Ahza S

16 Mei 2024 01:46

Iklan

Ahza S

16 Mei 2024 01:46

Pertanyaan

buatlah 3 puisi bermajas hiperbola

buatlah 3 puisi bermajas hiperbola

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

09

:

22

:

39

Klaim

2

2

Jawaban terverifikasi

Iklan

Dea K

Community

16 Mei 2024 11:05

Jawaban terverifikasi

<h2><u>PUISI I</u></h2><p><strong>Ombak Besar di Laut Jiwa</strong></p><p>Di lautan jiwaku yang luas dan dalam</p><p>Ombak besar menggelora dengan amarah tak terbendung</p><p>Menghantam karang-karang kehidupan dengan kekuatannya yang menggemparkan</p><p>Menimbulkan gemuruh yang menggetarkan batin.</p><p>&nbsp;</p><p>Mereka melonjak tinggi, setinggi gunung yang menjulang ke langit, Seperti raksasa yang mengacungkan tangan-tangannya ke angkasa, Menyapu segala yang berani menghalangi jalan mereka</p><p>Menghancurkan segala yang menghalangi kemegahan mereka.</p><p>&nbsp;</p><p>Air mata dari matahari, hujan turun dengan derasnya</p><p>Seperti ribuan panah yang dilepaskan oleh dewa kemarahan</p><p>Membasahi tanah kering yang haus akan belas kasihan</p><p>Menyuburkan kembali hati yang telah mati.</p><p>&nbsp;</p><p>Namun, di tengah kekuatan yang menggemparkan ini</p><p>Ada keindahan yang tak terkalahkan, kelembutan yang tak terpatahkan,&nbsp;</p><p>Seperti pelangi setelah badai yang dahsyat</p><p>Mengingatkan kita akan keajaiban alam dan keajaiban jiwa.</p><p>&nbsp;</p><p>Ombak besar di lautan jiwaku ini</p><p>Mengajariku bahwa dalam kekuatan ada kelemahan</p><p>Dan dalam kelemahan ada kekuatan yang tak terkalahkan</p><p>Sebagai bagian dari alam semesta yang ajaib dan misterius.</p><p>&nbsp;</p><h2><u>PUISI II</u></h2><p><strong>Awan Tak Tertandingi</strong></p><p>Di langit biru yang luas, di atas kepala kita</p><p>Berkumpulah awan-awan seperti pasukan yang tak terkalahkan,&nbsp;</p><p>Menggumpal menjadi bentuk-bentuk fantastis yang menggetarkan,&nbsp;</p><p>Seperti kastil-kastil berdiri megah di atas tanah.</p><p>&nbsp;</p><p>Mereka menggeliat, mengubah bentuk dengan cepat</p><p>Seolah-olah menciptakan dunia baru setiap detiknya</p><p>Menyembunyikan matahari yang berkilauan dengan kemegahan mereka,&nbsp;</p><p>Menciptakan permainan cahaya dan bayangan yang tak terlupakan.</p><p>&nbsp;</p><p>Bukanlah awan biasa, mereka adalah raksasa di langit</p><p>Mengendalikan cuaca dengan tarian mereka yang megah</p><p>Menyapu hujan dengan gemuruh dan kilat</p><p>Seolah-olah mereka adalah tuan di alam semesta ini.</p><p>&nbsp;</p><p>Namun, di balik kemegahan dan keangkeran mereka</p><p>Ada kelembutan yang tak terbandingkan</p><p>Seperti kapas lembut yang menyentuh langit</p><p>Menyelimuti bumi dengan cinta yang tak terbatas.</p><p>&nbsp;</p><p>Awan tak tertandingi ini, ah, betapa luar biasanya</p><p>Mereka mengajarkan kita tentang kebesaran alam dan kerendahan hati,&nbsp;</p><p>Bahwa meski kita bisa menjadi kuat dan hebat</p><p>Kita juga harus belajar untuk menjadi lembut dan penuh kasih.</p><p>&nbsp;</p><h2><u>PUISI III</u></h2><p><strong>Pohon Abadi</strong></p><p>Di rimba belantara, menjulanglah pohon abadi</p><p>Tingginya setinggi langit, menjulang tanpa batas</p><p>Akar-akarnya menancap kuat, menyentuh inti bumi</p><p>Seperti jaringan ribuan tangan yang merangkul dunia.</p><p>&nbsp;</p><p>Daun-daunnya, sebesar layar kapal yang mengarungi lautan</p><p>Menyaring sinar matahari dengan sempurna</p><p>Menjadi atap langit yang menakjubkan</p><p>Membayangi tanah dengan kemegahannya yang tak tergoyahkan.</p><p>&nbsp;</p><p>Dahan-dahannya, kuat dan tegar seperti baja</p><p>Menyambut angin dengan kelembutan yang tak terbantahkan</p><p>Menari-nari dengan gemulainya di bawah cahaya rembulan</p><p>Seperti permaisuri yang mempesona dalam gemerlap malam.</p><p>&nbsp;</p><p>Buah-buahnya, sebesar matahari yang bersinar terang</p><p>Menggoda semua makhluk dengan kelezatan yang tiada tara,&nbsp;</p><p>Menyediakan sumber kehidupan bagi yang lapar dan haus</p><p>Seperti keajaiban yang terus-menerus memberi.</p><p>&nbsp;</p><p>Pohon abadi ini, lebih dari sekadar flora bias</p><p>Mereka adalah penjaga rahasia alam semesta</p><p>Mengajar kita tentang keteguhan dan keindahan</p><p>Menjadi tumpuan bagi jiwa-jiwa yang lelah dan terluka.</p><p>&nbsp;</p><p>Hadirnya, kita merasakan ketenangan yang mendalam</p><p>Dalam pelukan pohon abadi yang tak tergoyahkan</p><p>Mereka adalah pilar kehidupan yang tak tergantikan</p><p>Menghubungkan kita dengan esensi keberadaan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p><strong>PENJELASAN</strong></p><p>Puisi-puisi di atas menggunakan gaya bahasa hiperbola dengan cara yang berlebihan atau dramatis untuk menciptakan efek yang kuat dan menarik perhatian pembaca. Berikut adalah alasan mengapa mereka termasuk gaya hiperbola:</p><p>&nbsp;</p><p><strong>Puisi Pertama ("Ombak Besar di Laut Jiwa"):</strong></p><ul><li>Menggunakan deskripsi ombak yang menggelora dengan "amarah tak terbendung" dan "gemuruh yang menggetarkan batin" untuk mengekspresikan emosi yang intens.</li><li>Membandingkan tinggi ombak dengan "gunung yang menjulang ke langit" dan "raksasa yang mengacungkan tangan-tangannya ke angkasa" secara berlebihan, mengekspos intensitasnya.</li></ul><p><strong>Puisi Kedua ("Awan Tak Tertandingi"):</strong></p><ul><li>Menggambarkan awan sebagai "pasukan yang tak terkalahkan" dan "tuan di alam semesta ini," melebih-lebihkan kekuatan dan pengaruhnya.</li><li>Membandingkan pergerakan awan dengan "tarian mereka yang megah," menekankan dramatisasi gerakan alam yang luar biasa.</li></ul><p><strong>Puisi Ketiga ("Pohon Abadi"):</strong></p><ul><li>Menggambarkan pohon sebagai "penjaga rahasia alam semesta" dan "tumpuan bagi jiwa-jiwa yang lelah dan terluka," secara berlebihan memperbesar peran dan pentingnya.</li><li>Menggunakan gambaran buah pohon sebesar "matahari yang bersinar terang," menggambarkan kelezatan dan keajaiban buah pohon dengan intensitas yang dramatis.</li></ul><p>&nbsp;</p><p>Dengan menggunakan kata-kata dan gambaran yang berlebihan seperti ini, puisi-puisi tersebut menciptakan efek yang kuat dan memperdalam pengalaman pembaca.</p>

PUISI I

Ombak Besar di Laut Jiwa

Di lautan jiwaku yang luas dan dalam

Ombak besar menggelora dengan amarah tak terbendung

Menghantam karang-karang kehidupan dengan kekuatannya yang menggemparkan

Menimbulkan gemuruh yang menggetarkan batin.

 

Mereka melonjak tinggi, setinggi gunung yang menjulang ke langit, Seperti raksasa yang mengacungkan tangan-tangannya ke angkasa, Menyapu segala yang berani menghalangi jalan mereka

Menghancurkan segala yang menghalangi kemegahan mereka.

 

Air mata dari matahari, hujan turun dengan derasnya

Seperti ribuan panah yang dilepaskan oleh dewa kemarahan

Membasahi tanah kering yang haus akan belas kasihan

Menyuburkan kembali hati yang telah mati.

 

Namun, di tengah kekuatan yang menggemparkan ini

Ada keindahan yang tak terkalahkan, kelembutan yang tak terpatahkan, 

Seperti pelangi setelah badai yang dahsyat

Mengingatkan kita akan keajaiban alam dan keajaiban jiwa.

 

Ombak besar di lautan jiwaku ini

Mengajariku bahwa dalam kekuatan ada kelemahan

Dan dalam kelemahan ada kekuatan yang tak terkalahkan

Sebagai bagian dari alam semesta yang ajaib dan misterius.

 

PUISI II

Awan Tak Tertandingi

Di langit biru yang luas, di atas kepala kita

Berkumpulah awan-awan seperti pasukan yang tak terkalahkan, 

Menggumpal menjadi bentuk-bentuk fantastis yang menggetarkan, 

Seperti kastil-kastil berdiri megah di atas tanah.

 

Mereka menggeliat, mengubah bentuk dengan cepat

Seolah-olah menciptakan dunia baru setiap detiknya

Menyembunyikan matahari yang berkilauan dengan kemegahan mereka, 

Menciptakan permainan cahaya dan bayangan yang tak terlupakan.

 

Bukanlah awan biasa, mereka adalah raksasa di langit

Mengendalikan cuaca dengan tarian mereka yang megah

Menyapu hujan dengan gemuruh dan kilat

Seolah-olah mereka adalah tuan di alam semesta ini.

 

Namun, di balik kemegahan dan keangkeran mereka

Ada kelembutan yang tak terbandingkan

Seperti kapas lembut yang menyentuh langit

Menyelimuti bumi dengan cinta yang tak terbatas.

 

Awan tak tertandingi ini, ah, betapa luar biasanya

Mereka mengajarkan kita tentang kebesaran alam dan kerendahan hati, 

Bahwa meski kita bisa menjadi kuat dan hebat

Kita juga harus belajar untuk menjadi lembut dan penuh kasih.

 

PUISI III

Pohon Abadi

Di rimba belantara, menjulanglah pohon abadi

Tingginya setinggi langit, menjulang tanpa batas

Akar-akarnya menancap kuat, menyentuh inti bumi

Seperti jaringan ribuan tangan yang merangkul dunia.

 

Daun-daunnya, sebesar layar kapal yang mengarungi lautan

Menyaring sinar matahari dengan sempurna

Menjadi atap langit yang menakjubkan

Membayangi tanah dengan kemegahannya yang tak tergoyahkan.

 

Dahan-dahannya, kuat dan tegar seperti baja

Menyambut angin dengan kelembutan yang tak terbantahkan

Menari-nari dengan gemulainya di bawah cahaya rembulan

Seperti permaisuri yang mempesona dalam gemerlap malam.

 

Buah-buahnya, sebesar matahari yang bersinar terang

Menggoda semua makhluk dengan kelezatan yang tiada tara, 

Menyediakan sumber kehidupan bagi yang lapar dan haus

Seperti keajaiban yang terus-menerus memberi.

 

Pohon abadi ini, lebih dari sekadar flora bias

Mereka adalah penjaga rahasia alam semesta

Mengajar kita tentang keteguhan dan keindahan

Menjadi tumpuan bagi jiwa-jiwa yang lelah dan terluka.

 

Hadirnya, kita merasakan ketenangan yang mendalam

Dalam pelukan pohon abadi yang tak tergoyahkan

Mereka adalah pilar kehidupan yang tak tergantikan

Menghubungkan kita dengan esensi keberadaan.

 

 

PENJELASAN

Puisi-puisi di atas menggunakan gaya bahasa hiperbola dengan cara yang berlebihan atau dramatis untuk menciptakan efek yang kuat dan menarik perhatian pembaca. Berikut adalah alasan mengapa mereka termasuk gaya hiperbola:

 

Puisi Pertama ("Ombak Besar di Laut Jiwa"):

  • Menggunakan deskripsi ombak yang menggelora dengan "amarah tak terbendung" dan "gemuruh yang menggetarkan batin" untuk mengekspresikan emosi yang intens.
  • Membandingkan tinggi ombak dengan "gunung yang menjulang ke langit" dan "raksasa yang mengacungkan tangan-tangannya ke angkasa" secara berlebihan, mengekspos intensitasnya.

Puisi Kedua ("Awan Tak Tertandingi"):

  • Menggambarkan awan sebagai "pasukan yang tak terkalahkan" dan "tuan di alam semesta ini," melebih-lebihkan kekuatan dan pengaruhnya.
  • Membandingkan pergerakan awan dengan "tarian mereka yang megah," menekankan dramatisasi gerakan alam yang luar biasa.

Puisi Ketiga ("Pohon Abadi"):

  • Menggambarkan pohon sebagai "penjaga rahasia alam semesta" dan "tumpuan bagi jiwa-jiwa yang lelah dan terluka," secara berlebihan memperbesar peran dan pentingnya.
  • Menggunakan gambaran buah pohon sebesar "matahari yang bersinar terang," menggambarkan kelezatan dan keajaiban buah pohon dengan intensitas yang dramatis.

 

Dengan menggunakan kata-kata dan gambaran yang berlebihan seperti ini, puisi-puisi tersebut menciptakan efek yang kuat dan memperdalam pengalaman pembaca.


Iklan

Kevin L

Gold

23 Mei 2024 01:35

Jawaban terverifikasi

1. Di langit biru yang tak terbatas, Bintang-bintang berkelipan seperti berjuta permata. Mereka bersinar dengan cahaya yang memancar, Seperti ribuan petir yang memecah langit. Majas hiperbola digunakan dalam puisi ini untuk memberikan gambaran yang sangat kuat dan berlebihan tentang bintang-bintang di langit. Dengan menggunakan perbandingan seperti "berjuta permata" dan "ribuan petir", puisi ini menggambarkan keindahan dan kebesaran bintang-bintang dengan cara yang dramatis dan mengagumkan. 2. Seperti gunung raksasa yang menjulang tinggi, Hati ini penuh dengan cinta yang tak terhingga. Seperti sungai besar yang mengalir deras, Emosi ini mengalir tanpa henti. Dalam puisi ini, majas hiperbola digunakan untuk menekankan betapa besarnya hati yang penuh cinta. Dengan membandingkan hati dengan "gunung raksasa" dan emosi dengan "sungai besar", puisi ini menggambarkan betapa mendalamnya perasaan cinta dan emosi tersebut. 3. Seperti angin badai yang kencang berhus, Perasaan sedih ini menerjang jiwa. Seperti gempa bumi yang merusak tanah, Duka ini merasakan kehancuran dalam diri. Puisi ini menggunakan majas hiperbola untuk menggambarkan betapa kuatnya perasaan sedih dan duka. Dengan membandingkan perasaan sedih dengan "angin badai" dan duka dengan "gempa bumi", puisi ini menunjukkan betapa parahnya pengaruh perasaan tersebut terhadap jiwa dan diri seseorang. Dengan menggunakan majas hiperbola, puisi-puisi di atas menciptakan gambaran yang kuat, berlebihan, dan dramatis tentang bintang-bintang, hati penuh cinta, serta perasaan sedih dan duka.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bu Ambar seorang perajin kipas lipat. la mendapat pesanan 500 kipas lipat seperti gambar di samping. Kipas lipat tersebut terdiri atas 3 bagian yaitu kerangka dari plastik, kain, dan pita perekat untuk tepi kain. Panjang jari-jari kipas 21 cm, sudut pusatnya 162°, dan lebar kain 14 cm. Biaya kerangka dan tali sebesar Rp1.800,00 per buah, kain sebesar Rp40.000,00/m², dan pita perekat Rp350,00/m. Kipas tersebut dijual dengan harga Rp6.500,00 per buah. Tentukan total keuntungan yang diperoleh Bu Ambar.

8

5.0

Jawaban terverifikasi