54</p><p>K=19</p><p>L=15</p>

Maaf ya KLO difoto jawabannya berantakan nulisnya 

A= -9

B=2

C=1

D=-3

E=-2

F=5

G=18

H=27

I=4

J=54

K=19

L=15

alt
alt

Dewi R

07 Juli 2024 15:22

Terima kasih banyak😭😭😭

lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Plis lah yang betul lagi kali ini masa aku dapat nilai 30 men sekarang pis betul2 jawab benar-benar yah Dik=27 km/jam=______km/jam

2

5.0

Jawaban terverifikasi

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, “Beri kami sedekah, Bu!” Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, “Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!” Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, “Tidak… tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!” Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia. Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening. Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah. Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga…!” Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, “Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga….!” Deggg…!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana. Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. “Ada apa Pak?” Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: “Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!” Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya: “Bu…, aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa! Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu…, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.” Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu Pertanyaan: 1. kesan apa yang kamu dapatkan setelah membaca tulisan tersebut?

7

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Rena : Eh kalian udah belaja buat ulangan besok? Roy : Belum Zainal: Astaga, Innalillahi. Rena : Apa? Kalau nilai ulangannnya jelek bisa dihukum. Zainal: Paling-paling hukumannya juga cuma lari keliling lapangan bola 10 kali doang. Rena : Bukan! Kali ini hukumannya serem, harus ikut pelajaran tambahan setiap pulang sekolah. Kamu sudah belajar Rin? (Melirik ke arah Ririn). Ririn : Sudah dong, Ririn (sambil menunjuk-nunjuk bangga ke dirinya sendiri). Singkat cerita, kemudian mereka bertaruh. Siapa yang nilai ujiannya paling besar, maka akan dianggap menang dan bisa memerintah orang yang kalah. Ririnberusaha keras untuk belajar, sedangkan Roy berjuang keras untuk membuat contekan di kertas kecil. (Saat Ujian) Pak Asep : Baik anak-anak, silahkan buka lembar soalnya sekarang! Ririn : Bismillah. Roy : Soal ini kan gampang sekali. Kalau gini kan gak akan ketahuan. (Sambil menempelkan kertas contekan di pungguh Pak Asep). Pak Asep : Bapak keluar dulu, ingat jangan nyontek atau bertanya pada temannya ya. Dan satu lagi, jangan ribut. (keluar kelas). Roy : Rencana B dimulai (menyilangkan kaki dan melihat kertas contekan di atas sepatunya). Roy : Ah, bukan yang ini (bingung) Roy : Ah yang ini nih! (sambil mengeluarkan kertas contekan dari dasi). Roy : Selesai (sambil merebahkan diri di kursi, tersenyum puas sambil melirik teman-temannya yang lain belum selesai mengerjakan). Akhirnya ulangan selesai, dan Pak Asep membagikan kertas hasil ujian kepada semua siswanya. Pak Asep : Ini hasil ujian kalian (sambil membagikan kertas). Ririn : Hore! Nilaiku 85 (tersenyum puas. Zainal : Hahahaha, aku dapat 65. Lumayan ujian kemarin cuma 60. Roy : Lhah Pak, kok nilai ujian saya cuma 50? Pak Asep : Sebab soal nomor 11-20 di balik kertas gak kamu isi. Roy : Apa? Masih ada soal lagi? Ririn : Hahahaha, kamu kalah Roy! Dengan ini saya perintahkan kamu gak nyontek lagi waktu ujian! (sambil menunjuk-nunjuk Roy dengan tertawa lepas). Pak Asep : Apa? Jadi kamu kemarin nyontek? Oke, kalau begitu nilai kamu saya kurangi 5 poin lagi! Roy : Aduuuh, apes benar aku ini (mengucek-ngucek rambut) Akhirnya, Roy menyadari kesalahannya dan berjuang keras untuk belajar. Dia tidak pernah menyontek saat ujian lagi. 4. amanat

42

0.0

Jawaban terverifikasi

Lakon Remaja FOGING Karya U. Nurochmat BABAK I PELAKU Wahyu Tukang sol sepatu Raban Pesuruh di balai desa Bi Acih Pedagang di warung Atin Pelajar SMP, anak Bi Acih Hasan Mantri kesehatan ADEGAN l PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA WARUNG BI ACIH PADA SUATU SIANG. JAM DINDING DI WARUNG ITU CUKUP JELAS TERLIHAT MENUNJUKKAN WAKTU PUKUL 13.07. DI DEPAN WARUNG DEKAT TIANG TERONGGOK PIKULAN SOL SEPATU MILIK WAHYU. WAHYU SENDIRI SEDANG SIBUK MENGUNYAH GORENGAN PISANG. SEMENTARA RABAN SEDANG MENIUPI KOPI YANG DIHIDANGKAN BI ACIH. SEDANGKAN ATIN, YANG MASIH BERSERAGAM SEKOLAH SEDANG MENCUCI GELAS DAN PIRING KOTOR DI SAMPING WARUNG. BI ACIH SEDANG MENGGORENG PISANG. Wahyu : (Mulutnya masih disesaki kunyahan goreng pisang) "Jadi, selanjutnya bagaimana kalau begitu?" Raban : (Mengaduk-aduk kopinya dengan sendok. Agak malas menjawab) "Ya, nggak tahulah. Tapi denger-denger, Senin besok akan dimusyawarahkan lagi." Bi Acih : (Tanpa menghentikan pekerjaannya, menoleh sebentar) "Wah, penduduknya keburu banyak yang mati kalo begitu. Masalah kecil saja, musyawarahnya harus beberapa kali." Atin : (Membawa piring dan gelas, yang sudah selesai dicuci, lalu berhenti di samping ibunya) "Tadi di sekolah Atin sudah ada yang dipulangkan karena sakit. Katanya sih, kena DBD." Raban : Ya, gak tahu, itu urusan Pak Lurah, Tin. (menyeruput kopi) Saya kan, cuma pesuruh. Maunya kita memang ingin serba cepat, tapi urusan para pejabat, kan tidak sesederhana itu. (kepada Wahyu) Betul, kan? Wahyu : (tersenyum menyindir) "Ya, memang. Apalagi ini urusan nyawa, Kang! Kalau aparatnya gesit, tentu gak begini. Cuma ngurus pengasapan nyamuk saja perlu musyawarah berhari-hari." ADEGAN 2 ATIN KELUAR PANGGUNG ARAH KANAN Bi Acih : "Di Kampung Jongos saja sudah disemprot kemarin." Raban : "Lain, Bi. Desa mereka kan, pake iuran dari masyarakat. Jadi dananya bukan dari kas desa." Bi Acih : "Aih-aih, kamµ ini, bagaimana, Ban? Kampung kita juga iuran. Kalau gak salah, Pak RT yang nagihin dua minggu yang lalu." Raban : (mengambil pisang) "Ya, gak tahulah, kalau begitu." Wahyu : "Kang Raban ini pegawai desa, tapi tidak tahu. Jangan-jangan Kang Raban tidak ikut iuran, ya?" Bi Acih : "Ya, nggaklah!" RABAN TERSENYUM MALU ADEGAN 3 HASAN DATANG DENGAN PAKAIAN DAN TAS DINASNYA. DIA TAMPAKNYA SUDAH BIASA MAMPIR DI WARUNG BI ACIH. Raban : (Girang melihat kedatangan Hasan) "Nah, Pak Hasan, nih, yang mengerti masalahnya. Kamu boleh tanya lebih banyak kepada beliau." Hasan : (Duduk di samping Raban) "Apa, sih?" (tersenyum) "Minum saja belum, sudah dituduh mengerti. Coba Mas Raban ceritakan dulu, apa persoalannya?" Wahyu : "Aku yang ngomong!" (sambil mengubah posisi duduknya) "Di beberapa kampung sudah banyak yang terkena demam berdarah, Pak." Hasan : (Hanya melirik dan tersenyum. Perhatiannya segera beralih kepada Bi Acih) "Tolong buat es teh manis, Bi." Wahyu : (Tidak terpengaruh untuk melanjutkan pembicaraannya) "Beberapa minggu yang lalu Pak RT memberitahukan bahwa pengasapan di kampung kita ini akan dilaksanakan sekarang, tapi, kata Kang Raban, belum bisa dilakukan. Nah, kenapa tuh, Pak?" Hasan : (Menerima segelas teh manis dari Bi Acih) "O, begitu. Mungkin belum ada biayanya?" Bi Acih : "Sudah, Pak Mantri. Malah sudah lama." · Hasan : "Ya, mungkin, peralatannya yang belum ada. Kalaupun ada, mungkin belum giliran kita karena keterbatasan peralatan, atau karena prosedur." ADEGAN 4 ATIN DATANG SUDAH BERGANTI PAKAIAN. Hasan : "Lagi pula masalah demam berdarah tidak akan selesai dan teratasi hanya dengan foging. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan bersama." Atin : "Betul Pak Mantri. Kata Pak Guru juga ada cara lain yang dapat kita lakukan, yaitu 3M, menguras, mengubur, dan menutup barang-barang yang menampung air." Hasan : ''Tuh, kalau sekolah begitu. Biar masih anak-anak, sudah banyak tahu." Raban : "Benar, ya. Saya menyesal dulu nakal, jadi SD aja gak tamat. Nasibnya, ya, begini ... jadi tukang sapu kantor desa." Wahyu : "Sama, saya juga cuma jadi tukang sol." Hasan : "Tapi, ingat! Menyesal kemudian tiada guna. Jadi tidak perlu kita menyesali nasib berkepanjangan. Sekarang syukuri saja yang sudah ada. Barang siapa yang pandai bersyukur, niscaya Allah melipatgandakan kenikmatannya." SEMUA MENGANGGUK-ANGGUK PUAS DAN MENGERTI. HASAN MEMINUM TEH MANISNYA. Bi Acih : "Pak Hasan belum menerangkan alasan foging di kampung kita belum dilakukan." Hasan : "Pertama, mungkin biaya belum ada. Kalau sudah ada, kedua, mungkin peralatan terbatas. Ketiga, prosedur atau strategi pengasapan mengharuskan kampung ini ditunda penyemprotannya." Wahyu : (Heran sampai mulutnya agak menganga) "Maksud Pak Hasan, mm ... apa tuh, tadi yang terakhir? Mmm ...." (memejamkan mata mengingat-ingat) Atin : "Prosedur dan strategi?" Wahyu : (girang) "Nah, itu! Produser dan apa tadi?" Raban : "Energi! (yakin) Duh, payah, nyebutnya aja gak bisa!" Atin : (Tersenyum bersama Hasan, dan Bi Acih) "Bukan, Bang! Tapi Prosedur dan strategi." Hasan : "Begini,'' (memindahkan letak gelasnya) "Prosedur artinya aturan atau petunjuk tatacara melakukannya. Sedangkan strategi itu taktik agar pengasapan benar-benar efektif artinya berhasil dengan baik." Wahyu : (kepada Raban) "Mengerti, gak?" Raban : "Ala, seperti kamu mengerti aja." MELANJUTKAN MINUMNYA. SELESAI peristiwa apa yang dialami oleh mereka?

13

0.0

Jawaban terverifikasi

Gadis sore ini setelah jam kerjanya menjaga toko Bu Gilang selesai, ia mengunjungi rumah Rista sahabatnya semasa SMA dulu. Gadis : Sore, Ris. Rista : Sore juga, apa kabar? Gadis : Masih seperti biasanya. Merasa gila* karena usai gajian langsung jatuh miskin semiskin-miskinnya. Rista : Pindah kerja saja, Dis. Kamu ada setoran rutin dengan gaji seperti kutukan segitu kamu gak akan bisa makan layak. Gadis : Maunya juga gitu, tapi kalau tak lepas belum tentu aku segera dapat kerja yang baru. Nanti tambah kasihan ibuku ... Rista : Nanti coba tak tanya temen kalau ada info lowongan. Rista lalu mengambil smartphone-nya, dan menghubungi salah satu kontak di sana. Rista : Hallo Intan, bisa bantu? Intan : Bantu apa, Ris .. ? Rista : Kalau ada info lowongan di resto bapakmu hubungi aku ya? Intan : Wah ... mau kuliah nyambi kerja? Rista : Bukan, ini untuk temanku ... OK .. ? Rista menutup telepon dan seulas senyum tersirat di wajah manisnya yang kalem. Rista : Temanku bilang kalau ada lowongan dia hubungi aku. Resto bapaknya lumayan besar, gajinya gak akan mengecewakan. Di sana kamu dapat jatah libur, gak kerja rodi seperti yang sekarang. Gadis : Iya, makasih ya, Ris. Gadis hendak berpamitan pulang, saat sampai di depan pagar rumah Rista. Lewatlah sepasang suami istri, Bu Gilang dan Pak Bayu. Gilang : Jangan tidur larut malam, Dis. Ingat, besok kerja! Rista seketika merasa marah, di luar jam kerja masih saja diurusi majikan yang cerewetnya minta ampun. Heran Gadis bisa betah, coba kalau tidak ada tanggungan sudah lama Gadis kabur! Bayu : Ibu apa-apaan sih, kan sudah bukan urusan kita Gadis mau tidur jam berapa. Yang penting besok bisa masuk kerja. Gilang : Bapak tahu gak, kalau Rista itu sepertinya mau membuat Gadis keluar dari toko. Nanti bahaya Pak, kita bisa kerepotan! Mbok cari cara biar Gadis gak bisa pindah kerja ... Bayu : Kita kan sudah menggajinya sedikit, mana bisa pindah dia? Nanti juga kesulitan buat nabung dan gak berani keluar ... Gadis kini sudah sampai di kostnya, merasa lelah dan pening kepalanya. Serasa mau pecah, memikirkan nasibnya yang terasa buram nyaris suram masa depan. Ia hanya bisa berdoa malam ini, semoga keajaiban datang! Tiba-tiba pintu kostnya diketuk. Rista : Dis, kita ke rumahku. Temenku datang, bilang resto bapaknya memang butuh karyawan. Akhirnya Gadis pun kembali ke rumah Rista dan bertemu dengan Pak Rudi. Rudi : Resto saya sedang butuh waitress. Kalau kamu mau. Gadis : Saya mau, Pak, tapi saya belum keluar dari tempat kerja yang sekarang. Rudi : Wah, susah ya ... Rista : ltu bukan masalah, Pak, toh Gadis butuh uang buat bantu ibunya. Bapak bantulah pak ... Rudi : Kamu keluar dulu, nanti kamu datang ke resto bapak. Gadis merasa lega bukan main. Kini tinggal selangkah lagi untuk bisa keluar dari pekerjaan yang menyiksanya lahir batin. Sayangnya saat mengajukan pengunduran diri, Gadis diberi waktu enam bulan. Alasannya untuk mendapatkan karyawan penggantinya terlebih dahulu. Gadis merasa berat jika harus mengencangkan sabuk hingga 6 bulan lamanya. Khawatir badan tinggal tulang, takut pulang bertemu sang ibu. Gadis : Saya gak bisa kalau menunggu 6 bulan lagi. Besok lusa saya sudah harus bekerja di tempat baru. Gilang : Kok bisa??! Gak bisa ini ... ! Rista : Kok gak bisa kenapa, Bu? Wong ibu juga gak ngasih gaji layak. Ya harus terima karyawan gak bisa loyal. .. Sudah, ayo pulang, Dis! Yang penting sudah bilang. Toh lusa kamu sudah kerja di tempat yang lebih baik. Gilang : Kamu tak laporkan polisi loh ... Rista : Laporkan saja, Bu. Nanti saya juga laporkan ibu ke Depnaker ... biar digerus toko ibu! Bu Gilang hanya diam seribu bahasa, tidak bisa berkata meskipun hanya sepatah. Gadis akhirnya pergi bersama Rista. Gadis : Wah ... kamu berani juga ya sama orang tua ... Rista : Orang dzalim itu harus dilawan. Diam itu emas, Dis. Tapi, mengatakan kebenaran adalah intan permata. Gak akan sadar orang kalau kita cuma menunggu dan diam saja ... Gadis mengangguk setuju dengan pendapat Rista barusan. Selang sehari setelahnya, Gadis kini sudah bekerja di resto besar. Membuatnya merasa bersyukur, saat kesabarannya berbuah manis. Ia berharap rezeki yang didapatkan akan lebih baik, dan memberikan bantuan yang layak kepada ibunya di rumah. Agar tidak lagi bersusah dan bersedih. (Sumber: www.sahabatnesia. comjcontoh-teks-naskah-drama/) Identifikasi tema teks drama tersebut!

1

4.0

Jawaban terverifikasi