Indana R

21 Juni 2024 07:18

Iklan

Iklan

Indana R

21 Juni 2024 07:18

Pertanyaan

Flexing menjadi bentuk perubahan sosial kontemporer sebagai akibat kemunculan media sosial. Kehadiran media baru tersebut berdampak pada kemampuan individu dan masyarakat dalam menggunakan media. Selain menjadi konsumen, mereka dapat pula menjadi produsen atas suatu konten media sehingga mereka dapat membuat berita tentang dirinya, seperti flexing. Perubahan sosial masyarakat dalam mengunakan media ini dapat dipahami secara tepat dengan menggunakan perspektif teori..... (A) evolusi (B) konflik (C) fungsional (D) siklus Tolong pakai pembahasannya


102

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Nanda R

Gold

21 Juni 2024 12:44

Jawaban terverifikasi

<p>Perubahan sosial masyarakat dalam penggunaan media sosial, termasuk fenomena flexing di media tersebut, dapat dipahami secara tepat dengan menggunakan perspektif teori:</p><p><strong>C. fungsional.</strong></p><p>Teori fungsionalisme menekankan bagaimana bagian-bagian dari suatu sistem (dalam hal ini, media sosial dan masyarakat) saling berinteraksi untuk mencapai keselarasan dan kestabilan. Dalam konteks ini, media sosial berperan sebagai alat yang memfasilitasi interaksi sosial dan pertukaran informasi di antara individu dan kelompok. Fenomena flexing, di mana individu menciptakan dan mempromosikan gambaran diri mereka sendiri secara lebih positif atau glamor, dapat dipahami sebagai upaya untuk mencapai status atau pengakuan sosial dalam komunitas digital. Teori fungsionalisme membantu kita memahami bagaimana fenomena seperti ini berkontribusi terhadap integrasi sosial dan stabilitas dalam masyarakat modern yang semakin terhubung secara digital.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

Perubahan sosial masyarakat dalam penggunaan media sosial, termasuk fenomena flexing di media tersebut, dapat dipahami secara tepat dengan menggunakan perspektif teori:

C. fungsional.

Teori fungsionalisme menekankan bagaimana bagian-bagian dari suatu sistem (dalam hal ini, media sosial dan masyarakat) saling berinteraksi untuk mencapai keselarasan dan kestabilan. Dalam konteks ini, media sosial berperan sebagai alat yang memfasilitasi interaksi sosial dan pertukaran informasi di antara individu dan kelompok. Fenomena flexing, di mana individu menciptakan dan mempromosikan gambaran diri mereka sendiri secara lebih positif atau glamor, dapat dipahami sebagai upaya untuk mencapai status atau pengakuan sosial dalam komunitas digital. Teori fungsionalisme membantu kita memahami bagaimana fenomena seperti ini berkontribusi terhadap integrasi sosial dan stabilitas dalam masyarakat modern yang semakin terhubung secara digital.

 

 


Iklan

Iklan

Salsabila M

Community

22 Juni 2024 06:07

Jawaban terverifikasi

<p>Perubahan sosial masyarakat dalam menggunakan media sosial, termasuk fenomena seperti flexing, dapat dipahami secara tepat dengan menggunakan perspektif teori:</p><p>(C) fungsional</p><p>Teori fungsionalisme dalam sosiologi menganggap bahwa masyarakat adalah sistem yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berinteraksi untuk mempertahankan keselarasan dan stabilitas sosial. Dalam konteks media sosial dan flexing, teori fungsionalisme menyoroti bagaimana penggunaan media sosial memungkinkan individu untuk memenuhi kebutuhan fungsional seperti ekspresi diri, interaksi sosial, dan pembentukan identitas dalam masyarakat modern. Melalui media sosial, individu dapat berperan tidak hanya sebagai konsumen informasi tetapi juga sebagai produsen konten, termasuk konten yang menunjukkan pencapaian atau keberhasilan mereka (flexing).</p><p>Jadi, jawaban yang tepat adalah:</p><p>(C) fungsional</p>

Perubahan sosial masyarakat dalam menggunakan media sosial, termasuk fenomena seperti flexing, dapat dipahami secara tepat dengan menggunakan perspektif teori:

(C) fungsional

Teori fungsionalisme dalam sosiologi menganggap bahwa masyarakat adalah sistem yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berinteraksi untuk mempertahankan keselarasan dan stabilitas sosial. Dalam konteks media sosial dan flexing, teori fungsionalisme menyoroti bagaimana penggunaan media sosial memungkinkan individu untuk memenuhi kebutuhan fungsional seperti ekspresi diri, interaksi sosial, dan pembentukan identitas dalam masyarakat modern. Melalui media sosial, individu dapat berperan tidak hanya sebagai konsumen informasi tetapi juga sebagai produsen konten, termasuk konten yang menunjukkan pencapaian atau keberhasilan mereka (flexing).

Jadi, jawaban yang tepat adalah:

(C) fungsional


lock

Yah, akses pembahasan gratismu habis


atau

Dapatkan jawaban pertanyaanmu di AiRIS. Langsung dijawab oleh bestie pintar

Tanya Sekarang

Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke Forum

Biar Robosquad lain yang jawab soal kamu

Tanya ke Forum

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Pro dan Kontra Puisi Esai Selama ini, kita mengenal beberapa jenis puisi seperti puisi deskriptif, puisi lirik, puisi naratif, dan lain sebagainya. Namun, bagaimana jika kemudian muncul puisi esai sebagai jenis puisi baru. Hal inilah yang menjadi polemik atau kontroversi di kalangan penyair dan pemerhati sastra pada beberapa tahun lalu. Perdebatan pun terjadi cukup ramai di media masa cetak maupun elektronik hingga menimbulkan berbagai pro dan kontra. Kalangan penyair dan sastrawan pun beberapa ada yang bersikap mendukung/pro tetapi tidak sedikit pula yang menentang/kontra. Pihak yang mendukung beranggapan bahwa perpuisian Indonesia saat ini mirip dengan kondisi Amerika Serikat sekitar tahun 2006. Pada saat itu, puisi makin sulit dipahami dan seakan berada di wilayah yang lain. Penulisannya mengalami kebuntuan dan tidak mengalami perubahan berarti selama puluhan tahun. Munculnya puisi esai dianggap sebagai upaya menjadikan puisi dekat dan dapat mudah dipahami masyarakat umum. Hal ini terutama ditunjukan dengan kehadiran catatan kaki yang merupakan upaya menjelaskan dan mengaitkan isi puisi dengan konteks sosial di luar puisi. Beberapa pihak yang mendukung bahkan tergerak untuk memunculkan angkatan baru puisi esai selain angkatan yang sudah ada sebelumnya. Hal ini ditunjukan dengan penerbitan 34 buku puisi esai di 34 provinsi di seluruh Indonesia yang melibatkan 170 orang dari kalangan penyair, aktivis, penulis, jurnalis, hingga peneliti. Dalam penyebarannya, puisi esai saat ini bahkan sudah mencapai beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Thailand. Adapun, pihak yang menentang berargumen bahwa puisi pada dasarnya identik dengan tulisan fiksi dan bersifat imajinatif. Hal ini berbeda dengan esai yang merupakan teks yang bersifat faktual dan realistis sehingga keduanya tidak bisa gabungkan. Selain itu, terkait klaim beberapa pihak sebagai pencipta pertama jenis puisi esai yang beredar dianggap menyesatkan. Hal ini karena puisi semacam itu bukanlah hal yang baru sebab sebenarnya telah ada sejak masa Alexander Pope, penyair Inggris abad ke 18. Beberapa penyair Indonesia juga pernah menulis puisi dengan tema sosial berbentuk transparan dan memiliki catatan kaki sejenis puisi esai. Beberapa pihak juga menyoroti masifnya gerakan puisi esai karena adanya pihak tertentu yang menjadi sponsor dan mendanai dengan maksud dan tujuan tertentu seperti popularitas dan elektabilitas. Apapun itu, pro kontra kemunculan puisi esai saat ini memang tak terhindarkan. Perdebatan pun tetap berlanjut hingga kini. Sekali pun demikian, diakui atau tidak, aksistensi puisi esai akhirnya menjadi fenomena tersendiri dalam dunia sastra. Dalam sudut pandang positif, hal ini menunjukan kreativitas sastrawan Indonesia dan dapat mengaktifkan kembali diskusi intelektual sesama penyair, sastrawan, maupun masyarakat luas tentang perpuisian Indonesia. Mungkin suatu nanti ada penjelasan dan tempat tersendiri puisi esai. Bahkan hal ini mungkin menjadi pembuka kemunculan jenis puisi- puisi baru lainnya yang menambah dinamika perpuisian dan sastra Indonesia. Semoga. Setelah itu analisislah 1.bagian isu 2.bagian isi/argumen 3.kesimpulan 4.saran

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Dongeng Utopia Masyarakat Borjuis Orientasi (1): 1. Tradisi film musikal yang dikembangkan di Hollywood mengacu pada kecenderungan film-film musikal klasik tahun 1930—1960-an, berpaku pada hal-hal yang berlawanan (oposisi biner), terutama berkaitan dengan gender, ras, agama, latar belakang, atau temperamen. Tradisi oposisi biner tersebut tampak dalam film musikal anak-anak “Rumah Tanpa Jendela”. Film tersebut diadaptasi dari cerpen “Jendela Rara” karya Asma Nadia. Orientasi (2): 2. Kisah dalam film tersebut terinspirasi dari model biner dalam dongeng moral berjudul The Prince and The Pauper karya Mark Twain. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-raya dengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari komunitasnya (anggota keluarga). Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar. Rara tinggal di sebuah rumah tidak berjendela yang terbuat dari seng, tripleks, dan kayu bekas di salah satu kawasan permukiman kumuh. Rumah itu ditempati Rara bersama nenek (Si Mbok) dan ayahnya. Kondisi rumah tersebut membuat Rara terobsesi untuk memiliki sebuah rumah berjendela. Sebuah impian yang harus ia bayar mahal di kemudian hari. Tafsiran isi (1): 3. Mengikuti tradisi opposite attracks, Aldo dan Rara bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan kecil. Sejak saat itu, mereka bersahabat. Persahabatan tersebut bukan hanya pertemanan antarindividu, melainkan pertemuan dua kutub latar belakang status sosial yang berbeda. Hal itu tergambar pada kondisi keluarga Aldo dan teman-teman Rara, antara si miskin dan si kaya. Persahabatan Aldo dan Rara tidak berjalan mulus. Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka. Sementara itu, kemewahan rumah Aldo dengan banyak jendela menularkan obsesi untuk memiliki rumah berjendela di kalangan teman-teman Rara. Tafsiran isi (2): 4. Layaknya dongeng anak-anak dalam majalah Bobo, film “Rumah Tanpa Jendela” menyampaikan ajaran moral pada anak-anak untuk menghadapi realita sosial dalam masyarakat yang terfragmentasi dalam perbedaan, baik secara struktur sosial-ekonomi maupun kondisi fisik/mental. Fungsi ideologis yang ditawarkan film musikal adalah resolusi dari ketakutan akan perbedaan yang diwakili oposisi biner dalam naratif. Namun, permasalahan dari film musikal anak-anak adalah bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh pembuat film agar bisa dipahami oleh anak-anak. Hal ini hanya dimungkinkan dengan melakukan penyederhanaan. Penyederhanaan posisi berlawanan si miskin dan si kaya terwakili oleh narasi sosial-ekonomi Aldo dan Rara. Aldo, si kaya, memiliki berbagai privilege (mobil mewah, rumah mewah, supir, pembantu, dan sekolah khusus). Sementara itu, Rara mewakili narasi kemiskinan dalam segala keterbatasan materialnya: rumah tanpa jendela, sekolah seadanya, dan kerja sampingan. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya. Tafsiran isi (3): 5. Dalam film “Rumah Tanpa Jendela” sikap moral yang disarankan kepada penonton adalah bersyukur. Rara menginginkan hal yang tak mungkin menjadi miliknya, yaitu kemewahan berupa rumah berjendela. Aldo memungkinkan Rara mengakses ini dan bahkan yang lebih lagi: kolam renang, mobil, buku, dan krayon. Namun, keinginan Rara itu dimaknai sebagai keinginan yang berlebihan ketika ia “dihukum” dengan kompensasi yang harus ia bayar. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia. Keinginan Rara untuk memiliki sesuatu, alih-alih dimaknai sebagai hasrat kepemilikan yang lumrah dimiliki semua orang, justru dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi/mengingkari takdirnya sebagai orang yang tidak berpunya. Tafsiran isi (4): 6. Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut digunakan sebagai pelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga Aldo, bahwa mereka harus bersyukur atas semua yang mereka punyai (harta dan keluarga yang utuh), sementara ada orang-orang yang tidak berpunya seperti Rara. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta. Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas budi tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi kepemilikan ataupun terlibat secara dekat. Tafsiran isi (5): 7. Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film tersebut, anak-anak menjadi “penanda” dari kelahiran atau takdir manusia. Permasalahan yang dimiliki anak-anak ini diperlihatkan sebagai sesuatu yang alami dengan lebih menekankan cara menghadapi permasalahan alih-alih mempertanyakan penyebabnya. Hal ini paling tampak dalam posisi biner permasalahan Aldo dan Rara. Kekurangan pada diri Aldo yang mewakili aspek natural takdir disandingkan dengan kemiskinan Rara sehingga membuat kemiskinan ternaturalisasikan lewat logika pemahaman yang sama, alih-alih hasil dari ketidakadilan distribusi kekayaan yang didukung negara, film ini menggambarkan kemiskinan sebagai bagian dari takdir manusia. Tafsiran isi (6): 8. Jendela dalam film “Rumah Tanpa Jendela” merupakan sebuah metafora yang mengena. Jendela memungkinkan seseorang untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dari luar) tanpa meninggalkan tempatnya. Jendela memungkinkan orang melihat, bukan terlibat jika dibandingkan dengan pintu yang menyediakan akses untuk masuk/keluar. Jendela adalah rasa syukur atau konsep penerimaan atas suatu kondisi. Dengan si miskin berlapang dada menerima kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan tercipta. Tafsiran isi (7): 9. Dongeng semacam inilah yang ditawarkan “Rumah Tanpa Jendela” pada penonton yang mereka sasar, tidak lain tentu anak-anak kelas menengah atas yang mampu mengakses bioskop sebagai bagian dari leisure activity. Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu dipertanyakan. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata. Evaluasi (1): 10. Sayang, sebagai sebuah film musikal, tidak banyak yang disumbangkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan dan ditarikan dalam film ini, kecuali penekanan dramatis belaka. Satu-satunya yang terwakili oleh scene-scene musikal dan gerak kamera serta editing yang kadang hiperaktif adalah energi dan semangat kanak-kanak. Adegan musikal kebanyakan merupakan penampilan kolektif, jarang ada penampilan tunggal (solo). Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu “karateristik” film musikal klasik Hollywood yang ingin menjual ide-ide soal komunitas dan stabilitas sosial, baik relasi interkomunitas (konflik keluarga Aldo) maupun antarkomunitas (konflik antara keluarga Aldo dan komunitas Rara). Evaluasi (2): 11. Penggambaran kemiskinan dalam film tersebut tidak berlebihan. Film tersebut menggambarkan keluarga baik-baik dan protektif untuk meyakinkan bahwa pergaulan Rara terbebas dari eksploitasi maupun perilaku destruktif yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat miskin di belahan dunia manapun. Lagipula, memakai perspektif realisme sosial dalam menilai film musikal adalah sia-sia, mengingat film musikal sendiri menawarkan utopia dalam bentuk hiburan dengan mengacu pada diri sendiri (self-reference). Dalam hal ini, film musikal mengamini konsep “film yang menghibur” sebagai utopia itu sendiri. Namun, pertanyaannya adalah utopia menurut siapa? Rangkuman: 12) Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa film “Rumah Tanpa Jendela” memungkinkan kita bicara mengenai posisi biner kelas sosial-ekonomi lewat model film musikal klasik ala Hollywood. Film ini menawarkan model utopia dalam merespons kondisi masyarakat Indonesia yang terfragmentasi dalam kelas-kelas sosial-ekonomi, yaitu utopia atau kondisi hidup ideal yang dibayangkan oleh kelas menengah atas. (Diadaptasi dari: http://filmindonesia.or.id) Jelaskan makna kalimat pada tafsiran isi 7: Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak di depan mata?

33

0.0

Jawaban terverifikasi

Iklan

Iklan

Galon lsi Ulang atau Galon Sekali Pakai? Media sosial tengah diramaikan soal lebih baik mana, antara galon air kemasan sekali pakai atau galon isi ulang. Galon air kemasan yang telah dikenal masyarakat puluhan tahun dianggap lebih ramah lingkungan karena bisa diisi u lang. Dengan demikian, galon isi ulang dianggap tidak menambah jumlah sampah plastik. Air kemasan galon yang telah dikenal masyarakat puluhan tahun menjadi yang lebih ramah lingkungan karena bisa diisi ulang di pabrik dan terbukti aman dikonsumsi, serta tidak menambah jumlah sampah plastik. Guru Besar lnstitut Pertanian Bogor (IPB} sekaligus Pakar Keamanan Pangan , Prof. lr. Ahmad Sulaeman, Ph.D., mengatakan bahwa setiap produk yang sudah dikemas dan disegel sesuai standar yang telah d itetapkan, sudah pasti higienis dan aman dikonsumsi. "Air kemasan galon (bukan kemasan sekali pakai) yang diisi ulang di pabrik sudah memenuhi standar keamanan pangan dan lebih ramah lingkungan," kata Ahmad. Di sisi lain, para ahli mengimbau masyarakat agar menghindari konsumsi air kemasan galon sekali pakai sebab akan menambah jumlah sampah plastik. Galon air sekali pakai diklaim lebih aman dan bebas dari bahan berbahaya karena berbahan Polyethylene terephthalate (PET}. PET sering digunakan untuk mengemas banyak makanan dan minuman, karena memiliki kemampuan yang baik untuk mencegah oksigen masuk dan merusak produk. Galon atau kemasan p lastik sekali pakai bahan PET dengan kode daur u lang "no. 1" dapat segera didaur ulang dan menjadi bahan-bahan bermanfaat. Asosiasi Daur U lang Palstik Indonesia (ADUPI}, Christian Halim, mengatakan bahwa kehadiran galon air kemasan sekali pakai justru bisa menghemat pemakaian plastik. "Contoh dengan satu galon bisa memuat 19 liter air. Jika digantikan dengan botol yang isinya 500 ml, malah menambah jumlah sampah botol yang dipakai. Perusahaan daur ulang plastik juga lebih mudah u ntuk mendaur ulang. lni justru ramah lingkungan," kata Christian dalam webinar LSM Sahabat Daur Ulang. Sumber: http://web.archive.org/web/2020 1204042919/https:/lwww. f/putan6.com/citizen6/read/44 12060/galon-air-sekali-pakai-bernilai-tinggi-dan-mudah-didaur-u/ang dan http://web.archive. org/web/20201 1282330 13/https://www.kompas.com/tren/read/2020/11/16/1 73651465/mengena/-bahanga/on-sekali-pakai-dan-galon-isi-ulang-serta-dampaknyabagi?page=all, diakses 19 Februari 2021 Tentukan pendapat pro dalam teks tersebut!

2

1.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah wacana berikut untuk menjawab soal. Laptop Menjadi Teman Istirahat Lebih dari sepuluh mahasiswa berada di teras Unit Pelayanan Terpadu Pusat Komputer (UPT Puskom) UNS yang berada di Kampus Kentingan, Jalan Ir. Sutami. Solo. Mereka semua tenggelam dalam keasyikan masingmasing. Ada yang sibuk mencari data untuk tugas kuliah dengan membuka berbagai situs intemet, ada juga yang hanya mengisi waktu istirahat dan ngobrol bersama teman-teman lewat chatting. Saat ini untuk mengakses intemet, mahasiswa UNS tidak perlu lagi jauh-jauh mencari warung internet atau wamet. Cukup membawa laptop dan mencari lokasi jaringan internet tanpa kabel atau hotspot area, pasti bisa mengakses internet dengan gratis. Menurut Kepala UPT Puskom UNS Dr. Sutanto, S.Si. DEA. saat ini ada delapan titik hotspot yang tersebar di lingkungan UNS Kampus Kentingan Titik hotspot terdapat di Gedung UPT Puskom, Perpustakaan, Gedung SPMB Kantor Pusat. Fakultas Hukum. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Demikian mudahnya mengakses interet di Kampus UNS membuat para mahasiswa, khususnya yang mempunyai laptop betah berada di kampus. Mengakses intemet sambil menunggu mata kuliah berikutnya merupakan hal yang menyenangkan. Waktu luang bisa terisi dengan mengerjakan tugas sekaligus mencari data di internet. Fasilitas jaringan internet tanpa kabel ini dipersembahkan Puskom UNS untuk mengantisipasi tuntutan kemajuan teknologi informasi pada era globalisasi. Untuk mendukung akses internet di kampus ini, selain Gedung Puskom UNS dibangun sebuah menara base transceiver station atau BTS. Selain menghadirkan hotspot, Puskom UNS juga mengembangkan jaringan internet dan intranet yang terhubung ke seluruh unit di lingkungan UNS. Di bidang akademik, UNS mengembangkan sistem informasi dengan basis jaringan secara tersambung atau anna. Saat ini, selain pengumuman SPMB yang dilakukan secara anire, registrasi dan heregristrasi serta untuk mengetahui hasil studi, mahasiswa UNS dapat mengakses dari tempat mana pun, cukup mengunjungi http://siakad.uns.ac.id atau melalui SMS ke nomor 3011 (indosat) dan 1103 (Flexi). Sumber: Kompas, 11 Maret 2008 Selain menghadirkan hotspot, Puskom UNS juga mengembangkan jaringan internet dan intranet yang terhubung ke seluruh unit di lingkungan UNS. Dalam hal ini Puskom UNS berperan sebagai . . . . a. monitoring of change b. pelaku perubahan c. pengendali perubahan d. agent of change

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Menyelami Dunia Jurnalistik Oleh: Daspan Haryadi Kode buku : RR.K00071 Judul : JURNALISTIK TEORI DAN PRAKTIK Pengarang : HIKMAT KUSUMANINGRAT, DKK. Penerbit : Rosda Karya Tahun terbit : 2005 Dimensi : HVS 60 GR, 16 X 24 em, 343 HLM + xv Halaman : 343 Halaman ISBN : 979-692-374-2 Harga buku : Rp 51.000,00 Dunia jurnalistik akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang cukup cepat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya media massa, baik media elektronik maupun media cetak. Dalam skala lokal, nasional maupun internasional. Perkembangan jurnalistik yang mengagumkan ini secara otomatis menimbulkan persaingan yang ketat di antara media massa. Masing-masing media berupaya agar media mereka menjadi salah satu media kepercayaan khalayak umum untuk disimak. Tanpa adanya kepercayaan masyarakat terhadap sebuah media, nonsense media itu dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Untuk memasuki dunia jurnalistik saat ini tidaklah mudah. Karena, seseorang yang ingin terjun dalam dunia jurnalistik mesti mempunyai bekal yang cukup, terutama dalam hal seluk beluk dunia jurnalistik. Sementara pengetahuan yang berkaitan dengan seluk-beluk jurnalistik sendiri terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Tanpa menyadari akan adanya banyak seluk beluk ini dan tanpa mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia jurnalistik, seorang jurnalis akan mengalami kesulitan menjalankan tugas jurnalistiknya. Untuk menjawab tantangan ini banyak jalan yang dapat ditempuh. Salah satunya dengan membaca referensi jurnalistik yang tersedia. Buku karangan Hikmat K. dan Purnama K. dengan judul Jurnalistik Teori dan Praktik adalah di antaranya. Sebuah buah tangan dan sumbangsih kakak beradik dalam dunia yang digelutinya selama lebih kurang 30 tahun. Jangan cepat termakan isu negatif yang menyudutkan teori dan yang penting kenyataan. Seakan-akan teori itu salah dan tidak diperlukan. Seringkali sebuah teori terkesan berbelit-belit dan tidak jarang pula bertolak belakang dengan kenyataan yang ada sehingga nada-nada sumbang seperti: ah teori ...! itukan teori ... ! menjadi ucapan sehari-hari. Tidak benar bila teori dikatakan berbelit-belit. Tetapi memang benar bila teori dikatakan sulit dipahami. Karena itu, orang yang mengatakan teori itu berbelit-belit adalah pecundang alias orang yang tidak berupaya dan tidak sabar untuk memahami teori tersebut. Juga tidak benar mengatakan teori yang tidak mempunyai relevansi dengan kenyataan. Karena, dalam paradigma ilmu sosial teori itu dipayungi oleh situasi dan kondisi (lingkungan). Buku "Jurnalistik: Teori dan Praktik" ini adalah perpaduan teori dan praktik. Karena hal-hal teoritis yang dibahas dalam buku ini mempunyai relevansi dengan dunia jurnalistik saat ini. Teori dalam hal ini berg una untuk mengukur berhasil atau tidaknya suatu praktik. Karena, menilai suatu kenyataan atau realitas, hanya dapat dilakukan bila kenyataan itu dikonfrontasikan dengan ideal-ideal, dengan kriteria sebagai patokan-patokan teoritis. Kedua insan pers sedarah, pengarang buku ini, memulai pemaparannya pada bab 2 tentang Pers dan Jurnalistik. Kemudian secara sistematis, mereka mengupas pelbagai topik permasalahan berkaitan dengan dunia jurnalistik yang dirangkum dalam bab demi bab: Seputar Berita (Bab 3); Prose menghimpun Berita (Bab 4); Kendala Menghimpun Berita (Bab 5); Wartawan Profesional (Bab 6); Menulis dan Gaya Penulisan Berita (Bab 7); Berita Pidato, Pertemuan, dan Wawancara (Bab 8); Menulis Berita Olah Raga (Bab 9); Feature dan Human Interest (Bab 10); Reportase Interpretatif (Bab 11); Reportase Investigatif (Bab 12) dan Jurnalis Pembangunan (Bab 13). Terakhir (Bab 14) buku ini mengetengahkan Teknologi di Dapur Redaksi. Prof. Dr. Muhammad Budiyatna, MA, Guru Besar Ilmu Kamunikasi FISIP UI dalam pengantarnya, secara garis besar mengklasifikasi isi buku ini dalam tiga bagian; landasan teori tentang pers, termasuk sistem pers yang berlaku di mancanegara dari zaman ke zaman, termasuk pula di Indonesia. Setelah itu dibahas pula mengenai apa dan bagaimana rumusan berita, prasyarat sebuah berita dan bagaimanan prasyarat wartawan yang baik. Kemudian dibahas pula masalah kendala dalam menghimpun berita, rambu-rambu etika dan hukum, hingga halhal yang bersifat praktis dalam peliputan dan penyajian berita (Hal IV). Tidak ketinggalan pula, buku ini juga melampirkan hal-hal yang berkaitan dengan jurnalistik, di antaranya;Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia, Pedoman Penulisan Tentang Hukum, Pedoman Penulisan Bidang Agama, Pedoman Penulisan tentang Koperasi, Pedoman Penulisan Tentang pertanian dan Perburuhan, Pedoman Penulisan Tentang DPR, Pedoman Penulisan tentang Teras Berita, Pedoman Pemakaian Bahasa dalam Pers, dan terakhir UU RI NO. 40/1999 tentang Pers. lsi buku ini penting untuk diperhatikan bagi siapa saja, terutama mereka yang bergelut dengan dunia jurnalistik, baik mahasiswa jurnalistik itu sendiri maupun para praktisinya. Bahkan dalam pengantarnya Muhammad Budiyatna mengatakan buku ini sebagai buku kedua di bidang jurnalistik di tanah air yang berkelas (Bermutu) -setelah bukunya Djawoto, Jurnalistik dalam Praktik (1959), seorang wartawan senior yang waktu itu memangku jabatan sebagai Kepala Kantor Berita Nasional ANTARA. Karena itu tidaklah berlebihan bila buku ini didudukan sebagai panduan untuk menyelami dunia jurnalistik. (Sumber: http://rosda.co. id) 2. Identifikasilah format dan sistematika resensi di atas! f. Kelemahan buku

2

0.0

Jawaban terverifikasi